Senin, 23 Desember 2013

Joget Ayan, Guyonan Kasar, Hingga Lempar-Lemparan Tepung


Siapa yang tidak suka acara komedi? Terkadang acara-acara seperti ini bisa dijadikan sarana refreshing setelah berkutat dengan berbagai aktivitas seharian. Pas pula, acara komedi ini muncul di malam hari, berkisar antar pukul 18.00 wib sampai 22.00 wib. Artinya bisa dinikmati sambil beristirahat bareng keluarga.
Namun, yang saya lihat akhir-akhir ini, semua acara hiburan seperti ini sama aja. Selalu ada joget-joget nggak jelas (saya menyebutnya joget ayan), lawakan yang kasar dan menghina orang, ada lempar-lemparan tepung, dan sekarang yang mulai nge-trend lagi, pake ngundang pesulap-pesulap yang bisa hipnotis, terus artisnya bakal dihipnotis dan dikerjain macam-macam.

Disalah satu acara, sebut saja Yuk Keep Stres atau populer disebut YKS, penontonnya datang dengan dandanan super aneh dan dengan polosnya mau diajak joget ayan bersama. Parahnya, joget ini disebut-sebut bisa mengalahkan ketenaran Gangnam Style dan Harlem Shake yang sudah mendunia. Super lebay! Saya masih belum bisa membayangkan ketika masyarakat global beramai-ramai meng-upload video joget ayan mereka di Youtube. Coba bayangkan pemimpin dunia, katakanlah.. Obama, berjoget ayan dengan Caesar? Aneh? Yap! Obama sendiri pernah  ber-Gangnam Style ria dengan PSY disuatu acara. Ada di Youtube dan seluruh dunia bisa lihat. Bagaimana kalau seluruh dunia melihat Obama joget ayan bareng Caesar? Nggak perlu saya jelasin lagi.

Anehnya, acara joget ayan ini justru mendapatkan rating tinggi. Pembodohan massal? Kalau masalah ini terus terang saya tidak tahu, kenapa masyarakat suka dengan acara nggak jelas beginian. Pada akhirnya, kalau ada acara yang sukses, ratingnya tinggi, maka stasiun tv lain nggak mau kalah. Beberapa acara lawak lain mulai ‘menyelipkan’ joget-joget ayan terbaru hasil kreasinya masing-masing. Kenapa saya sebut ‘menyelipkan’? joget-joget ayan tersebut hanya mereka tunjukkan ketika sebelum muncul iklan, atau ketika memasuki akhir acara. Katakanlah terkesan malu-malu. Padahal nggak mau kalah. Itulah mengapa muncul yang disebut Goyang Bang Jali, Goyang Sundul, dan goyang atau joget ayan lainnya.

Pertanyaan saya, apa manfaatnya joget ayan tersebut? Salah-salah encok tuh pinggang!

Acara joget ayan selalu dihadiri oleh pelawak-pelawak kondang tanah air. Mungkin untuk menghibur penonton kali ya, dengan lawakan-lawakan mereka. Sayangnya, lawakan atau guyonan mereka terkesan kasar dan sama sekali tidak ada unsur edukatifnya.

Mungkin bukan saya saja yang mengeluhkan ini. Dan entah kenapa, mungkin bukan cuma saya juga yang mengindetikkan guyonan nggak mendidik itu hanya dengan program dan pelawak tertentu. Apakah harus kita sebut nama program dan nama pelawaknya? Kalian semua pasti sudah taulah. Padahal entah berapa kali mereka dapat teguran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Mungkin menurut mereka, lucu adalah menghina dan ngomong kasar. Beberapa pelawak juga rela berdandan layaknya wanita, bahkan rela berpenampilan layaknya orang bodoh dengan pakain compang-camping agar terlihat lucu. Dan apakah itu lucu? Bagi saya tidak.

Apakah lucu ketika seseorang yang kekurangan secara fisik disamakan dengan hal-hal menjijikkan dan hewan-hewan tertentu? Apakah lucu ketika seseorang yang sepatutnya lebih kita hormati, katakanlah orang yang lebih tua, dikatain dengan tidak sopan? Di mana sisi edukatifnya? Apakah tidak ada hal lain yang bisa ditertawakan? Yang lebih mendidik? Saya juga yakin penonton di studionya juga dibayar. Ketawa mereka terkesan dipaksakan, ditelinga saya hanya terdengar seperti teriakan, “AAHHK AAHK AAHHK”.

Itulah mengapa hampir semua artis bisa jadi pelawak. Penyanyi, host, pemain sinetron, presenter, semua bisa jadi pelawak asalkan memiliki kriteria: pandai mencaci dan menghina orang lain.

Belum lagi tuh kalau udah main-mainin tepung. Muka pelawaknya belepotan tepung semua. Bahkan saya pernah searching tentang acara beginian di google, sampai ada pelawak yang kesulitan nafas karena nggak siap lawan mainnya nyemprotin tepung ke arah mukanya. Akhirnya, itu tepung sebagian terhirup dan sebagian juga masuk ke mulut pelawaknya. Penonton yang seharusnya menjalankan tugas dengan teriakan “AAHHK AHHK” justru jadi waswas. Ada juga yang menggunakan property yang terbuat dari styrofoam dan dibentuk layaknya kursi, meja, pohon-pohon buatan, terus dipukul-pukulin ke lawan mainnya.

Oke, maksud dan tujuan tulisan random saya ini semata-mata untuk melindungi anak-anak dibawah umur dari program televisi seperti ini.

Tidakkah hal-hal negatif yang saya sebutkan bisa ditiru oleh anak-anak, biarpun dibawah layar televisi ada tulisan “property terbuat dari bahan yang tidak berbahaya” atau “jangan ditiru di rumah”. Tetap saja hal-hal semacam ini bukan konsumsi yang bagus bagi mereka, apalagi sama sekali nggak ada unsur edukatifnya.

Menurut saya harus ada peraturan yang ketat dari pihak-pihak yang berwenang dalam mengurus yang seperti ini. Kalaupun KPI, saya kira sudah bekerja maksimal. Mereka cukup jeli menerima laporan-laporan serta memberi peringatan dan sanksi yang tegas terhadap insan yang terlibat di program televisi tersebut.

Kalaupun pihak televisi bersikukuh mempertahankan program mereka, sebaiknya jam tayang program tersebut digeser lebih malam lagi, yaitu ketika jam anak-anak sudah tidur. Sangat tidak bagus anak-anak dibawah umur dijejali program tidak mendidik. Selain itu, yang terbaik adalah pengawasan orang tua terhadap anak lebih diketatkan dalam memilih program televisi, apalagi yang bersifat acara hiburan yang banyak dicari oleh anak-anak.

Maaf kalau ada kata-kata saya yang menyinggung. Maklum, saya terbawa suasana kalau bahas program televisi saat ini. Ayo! Lebih sayang lagi terhadap calon generasi muda kita. Jangan biarkan mereka dirusak oleh program tv nggak bermutu.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Kolonialisasi Media Televisi! Yuk ikut mengkritisi program televisi~”
http://kimva4ever.blogspot.com/2013/12/giveaway-kolonialisasi-media-televisi.html?showComment=1387800882441#c859325141731717647
 

Jumat, 18 Oktober 2013

Radio Galau FM + Kambing Jantan



Pernah nonton Radio Galau FM? Udah pernah? Bagus. Yg belum nonton itu derita lu. Karena saya di sini bukan utk mengajak kalian beli DVD bajakannya beramai-ramai (udah nggak main di layar tancep). Tokoh utamanya bernama Bara (Dimas Anggara). Pemuda jomblo ini hanya menghabiskan waktunya buat nulis. Targetnya cuma satu, bisa nyelesain buku pertama dia. Blablabla (baca: singkat cerita), Bara berkenalan dengan seorang cewek, adik kelas. Dan singkat cerita (baca: blablabla) mereka pun jadian. Beberapa bulan jadian, ternyata hubungan ini bukan seperti yg diharapkan Bara. Dia merasa stress karena sang pacar selalu minta diperhatikan. Sedangkan cita-cita dia dari awal--nyelesain buku--terbengkalai. Kesimpulannya, dia merasa terlalu banyak membuang waktunya buat sang pacar.

Kalau film yg satu ini pasti sudah tau semua, ya minimal pernah dengar judulnya lah. Kambing Jantan. Film pertama Raditya Dika ini memang tidak sesukses film2 dia yg lain seperti Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, maupun yang sekarang baru rilis, Manusia Setengah Salmon. Kambing Jantan menceritakan kisah hidup Raditya Dika yang kuliah di Australia. Dia harus meninggalkan keluarga, teman-teman, dan terutama pacarnya. Jarak yang menjadi alasan dia harus menjalani LDR, lintas benua malah. Namun jarak juga yg menjadi alasan mereka untuk putus.

Lalu untuk apa saya ngebacot tentang dua film di atas? Tidak lain dan tidak bukan karena dua film ini agak2 mirip dengan apa yg saya alami sekarang. Mungkin kalian sudah berfikir kalau pemeran Bara (Dimas Anggara) itu mirip dengan saya. Tapi maaf, bukan itu letak kemiripannya, saya jauh lebih ganteng. Atau kalian berfikir kalau saya lebih mirip kambing pada film Kambing Jantan? Sekali lagi maaf, mungkin saya memang mirip kambing (tentunya kambing yg ganteng), tapi sayangnya di film itu tidak ada kambing.

Oke, karena sudah penasaran, maka akan saya ceritakan.

Dulu sebelum punya pacar, saya sangat bersemangat untuk memelihara blog. Hampir setiap waktu saya habiskan didepan computer warnet untuk memperindah blog impian saya. Hampir setiap waktu juga saya habiskan untuk mencari ide buat tulisan2 saya.

Beberapa minggu ngeblog, saya kembali terhubung dengan teman lama saya, cinta monyet saya dulu. Kami terhubung lewat jejaring social, lalu tukeran nomor. Kira-kira seminggu saya komunikasi dengan dia (nb: dia di Semarang), kala itu juga itensitas nulis saya masih lancar, biarpun beberapa saja yg saya publish di blog (maklum, penulis amatir, masih nggak pede).

Namun keanehan muncul, saya merasa nyaman dengannya. Saya seperti kembali merasakan cinta monyet saya dulu, monyet yg lebih dewasa. Blablabla akhirnya saya beranikan diri buat nembak dia. Saya juga tidak melupakan fakta bahwa kami terpisah antara pulau Jawa dan pulau Sumatera. Intinya kami jadian.

Ketika itu saya tidak berfikir kalau hubungan ini akan membuat hobi baru saya (nulis) terganggu. Bahkan satu bulan jadian, saya belum sadar kalau sebenarnya blog saya sudah tidak terurus, tulisan-tulisan saya banyak yg belum selesai, putus ditengah jalan, jalan di tempat, atau apalah itu namanya.

Sekarang kami sudah 9 bulan pacaran, itu berarti sebentar lagi bakal melahirkan (emang hamil?). memang selama 9 bulan ini saya masih bisa memposting beberapa tulisan, namun itensitasnya sedikit sekali. Tidak bisa dipungkiri kalau pacaran memang membuat beberapa rutinitas saya terganggu.

Bukannya saya sok sibuk ngurusin pacar, karena beberapa orang—yg tidak mengerti—menganggap ini hanya “sebatas” LDR. Nggak lebih dari hubungan jarak jauh, nggak lebih menyakitkan dari jomblo, nggak lebih. Tetapi percayalah, LDR hanya akan membuat pikiran kita lebih lelah bekerja. Rasa curiga, rasa untuk saling percaya, apapun itu, tetap saja membuang waktu dan pikiran saya. Ah, mungkin yg senasib seperti saya yg memahami ini.

Bagi saya, apa yg saya alami ini sedikit mirip dengan apa yg dialami Bara atau Raditya Dika di film Radio Galau FM dan Kambing Jantan. atau lebih tepatnya penggabungan dua film ini. Saya dan Bara sama2 terjebak antara pacar dan tulis-menulis. Saya juga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar saya, seperti yg dialami Raditya Dika.

Namun, yg namanya film pasti ada akhirnya. Dan akhir dari kedua film tersebut juga berkaitan. Bara lebih memilih menyelesaikan bukunya daripada pacaran. Keputusannya tepat. Dia jadi penulis. Dika yg semakin tersiksa selama LDRan, miris biaya telepon, miris melihat orang lain pacaran, juga memilih putus. Keputusannya tepat. Dia jadi tahu apa yg lebih dia butuhkan. Dika akhirnya menulis pengalaman dia menjadi buku. Lalu apakah ending dari kisah saya juga harus seperti mereka? Putus? Mengingat saya juga mengimpi-ngimpikan menjadi penulis dan menerbitkan buku?

Maka tetap saja, ini adalah film saya (baca: hidup saya), ceritanya boleh ada kesamaan, ending-nya saya yg menentukan. Saya memutuskan untuk memulai blog ini dari awal lagi. Blog tempat menuangkan segala macam pemikiran, pendapat, ide, dan kreatifitas saya, tanpa harus mengorbankan pacar atau mengakhiri LDR yg sudah 9 bulan saya jalanin ini. Saya tetap akan mengembangkan kemampuan menulis saya. Mengembangkan ide saya. Menjadikannya hobi, dan apabila Tuhan mengizinkan, ini akan menjadi profesi saya.

Kamis, 31 Januari 2013

Mengangkat Nama Silat Melalui Film


Akhir-akhir ini film Indonesia berperan besar dalam mengangkat nama seni bela diri Silat di mata dunia. Kita masih ingat bagaimana om Gareth Evans dan aktornya, Iko Uwais, bekerja sama di film Merantau dan The Raid: Redemtion. Judul yang saya sebutkan terakhir sukses menembus pasar International. Sekuel kedua dari The Raid juga sedang digarap, The Raid: Berandal, yang tentunya juga penuh action dengan Silat sebagai bela dirinya.

Melihat hal ini, tercetus ide saya untuk membuat film yang juga bertemakan Silat. Tidak seperti Merantau dan The Raid yang dipenuhi adegan brutal nan sadis, film ini lebih dikhususkan untuk tontonan keluarga dan anak-anak. Film ini saya beri judul “The Silat Kid”. Berikut Sinopsisnya:


Drek Parkir, adalah seorang anak berumur 12 tahun yang tinggal di Detroid, Amerika Serikat. Suatu hari ibunya, Shelly, dipindahkan ke kota Padang, Indonesia, sehingga anaknya juga harus mengikutinya. Meski pada awalnya Drek sangat membenci Negara tersebut, dia mulai sedikit berubah ketika berkenalan dengan seorang gadis bernama Fatimah.  Kedekatan keduanya membuat Mad Dog, teman Fatimah, tidak terima. Dengan menggunakan jurus Silat, Mad Dog dengan mudah mengalahkan Drek.

Drek terus dikerjai oleh Mad Dog hingga suatu ketika Handianto, yang biasa dipanggil Pak Han menolongnya. Pak Han ini adalah seorang petugas Pemelihara Kebersihan di kost-kostan tempat tinggal Drek Parkir dan Ibunya.

Mengetahui bahwa Pak Han menguasai Silat, Drek pun meminta Pak Han untuk mengajarkan Silat kepadanya. Meski awalnya menolak, akhirnya Pak Han menerima tawaran itu, dengan syarat, Drek Parkir harus mengikuti kompetisi Silat tingkat Provinsi Sumatera Barat, yang akan diselenggarakan beberapa bulan kemudian, melawan Mad Dog dan teman-temannya.


Saya yakin film ini akan sukses, bahkan melewati pencapaian The Raid.  Jika om Gareth Evans tertarik dengan ide saya ini, om bisa email saya atau inbox di facebook saya, Ieechhad Eank Chelalu Chayeank (ini gak beneran, sumpah!). Untuk harga, bisa nego, saya banderol mulai dari Rp. 30 M (Milyar, bukan Meter). Dan jika ingin sinopsis lengkapnya, bisa saya berikan dengan syarat uang muka Rp. 45 M.

Selasa, 15 Januari 2013

Mahir Bermain Gitar Dengan Cepat



Haloo.. apa kabar my blog? Lama kita tak berjumpa *bersihin sarang laba2*

Update apa ya kali ini.. ah, saya mau berbagi ilmu sedikit. Mumpung yang namanya berbagi itu berpahala, apalagi yang dibagi adalah ilmu, saya akan berbagi bagaimana cara mahir bermain gitar. Ya, gitar!

Bagi para jomblo, belajar bermain gitar adalah solusi yang tepat untuk mengakhiri masa suram. Menurut survey, 8 dari 6 wanita menyukai pria yang mahir bermain gitar (loh, kok 8 dari 6 wanita?).  Saya sendiri teropsesi bermain gitar bukan untuk memikat para wanita, melainkan hanya penasaran bagaimana rasanya membawakan sebuah lagu sambil bermain gitar.

Lingkungan yang mendukung juga sangat berpengaruh. Seperti saya, teman2 sekelas saya sangat membantu saya ketika itu. Hampir setiap hari mereka membawa gitar ke sekolah, mau tidak mau saya juga ikut terpengaruh.

Bermodalkan gitar Yamaha tua pemberian om saya dan selembar kertas HVS berisi gambar kunci2 dasar dari internet, dalam waktu satu minggu saya bisa menghapal beberapa kunci dasar seperti Am, C, Em, G, F, D, Dm, dll. Beberapa hari berikutnya saya belajar untuk memindahkan kunci demi kunci dengan cepat. Teman saya memberi sebuah tips agar jari terbiasa untuk berpindah kunci: pertama, ambil sebuah gelang karet, lalu gelang karet tersebut diikatkan ke ke-empat jari, dari jari telunjuk sampai kelingking. Karet gelang diikat dengan erat hingga ke-empat jari jd tidak leluasa bergerak. Setelah itu agan bisa praktek memindahkan kunci, mulai dari Am ke F, lalu ke D, lalu ke Em, lalu ke kunci lainnya secara cepat. Cara tersebut sangat membantu saya. Dalam 2 hari jari saya sudah dengan lincahnya berpindah kunci.

Tahap akhir adalah tahap yg paling ditunggu, praktek membawakan lagu. Setelah meminta saran dari teman2, akhirnya saya memutuskan untuk belajar membawa lagu Bondan F2B – RIP. Kuncinya yg simple dan ga berubah2 sampai akhir adalah alasan saya. Kuncinya hanya Am Em F C. Jika dihitung2 tidak sampai 2 minggu saya sudah bisa bermain gitar.

          

Yang Nyasar di Mari: