Kamis, 14 Februari 2019

ASUS ZenBook 13/14/15: Laptop Paling Ringkas Tanpa ada yang di Pangkas

Jika saya punya rezeki lebih untuk membeli laptop baru dengan spesifikasi lebih tinggi lagi, pasti pilihan utama saya adalah laptop keluaran ASUS. Bukan tanpa alasan, karena di tahun 2018 pangsa pasar laptop ASUS di Indonesia menurut Gfk menunjukkan pertumbuhan yang positif, naik dari 41.2 persen ke 41.8 persen. Masih menurut data Gfk, di segmen notebook ultrathin ASUS juga terus mengalami peningkatan market share dari 5,4 persen di tahun 2017 ke 23 persen di november 2018. Selain itu, ASUS masuk dalam daftar World's Most Admired Companies dari majalah Fortune, yang berarti bahwa ASUS sudah berdedikasi menghadirkan berbagai produk IT yang komprehensif. Pencapaian yang diraih itu menunjukkan tingginya kepercayaan dan kepuasan para pengguna produk ASUS.

Sekarang laptop saya sendiri adalah ASUS X451CAP, bukan seri premiumnya ASUS memang, tapi sudah saya pakai dari tahun 2016. Sampai detik ini laptop ASUS itu masih setia menemani saya dari menulis, ngeblog, nonton film, browsing, sampai berjasa siang malam membantu saya menyelesaikan skripsi saya. Selama itu pula, laptop ASUS saya tidak pernah rewel. 

Oleh karenanya, ketika tanggal 17 Januari 2019 kemarin ASUS memperkenalkan seri ZenBook terbarunya di Jakarta, saya cukup terkejut abang terheran-heran. Betapa tidak, tanpa tanggung seri ZenBook yang baru ini mereka klaim sebagai laptop paling ringkas di dunia. Wah, saya pikir apakah ASUS tidak kepedean? Sebagai pengguna laptop keluaran mereka, saya tentu jadi penasaran. Akhirnya saya mencari tahu lebih dalam soal laptop terbaru mereka.

Acara Launching ASUS ZenBook 13,1 4, 15 di Jakarta.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia
Telusur punya telusur, laptop yang baru mereka perkenalkan di Indonesia adalah laptop dari seri ZenBook yang masing-masing ada tiga varian, yaitu ZenBook 13 UX333 (13 inci), ZenBook 14 UX433  (14 inci), dan ZenBook 15 UX533 (15 inci). Ketiga ZenBook ini masuk dalam kategori laptop premium ultra kecil dan ultra tipis. Nah, biasanya, laptop-laptop kecil dan tipis itu banyak pemangkasan fitur di sana-sini karena ruang yang tersedia sangat terbatas. Lalu kenapa ASUS berani mengklaim kalau ketiga laptop terbarunya adalah yang paling ringkas di dunia? Apakah cuma sekedar ringkas doang, terus udah, gitu?

Jangan buru-buru dulu, saya rasa saya harus mengerti apa maksud dari sematan 'paling ringkas' yang diklaim oleh ASUS. Terus terang saya masih ambigu: apakah paling kecil, paling tipis, atau paling yang lain? Makanya, mari kita telusuri apa arti kata 'ringkas' menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Menurut KBBI,
Ringkas artinya tidak banyak memerlukan tempat.
Iya, udah, gitu doang.

Kalau begitu, dengan kata lain, ASUS mengklaim laptop ini adalah laptop yang paling tidak banyak memerlukan tempat. Waduh, gimana itu, ya?

Ternyata setelah saya telusuri lebih dalam lagi, setidaknya ada 3 alasan mengapa ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa disebut demikian:

1) Laptop seri 13, 14, dan 15 inci dengan dimensi terkecil di dunia

Ternyata, banyak laptop yang tipis, namun tidak seringkas ZenBook terbaru ini. ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini diklaim ASUS sebagai laptop dengan dimensi paling kecil di dunia. Artinya, ia memang bukan yang paling tipis, tapi adalah yang paling ringkas karena dimensinya yang kecil. ZenBook ini punya dimensi paling kecil karena screen to body rationya yang besar. Bingung? Begini maksudnya.

Bisa seperti itu karena ZenBook seri ini tidak seperti laptop-laptop lainnya yang punya bezel tebal kurang tebal. Bezel ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa dibilang hampir tidak ada. Secara keseluruhan, screen to body ratio di ZenBook ini hampir 95% berkat teknologi NanoEdge Display. Selain jadi lebih elegan, bezelnya yang tipis membawa pengalaman visual yang pasti tidak di dapat di laptop-laptop premium lain sekelasnya.

Screen to body ratio up to 95%.
Sumber: asus.com

Bila dibandingkan bezel laptop ASUS 14 inci saya yang tebal.
Sumber: pribadi

Karena itu, ZenBook terbaru ini akhirnya muncul dengan penampakan yang ultra kecil, bahkan lebih kecil dari kertas A4. Kalian nggak salah dengar kok, kertas A4. 

Perbandingan lebar ZenBook terbaru ASUS dengan kertas A4 dan laptop keluaran lain.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

Dengan dimensi yang mungil ini, ZenBook terbaru ASUS tidak membutuhkan ruang tempat penyimpanan yang besar di tas kalian. Untuk bobot pun tidak berat, hanya sekitar 1.19 kilogram saja untuk varian 13 inci. Mudah dibawa ke mana-mana.

2) Kecil tapi tidak pelit port 

Kalau laptop-laptop kecil itu biasanya miskin port, maka tidak untuk seri ZenBook yang ini. Di bagian kiri laptop sudah disediakan port headphone-out jack yang sudah terintegrasi dengan microphone, lalu ada USB 3.1 Type-A generasi ke-2 dan sudah ada memoricard reader untuk MicroSD. Sedangkan port bagian kanan laptop ini, dilengkapi port charger (sudah pasti ada ya), port HDMI, port USB 3.1 Type-A generasi ke-2 lagi, dan ada port USB 3.1 Type-C generasi ke-2. Untuk aktivitas normal, dengan laptop ini kita tidak perlu repot-repot pakai adaptor lagi. Ini juga alasan ZenBook 13/14/15 disebut paling ringkas, karena walaupun kecil, laptop ini mampu menyediakan semua kebutuhan kita.

Tampak port kiri dan kanan ASUS ZenBook 13/14/15.
Sumber: editan pribadi.

3) Khusus ZenBook 13 UX333 dan 14 UX433, hadir dengan numpad virtual

Biasanya, laptop kecil tidak punya numpad khusus. Berhubung ini laptop yang diklaim paling ringkas, maka ASUS 'mengakalinya' dengan menyatukan numpad dengan touchpad pada satu tempat yang sama. Begini penampakannya:

Tampilan numpad virtual.
Sumber: channel.asus.com

Numpad ini bisa dihidupkan dengan menekan tombol kecil di pojok kanan atas touchpad-nya, maka setelah itu akan muncul tombol numpad virtual di tempat yang sama dengan touchpad. Menurut saya 'kecerdikan' ASUS ini patut diapresiasi. Oh, iya, perlu diiingat kalau numpad virtual ini hanya tersedia untuk seri 13 dan 14 inci yang tertinggi saja. Sedangkan varian 15 inci sudah dilengkapi dengan numpad fisik.

Itu tadi tiga alasan mengapa ASUS mengklaim laptop ini adalah yang paling ringkas atau punya dimensi paling kecil di dunia. Lalu, apa keunggulan lain dari laptop ini? Apa cuma sekedar kecil doang? Setelah saya telusuri lagi, berikut adalah keunggulan dari ZenBook 13/14/15 yang saya temukan:

Diperuntukkan untuk Pengguna yang Punya Mobilitas Tinggi 

Kombinasi performa dan mobilitas adalah ciri khas utama seri ZenBook ini. Untuk membuktikannya, ASUS sudah menyematkan prosesor Intel Core generasi ke-8 (tersedia core i5 dan core i7) serta didukung oleh GPU NVIDIA GeForce. Dapur pacu ini membuat ZenBook menjadi lebih hemat daya, punya grafis terbaik, sekaligus memiiki performa yang luar biasa cepat.  Ketahanan baterai pun bisa sampai 14 hingga 16 jam untuk pemakaian normal. Menurut ASUS, ZenBook ini cocok untuk pekerja kreatif dan hiburan yang ingin punya laptop ringkas sekaligus elegan, namun tetap punya tenaga dan performa maksimal.

Ini waktu saya nyobain laptopnya. Jangan percaya.
Sumber: channel.asus.com

Untuk tampilan layar, ZenBook terbaru juga sudah full HD display (1920x1080 pixel), warna yang ditampilkan juga pasti lebih cemerlang dan akurat karena punya reproduksi warna sampai 100% sRGB. ZenBook ini juga sudah dilengkapi kamera infra-merah yang terintegrasi dengan sistem face login. Untuk audio, laptop ini sudah disematkan speaker Harman Kardon yang punya suara lebih jernih. Kalau untuk nonton film sih puas sekali karena warna dan audionya punya kualitas nomor wahid.

Bersetifikasi Military Grade

Bodi yang didesain oleh ASUS ini bukan kaleng-kaleng sembarangan. Bodinya telah mengantongi sertifikasi standar militer MIL-STD 810G di semua lini. ZenBook terbaru ini sudah lolos dalam berbagai pengujian ekstrem mulai dari uji ketinggian, uji suhu dan kelembapan, hingga uji banting dan getaran. Selain elegan, ZenBook 13/14/15 juga akan sangat kokoh. Laptop ini siap menemani segala macam aktivitas yang super mobile. Kurang apa lagi coba, laptop aja dibuat standar militer.

Standar Militer 810G.
Sumber: asus.com

Kenyamanan Kelas Satu

Tidak cuma punya desain elegan, performa yang oke, dan bodi yang kokoh saja, ASUS juga sangat memperhatikan dengan detail kenyamanan penggunanya saat menggunakan ZenBook ini.  Ada dua alasan kenapa laptop ini bisa sangat nyaman dipakai.

Pertama, adanya teknologi ErgoLift Hinge

ErgoLift Hinge adalah inovasi teknologi terbaru ASUS untuk memanjakan penggunanya. Teknologi ini membuat bodi tiga ZenBook terbaru ASUS menjadi sedikit terangkat ketika dibuka dan membentuk sudut 3 derajat. Setidaknya ada tiga manfaat dari teknologi ini untuk penggunanya: pertama, posisi tangan untuk mengetik jadi lebih nyaman karena keyboard jadi agak miring. Kedua, karena ada sedikit ruang di bawah, speaker audio yang keluar dari bawah jadi tidak terpendam. Ketiga, laptopnya bisa jadi lebih dingin, karena sirkulasi udara yang keluar lebih lega.  

ErgoLift Hinge Design di ASUS ZenBook terbaru.
Sumber: asus.com

Kedua, teknologi Full-Size Backlit pada keyboard

Blogger pasti suka ngerasain ketika lagi nulis di laptop atau komputer, terkadang tidak nyaman sama keyboardnya karena key travel yang terlalu jauh atau bahkan nggak berasa sama sekali. Nah, pada ZenBook ini ASUS memikirkan kenyamanan sampai sedetail itu. Key travel pada keyboard laptop ini dirancang khusus sejauh 1,4 milimeter sehingga kedalamannya sangat pas waktu diketik. lampu LED backlit pada keyboarnya pun bisa memudahkan kita untuk mengetik diruangan yang gelap. 

Key travel pada ASUS ZenBook 13/14/15.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

Kalau ada istilah kecil-kecil cabe rawit, maka laptop ini kecil-kecil ajaib. Desainnya yang kecil dan ringkas, ternyata tidak membuat banyak fitur-fitur yang dipangkas. Bahkan, bukannya dipangkas demi menjadikannya ringkas, ASUS justru menambahkan beberapa fitur dan inovasi terkini, sehingga rasanya ini adalah laptop yang mampu menampung segala kebutuhan kita. Karena ini laptop untuk produktivitas, tentu tidak disarankan untuk bermain game berat layaknya laptop gamers. Kalau buat gamers sebaiknya langsung beralih ke ASUS ROG saja.

Penasaran dengan harganya?

Tentu, sebagai laptop premium, ASUS ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa dibilang cukup mahal. Untuk varian paling rendahnya, ZenBook terbaru dibandrol mulai dari 15 jutaan, dan yang paling mahal dibandrol 27 juta. Hmm, tertarik untuk punya laptop ini? Tenang, ada harga ada kualitas.

Baiklah, akhirnya rasa penasaran saya sama laptop ini sudah terjawab. Bisa saya katakan kalau ASUS benar-benar memperhatikan kualitas dan inovasi dalam seri ZenBook terbaru mereka ini. Maka tak boleh heran kenapa harganya mahal (apalagi buat kantong saya). Katakanlah saya ada rezeki berlebih buat beli laptop baru, ZenBook 13, 14, dan 15 ini justru terlalu sempurna untuk saya. Bagaimana tidak, ini adalah laptop paling ringkas di dunia.

Harga ZenBook 13 inci.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

Harga ZenBook 14 inci.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

Harga ZenBook 15 inci.
Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia




Main Spec.
ASUS ZenBook 13 UX333, ZenBook 14 UX433, ZenBook 15 UX533
CPU
Intel Core i5 8265U Quad Core Processor (6M Cache, up to 3.4GHz)
Intel Core i7 8565U Quad Core Processor (8M Cache, up to 4.6GHz)
Operating System
Windows 10 Home
Memory
Up to 16GB LPDDR3 RAM
Storage
Up to 512GB M.2 NVMe PCIe SSD
Display
13,3” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX333)
14” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX433)
15,6” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX533)
Graphics
Discrete graphics NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q (UX533)
Discrete graphics NVIDIA GeForce MX150 (UX333 & UX433)
Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output
1 x USB3.1 Type-C (GEN 2)1x USB 3.1 Type-A (Gen 2), 1x USB 3.1 Type-A (Gen1), 1 x HDMI, 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 1 x MicroSD Card Reader
Camera
HD IR/RGB Combo Camera
Connectivity
Dual-band 802.11ac gigabit-class Wi-Fi, Bluetooth 5.0
Audio
Harman Kardon certified audio system with ASUS SonicMaster surround-sound technology, Array microphone with Cortana voice-recognition support
Battery
50WHrs 3-cell battery (UX333 & UX433)
73WHrs 4-cell battery (UX533)
Dimension
(WxDxH) 302 x 189 x 16,9 mm (UX333)
(WxDxH) 319 x 199 x 15,9 mm (UX433)
(WxDxH) 354 x 220 x 17,9 mm (UX533)
Weight
1,19Kg with Battery (UX333 & UX433)
1,67Kg with Battery (UX533)
Colors
Royal Blue, Icicle Silver, Burgundy Red
Price
Start from Rp15.299.000
Warranty
2 tahun garansi global

Senin, 11 Februari 2019

Pelajaran Selepas Kuliah: IPK Bukan Segalanya, Tapi Tetap Lakukan yang Terbaik

Sebagai mantan mahasiswa yang baru lulus pada bulan november tahun 2018 kemarin (sebutan kerennya pengangguran freshgraduate), saya ingin berbagi sedikit pelajaran yang saya dapatkan selama kurang lebih empat tahun masa perkuliahan saya. 

Kebetulan pula, bulan ini adalah bulan-bulan para pelajar setingkat SMA sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan proses seleksi masuk ke universitas, baik lewat undangan ataupun lewat ujian masuk. Saya berharap, pembaca yang sedang mempersiapkan diri menuju bangku kuliah ataupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari tulisan saya ini.

 *Tulisan ini murni opini saya pribadi, setuju atau tidak setuju adalah hal yang lumrah.
Seperti judulnya: IPK bukan segalanya. Singkat, padat dan jelas. Keyakinan ini sudah membatu di kepala saya, seperti sebuah mindset yang saya pegang sejak awal bahkan sebelum saya benar-benar menjadi mahasiswa. Selepas kuliah, saya mendapatkan pelajaran berharga dari mindset ini.


Saya meyakini bahwa kuliah bukan hanya sebatas pada ilmu yang disampaikan oleh dosen atau yang  sekedar tertulis pada buku teori. Kuliah bukan hanya sebatas pada tugas akhir atau skripsi yang dengan teganya telah mengambil siang dan malam kita.

Di luar kuliah dan mengejar IPK, sebetulnya, banyak sekali kegiatan positif yang dapat diambil. Itu lah yang menurut saya paling penting: kuliah adalah kesempatan besar untuk mengembangkan minat dan bakat kita diluar teoritis ilmu dari jurusan yang kita ambil. Kita dapat bergabung di dalam unit-unit kegiatan mahasiswa, bergabung di organisasi-organisasi, bisa mencari kerja sampingan untuk menambah penghasilan, bisa mencoba kuliah sambil berdagang, bisa coba ikut kelas-kelas sampingan yang dapat menambah pengetahuan atau skill baru, bisa ikut lomba-lomba baik lomba akademik maupun non-akademik untuk meramaikan portofolio diri, dan masih banyak lagi pilihan yang dapat dicoba. Percayalah, pelajaran yang paling terasa manfaatnya untuk diri sendiri selepas kuliah nanti sebagian besar karena kegiatan-kegiatan positif yang pernah kita lakukan diluar kuliah itu.

Berarti, IPK itu tidak penting, dong?

Saya tidak setuju juga. Menurut saya, IPK juga penting sebagai bukti bahwa orang tua kita tidak salah menyisihkan uangnya untuk membiayai kuliah kita. Artinya, IPK yang tinggi, seminimal mungkin bermanfaat untuk orang tua kita, setidaknya untuk menyenangkan hatinya. Ya, setelah orang tua kita pontang-panting membiayai kita, apa lagi yang bisa kita berikan selain itu?

Serem amat, Pak.
Bagi yang sudah bekerja dan sedang mencari pekerjaan pun pasti tahu, nilai IPK dengan angka tertentu kerap dijadikan syarat minimal yang harus dipenuhi untuk melamar kerja di suatu perusahaan. Untuk itu, sekali lagi saya tidak katakan IPK itu tidak penting, yang tepat adalah IPK bukan segalanya. Intinya, cari kegiatan positif di luar kuliah, tapi kuliah juga jangan sampe cuma asal-asalan doang.

Cari kegiatan positif di luar kuliah itu penting, tapi kuliah juga nggak boleh ngasal. Bagaimana menyeimbangkannya? Emang semudah itu?

Pertanyaan seperti ini sering sekali menyelimuti pikiran saya dulu. Dulu saya sering menanyakan pertanyaan yang sama pada siapa saja yang saya anggap pantas untuk menjawabnya. Pada akkhirnya, seiring waktu, saya menemukan jawabannya sendiri dan dapat mengambil suatu pelajaran berharga.

Saya sering menemukan, banyak mahasiswa yang berlagak idealis dan setuju bahwa IPK bukan segalanya, tetapi orangnya sendiri tidak pernah keliatan wajahnya di kelas. Ada pula mahasiswa yang juga berlagak idealis, tetapi kelewat "masa bodo" setiap kali UTS atau UAS mau datang. Lalu setelah itu, idealisnya menjadi layu ketika yang bersangkutan tidak lulus matakuliah penting karena masalah absensi atau nilainya memang tidak mencukupi. Maka, tergopoh-gopoh si mahasiswa menemui dosen, memohon-mohon minta keringanan hati. Jelas saja dosen yang bersangkutan tak bergeming, memang nilai yang harus didapat segitu adanya.

Memang, terserah orang mau melakukan apa, terserah orang mau bagaimana menjalani hidupnya. Tetapi, jika memang yang ditanyakan adalah bagaimana cara menyeimbangkan tanggungjawab diluar kuliah dan tanggungjawab kuliah itu sendiri, jawaban yang saya dapat selama proses empat tahun perkuliahan saya adalah dengan melakukan yang terbaik.

Jika kita berdagang sambil kuliah, maka kita tetap harus serius berdagang dan tetap serius juga mengikuti perkuliahan. Kalau kita serius berorganisasi, kita harus serius juga di bangku kuliah. UTS/UAS sudah dekat dan kita dikepung sekelumit jadwal kegiatan di luar kampus? Kita tetap harus serius mempersiapkan diri menghadapinya walaupun waktu yang ada sangat terbatas. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, tapi jangan bersikap masa bodo.

Hal ini penting karena berkaitan langsung dengan tanggungjawab yang kita ambil. Kita memilih kuliah, maka jalankan tanggungjawab itu sebaik mungkin. Kita ambil juga kegiatan ekstra di luar kampus, maka harus bertanggungjawab juga di situ.

Bukan apa-apa, saya selalu yakin, idealis bukan berarti kita harus meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Tugas kita di kampus itu kuliah, untuk itu kita harus menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita sebagaimana semestinya. Seidealis tokoh-tokoh hebat di Indonesia maupun dunia itu, tetap mereka adalah orang-orang pintar yang tidak buta ilmu, bukan orang-orang yang semata buta pada prinsip semu. Nah, jika kita sudah melakukan yang terbaik namun hasil yang didapat bukan seperti keinginan kita, maka itu adalah pelajaran berharga yang sesungguhnya. Idealis dan malas adalah dua hal yang sangat bertolak belakang.

Ini yang nulis, dirinya sendiri gimana? Jangan-jangan waktu kuliah juga main doang, tidur doang, terus IPK-nya anjlok. Hayo?

Syukurnya mindset bahwa IPK bukan segalanya sudah saya tanamkan jauh hari sebelum saya kuliah, bukan mindset yang datang kemarin sore. Namun, alhamdulillah, IPK saya bisa dikatakan lebih dari cukup sebagai syarat cumlaude. Saya katakan begitu karena saya termasuk yang gagal cumlaude dengan IPK yang cukup bagus.

Saya gagal cumlaude karena sempat mengulang salah satu matakuliah. Waktu itu saya kaget bukan main ketika nilai yang keluar justru E. Padahal saya sudah belajar keras karena ini bukan matakuliah main-main, dan saya tahu nilai ujian saya di matakuliah tersebut layak diganjar B atau B+ (dari hasil ujian yang diumumkan dosen).

Bayangkan, nilai E, sama saja seperti saya tidak pernah ikut matakuliah sama sekali, atau lembar jawaban di UTS dan UAS saya kosong melompong, atau kalau saya isi semua, jawaban saya ngaur ke planet jupiter. Akhirnya saya minta konfirmasi kepada dosen yang bersangkutan. Saya pun baru tahu kalau nilai E itu karena kesalahan saya sendiri: saya salah menghitung batas maksimal tidak hadir saya di matakuliah itu.

Karena tidak cumlaude cuma gara-gara satu matakuliah, banyak teman yang mengatakan kalau saya pasti sangat kecewa berat. Jawaban saya? tidak sama sekali. Mengapa? Pertama, dengan mindset ini, cumlaude sudah pasti bukan tujuan utama saya. Target utama saya kuliah adalah mengambil pelajaran hidup sebanyak mungkin. Kedua, karena saya mengakui bahwa itu adalah kesalahan saya, saya merasa saya pantas mendapatkannya. Reaksi saya ketika diberi penjelasan oleh dosen tersebut pun biasa saja: legowo, menerima keputusan dan siap bertanggungjawab di semester depan. Saya tidak memohon-mohon apa pun pada dosen itu.

Kebetulan, ada faktor lain. Kala itu saya memang harus cermat betul membagi waktu kuliah dan kegiatan di luar kampus, pasalnya saya cukup aktif terlibat di organisasi dan di waktu yang sama saya diamanahkan menjadi ketua salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus. Kala itu saya sedikit blunder membagi waktu.

Sampai sini, saya jadi ingat apa yang dikatakan Rocky Gerung (seorang akademisi), bahwa ijazah cuma bukti kalau kita pernah sekolah, bukan bukti kalau kita pernah berpikir. 100% saya sepakat. Hanya saja saya tidak berani seekstrim beliau yang tidak mau mengambil ijazahnya. Saya tidak mau munafik karena saya tetap butuh ijazah dalam berbagai keperluan. Tetapi, sebagus apa pun nilai yang tertera di ijazah saya, tetap tidak cukup untuk mengukur "nilai" sebenarnya yang ada pada diri saya. Apalah arti selembar ijazah itu?


Saya yakin betul, "nilai" yang ada pada diri saya hampir semuanya ditempah diluar kelas kuliah, dan itu sedikit banyaknya sangat saya rasakan manfaatnya sekarang ini. Melalui kegiatan diluar bangku kuliah saya belajar cara berkomunikasi yang baik, belajar kepemimpinan, belajar membagi waktu, belajar bersikap yang baik, tahu ini dan itu. Saya pun tidak lepas dari berbagai kekurangan selama proses "penempahan" diri di luar kuliah itu, tetapi bagi saya itu semua adalah pelajaran dan pengalaman paling berharga untuk diri saya.

***

Menjelang akhir tulisan ini, izinkan saya membagikan sedikit kisah nyata dari apa yang telah dialami seorang teman seangkatan saya. Beliau ini, katakanlah bisa lulus kuliah tepat waktu sama seperti saya di bulan november tahun lalu. Beliau memiliki IPK yang sangat mentereng (lebih tinggi dari saya) dan peluang mendapatkan gelar cumlaude terbuka lebar. Malang tak dapat ditolak, ibunya menderita sakit serius, harus menjalani operasi dan dirawat cukup lama di rumah sakit.

Akhirnya, beliau harus pintar membagi waktu, bergantian dengan ayahnya menjaga ibunya di rumah sakit, di tengah sibuk-sibuknya ia menyelesaikan skripsi. Sekedar informasi, untuk mendapatkan gelar cumlaude, selain tidak boleh ada matakuliah yang mengulang, satu syarat lainnya adalah harus lulus tidak lebih dari delapan semester. Syarat pertama sudah dipenuhi teman saya ini, tapi waktu yang tersedia untuk bisa wisuda di bulan november 2018 sudah sangat mepet. Jika lewat dari bulan itu, siap-siap wisuda di bulan februari 2019, dan itu artinya dia wisuda di semester ke sembilan, dan itu artinya juga tidak bisa cumlaude.

Beliau berjuang sedemikian rupa, melakukan yang terbaik demi menjaga asa wisuda di bulan november tahun 2018. Ke sana ke mari dia, mondar-mandir kampus-rumah sakit, pontang-panting. Singkat cerita, diakhir deadline pengumpulan berkas wisuda, tiga huruf AAC dari dosen pembimbing tak kunjung didapat, dia tidak sempat mengumpulkan administrasi wisudanya. Ia legowo, cumlaude lepas begitu saja.

Belum sampai disitu ujiannya. Sampailah waktu yang ditunggu, awal februari 2019 ia wisuda. Ibunya sudah membaik (walaupun belum sepenuhnya), sudah bisa dibawa pulang. Di gedung wisuda, ibunya hadir, duduk di deretan bangku belakang bersama orang tua lainnya. Dia lulus dengan IPK 3.77.

Di waktu bersamaan, di panggung besar gedung akademik universitas, berpidato lah seorang wisudawan. Sudah menjadi keharusan, perwakilan wisudawan yang berpidato adalah wisudawan cumlaude dengan IPK tertinggi. Tentu saja wisudawan yang berpidato bukan teman saya. Wisudawan yang berpidato di depan adalah wisudawan dengan IPK 3.74, lebih rendah dari IPK teman saya yang gagal cumlaude.

Apa yang mau saya sampaikan adalah, bahwa kita cuma ditugaskan untuk melakukan yang terbaik. Selebihnya, biarkan Tuhan bersama semesta menjalankan tugasnya. Kita tinggal memilah nantinya mana yang benar-benar harus kita korbankan, mana yang harus diprioritaskan, tak perduli itu membutuhkan sebuah pengorbanan. Teman saya itu, bisa saja cumlaude dan lulus tepat waktu jika ia menomorduakan ibunya. Yang dia pilih adalah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik. Tapi, tidak semua harus berlangsung seperti apa yang kita mau, bukan?

Itulah kuliah, pelajaran hidup sesungguhnya bukan dari ilmu yang kita dapatkan di kelas, bukan dari tugas-tugas kuliah, bukan pula diukur dari IPK. Tapi pengalaman hidup di luar kelas itu lah proses pendewasaan diri dan pelajaran yang sebenarnya. Tugas kita, cari pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin, bijak dalam melihat cobaan yang datang pada diri kita.

***

Tulisan ini refleksi diri. Saya tidak ingin hasil empat tahun perkuliahan saya dengan gampangnya diukur lewat selembar ijazah atau transkrip nilai yang bagi saya tidak seberapa itu. Dengan tulisan ini, saya tidak ingin masa perkuliahan saya lepas begitu saja tanpa ada pelajaran berharga yang dapat saya ambil.

Oh, iya. Tidak ada maksud saya menyinggung atau merendahkan siapa pun: bukan berarti yang memiliki IPK tinggi tidak baik atau semacamnya, apalagi menganggap enteng yang memilih tidak kuliah. Niat saya cuma ingin berbagi sudut pandang soal dunia perkuliahan saja, bisa salah dan bisa benar. Semoga, baik yang akan kuliah maupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dari tulisan saya ini.

Sumber gambar:
  • https://www.idntimes.com/life/education/rizky-jonathan-lumban-gaol/jangan-jadi-mahasiswa-pas-pasan-c1c2
  • https://www.inovasee.com/untuk-para-mahasiswa-pemuja-ipk-sadarlah-jika-itu-hanya-sekedar-angka-24967/
  • Twitter @rockygerung

Senin, 04 Februari 2019

5 Rekomendasi Tempat Makan di Sekitar Hunian Aeropolis Tangerang

Pembangunan hunian pada saat ini terus digalakkan, dan implikasi dari semua itu adalah lahan kosong yang semakin menyempit. Oleh karena itu, saat ini banyak sekali hunian apartemen yang tersedia sebagai solusi hunian terbaik. Jika kalian berencana tinggal di Tangerang, terdapat apartemen dengan letak yang sangat strategis bernama Apartemen Aeropolis. Apartemen ini dibangun oleh PT Intiland Development Tbk, letaknya ada di kawasan terbaik dan terdekat dengan Bandara International Soekarno Hatta. 

Apartemen Aeoroplis berhasil menjadi salah satu hunian yang bersinergi dengan pengembangan kawasan bandara itu sendiri. Hal itu bisa dilihat dari kawasan Aeropolis yang terus mengembangkan fasilitas gaya hidup yang lengkap, mulai dari hunian, perkantoran, ritel, komersial, hotel sampai gudang, tak terkecuali lokasi berbagai tempat kulinernya. 

Untuk fasilitas yang terakhir saya sebutkan tadi, bisa jadi adalah salah satu syarat paling penting jika memilih sebuah apartemen, karena mau tak mau urusan perut ini sangat krusial. Betapa tidak, hunian yang letaknya jauh dari berbagai pilihan tempat makan sangat mungkin membuat penghuni hunian merogoh "ongkos" lebih dalam. Nah, kalau tinggal di Apartemen Aeropolis, maka kalian tidak perlu bingung lagi untuk mencari tempat makan yang enak dan nyaman.

Berikut 5 referensi tempat makan yang ada di dekat Apartemen Aeropolis dan bisa menjadi pilihan kalian untuk sekedar nongkrong atau mengisi perut.

1. Oryx Bistro
Kafe ini sangat dekat dengan kawasan Apartemen Aeropolis. Tempat ini sangat cozy, cocok buat ngerjain tugas kuliah atau kantor. Untuk menu yang dijual mulai dari soup, pasta, salad, spaghetti, sandwicgers dan masih banyak lainnya. Oryx Bistro dibuka mulai pukul 7 pagi sampai pukul 11 malam (khusus weekend ditutup pukul 12 malam). Alamat lengkapnya terletak di Jalan Marsekal Surya Darma Blok A No. 1 Neglasari Tangerang. 


2. Bim's Coffee & Eatery
Banyak dari kalian para penikmat kopi atau yang ingin mencari tempat nongkrong yang nyaman, maka kalian bisa datang ke Bim's Coffee & Eatery. Terletak di Jalan Marsekal Surya Darma Blog A No. 1 Tangerang. Kafe satu ini masih berada di sekitaran wilayah Apartemen Aeropolis. Unutk waktu bukanya mulai dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam.



3. The Sulthan Resto
Disaat lapar melanda, solusi terbaik adalah mencari kuliner di sekitar tempat tinggal. The Sulthan Resto terletak di sekitar kawasan Apartemen Aeropolis yaitu di Jalan Marsekal  Surya Darma Blok A Tangerang. Jika mau datang, resto ini buka mulai jam 8 pagi sampai jam 1 malam. Salah satu menu favorit di resto ini adalah nasi goreng sulthan.

4. Seafood Bakul'e
Untuk penggila makanan seafood, Seafood Bakul'e adalah pilihat yang tepat, letaknya pun tak jauh dari Apartemen Aeropolis. Rumah makan seafood ini baru dibuka pukul 5 sore sampai pukul 1 malam. Beberapa menu di sini antara lain adalah nasi goreng seafood, kerang dara, udang goreng asam manis, cumi goreng tepung, kepiting lada hitam dan masih banyak lagi. 

5. Yuks Taichan
Sate Taichan adalah satu jajanan kuliner yang belakang makin nge-hits di Indonesia. di dekat Apartemenn Aeropolis terdapat tempat makan yang menjual sate taichan yaitu Yuks Taichan. Yuks Taichan buka mulai pukul 3 sore sampai pukul 11 malam. Untuk satu porsinya dijual seharga 25k saja.



Itu tadi 5 tempat makan yang letaknya dekat dengan kawasan Apartemen Aeropolis. Tentu kalau tinggal di apartemen ini nggak perlu takut perut keroncongan karena kawasannya yang strategis dari tempat kuliner atau tempat nongkrong yang nyaman.

Untuk itu, yang lagi nyari hunian di sekitaran Tangerang dan ingin hunian yang dekat dengan berbagai pilihan tempat makan, sila download aplikasi mamikos di link ini karena saat ini sedang banyak sekali unit Apartemen Aeropolis yang sedang disewakan. Aplikasi mamikos ini berguna agar kalian bisa langsung terhubung ke pemilik atau pengelolanya. Tunggu apa lagi, langsung download aplikasinya. :)

***

Sumber gambar:
  • travel.kompas.com/read/2014/09/26/145200027/Mencicipi.Daging.Satu.Meter.dan.Porsi.Iga.Bakar.Super.Besar
  • www.google.com/maps/
  • berita.baca.co.id/8745642?origin=relative&pageId=4b43d878-868a-454f-b019-0ea5d5bd707a&PageIndex=3

Jumat, 01 Februari 2019

Mundurnya Edy dan Segudang Masalah PSSI


Edy Rahmayadi sudah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres PSSI di Bali tanggal 20/01/2019 kemarin. Otomatis, tonggak  kepemimpinan PSSI diserahkan kepada Joko Driyono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Wakil Ketua Umum baru selanjutnya diberi kepada Iwan Budianto.

Kita patut memberikan hormat kepada Edy Rahmayadi. Betapa tidak, sekelumit masalah dan tekanan tanpa henti didapatkan oleh orang yang juga punya jabatan politik sebagai Gubernur Sumut ini. Beliau hadir di PSSI dengan menanggung beban ekspektasi luar biasa dari para pecinta sepakbola nasional terkait dengan keringnya prestasi Tim Nasional kita. Tak kalah hebat, tekanan paling kuat adalah protes terkait posisinya yang merangkap jabatan politik. Beliau dianggap tidak akan bisa berkonsentrasi penuh dalam mengelola federasi sepakbola Indonesia.

Edy Rahmayadi menyerahkan jabatan Ketum PSSI kepada Joko Driyono

Kembali pada pengunduran diri Edy Rahmayadi pada Kongres PSSI di Bali. Pada Kongres tersebut ada Persib Bandung yang dikabarkan tidak setuju dengan keputusan mundurnya Edy Rahmayadi. Sikap Persib Bandung itu menjadi menarik karena pada Liga 1 musim 2018 lalu, Persib mengaku sebagai pihak yang paling dirugikan dari sanksi PSSI. Seperti yang diketahui, Persib sempat memimpin kelasmen Liga 1 tahun 2018 dengan jarak yang cukup jauh. Seiring waktu posisi kelasemen Persib jadi terperosok sejak diberikannya hukuman dari PSSI karena kasus kematian salah satu suporter Persija Jakarta di Stadion GBLA, Bandung.

Saat itu Persib dihukum menggelar pertandingan kandang di luar pulau Jawa dan tanpa penonton sampai akhir musim. Beberapa pemain kunci Persib (yang tidak ada hubungannya dengan kematian salah satu suporter) juga sampai dihukum larangan bermain lima kali. Tanpa harus menjadi suporter Persib dan tanpa menghilangkan respect serta belasungkawa kita pada almarhum yang menjadi korban, saya rasa banyak yang sepakat kalau hukuman yang diberikan kepada Persib terkesan berlebihan.

Hilangnya kepercayaan publik terhadap PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi semakin menjadi-jadi setelah Persija Jakarta perlahan merangkak naik ke posisi satu kelasemen setelah Persib Bandung “pincang” karena hukuman PSSI. Sebagai informasi, 80 persen saham Persjia Jakarta dimiliki oleh Joko Driyono yang saat itu menjabat sebagai Waketum—sekarang nama yang sama baru saja menjadi Ketum PSSI. Hasilnya, seperti yang kita tahu bahwa Persija menjadi juara Liga 1 tahun 2018. Mau diapakan pun, sulit rasanya menjaga kepercayaan publik terhadap sepakbola Indonesia jika terlalu banyak kecurigaan yang mencuat.

Manajer Persib, Umuh Muchtar, adalah orang yang sangat geram dengan hukuman PSSI kala itu dan termasuk orang yang sangat vokal mengkritik kebijakan PSSI. Pada Kongres PSSI di Bali, Umuh jadi berbalik arah dan menjadi salah satu dari tiga voters yang tidak setuju Edy Rahmayadi mundur sebagai Ketum. Menurut kabar, dua voters lain yang tidak setuju selain Persib adalah Persik Kediri dan Madura FC. Umuh Muchtar sebagai perwakilan voters dari Persib mengatakan kalau mengganti Ketum tidak akan menyelesaikan masalah yang ada.

Panas Isu Mafia Bola

Pasca mengundurkan dirinya, Edy Rahmayadi meninggalkan permasalahan serius, yaitu isu mafia bola. Berangkat dari tayangan talkshow di salah satu televisi swasta yang mengundang banyak pegiat sepakbola nasional, terungkap suatu jaringan mafia yang selama ini banyak mengatur jalannya pertandingan sampai mengatur skor akhir di kompetesi nasional. Dari situ isu mafia sepakbola tidak terhindar sebagai isu nasional.

Para mafia ini selanjutnya tidak cuma mengatur pertandingan dan skor akhir, tapi sampai mengatur siapa yang bakal promosi dan degredasi serta siapa yang bakal juara di setiap level kompetisi. Bahkan, isu mafia ini juga menyeret pertandingan internasional Timnas Indonesia sampai-sampai beberapa nama pemain Timnas ikut terbawa.


P$$I penuh mafia??

Sebelum semua pada saling tuduh dan semakin menjadi bola panas, Kapolri Tito Karnavian langsung membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola untuk mengungkap jaringan ini. Satgas bentukan Polri langsung bergerak cepat dan sudah menangkap banyak nama mulai dari pengurus klub, wasit, bahkan dari lingkungan PSSI sendiri. Adanya tersangka membuktikan bahwa mafia bola di Indonesia bukan isapan jempol belaka dan memang benar adanya.

Kecurigaan Pada Nama Joko Driyono dan Iwan Budianto

Joko Driyono dan Iwan Budianto yang baru resmi menjadi Ketum dan Waketum PSSI merupakan nama yang tidak asing lagi di dunia sepakbola nasional. Nama mereka berdua disebut-sebut sebagai pelaku utama dari adanya kasus pengaturan skor sepakbola di negeri ini.

Joko Driyono sendiri sudah sejak lama berada dalam lingkaran sepakbola Indonesia. Ia pernah menjadi manajer salah satu klub nasional, pernah punya beberapa jabatan di operator liga dan beberapa jabatan penting lain di PSSI. Pun Iwan Budianto yang erat dengan salah satu pengurus klub Arema FC, pernah menjadi manajer Timnas, serta pengurus PSSI saat ini.

Joko Driyono dan Iwan Budianto

Nama mereka berdua disinyalir erat dengan kasus mafia sepakbola. Rekam jejak mereka yang tidak pernah lepas dari urusan sepakbola nasional memang sejalan dengan minimnya prestasi sepakbola kita bersama segudang masalah yang tidak pernah terselesaikan. Nama  mereka berdua sudah terlanjur basah pada kecurigaan para pecinta sepakbola nasional.

Namun, tidak fair rasanya kalau kita langsung menuduh Joko Driyono dan Iwan Budianto sebelum Satgas yang dibentuk Polri mengeluarkan sikap dan pernyataannya. Kita harus membiarkan Satgas mengumpulkan bukti-bukti yang ada dan menunggu satu-persatu para tersangka ditangkap.

Kita bisa menurunkan tensi kecurigaan kita pada dua nama ini karena pada Kongres PSSI di Bali kemarin mereka bersama para voters telah menyetujui dibentuknya Ad Hoc Integritas PSSI. Melalui Ad Hoc tersebut, PSSI menyatakan kesiapannya bekerjasama dengan Satgas dari Polri untuk mengungkap kasus mafia bola di Indonesia. Semoga saja Ad Hoc PSSI dan Satgas Polri benar-benar bisa bekerja sama dan tidak sebaliknya justru menimbulkan polemik baru terkait tumpang tindih urusan sepakbola nasional.

Kita berharap Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri dapat sigap mengungkap kasus demi kasus pengaturan skor dan menangkap siapa saja yang terlibat di dalamnya tanpa pandang bulu. Semoga pula PSSI dengan Ketum dan Waketum barunya mau bekerja sama dengan Polri untuk mengungkap kasus mafia bola ini sampai ke akar-akarnya.

Mundurnya Edy Rahmayadi dari Ketum PSSI membuat saya senang sekaligus sedih. Senang karena sebagai warga Sumut, saya termasuk yang berharap Edy Rahmayadi tidak lagi merangkap jabatan agar beliau bisa fokus pada satu tugas saja. Sedih sebagai pecinta sepakbola nasional karena di tubuh PSSI sendiri nyatanya ada segudang masalah yang harusnya segera diselesaikan, yang merupakan akar dari keringnya prestasi sepakbola nasional selama ini. Isu-isu sepakbola yang tidak mengenakan ini benar-benar menyakiti perasaan banyak orang.

Perayaan Juara AFF Timnas U-16

Terlepas dari kontroversi yang timbul dari Edy Rahmayadi dan masalah yang menimpa sepakbola Indonesia selama beliau menjabat Ketum PSSI, harus diakui pada masa beliau lah Timnas U-16 juara Piala AFF dan untuk pertama kalinya para mafia pengatur skor bola berhasil ditangkap. Satgas tentunya akan kesulitan mengungkap kasus mafia bola jika PSSI dibawah kepemimpinannya kemarin tidak mau membuka diri. Untuk itu, ucapan terimakasih harus kita berikan kepada Edy Rahmayadi yang sudah berani “pasang badan” untuk sepakbola Indonesia selama ini. Tidak lupa, ucapan selamat patut juga kita berikan kepada beliau karena baru saja resmi bertugas sebagai Gubernur Sumut seutuhnya.

***


Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Harian Analisa, edisi Jumat tanggal 25 januari 2019, dapat dilihat juga di link ini berikut ini. Opini saya yang terbit di surat kabar saya muat di blog hanya sebagai arsip pribadi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Salam damai dan keep writing.

Sumber gambar: 
  • https://bola.kompas.com/read/2019/01/20/14500008/ini-prioritas-joko-driyono-setelah-ganti-edy-jadi-ketua-umum-pssi
  • https://www.timesindonesia.co.id/read/136433/20161110/225942/pssi-akan-bersinergi-bersama-pemerintah-kembangkan-sepakbola/
  • https://lampungpro.com/post/17116/lima-orang-jadi-tersangka-mafia-bola-kasus-pengaturan-skor
  • https://bola.kompas.com/read/2018/08/13/10023528/usai-juara-piala-aff-u-16-pssi-akan-kawal-ketat-timnas-u-16
  • Dokumentasi pribadi




Senin, 28 Januari 2019

ASUS Zenfone Max M2: Smartphone Gaming yang Cocok untuk Aktivitas Sehari-hari

Jika gamers adalah sebutan untuk orang-orang yang main Mobile Legends atau PUBG, yang matanya kerap terpaku pada layar smartphone, yang jempolnya ke sana ke mari pencet tombol, maka dengan berat hati saya katakan saya bukan gamers. Game yang sering saya mainkan di smartphone paling cuma UFC dari EA Sports, atau kalau lagi bosen  saya main game catur yang banyak berserakan di Play Store. Game bagi saya cuma selingan ketika otak terlalu penat atau butuh refreshing sejenak. 

Hal ini jadinya berlaku pada kriteria smartphone yang saya butuhkan. Saya tidak terlalu tertarik pada smartphone-smartphone gaming yang sekarang makin banyak pilihannya. Biasanya, smartphone kriteria saya tidak muluk-muluk, cukup untuk aktivitas sehari-hari, punya RAM besar, baterai tahan lama, kamera bagus, tidak lelet buat selingan bermain game, dan harganya terjangkau (satu yang terakhir sudah pasti).


Namun, baru-baru ini ASUS meluncurkan sebuah smartphone gaming yang sukses menarik perhatian saya. Smartphone itu bernama ASUS Zenfone Max M2 ZB633KL, atau ASUS Zenfone Max M2. Bagi seorang gamers, mungkin nama smartphone ini lumayan familiar. Betapa tidak, Zenfone Max M2 ini adalah "adik kandung" dari smartphone gaming andalan ASUS yaitu Zenfone Max Pro M2. Namanya hanya beda di sebutan Pro saja.

Kalau Zenfone Max Pro M2 adalah smartphone gaming yang benar-benar diperuntukkan buat gamers sejati, maka sang adik Zenfone Max M2 adalah smartphone gaming yang cenderung lebih ramah buat non-gamers seperti saya ini. Mengapa? Sebab harganya sendiri lebih murah dari versi Pro-nya, serta spesifikasi yang disediakan oleh ASUS sangat cocok untuk aktivitas sehari-hari. Nggak percaya? mari simak di bawah ini:

Kapasitas Baterai 4000 mAh

Benar, di dalam Zenfone Max M2 ini tersimpan baterai li-polimer berkapasitas 4000 mAh. Dengan kapasitas sebesar itu, kita tidak perlu sebentar-bentar nge-charge smartphone atau repot-repot bawa powerbank setiap hendak keluar rumah. ASUS mengklaim stamina smartphone ini bisa bertahan dua hari walaupun terus digunakan, tentu sesuai situasi dan kondisi yang ada. Stamina smartphone ini sepertinya juga cocok buat yang berprofesi sebagai ojek online.

Desain Tipis dan Kokoh


Kapasitas baterai yang besar tidak membuat tampilan Zenfone Max M2 jadi lebih "gemuk". Smartphone ini memiliki tebal hanya 7.7 mm dengan tiga pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan gaya masing-masing. Body-nya yang berbahan metal juga menambah kesan premium pada smartphone ini. Zenfone Max M2 adalah smartphone gaming murah yang tidak murahan.

Layar 19:9 dengan Resolusi HD+ 


Zenfone Max M2 juga memiliki layar yang lebar dengan screen to body ratio sebesar 88 persen. Dengan layar sebesar itu serta resolusi HD+ yang disediakan oleh ASUS, streaming film, youtube, atau bermain game jadi lebih enjoy.

Android Oreo 8.0 dan Prosesor Qualcomm Snapdragon 632

Zenfone Max M2 sudah dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632 yang merupakan upgrade dari Snapdragon 625. Snapdragon 632 membuat smartphone ini lebih cepat 40 persen dari generasi sebelumnya serta performa yang lebih responsif tanpa mempengaruhi daya baterai. Main game jadi tetap lancar jaya tanpa takut smartphone panas atau baterai terkuras.

Tak hanya itu, smarthphone ini juga hadir dengan sistem operasi Android Oreo 8.0 yang menjadikannya lebih ringan dan efisien dalam mengkonsumsi RAM. Perpaduan sistem operasi dan prosesor ini benar-benar menunjang performa maksimal dari Zenfone Max M2.

Dual-Camera



Kamera adalah salah satu kriteria yang tidak dapat dipisahkan ketika kita ingin membeli smartphone. Walaupun kamera bukan fitur unggulan pada Zenfone Max M2 ini, namun kemampuan kamera yang disediakan bukan main-main. 

Zenfone Max M2 dilengkapi dengan kamera belakang ganda dengan resolusi 13 megapiksel dan kamera kedua dengan resolusi 2 megapiksel. Kombinasi dua kamera belakang ini menjadikan tangkapan potret jadi lebih tajam dan cepat, serta mendukung untuk pengambilan gambar potrait. Fitur lain pada kamera Zenfone Max M2 antara lain adalah Phase Detection Auto Focus yang otomatis menangkap fokus kamera.


Untuk swafoto pun tak kalah mumpuni, sudah dilengkapi kamera depan 8 megapiksel. Fitur yang ditawarkan untuk kamera depan benar-benar menarik dengan menyediakan fitur real time beautification yang secara langsung dapat menghilangkan jerawat hingga menyeimbangkan bentuk wajah. Wah, sepertinya ASUS juga menyasar kaum hawa untuk membeli smartphone gaming ini. Toh, cewek-cewek juga banyak yang main mobile game, bukan?

  Fitur Keren ASUS Zenfone Max M2 Lainnya


2 slot Sim Card 4G LTE dan 1 slot untuk MicroSD hingga 2TB


Tidak cuma fingerprint, membuka kunci layar juga bisa menggunakan sensor wajah

Dengan spesifikasi dan performa seperti ini, ASUS Zenfone Max M2 ZB633KL bukan hanya cocok buat para gamers saja, tetapi juga cocok buat non-gamers seperti saya yang membutuhkan smartphone untuk aktivitas sehari-hari. Selain itu, untuk sebuah smartphone gaming, harganya pun sangat terjangkau. Penasaran harganya berapa? 

Di situs resminya (klik di sini), ASUS ZenFone Max M2 ZB633KL ini dibandrol dengan harga Rp 2.299.000 untuk RAM 3GB dengan memori internal 32GB, dan untuk versi RAM 4GB dengan memori internal 64GB dibandrol Rp 2.699.000. Murah meriah sekali. Sepertinya saya harus nabung dari sekarang buat bawa pulang smartphone ini. 

Sumber gambar:
https://www.asus.com/id/Phone/ZenFone-Max-M2/

Spesifikasi Lengkap ASUS Zenfone Max M2

Model: ZenFone Max M2 (ZB633KL)
Display, Resolution: 6.3-inch HD+ (1520 x 720) All-screen display LED Backlit IPS LCD, Capacitive touch panel with 10-point multi-touch
SoC Processor: CPU Powerful 14nm Qualcomm Snapdragon 632 Octa Core Processor
GPU: Qualcomm® Adreno™ 506 GPU
Memory RAM / Storage
  • LPDDR4 3GB RAM, 32GB ROM
  • LPDDR4 4GB RAM, 64GB ROM
  • Supports up to 2TB MicroSD, 100GB Google Drive (free 1 year)
Camera System
  • Rear (main) Camera: 13 Megapixel with wide aperture f/1.8
  • Rear (wide) Camera: 2 Megapixel for bokeh mode
  • Front camera: 8MP, F2.0, 77.2 degree view angle with LED Flash
  • Camera feature: PixelMaster 4.0 camera mode: Beauty, Auto (with HDR features), Selfie Panorama, GIF Animation
  • AI Camera with 13 types AI Scene Detection
Wireless: WLAN 802.11 a/b/g/n, 2.4HGHz with Wi-Fi Driect / Bluetooth 4.2
Sensor: Rear fingerprint sensor (0.3 seconds unlock, supports 5 fingerprints), Accelerator, E-Compass, Proximity, Ambient Light Sensor, Gyroscope
SIM card and SD slot
  • Triple Slots: dual SIM, one MicroSD card
  • Slot 1: 2G/3G/4G Nano SIM Card
  • Slot 2: 2G/3G/4G Nano SIM Card
  • Slot 3: Supports up to 256GB MicroSD card
  • Both SIM card slots support 3G WCDMA / 4G LTE network band. But only one SIM card can connect to 4G LTE service at a time.
Network: FDD-LTE, TD-LTE, WCDMA, GSM
Data rate:DC-HSPA+ (DL/UL): 42/5.76 Mbps; LTE CAT 7 (DL/UL): 300/150 Mbps, 3CA support
GPS: GPS, AGPS, Glonass, BDS
OS: Pure Android 8.0 Oreo
Battery: 4.000mAh capacity
Audio / Microphone: 5-magnet speaker with NXP 9874 smart amplifier, Dual internal microphones with ASUS Noise Reduction Technology, FM Receiver
Size / Weight: 158 x 76 x 7.7mm / 160 grams
Color: Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver

Yang Nyasar di Mari: