Senin, 13 April 2015

Begini Jadinya Kalau Dosen Nyuruh Bikin Surat Cinta

Bagi kebanyakan orang, hari senin menjadi hari yang sangat tidak ditunggu-tunggu. Bahkan, di sebuah film yang pernah aku tonton, ada satu tokoh yang sangat membenci minggu sore karena alasan nggak penting: besoknya senin. Jadi setiap minggu sore nggak ada yang dilakukannya selain meratapi esok hari.

Bagi aku sendiri, senin bukanlah hari yang berat. Jadwal sabtu malam minggu dan minggu malam adalah jadwal wajib pacaran sama bola, tidur pukul 01.00 malampun menjadi hal lumrah walaupun keesokannya harus kembali menjalankan aktivitas kuliah. Prinsipnya satu: Kuliah tidak menganggu nonton bola, nonton bola tidak menganggu kuliah. *sesat*

Hari ini, senin, cuma ada mata kuliah umum Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) pada pukul 12.00 wib. Selain cuma 2 sks, mata kuliah ini bukanlah mata kuliah yang berat. Dosennya juga tidak asing lagi bagiku, semester ganjil kemarin juga ada kelas dengannya.

Kuliah dengan, kita sebut saja Bu Wati, selalu sama setiap minggunya. 5-6 orang ditunjuk acak buat maju kedepan. Duduk manis dan bersiap menerima bombardir pertanyaan dari seisi kelas yang mahasiswanya bisa sampai 50an orang (maklum, kelas kuliah umum). Tidak ada yang tahu siapa yang bakal menjadi “korban” setiap minggu. Hanya Bu Wati dan Tuhanlah yang tau.

Senin ini berbeda. Setelah telat 40an menit dan beralasan sedang menerima tamu di ruangannya, Bu Wati tiba-tiba minta semuanya untuk mengeluarkan selembar kertas. Gawat. Kuis dadakan. Setahu aku beliau tidak pernah mengadakan kuis, jadi tidak ada persiapan sama sekali.

Seisi ruangan seperti tidak siap. Memasang muka bloon sambil menunggu detik-detik mendebarkan—menunggu dosen membacakan soal.

Setelah semuanya siap. Bu Wati membuka mulut, “Tuliskan..”

Ruangan hening, harap-harap cemas dengan soalnya.

Pada detik ini aku mengingat-ingat materi kuliah sebelumnya. Konsep keluarga, kelompok sosial, etika dan moral, dan.. kasih sayang? Alamak. Apa yang harus dijawab kalau soalnya seputar konsep kasih sayang? Kenapa harus ada materi seperti itu? Kenapa tidak di buka saja sekalian Program Studi S1 Kasih Sayang? Bukankah nanti terdengar keren gelarnya. Setelah lulus di belakang namanya tertera SKS. Sarjana Kasih Sayang. Sutirsno, SKS misalnya.

“Tuliskan surat cinta buat orang yang kalian sayang.”, dengan entengnya Bu Wati membacakan soal.

Yang Nyasar di Mari: