Selasa, 10 Februari 2015

Cintaku Berat di Batu Giok


Entah kenapa aku memilih judul ini. Tapi tenang, ini bukanlah sebuah tulisan tentang ftv-ftv alay yang biasa tayang di SC*V semacam Cintaku Bersemi di Batu Giok atau Kupinang Kau dengan Segenggam Batu Giok. Biasanya bercerita tentang seorang cewek cantik tajir yang tiba-tiba jatuh cinta kepada abang penjual batu giok. Tidak akan juga aku ceritakan bahwa si cewek cantik tajir ini nggk sengaja kenalan dengan abang penjual batu giok karena si abang berhasil menangkap jambret yang mengambil tas si cewek. Si abang penjual batu giok yang melihat kejadian itu, bak seorang pahlawan langsung melakukan jurus andalannya yaitu dengan melempar bongkahan batu giok besar ke kepala si penjambret. Dan aku juga tidak mungkin membuat cerita yang sangat gampang di tebak dengan si cewek tersebut bakal sering jalan dengan abang  penjual batu giok, dan akhirnya mereka pun menikah dengan batu giok cempaka sebagai mas kawinnya. Bukan, aku bukan mau menceritakan itu semua.

Yang mau aku ceritakan hanyalah tentang fenomena demam batu yang langsung aku rasakan ini. Alhamdulillah aku tidak mengalami demamnya, sampai saat ini masih sehat. Yang tidak “sehat” adalah orang-orang yang saat ini sedang terkena demam batu tersebut.

Dalam pemikiran awalku, batu cincin semcam ini hanyalah sebagai perhiasan wajib untuk para dukun. Setidaknya agar lebih menonjolkan kesan kedukunannya. Sekarang ketika batu cincin menjadi booming seperti ini, aku justru berfikir bahwa ini hanya digemari di kalangan bapak-bapak saja. Tetapi pemikiranku sepenuhnya meleset. Batu cincin sekarang juga digemari oleh anak-anak muda. Iya, setidaknya inilah kondisi yang aku lihat.

Kondisi teraneh yang aku rasakan adalah ketika sekumpulan mahasiswa semester 2 sibuk membahas batu cincin di kantin kampus sambil memamerkan batu cincin yang masing-masing mereka pakai. Tiba-tiba dalam pandanganku sekumpulan mahasiswa ini jadi seperti sekumpulan dukun yang sedang mengejar S-1. Belakangan aku baru sadar waktu itu aku juga sedang bersama mereka.

“lihat nih, punya ku kalau di senter batunya jadi warna kuning.”

“punya aku dong, kalau di senter warna-warni kayak pelangi.”

“Cincin aku kalau di senter kelihatan gambar harimau!”

“nggak ada apa-apanya, cincin aku kalau di senter kelihatan gambar mantan!!”

Atau kalau emang ternyata yang membahas batu cincin bener-bener sekumpulan dukun yang sedang mengejar S-1, mungkin menjadi seperti ini:

“Lihat nih, batu cincin ini bisa membuat dosen jadi nggak mau ngasih tugas.”

“Punya ku dong, bisa membuat dosen nggak mau masuk, tapi absensi tetap jalan.”

“Cincin aku bisa buat dosen ngasih nilai A buat aku!”

“Nggak ada apa-apanya, cincin aku bisa membuat dosen jatuh cinta sama aku, terus kami jadian, terus kalau sudah habis semester bakal aku putusin, terus dosen itu jadi mantan! Greget!”

Dasar batu cincin!

Belum habis tentang batu cincin. Belum lama ini seorang teman satu kampusku mengalami sedikit kejadian aneh nan memalukan. Cincin batu giok yang sama sekali tidak pernah ia lepaskan selama dua minggu di jari manisnya, tiba-tiba tidak bisa ditarik dan dikeluarkan! Apakah terjadi hal-hal mistis pada batu tersebut?

Oke, begini ceritanya:

Yang Nyasar di Mari: