Selasa, 25 November 2014

Oasis: Tentang Musik yang Berkelas, bukan Selera Jadul


Saya lagi termenung di depan laptop. Pandangan kosong, pikiran menerawang ke mana-mana, mencoba menggali ide. Faktanya, selama 30 menit Microsoft Word 2007 di layar laptop saya  masih kosong tanpa satu huruf pun.

Inilah kondisi yang paling menjengkelkan. Keinginan menulis menggebu-gebu, tapi pikiran saya buntu. Di saat yang bersamaan, playlist lagi muterin Champagne Supernova-nya Oasis.  How many special people change, how many lives are livin' strange, Where were you while we were gettin' high?”

Otomatis fokus saya langsung terganti ke lagu yang diputar. Iya, saya selalu menikmati setiap lagu Oasis. Rasanya tak ingin tertinggal satu detik pun dari setiap lirik dan alunan musiknya.  

Dan kalau anda berfikir saya adalah pria berusia 30 an tahun, anda salah. 

Kebanyakan orang-orang yang masa SMP atau SMA-nya tahun 90an, pasti tahu Oasis. Sayangnya masa SMP saya lebih didominasi lagu-lagu Indonesia bergenre Pop-Melayu yang mendayu-dayu, dan masa SMA saya lebih sering disuguhi sekumpulan cowok-cowok cantik dan cewek-cewek seksi yang berjoget di atas panggung dengan suara lipsing.

Lalu pertanyiinnyi, maaf, pertanyaannya, dari mana saya bisa tahu Oasis? Sedangkan Champagne Supernova punya Oasis ini sendiri adalah lagu tahun 90-an, tepatnya dirilis tahun 96 di mana saya baru keluar dari perut bumi lahir. Bahkan lagu fenomenal mereka, Wonderwall, sudah booming sejak tahun 92. Ketika album terakhir mereka dirilis, usia saya masih 9 tahun, sebelum pada akhirnya mereka resmi bubar pada 2009.

Jawabannya tak lain dan tak bukan karena saya selalu mendengarkan Peterpan (sekarang NOAH). Dari dulu hingga sekarang, playlist saya selalu disesaki dengan lagu-lagu Peterpan, hingga sekarang menjadi NOAH. Bagi saya hanya merekalah yang sesuai dengan selera musik saya. Band-band beraliran Pop-Melayu yang sempat booming di mana-mana, hingga wabah ebola boyband-girlband sama sekali nggk berpengaruh.

Baru belakangan ini saya ketahui bahwa Uki—sang gitaris Peterpan—adalah penggila Oasis. Beberapa sumber yang saya baca sering kali mengait-ngaitkan permainan gitar Uki terlalu kental dengan Oasis.

Pada saat itu saya belum tahu apa-apa tentang Oasis ini. Yang ada dipikiran saya Oasis adalah sebuah kartun kadal bego yang luntang-lantung di gurun gersang tanpa tujuan yang jelas. Belakangan juga saya baru tahu bahwa Oasis dan Oscar Oasis adalah dua hal yang jauh berbeda.

Saya googling tentang Oasis, cari tahu lagu-lagu mereka yang terkenal. Lalu sampailah ke kuping saya Don’t Look Back in Anger.

Mendengar intronya saja saya sudah tahu bahwa lagu yang seperti ini lah yang saya mau. Mungkin saya lebih tertarik dengan lagu yang irama gitarnya sedikit catchy.  Simpel, mudah didengar, namun berkualitas.

Slip inside the eye of your mind
Don't you know you might find
  A better place to play
You said that you'd never been
All the things that you've seen
  Will slowly fade away

Dari lagu itu mengantarkan saya ke lagu-lagu lainnya, Wonderwall, Don’t Go Away, Stand By Me, Lyla, Stop Crying Your Heart Out, dan lainnya. Yang saya sebutkan merupakan beberapa favorit saya.

Lebih lanjut Oasis mengantarkan saya untuk tahu tentang band-band seangkatan mereka, seperti Radiohead, Weezer, U2, Nirvana, The Cranberries, dan beberapa lainnya. Band era sekarang ini yang menurut saya masih “sewarna” dengan yang saya sebutkan hanyalah Coldplay.

Bagaimana lagu kebanyakan saat ini? Hanya didominasi lagu-lagu mentel, nggak jelas, musiknya bikin sakit kepala dan liriknya ngasal. Ya, tidak semua seperti itu. Kebanyakan. Terserah mau protes atau tidak.

Bagaimana bisa lagu yang di liriknya banyak terdapat kata-kata kasar seperti sh*t, f*ck,di bawa oleh penyanyi yang sok centil, lalu diiringi musik yang terkesan hanya dentuman bub bub bub bub plus efek-efek disco lainnya, begitu mudah didengar di mana-mana?

Coba lihat penggalan lirik Stop Crying Your Heart Out yang keren ini:
Cause all of the stars are fading away
Try not to worry you’ll see them some day
Take what you need and be on your way
And stop crying your heart out

Atau ketika kamu mendengarkan The Scientist atau Fix You-nya Coldplay, Fake Plastic Trees atau Creep-nya Radiohead?  Bukankah terlalu berbeda kualitas, baik lirik maupun musiknya, dibandingkan dengan lagu-lagu yang ada pada saat ini?

Sekali lagi saya katakan tidak secara keseluruhan, tetapi kebanyakan ketika melihat channel-channel musik pada tv kabel d kos saya memang kenyataannya seperti itu. Mentel dan bikin sakit kepala.

Begitu juga dengan lagu-lagu Indonesia yang ada pada playlist saya, selain Peterpan atau sekarang NOAH, saya lebih suka mendengarkan Sheila On 7, Padi, atau seangkatannya dibandingkan lagu Indonesia yang sedang ngetren sekarang ini.

Ya, selera musik kita berbeda-beda, dan tidak ada yang salah dengan itu.

Wajar ketika teman seumuran saya menanyakan band favorit saya, selain menjawab Peterpan, pasti saya menjawab Oasis. Dan respon dari mereka selalu sama,

“aku nanyak band kesukaan, bukan kartun favorit!”.

Oke, sekarang saya jadi iri dengan mereka yang masa SMP/SMA nya disuguhi dengan band-band seperti Oasis, dengan musiknya yang begitu berkualitas. Dan orang-orang yang merasakan masa itu mungkin sekarang lebih layak saya panggil Om.
   


Jumat, 22 Agustus 2014

Berhenti

Putus  cinta mungkin adalah hal yang paling ditakutin dalam hubungan orang berpacaran. Kenapa ada yang namanya putus? Karena ada yang namanya pacaran. Nggak mungkin seseorang bisa putus cinta  kalau sebelumnya belum pernah pacaran. Bener nggak, mblo?

Sebagian orang putus dengan pacarnya karena beberapa hal. Ada yang karena si cowok ketahuan selingkuh, sudah tidak ada kecocokan lagi, sering berantem, jenuh, atau karena baru tahu bahwa selama ini mereka sesama jenis. Lalu mereka selesai begitu saja.

Sebagian ababil (abege labil) yang berkeliaran di muka bumi ini memiliki masalah klasik dalam mengakhiri masa pacarannya. Biasanya mereka yang sudah lama pacaran selama SMA, lalu harus menerima kenyataan pahit setelah lulus. Iya, putus karena bakal kuliah di tempat yang berbeda, beda kota, beda Provinsi, bahkan beda negara. Si cewek bakal kuliah di Amerika, dan si cowok bakal kuliah di Zimbabwe. Atau yang pacaran sama adik kelasnya di SMA, ternyata si abang kelas bakal kuliah di Sabang meninggalkan si adik kelas yang masih SMA di Merauke. Dari Sabang sampai Merauke dong? Tenang, itu cuma contoh.

Sebagian dari contoh ababil tersebut ternyata tidak mau dikalahkan oleh jarak. Bagi mereka jarak tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan cinta dan kesetiaan mereka. Mereka pacaran jarak jauh. LDRan biarpun terhalang oleh Amerika-Zimbabwe, atau dari Sabang sampai Merauke. Toh, sekarang jaman sudah canggih. Kita bisa tau kabar si doi lewat handphone, sosmed, dan lainnya. Kalau rindu dengan suaranya tinggal telponan, rindu lihat wajahnya tinggal webcaman.

Sebagian contoh ababil yang tidak mau dikalahkan oleh jarak tersebut ada yang bertahan hingga selesai kuliah, lalu takdir mempertemukan mereka kembali, lalu jodoh.  Namun banyak juga yang gugur di tengah perjalanan dalam menjalani hubungan-jarak-jauh-yang-super-duper-rumit ini.

Sebagian ababil yang gugur dalam menjalani hubungan-jarak-jauh-yang-super-duper-rumit ini kebanyakan karena beberapa hal. Ada yang karena si cowok ketahuan selingkuh, sudah tidak ada kecocokan lagi, sering berantem, jenuh, atau karena baru tahu bahwa selama ini mereka sesama jenis. Lalu mereka selesai begitu saja.

Ya, ini siklus yang sering ditemuin kalau para ababil tersebut mulai pacaran jarak jauh. Yang tidak kuat bakal melambaikan tangan ke kamera, lalu selesai begitu saja.

Bagaimana dengan aku? Yang sudah pacaran jarak jauh sejak SMA, merasakan pahit manisnya hubungan ini selama 19 bulan lebih, dan harus menerima kenyataan bahwa setelah tamat SMA kami bakal tetap dihalangi oleh jarak, bahkan tambah jauh lagi. Kalau kondisinya seperti itu pasti kita berfikir, lanjut atau putus?

Lanjut, tapi harus mengingat bahwa yang kemarin itu tidak mudah. Ketemuan juga masih bisa dihitung. Setelah itu menerawang bahwa kedepannya pasti bakal sibuk dengan urusan masing-masing. Putus, tapi harus menyadari bahwa kedepannya pasti  ada yang hilang. Setelah itu menyadari bahwa ada kenangan yang sudah melekat erat dan sulit lupakan.

Lanjut atau putus keduanya ada konsekuensi tersendiri. Maka aku harus mengambil jalan tengah, yaitu berhenti. Berhenti beda dengan putus. Kalau putus, ya putus begitu saja, sulit untuk melanjutkannya kembali. Tetapi ketika kita berhenti, kita masih bisa melanjutkannya.


Dan sekiranya sudah cukup dalam pemberhentian tersebut, merasa sudah siap, maka akan kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda. Intinya berhenti karena tidak ingin semuanya selesai begitu saja.

Yang Nyasar di Mari: