Radio Galau FM + Kambing Jantan

By Irsyad Muhammad - 10/18/2013 08:41:00 PM



Pernah nonton Radio Galau FM? Udah pernah? Bagus. Yg belum nonton itu derita lu. Karena saya di sini bukan utk mengajak kalian beli DVD bajakannya beramai-ramai (udah nggak main di layar tancep). Tokoh utamanya bernama Bara (Dimas Anggara). Pemuda jomblo ini hanya menghabiskan waktunya buat nulis. Targetnya cuma satu, bisa nyelesain buku pertama dia. Blablabla (baca: singkat cerita), Bara berkenalan dengan seorang cewek, adik kelas. Dan singkat cerita (baca: blablabla) mereka pun jadian. Beberapa bulan jadian, ternyata hubungan ini bukan seperti yg diharapkan Bara. Dia merasa stress karena sang pacar selalu minta diperhatikan. Sedangkan cita-cita dia dari awal--nyelesain buku--terbengkalai. Kesimpulannya, dia merasa terlalu banyak membuang waktunya buat sang pacar.

Kalau film yg satu ini pasti sudah tau semua, ya minimal pernah dengar judulnya lah. Kambing Jantan. Film pertama Raditya Dika ini memang tidak sesukses film2 dia yg lain seperti Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, maupun yang sekarang baru rilis, Manusia Setengah Salmon. Kambing Jantan menceritakan kisah hidup Raditya Dika yang kuliah di Australia. Dia harus meninggalkan keluarga, teman-teman, dan terutama pacarnya. Jarak yang menjadi alasan dia harus menjalani LDR, lintas benua malah. Namun jarak juga yg menjadi alasan mereka untuk putus.

Lalu untuk apa saya ngebacot tentang dua film di atas? Tidak lain dan tidak bukan karena dua film ini agak2 mirip dengan apa yg saya alami sekarang. Mungkin kalian sudah berfikir kalau pemeran Bara (Dimas Anggara) itu mirip dengan saya. Tapi maaf, bukan itu letak kemiripannya, saya jauh lebih ganteng. Atau kalian berfikir kalau saya lebih mirip kambing pada film Kambing Jantan? Sekali lagi maaf, mungkin saya memang mirip kambing (tentunya kambing yg ganteng), tapi sayangnya di film itu tidak ada kambing.

Oke, karena sudah penasaran, maka akan saya ceritakan.

Dulu sebelum punya pacar, saya sangat bersemangat untuk memelihara blog. Hampir setiap waktu saya habiskan didepan computer warnet untuk memperindah blog impian saya. Hampir setiap waktu juga saya habiskan untuk mencari ide buat tulisan2 saya.

Beberapa minggu ngeblog, saya kembali terhubung dengan teman lama saya, cinta monyet saya dulu. Kami terhubung lewat jejaring social, lalu tukeran nomor. Kira-kira seminggu saya komunikasi dengan dia (nb: dia di Semarang), kala itu juga itensitas nulis saya masih lancar, biarpun beberapa saja yg saya publish di blog (maklum, penulis amatir, masih nggak pede).

Namun keanehan muncul, saya merasa nyaman dengannya. Saya seperti kembali merasakan cinta monyet saya dulu, monyet yg lebih dewasa. Blablabla akhirnya saya beranikan diri buat nembak dia. Saya juga tidak melupakan fakta bahwa kami terpisah antara pulau Jawa dan pulau Sumatera. Intinya kami jadian.

Ketika itu saya tidak berfikir kalau hubungan ini akan membuat hobi baru saya (nulis) terganggu. Bahkan satu bulan jadian, saya belum sadar kalau sebenarnya blog saya sudah tidak terurus, tulisan-tulisan saya banyak yg belum selesai, putus ditengah jalan, jalan di tempat, atau apalah itu namanya.

Sekarang kami sudah 9 bulan pacaran, itu berarti sebentar lagi bakal melahirkan (emang hamil?). memang selama 9 bulan ini saya masih bisa memposting beberapa tulisan, namun itensitasnya sedikit sekali. Tidak bisa dipungkiri kalau pacaran memang membuat beberapa rutinitas saya terganggu.

Bukannya saya sok sibuk ngurusin pacar, karena beberapa orang—yg tidak mengerti—menganggap ini hanya “sebatas” LDR. Nggak lebih dari hubungan jarak jauh, nggak lebih menyakitkan dari jomblo, nggak lebih. Tetapi percayalah, LDR hanya akan membuat pikiran kita lebih lelah bekerja. Rasa curiga, rasa untuk saling percaya, apapun itu, tetap saja membuang waktu dan pikiran saya. Ah, mungkin yg senasib seperti saya yg memahami ini.

Bagi saya, apa yg saya alami ini sedikit mirip dengan apa yg dialami Bara atau Raditya Dika di film Radio Galau FM dan Kambing Jantan. atau lebih tepatnya penggabungan dua film ini. Saya dan Bara sama2 terjebak antara pacar dan tulis-menulis. Saya juga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar saya, seperti yg dialami Raditya Dika.

Namun, yg namanya film pasti ada akhirnya. Dan akhir dari kedua film tersebut juga berkaitan. Bara lebih memilih menyelesaikan bukunya daripada pacaran. Keputusannya tepat. Dia jadi penulis. Dika yg semakin tersiksa selama LDRan, miris biaya telepon, miris melihat orang lain pacaran, juga memilih putus. Keputusannya tepat. Dia jadi tahu apa yg lebih dia butuhkan. Dika akhirnya menulis pengalaman dia menjadi buku. Lalu apakah ending dari kisah saya juga harus seperti mereka? Putus? Mengingat saya juga mengimpi-ngimpikan menjadi penulis dan menerbitkan buku?

Maka tetap saja, ini adalah film saya (baca: hidup saya), ceritanya boleh ada kesamaan, ending-nya saya yg menentukan. Saya memutuskan untuk memulai blog ini dari awal lagi. Blog tempat menuangkan segala macam pemikiran, pendapat, ide, dan kreatifitas saya, tanpa harus mengorbankan pacar atau mengakhiri LDR yg sudah 9 bulan saya jalanin ini. Saya tetap akan mengembangkan kemampuan menulis saya. Mengembangkan ide saya. Menjadikannya hobi, dan apabila Tuhan mengizinkan, ini akan menjadi profesi saya.

  • Share:

You Might Also Like

3 Comments

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.