Rabu, 09 Desember 2015

Mimpi

Mataku memandangi wajahnya lamat-lamat. Selain tatapannya yang semakin teduh dan wajahnya yang semakin tirus, tak ada lagi yang berubah. Tahi lalat itu masih dengan nyaman berada di pipi kirinya, mengikuti kemana pun pipi kiri itu ingin tersenyum dengan indah.

Menjadi lebih indah lagi karena sejauh mata memandang, hanya ada padang rumput hijau yang diantaranya terselip bunga-bunga matahari yang berdiri lebih tinggi. Cahaya mentari sangat akrab menyinari bunga-bunga yang terobsesi dengannya itu. Nyanyian angin sepoi-sepoi menyamankan telinga, lembut menyentuh kulit, dan terasa segar bila dihirup dalam-dalam. Hari yang indah ini, tanpa meminta imbalan apa pun, rela menemani kami berdua yang duduk di atas rerumputan hijau, diantara bunga-bunga matahari yang berdiri jarang-jarang.

Tak jelas diingatanku apa yang kami bicarakan saat itu. Yang pasti, kami membicarakan banyak hal. Tak sabar bercerita apa saja yang sudah terjadi pada diri kami masing-masing. Kenangan-kenangan yang tak seberapa itu, tiba-tiba saja menjadi begitu mewah untuk diceritakan. Beberapa hal yang didasari oleh rasa ingin tahu, mendesak untuk segera ditanyakan.

Setiap patah kata yang keluar dari mulutku dia simak dengan baik. Aku mengadu apa saja padanya. Mengatakan bahwa aku mulai terbiasa dengan rutinitas baru ku, lalu aku mengakui bahwa aku melupakannya dan tak tahu di mana keberadaannya selama ini. Dia merespon semua ocehanku dengan anggukan dan senyum manisnya. Di saat yang sama, tiupan angin menyibakkan rambut hitam sebahu yang ia biarkan tergurai. Dia adalah pendengar yang baik.

Setiap patah kata yang keluar dari mulutnya, bagiku seperti sebuah potongan film bisu. Yang aku dengar adalah apa yang aku lihat. Senyumnya menandakan dia sedang bersama kenangan indahnya. Bila matanya sayu dan tatapannya kosong, dia teringat kenangannya yang pahit. Tawa riangnya membuktikan bahwa dia dapat melihat masa depan dengan penuh keyakinan.

Tanpa aku duga dia bangkit. Sebentar menatapku yang masih terduduk, lalu tersenyum melihat wajahku yang kebingungan. Sejurus kemudian dia membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dari sini, aku bisa melihat punggungnya yang tertutup gaun putih yang anggun, perlahan menjauh dari pandanganku. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah tak melihatnya lagi. Dia sudah pergi bersama padang rumput yang hijau ini, bahkan tak meninggalkan setangkai pun bunga matahari untukku. Semuanya hilang.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 WIB. Bersama malam yang hening, suara detik jarum jam yang terdengar, dan lampu yang temaram, aku memandangi langit-langit kamar dengan perasaan aneh bergejolak di dalam dada. Persoalannya bukan apa-apa, hanya saja, mimpi yang barusan aku alami ini mengingatkanku pada kenangan-kenangan itu—setidaknya sebelum dia meninggalkanku tanpa kabar.
   

Cerita Fiksi ini pada dasarnya bercerita tentang seseorang yang teringat kembali pada kenangan-kenangannya lewat sebuah mimpi. Selebihnya tentang siapa sosok 'dia' yang hadir di mimpinya, hanya tergantung pada persepsi masing-masing pembaca.

Kamis, 19 November 2015

Biarkan Aku Menyapamu

Aku masih tersungut sebal setiap melihatnya. Hari ini, ku hitung sudah tiga kali dia menyapa ku dengan cara seperti itu. Pertama, tadi pagi saat aku baru memasuki kelas. Kedua, saat berpapasan di kantin ketika jam istirahat. Dan ketiga, baru beberapa menit yang lalu, ketika jam sekolah sudah usai, ketika aku baru saja men-starter motorku di parkiran sekolah. Sehari tiga kali, seperti orang sakit yang harus minum obat. Ah, kenapa aku ini, kenapa pula harus sebal dengan orang yang menyapa kita. Bukankah kita sebagai orang Indonesia, keramah-tamahan menjadi ciri khasnya?

“Kau sadar, selama dua minggu ini dia terus menyapamu dengan cara yang menggelikan itu.” Rama, sahabatku, langsung bertanya tepat setelah sapaan ketiga tadi.

Ya, kami selalu bersama-sama, saat pulang sekolah seperti ini juga bareng karena rumah kami searah. Ralat, Rama sering minta diantarin pulang. Lebih tepatnya, Rama tukang nebeng.

Di motor, dalam perjalanan pulang, Rama tak henti-hentinya bertanya soal dia. Dia yang dua minggu terakhir selalu menyapaku. Yang dalam sehari, bisa sampai tiga kali menyapaku. Tiga kali.

Rama tahu semua kejadian itu.

“Mungkin dia menyukaimu, Gas.” Di belakangku, Rama setengah berteriak, memecahkan kebisingan knalpot-knalpot kendaraan lain di jalan raya.

Dia menyukaiku?

“Bagass!! Awasss!!” Rama memukul punggunggku sambil berteriak panik.

Di depan, dari arah yang sama, seorang Ibu-ibu mengendarai motor matic dengan laju yang sangat pelan. Tak mampu mengimbangi kecepatan motor yang aku bawa. Sedetik kemudian, umpatan Ibu-ibu itu memecah kebisingan lalu lintas. Ya, aku hampir menabrak Ibu itu. Beruntung di detik terakhir aku bisa menghindarinya. Ku lihat dari spion, Ibu itu dengan tatapan marah mengarahkan telunjuknya ke depan. Sedetik kemudian, jalan raya kembali beraktifitas sebagai mana lazimnya. Keringat bercucuran dari dahi ku.

“Hati-hati dong, Gas!” Rama marah-marah di belakang.

Harusnya aku yang marah karena dia melemparkan kalimat yang tidak tepat diucapkan disaat seperti ini.

“Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan tadi?” aku bertanya kepada Rama ketika sudah sampai di depan rumahnya.

“Kayaknya sih yakin.” Rama menjawab sambil turun dari motorku.

“Yee, kalau kayaknya, berarti belum yakin.” Aku menjitak kepala Rama, dia meringis.

“Yaudah deh, sebagai sahabat yang baik, aku kan cuma menyampaikan apa yang aku lihat aja.” Rama masih memegang kepalanya, masih meringis.

“Terserah sajalah.” kataku. “Aku cabut nih.”

“Nggak singgah?” tawar Rama.

Aku menggeleng.

“Oke, deh. Besok jemput lagi ya.” Rama nyengir.

Aku memasang wajah protes.

“Traktir siomay deh di kantin.”

“Besok aku jemput jam setengah tujuh.” kataku dengan mantap. Bergegas pergi.   

Dari spion, aku melihat Rama membuka pagar rumahnya. Namun, seiring motor yang semakin menjauh dan Rama yang sudah tak terlihat dari kaca spion, kalimat Rama tadi justru semakin melekat di kepalaku. Kalimat yang hampir membuatku menabrak ibu-ibu tadi.

***

Esok sama seperti hari-hari sebelumnya. Paling tidak, sama seperti dua minggu sebelumnya.

Aku hampir memasuki kelas. Rama berjalan lima langkah di depanku, Rama duluanlah yang menginjakkan kaki di kelas dari pada aku. Tetapi, aku lah yang mendapat sapaan itu. Sapaan dari dia.

Aku hanya membalas sapaan itu dengan senyuman. Aku tak tahu lagi harus bagaimana membalasnya, itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan. Merasa sedikit tidak nyaman, tapi sebisa mungkin tidak aku tunjukkan. Aku berjalan melewati dia. Menuju tempat dudukku yang letaknya paling belakang. Jauh di belakang dia yang duduk paling depan, tepat di depan meja guru. Entahlah, Dari empat lorong tempat duduk yang ada di kelasku, entah mengapa kami berada di lorong tempat duduk yang sama. Jadinya, setiap pagi aku harus melewati dia. Menghadapi sapaannya yang belakangan, aku menganggapnya sebagai sebuah rintangan yang harus aku lewati setiap mau ke tempat dudukku.

Aku meletakkan tas di atas meja, Rama yang duduk disampingku berbisik: satu kali.

Benar, hari ini masih ada dua kali lagi.

Ketika jam istirahat, aku yang sedang dengan lahapnya menyantap siomay traktiran dari Rama di kantin sekolah, tiba-tiba melihat dia berjalan di depanku bersama Nisa, sahabatnya. Matanya seperti mencari-cari sesuatu. Lalu ketika melihatku (seperti menemukan sesuatu), dia langsung berhenti sejenak dan menyapaku seperti biasa. Seperti biasa, yang bagiku tak biasa.

Aku menelan siomay yang aku kunyah. Setelah hasil kunyahan itu meluncur melewati kerongkongan, aku mengangguk tersenyum. Ya, hanya tersenyum. Senyum yang aku sendiri tak bisa merasakannya.

Rama berbisik: dua kali. Aku membalasnya dengan tatapan sebal.

Ketika... ah, aku rasa kalian sudah mengetahuinya. Tentu ini yang ketiga. Iya, saat pulang sekolah. Aku berjalan dengan Rama menuju parkiran motor, dia berlari kecil di belakangku, seperti hendak menyusul. Persis seperti kisah di sinetron-sinetron itu, ketika sesorang tak sengaja menjatuhkan sapu tangannya saat berjalan. Lalu, dia yang melihat kejadian itu, mengutip sapu tangan yang tergelatak di atas tanah, dan berniat mengembalikannya kepada sang pemilik. Pemilik sapu tangan ternyata sudah jauh berjalan di depan, tertutup oleh keurumunan orang lainnya. Dia yang mengutip sapu tangan, terpaksa cepat menyusul sang pemilik sapu tangan. Kalau tidak, dia akan kehilangan jejak pemilik sapu tangan dan sapu tangan tak akan pernah kembali pada tuannya. Persis seperti itu. Dia berlari kecil menyusulku, seakan aku menjatuhkan sapu tanganku dan dia mengutipnya.

Sayang seribu sayang, sapu tanganku masih di saku kemeja putihku. Tak ada yang terjatuh. Untuk apa dia berlari kecil menyusulku? Tentu untuk menyapaku. Aku, Rama, dia, dan kalian sudah tahu itu. Tak perlu panjang lebar aku menceritakan kisah-kisah yang ada di sinetron tadi.

Dia menyapaku, menyebut namaku, melambaikan tangan kanannya, tersenyum lebar, lalu pergi setelah aku membalasnya.. masih dengan senyuman. Ya, hanya seperti itu. Setelah sapaan di parkiran itu, tugas dia selesai. Rintangan yang aku lewatin pun juga selesai.

Rama berbisik: tiga kali.

Di motor, saat perjalanan pulang, Rama kembali membahas hal ini. Rama kembali mengatakan hal yang sama seperti kemarin: bahwa dia menyukaiku.

“Mungkin dia memang seperti itu. Memang ramah.” kataku setengah teriak, memecah kebisingan jalan raya.

“Kau lihat, di sekolah, kita ke mana pun selalu berdua. Apakah dia pernah menyapaku? Lihat, hanya kau yang dia sapa.” nada bicara Rama sedikit tertutup oleh bisingnya knalpot kendaraan lain, namun terdengar serius.

Aku hanya diam.

Kali ini, Rama kembali mengatakan hal yang menyita pikiranku. Beruntung kali ini aku bisa mengendalikannya. Setidaknya tak ada Ibu-ibu lain yang hampir aku tabrak.

***

Siapa yang tak mengenal dia. Murid yang selalu datang paling awal di kelas. Duduk paling depan, tepat di depan meja guru. Tipikal murid teladan yang sering bertanya pada saat pelajaran. Pintar, bahkan mendekati jenius. Berprestasi dan juara umum di sekolah. Secara pribadi, dia merupakan sosok yang ceria. Rambutnya selalu di kuncir ekor kuda. Sorot matanya penuh keyakinan. Sorot mata yang selalu melihat ke depan. Cantik? Bagi setiap orang itu relatif. Beberapa temanku pernah mengatakan bahwa dia berparas manis, namun, tak ada yang mau mendekatinya karena kejeniusanya. Ketahuilah, cowok-cowok juga tak terlalu tertarik dengan cewek yang jeniusnya kelewat batas, yang kepintarannya jauh melebihinya. Cowok nggak akan mau di saingi soal harga diri. Yang terakhir tadi mungkin menjawab pertanyaan kenapa dia tidak pernah terlihat punya pacar.

Di taksir oleh cewek seperti dia? Aku tidak yakin.

Lihatlah diriku, datang ke sekolah hanya untuk menunggu bel istirahat dan bel pulang. Duduk paling belakang. Boro-boro perprestasi, dapat 10 besar di kelas aja syukur. Tak ada prestasi yang membanggakan bagiku. Aku bukanlah anak ekskul basket atau futsal yang digemari banyak cewek. Bahkan, aku cenderung “tak terlihat” di sekolah. Murid yang biasa saja. Lurus. Bagiku, aku datang ke sekolah dengan damai. Tak perlu membuat masalah, pun cenderung tak mampu untuk berprestasi. Sekali lagi, aku tidak yakin dengan apa yang dikatakan Rama.

Aku sering mendapatkan teman-temanku bertanya perihal sikap dia ini. Aku hanya menjelaskan bahwa hal itu biasa saja. Di satu sisi, sapaan dia terlalu kentara. Apabila dia menyapaku di tengah keramaian (contohnya saat di kantin atau di parkiran saat pulang sekolah), semua orang seperti melihat kepadaku dengan tatapan yang menurutku menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan sapaan dia.

Bayangkan saja. Pagi hari, dia yang paling awal sampai di kelas, sudah duduk manis dengan buku pelajaran yang terbuka di mejanya (padahal kelas masih setengah jam lagi). Ketika langkah kaki ku memasuki kelas, sapaan itu datang. Sapaan dengan menyebutkan nama ku seceria mungkin. Sapaan dengan gestur tubuh yang terdiri dari lambaian tangan kanannya, senyum lebar khas iklan-iklan pasta gigi itu, dan sorot cahaya mata yang menatapku dengan binarnya. Sapaan yang kuduga sudah dia persiapkan dengan matang. Sapaan yang bagiku… entahlah.. sapaan yang seperti mengharapkan sesuatu dariku. Apa sesuatu itu? Aku juga tak tahu. Yang pasti, aku tidak nyaman dengan ini.

Di kelas, isu-isu menyebar dengan cepat. Teman-teman lain sibuk menanyakan hubunganku dengan dia. Aku semakin tidak nyaman. Faktanya, aku memang tak menjalin hubungan apa-apa dengannya.

***

Terhitung sudah tiga minggu sejak dia mulai menyapaku dengan cara seperti itu. Selama tiga minggu, tiga kali dalam sehari.

Ketidaknyamananku semakin bertambah. Isu-isu menyebar bagai penyakit cacar. Dari sebuah titik merah yang awalnya hanya terlihat di tangan, besok sudah ada di sekujur tubuh. Lalu menyebar ke orang-orang lain yang berdekatan dengan yang terkena penyakit. Menular.

Tiga minggu ini terasa lama berlalu, dan hal ini bagiku sudah terlalu jauh. Kabar kedekatanku dengan dia menyebar luas. Tunggu, kedekatan? Kami tidak dekat! Bahkan, berbicara selama 30 detik dengan dia saja tak pernah. Interaksi kami tak lebih dari sapaan dan senyuman saja. Tak lebih.  

Tubuhku merespon ketidaknyamanan ini.

Setiap aku mau memasuki kelas di pagi hari, secepat mungkin aku berjalan melewatinya. Dia tetap menyapa seperti biasa, aku membalasnya seperti biasa. Tapi, detik aku putar lebih cepat. Langkah kaki lebih ku percepat agar bisa sesegera mungkin ke tempat dudukku. Persis seperti orang yang kebelet buang air besar bergegas pergi ke WC.  

Setiap aku di kantin, lagi melahap siomay favoritku, sebisa mungkin aku menunduk, tak berani melihat ke mana-mana. Aku tak ingin dia melihatku (biarpun pada akhirnya tetap terlihat dan sapaan itu tetap terjadi).

Setiap pulang sekolah, hendak berjalan ke parkiran motor, aku berjalan dengan cepat, berharap dia tidak bisa menyusulku (biarpun pada akhirnya dia bisa menyusulku dan sapaan itu tetap terjadi).

Aku terus menghindar.

***

Entah kenapa, rasanya malas sekali untuk memulai hari ini. Aku memasuki kelas dengan tidak bergairah. Lalu menuju tempat dudukku. Meletakkan tas di atas meja, dan menyandarkan kepalaku di atas meja. Rama? Dia sudah dibelikan motor baru oleh orang tuanya. Jadi bisa pergi sendiri. Mungkin masih di jalan.

Deg.

Aku tersadar sesuatu: dia.

Kali ini dia tidak menyapaku seperti biasa. Aku terlalu tidak bersemangat berangkat sekolah sehingga tak memperhatikan hal ini. Mataku mencari ke depan. Dia ada di sana, duduk di tempat duduknya. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat punggungnya. Bisa dengan jelas ku lihat bahwa dia sedang membaca buku pelajaran. Mungkin terlalu serius membaca sehingga tak sadar akan kehadiranku.

Saat jam istirahat, aku duduk di kantin bersama Rama dan beberapa teman lainnya, hanya memesan minuman. Ditengah obrolanku dan teman-teman lainnya, mataku melihat dia datang ke kantin dengan Nisa, menuju lemari pendingin minuman, mengambil sebotol minuman jeruk, lalu pergi setelah membayarnya. Pandangannya lurus, sama sekali tak berusaha mencari apalagi melihatku.

Rama, yang kebetulan juga melihat hal itu, menatapku, mengerti ada sesuatu yang terjadi.

Begitu juga ketika pulang sekolah. Aku berjalan menuju parkiran motor, dan tak ada dia yang berusaha menyusulku lagi.  

***

Setelah hari itu, dia tak pernah menyapaku lagi. Jangan tanyakan soal senyumnya, lambaian tangannya, apalagi cara dia memanggil nama ku itu, semuanya satu paket dalam sapaannya.

Kabar baiknya, aku merasa hari ku kembali berjalan dengan normal. Aku memasuki kelas dengan damai, melahap siomay favoritku di kantin dengan khusyuk, berjalan menuju parkiran motor saat pulang sekolah tanpa merasa di kejar-kejar siapa pun. Aku kembali menjalankun fungsi sebagai murid yang “tak terlihat”. Isu kedekatan ku dengan dia sudah tak pernah terdengar. Setidaknya, dia juga tak perlu lagi menyapa ku seperti orang yang sedang “sakit”. Dia sudah benar-benar “sembuh”. Tak perlu minum obat sehari tiga kali lagi. Hal ini bagus untuk dia, bagus juga untukku.

Rama pernah mengatakan bahwa mungkin saja dia sudah lelah. Berharap sedikit kepekaan dari ku, yang aku sendiri tak mengerti harus peka dari sudut apa.

“Lihat, bahkan dia tak lagi memperdulikanmu sama sekali.” Kata Rama ketika suatu waktu kami makan di kantin, kebetulan dia berada di tempat yang sama.

Aku menjawabnya cuek.

Rama sempat menyarankan kalau aku harus mengirimkan pesan atau berteman dengannya di sosial media (mengirim permintaan pertemanan di facebook atau bbm, follow twitter atau instagram miliknya). Menurut Rama, setidaknya ada sedikit respon dari ku atas “usaha” dia selama ini. Agar aku tak terlalu menyakiti hatinya.

Aku menjitak kepala Rama. Aku tak pernah merasa menyakiti siapa pun.

“Kau baru saja menyakiti kepalaku.” Rama meringis sambil memegang kepalanya.

Dia menyukaiku? Aku tak tahu. Dia tak pernah menyatakannya dan aku tak pernah menanyakannya. Sapaan itu? Bagiku sapaan itu tidak menyatakan apa-apa. Hanya menyisakan kebingungan untukku.

Mengirimkan pesan atau lebih dekat dengannya di sosial media? Bagiku itu sudah terlambat. Dia sudah terlanjur berhenti. Lagi pula, buat apa? Aku tak pernah memikirkan dia.

Bagiku, dia masih seorang murid berprestasi dan jenius. Menjadi anak emas di sekolah, dan teladan yang harus di contoh oleh murid-murid lainnya. Terasa terlalu aneh buat cewek seperti dia, menyukai cowok biasa seperti aku. Dan itulah yang membuatku tak mengerti terhadap tingkah lakunya selama ini.

***

Pukul 14:00 WIB. Bel pulang sekolah. Pak Rofik, guru matematika kami menutup pelajaran dan mengucapkan salam. Murid-murid sibuk memasukkan alat tempurnya ke dalam tas. Berkontribusi menciptakan riak kecil yang memenuhi seisi ruang kelas XI-IA1 ini.

Tanpa kusadari, selembar kertas terlempar dari buku tulisku, buku terakhir yang akan aku masukkan ke dalam tas. Dari buku tulis itu, selembar kertas melayang lembut, jatuh menuju lantai, mendarat di antara kedua kaki ku. Di bawah sana, tergeletak lemas selembar kertas binder berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga di sudut kanan atasnya. Jelas itu bukan kertas milikku, namun entah kenapa bisa berada di buku tulis ini.

Aku memberikan kode pada Rama kalau dia bisa duluan keluar kelas. Rama mengangguk dan beranjak pergi. Rama tak melihat kertas yang terjatuh ini.

Aku mengutip kertas itu. Sekarang, di kelas ini, hanya ada aku dan selembar kertas di genggamanku. Di atasnya, tertera tulisan tangan yang rapi.

Sekarang aku baru menyadarinya.

Kau sama sekali tak mengharapkanku. Tak pernah, walaupun setiap kali aku mengharapkanmu.

Kepadamu, aku ingin bertanya..

Apakah aku mengganggumu?

Apakah aku membuatmu tidak nyaman?

Kalau benar seperti itu, aku minta maaf.

Tahu kah kau, setiap orang di sekolah ini selalu mengagumiku. Mereka dengan sangat mudah “melihatku”. Sekarang, bagaimana jika kita tukar kondisinya. Setiap orang yang ada di sekolah ini menjadi aku, dan aku menjadi kamu. Maka, begitulah caraku “melihatmu”. Oleh karena itu, aku sedikit mengerti atas ketidaknyamananmu ini.

Maafkan aku, aku hanya terlalu mengagumi attitude dan kepribadianmu. Salahkah itu?

Apakah aku juga harus menyalahkan orang-orang di sekolah ini yang selalu membangga-banggakan aku?

Kabar baik buatmu, ini terlalu sakit.

Rasa sakit ini yang pada akhirnya membantuku dalam memutuskan satu hal.

Hari ini, dalam tulisan di selembar kertas ini, aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku tidak akan pernah memanggil namamu lagi, tidak akan pernah tersenyum lagi untukmu, tak akan pernah melambaikan tangan kepadamu. Tak akan pernah.

Tolong ingatkan aku bila aku melanggar janji ini.

Maaf, aku benci kamu.

       Dari orang yang pernah mengagumimu, S.

Ku lipat kertas itu empat kali, ku simpan di saku dompetku, lalu beranjak meninggalkan kelas.             
MEMFIKSIKAN DIRI adalah sebuah karangan fiksi di mana saya menerjunkan diri saya sendiri ke dalam dunia fiksinya. Harap maklum kalau fiksinya masih membingungkan, namanya juga masih belajar :D Semoga berkenan meninggalkan kritik dan sarannya di kolom komentar :)

Kamis, 24 September 2015

Kuliah dan Matematika itu Sangat Tidak Matching


Akhirnya setelah sekian lama, dapat kesempatan lagi buat nulis. Maklum, orang sibuk. Mumpung nggak pernah ada jadwal shooting dan meeting, jadi nggak boleh di sia-siain. Iya, emang nggak pernah ada, jangan di bawa serius. Sebelumnya juga, aku mau ucapin selamat merayakan Hari Raya Idul Adha bagi umat muslim yang mampir ke blog ini. Yang nggak mampir? Selamat hari raya juga deh. Buat anak kos yang nggak bisa pulang ke kampung masing-masing karena libur kuliah yang sehari dua hari doang, jangan bersedih, kalian masih bisa merasakan lezatnya rendang daging… biarpun wujudnya berbentuk Pop Mie.

Kembali ke blog sederhana ini.

Akhir-akhir ini, kesempatan buat nulis memang sangat sempit. Sebagaian besar waktu biasanya digunakan untuk urusan kuliah. Yah, dinamika kampus nggak pernah usai. Sebagian lagi digunakan untuk tidur. Sebagian yang lebih besar lagi, emang karena nggak punya ide. 

Kuliah menyita banyak waktu ya sampai blog jadi terlantar gini?

Iya, emang menyita banyak waktu. Apa lagi kalau sekarang baru menyadari bahwa pelajaran yang sangat kita benci ketika SMA dulu menjadi pelajaran yang ilmunya sangat dibutuhkan di jurusan yang kita ambil di bangku kuliah. Semua jadi serba sulit. Pernah kayak gitu? Sekarang aku alamin sendiri.

Misalnya ketika SMA kamu sangat membenci pelajaran fisika, tapi sekarang justru kuliah di jurusan Teknik Elektro yang banyak hitungan fisikanya. Ada? Banyak. Maka, kalau saja ada mata pelajaran makan-makan di SMA—dan sialnya ada siswa yang membenci mata pelajaran tersebut, maka bisa jadi sekarang siswa tersebut sudah kuliah di jurusan Tata Boga.

Aku yang saat ini sedang kuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan, jurusan yang mempelajari ilmu ekonomi secara murni, justru sedang tersungkur di sudut kamar kos karena selalu gagal dalam menyelesaikan matriks 3x3 dengan metode Gauss-Jordan Elimination. Suatu kebodohan ketika dulu tidak mengetahi bahwa matematika adalah ilmu yang wajib dikuasai jika ingin menjadi seorang ekonom. Dan matematika itu sendiri, adalah pelajaran yang sangat tidak aku suka.  Sebenarnya bukan hanya tidak suka, aku juga termasuk lemah di bidang ilmu ini.

Dulu waktu SMA, kalau ada pelajaran matematika di kelas, aku lebih tertarik menghitung berapa helai kumis yang ada di bibir Pak Sukamto dari pada serius memperhatikan materi-materi yang sedang diterangkan. Makanya ketika Pak Sukamto tiba-tiba nanyak, “Irsyad, kamu kok melamun!? berapa hasil dari turunan ke dua fungsi ini?”


Dengan gelagapan aku jawab, “dua-ribu-dua-ratus-tujuh-puluh-tiga helai, Pak!”.

***

Seperti kata Sudjiwotedjo, Tuhan memang Maha Asyik. Sesuatu yang sangat kita tidak suka dulu, justru kini menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Begitu juga dengan matematika ini. Sekarang, satu-satunya cara bagiku adalah mengejar ketertinggalan.

Sebagai penutup jumpa kita di tulisan ini, ada sedikit quote dari bapak ekonomi makro sekaligus ekonom besar Inggris, John Maynard Keynes. Beliau mengatakan: seorang ekonom harus merupakan ahli matematika, sejarawan, dan filsuf sekaligus. Tiada duanya dan mulia seperti seniman, namun tetap mampu membumi seperti politikus.

Yap, sudah jelas apa yang dikatakan Keynes. Ahli matematika dan ahli menghitung berapa helai kumis guru matematika itu berbeda. Keynes ternyata jago nyindir juga.   


Senin, 29 Juni 2015

Mereka yang Mencari Makan dari Sepakbola


Jangan tanyakan padaku soal sepakbola. Kenapa? Karena aku adalah penggila bola kelas kakap. Aku sanggup melayani lawan bicaraku berjam-jam lamanya kalau sudah membahas soal sepakbola. Klub favoritku sampai sekarang adalah PSMS Medan. Iya, klub lokal. Sempat juga bergabung dengan komunitas suporter PSMS Fans Club (PFC) dan bernyanyi bersama mereka di tribun utara Stadion Teladan, Medan. Kalau kalian nonton pertandingan sepakbola di Indonesia, kalian lihat di stadion, bagian tribun terbuka, ada sekumpulan orang dengan pakaian yang warnanya sama, nyanyi, joget-joget, aku juga pernah seperti mereka.
Kondisi PSMS yang sembrawut beberapa tahun kebelakang, sempat membuat aku menuliskan unek-unek terhadap klub ini. Diperparah lagi ketika mengetahui bahwa Persipura Jayapura sudah bisa sampai di semifinal AFC Cup, waah, ada perasaan bangga sebagai orang Indonesia tentunya. Namun di satu sisi, “hei! Mereka pernah dikalahkan PSMS pada tahun 2007!”.
Tulisan itu sebenarnya sudah lama aku simpan, namun baru sekarang saja teringat untuk diposting. Mungkin yang kurang kerjaan mau baca tulisanku tentang PSMS, bisa meluncur ke sini: http://muhammadirsyadd.blogspot.com/2015/06/latepost-tentang-psms.html
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, berkeluh kesah tentang terpuruknya sebuah klub lokal di Indonesia sudah tidak ada gunanya. Sekarang bukan klub asal daerah kita saja yang terpuruk, jauh lebih luas lagi, yaitu sepakbola di negara ini sendiri..     
Toh, dari dulu hingga sekarang, sepakbola di negeri ini emang nggak pernah ada beresnya. Banyak pihak yang ingin berkuasa. Mungkin banyak keuntungan yang bisa dikerok karena sepakbola merupakan olahraga paling banyak diminati orang-orang Indonesia. Akhirnya, semua penuh dengan konflik. Melebihi konflik rumah tangga para artis di acara gosip di televisi. Konflik antara PSSI dengan pihak-pihak di luar PSSI, konflik antara PSSI dengan PSSI sendiri (waktu heboh-hebohnya dualisme), hingga yang terbaru konflik antara PSSI dengan Kemenpora yang kita tahu berada di bawah pemerintah.
Sorry, aku nggak mau berkoak-koak demi membenarkan atau mendukung salah satu pihak, seperti yang mereka debatkan di televisi itu. Aku pikir nggak ada gunanya sama sekali stasiun-stasiun televisi itu bersusah payah mengundang masing-masing pihak bila isinya cuma berdebat aku yang benar, kau yang salah. Nggak akan selesai-selesai.
Terlepas dari bobroknya PSSI mengelola sepakbola di Indonesia selama ini, nihil prestasi dan sebagainya, kita juga tidak bisa mendukung begitu saja langkah Menpora membekukan PSSI, sampai-sampai FIFA menjatuhkan sanksi karena konflik tersebut. Artinya, sudah di dalam negeri di bekukan, dikancah Internasional pun dialarang tampil. Inti dari artinya adalah, aktivitas sepakbola profesional di negeri ini berhenti total. Kalian mendukung kondisi ini?  
Ayolah, kita harus lihat dampaknya. Banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan, terutama mereka-mereka yang mencari makan melalui sepakbola. Kita harus membuka mata, bahwa bukan hanya pesepakbola lah yang kehilangan pekerjaan. Ketika berbicara sebuah tim, maka disitu ada para pemain, para pelatih, hingga official yang terdiri dari tim medis sampai yang tugasnya hanyalah menyiapkan sepatu atau minum para pemain. Berapa jumlah mereka bila ditotalkan dalam satu tim? 35 orang? 40 orang? Berapapun itu, mereka semua kehilangan mata pencaharian mereka.
Lebih luas lagi, berapa banyak orang yang ikut terlibat dalam satu pertandingan sepak bola resmi di Indonesia? Jika kita katakan sebuah tim berisi 35 orang, karena ada dua tim yang bertanding maka totalnya adalah 70 orang. Belum lagi 4 orang wasit yang terdiri dari wasit, asisten wasit 1 dan 2, dan wasit cadangan. Lalu ada panpel pertandingan yang bertanggung jawab atas pertandingan tersebut, juga termasuk didalamnya adalah yang bertugas menjual tiket dan sebagainya. Belum lagi para tukang parkir disekitar stadion, para pedagang minuman, penjual aksesoris untuk suporter, ataupun polisi-polisi yang mendapat job tambahan yang tugasnya mengamankan jalannya pertandingan. Berapa jumlah mereka? Ratusan orang kehilangan pekerjaan dalam satu buah pertandingan. Lalu berapa banyak pertandingan dalam semusim pada sebuah liga? Hitung ada berapa liga yang ada di Indonesia, mulai dari ISL hingga divisi-divisi dibawahnya, berapa jumlah tim yang berpertisipasi dalam sebuah liga, dan berapa total pertandingan yang akan gelar, dan tinggal kalian kalikan saja semuanya. Aku sendiri tidak bisa memberikan data dan perhitungan yang pasti karena aku sedang tidak dalam sebuah studi kasus ataupun sebuah penelitian. Yang pasti, akan sangat banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.
Saat ini para pemain sepakbola sedang memutar otak untuk menafkahi keluarga mereka. Bingung mencari pekerjaan apa lagi dengan keahlian satu-satunya adalah menendang bola, belum lagi para tukang parkir, penjual tiket, para pedagang yang biasa berjualan disekitar stadion pada saat ada pertandingan, mereka juga kehilangan pemasukan.
Selain itu kita juga punya banyak generasi-generasi muda dengan bakat luar biasa. Kita punya Evan Dimas, Paolo Sitanggang, Muchlis dkk yang menjadi modal berharga untuk mengisi skuad Timnas nanti. Mau dikemanakan bakat mereka?
Besok-besok, tak ada satupun orang tua di negeri ini yang mendukung anaknya untuk menjadi pemain sepakbola.
Apakah bapak-bapak yang "makan bola" ini tidak memikirkan akibat seperti ini? Padahal di sana ada pihak dari organisasi yang harus memastikan bahwa sepakbola Indonesia bisa berjalan dengan benar, dan ada pihak dari pemerintah yang kalau kita kembalikan tugasnya adalah memastikan perekonomian berjalan dengan baik. Bukan sebaliknya yang justru menambah suram potret sepakbola di negeri ini ataupun menciptakan pengangguran-pengangguran baru yang sebenarnya sudah berserakan di mana-mana. 

Senin, 13 April 2015

Begini Jadinya Kalau Dosen Nyuruh Bikin Surat Cinta

Bagi kebanyakan orang, hari senin menjadi hari yang sangat tidak ditunggu-tunggu. Bahkan, di sebuah film yang pernah aku tonton, ada satu tokoh yang sangat membenci minggu sore karena alasan nggak penting: besoknya senin. Jadi setiap minggu sore nggak ada yang dilakukannya selain meratapi esok hari.

Bagi aku sendiri, senin bukanlah hari yang berat. Jadwal sabtu malam minggu dan minggu malam adalah jadwal wajib pacaran sama bola, tidur pukul 01.00 malampun menjadi hal lumrah walaupun keesokannya harus kembali menjalankan aktivitas kuliah. Prinsipnya satu: Kuliah tidak menganggu nonton bola, nonton bola tidak menganggu kuliah. *sesat*

Hari ini, senin, cuma ada mata kuliah umum Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) pada pukul 12.00 wib. Selain cuma 2 sks, mata kuliah ini bukanlah mata kuliah yang berat. Dosennya juga tidak asing lagi bagiku, semester ganjil kemarin juga ada kelas dengannya.

Kuliah dengan, kita sebut saja Bu Wati, selalu sama setiap minggunya. 5-6 orang ditunjuk acak buat maju kedepan. Duduk manis dan bersiap menerima bombardir pertanyaan dari seisi kelas yang mahasiswanya bisa sampai 50an orang (maklum, kelas kuliah umum). Tidak ada yang tahu siapa yang bakal menjadi “korban” setiap minggu. Hanya Bu Wati dan Tuhanlah yang tau.

Senin ini berbeda. Setelah telat 40an menit dan beralasan sedang menerima tamu di ruangannya, Bu Wati tiba-tiba minta semuanya untuk mengeluarkan selembar kertas. Gawat. Kuis dadakan. Setahu aku beliau tidak pernah mengadakan kuis, jadi tidak ada persiapan sama sekali.

Seisi ruangan seperti tidak siap. Memasang muka bloon sambil menunggu detik-detik mendebarkan—menunggu dosen membacakan soal.

Setelah semuanya siap. Bu Wati membuka mulut, “Tuliskan..”

Ruangan hening, harap-harap cemas dengan soalnya.

Pada detik ini aku mengingat-ingat materi kuliah sebelumnya. Konsep keluarga, kelompok sosial, etika dan moral, dan.. kasih sayang? Alamak. Apa yang harus dijawab kalau soalnya seputar konsep kasih sayang? Kenapa harus ada materi seperti itu? Kenapa tidak di buka saja sekalian Program Studi S1 Kasih Sayang? Bukankah nanti terdengar keren gelarnya. Setelah lulus di belakang namanya tertera SKS. Sarjana Kasih Sayang. Sutirsno, SKS misalnya.

“Tuliskan surat cinta buat orang yang kalian sayang.”, dengan entengnya Bu Wati membacakan soal.

Selasa, 10 Februari 2015

Cintaku Berat di Batu Giok


Entah kenapa aku memilih judul ini. Tapi tenang, ini bukanlah sebuah tulisan tentang ftv-ftv alay yang biasa tayang di SC*V semacam Cintaku Bersemi di Batu Giok atau Kupinang Kau dengan Segenggam Batu Giok. Biasanya bercerita tentang seorang cewek cantik tajir yang tiba-tiba jatuh cinta kepada abang penjual batu giok. Tidak akan juga aku ceritakan bahwa si cewek cantik tajir ini nggk sengaja kenalan dengan abang penjual batu giok karena si abang berhasil menangkap jambret yang mengambil tas si cewek. Si abang penjual batu giok yang melihat kejadian itu, bak seorang pahlawan langsung melakukan jurus andalannya yaitu dengan melempar bongkahan batu giok besar ke kepala si penjambret. Dan aku juga tidak mungkin membuat cerita yang sangat gampang di tebak dengan si cewek tersebut bakal sering jalan dengan abang  penjual batu giok, dan akhirnya mereka pun menikah dengan batu giok cempaka sebagai mas kawinnya. Bukan, aku bukan mau menceritakan itu semua.

Yang mau aku ceritakan hanyalah tentang fenomena demam batu yang langsung aku rasakan ini. Alhamdulillah aku tidak mengalami demamnya, sampai saat ini masih sehat. Yang tidak “sehat” adalah orang-orang yang saat ini sedang terkena demam batu tersebut.

Dalam pemikiran awalku, batu cincin semcam ini hanyalah sebagai perhiasan wajib untuk para dukun. Setidaknya agar lebih menonjolkan kesan kedukunannya. Sekarang ketika batu cincin menjadi booming seperti ini, aku justru berfikir bahwa ini hanya digemari di kalangan bapak-bapak saja. Tetapi pemikiranku sepenuhnya meleset. Batu cincin sekarang juga digemari oleh anak-anak muda. Iya, setidaknya inilah kondisi yang aku lihat.

Kondisi teraneh yang aku rasakan adalah ketika sekumpulan mahasiswa semester 2 sibuk membahas batu cincin di kantin kampus sambil memamerkan batu cincin yang masing-masing mereka pakai. Tiba-tiba dalam pandanganku sekumpulan mahasiswa ini jadi seperti sekumpulan dukun yang sedang mengejar S-1. Belakangan aku baru sadar waktu itu aku juga sedang bersama mereka.

“lihat nih, punya ku kalau di senter batunya jadi warna kuning.”

“punya aku dong, kalau di senter warna-warni kayak pelangi.”

“Cincin aku kalau di senter kelihatan gambar harimau!”

“nggak ada apa-apanya, cincin aku kalau di senter kelihatan gambar mantan!!”

Atau kalau emang ternyata yang membahas batu cincin bener-bener sekumpulan dukun yang sedang mengejar S-1, mungkin menjadi seperti ini:

“Lihat nih, batu cincin ini bisa membuat dosen jadi nggak mau ngasih tugas.”

“Punya ku dong, bisa membuat dosen nggak mau masuk, tapi absensi tetap jalan.”

“Cincin aku bisa buat dosen ngasih nilai A buat aku!”

“Nggak ada apa-apanya, cincin aku bisa membuat dosen jatuh cinta sama aku, terus kami jadian, terus kalau sudah habis semester bakal aku putusin, terus dosen itu jadi mantan! Greget!”

Dasar batu cincin!

Belum habis tentang batu cincin. Belum lama ini seorang teman satu kampusku mengalami sedikit kejadian aneh nan memalukan. Cincin batu giok yang sama sekali tidak pernah ia lepaskan selama dua minggu di jari manisnya, tiba-tiba tidak bisa ditarik dan dikeluarkan! Apakah terjadi hal-hal mistis pada batu tersebut?

Oke, begini ceritanya:

Yang Nyasar di Mari: