Mereka yang Mencari Makan dari Sepakbola

By Irsyad Muhammad - 6/29/2015 03:17:00 PM


Jangan tanyakan padaku soal sepakbola. Kenapa? Karena aku adalah penggila bola kelas kakap. Aku sanggup melayani lawan bicaraku berjam-jam lamanya kalau sudah membahas soal sepakbola. Klub favoritku sampai sekarang adalah PSMS Medan. Iya, klub lokal. Sempat juga bergabung dengan komunitas suporter PSMS Fans Club (PFC) dan bernyanyi bersama mereka di tribun utara Stadion Teladan, Medan. Kalau kalian nonton pertandingan sepakbola di Indonesia, kalian lihat di stadion, bagian tribun terbuka, ada sekumpulan orang dengan pakaian yang warnanya sama, nyanyi, joget-joget, aku juga pernah seperti mereka.
Kondisi PSMS yang sembrawut beberapa tahun kebelakang, sempat membuat aku menuliskan unek-unek terhadap klub ini. Diperparah lagi ketika mengetahui bahwa Persipura Jayapura sudah bisa sampai di semifinal AFC Cup, waah, ada perasaan bangga sebagai orang Indonesia tentunya. Namun di satu sisi, “hei! Mereka pernah dikalahkan PSMS pada tahun 2007!”.
Tulisan itu sebenarnya sudah lama aku simpan, namun baru sekarang saja teringat untuk diposting. Mungkin yang kurang kerjaan mau baca tulisanku tentang PSMS, bisa meluncur ke sini: http://muhammadirsyadd.blogspot.com/2015/06/latepost-tentang-psms.html
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, berkeluh kesah tentang terpuruknya sebuah klub lokal di Indonesia sudah tidak ada gunanya. Sekarang bukan klub asal daerah kita saja yang terpuruk, jauh lebih luas lagi, yaitu sepakbola di negara ini sendiri..     
Toh, dari dulu hingga sekarang, sepakbola di negeri ini emang nggak pernah ada beresnya. Banyak pihak yang ingin berkuasa. Mungkin banyak keuntungan yang bisa dikerok karena sepakbola merupakan olahraga paling banyak diminati orang-orang Indonesia. Akhirnya, semua penuh dengan konflik. Melebihi konflik rumah tangga para artis di acara gosip di televisi. Konflik antara PSSI dengan pihak-pihak di luar PSSI, konflik antara PSSI dengan PSSI sendiri (waktu heboh-hebohnya dualisme), hingga yang terbaru konflik antara PSSI dengan Kemenpora yang kita tahu berada di bawah pemerintah.
Sorry, aku nggak mau berkoak-koak demi membenarkan atau mendukung salah satu pihak, seperti yang mereka debatkan di televisi itu. Aku pikir nggak ada gunanya sama sekali stasiun-stasiun televisi itu bersusah payah mengundang masing-masing pihak bila isinya cuma berdebat aku yang benar, kau yang salah. Nggak akan selesai-selesai.
Terlepas dari bobroknya PSSI mengelola sepakbola di Indonesia selama ini, nihil prestasi dan sebagainya, kita juga tidak bisa mendukung begitu saja langkah Menpora membekukan PSSI, sampai-sampai FIFA menjatuhkan sanksi karena konflik tersebut. Artinya, sudah di dalam negeri di bekukan, dikancah Internasional pun dialarang tampil. Inti dari artinya adalah, aktivitas sepakbola profesional di negeri ini berhenti total. Kalian mendukung kondisi ini?  
Ayolah, kita harus lihat dampaknya. Banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan, terutama mereka-mereka yang mencari makan melalui sepakbola. Kita harus membuka mata, bahwa bukan hanya pesepakbola lah yang kehilangan pekerjaan. Ketika berbicara sebuah tim, maka disitu ada para pemain, para pelatih, hingga official yang terdiri dari tim medis sampai yang tugasnya hanyalah menyiapkan sepatu atau minum para pemain. Berapa jumlah mereka bila ditotalkan dalam satu tim? 35 orang? 40 orang? Berapapun itu, mereka semua kehilangan mata pencaharian mereka.
Lebih luas lagi, berapa banyak orang yang ikut terlibat dalam satu pertandingan sepak bola resmi di Indonesia? Jika kita katakan sebuah tim berisi 35 orang, karena ada dua tim yang bertanding maka totalnya adalah 70 orang. Belum lagi 4 orang wasit yang terdiri dari wasit, asisten wasit 1 dan 2, dan wasit cadangan. Lalu ada panpel pertandingan yang bertanggung jawab atas pertandingan tersebut, juga termasuk didalamnya adalah yang bertugas menjual tiket dan sebagainya. Belum lagi para tukang parkir disekitar stadion, para pedagang minuman, penjual aksesoris untuk suporter, ataupun polisi-polisi yang mendapat job tambahan yang tugasnya mengamankan jalannya pertandingan. Berapa jumlah mereka? Ratusan orang kehilangan pekerjaan dalam satu buah pertandingan. Lalu berapa banyak pertandingan dalam semusim pada sebuah liga? Hitung ada berapa liga yang ada di Indonesia, mulai dari ISL hingga divisi-divisi dibawahnya, berapa jumlah tim yang berpertisipasi dalam sebuah liga, dan berapa total pertandingan yang akan gelar, dan tinggal kalian kalikan saja semuanya. Aku sendiri tidak bisa memberikan data dan perhitungan yang pasti karena aku sedang tidak dalam sebuah studi kasus ataupun sebuah penelitian. Yang pasti, akan sangat banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.
Saat ini para pemain sepakbola sedang memutar otak untuk menafkahi keluarga mereka. Bingung mencari pekerjaan apa lagi dengan keahlian satu-satunya adalah menendang bola, belum lagi para tukang parkir, penjual tiket, para pedagang yang biasa berjualan disekitar stadion pada saat ada pertandingan, mereka juga kehilangan pemasukan.
Selain itu kita juga punya banyak generasi-generasi muda dengan bakat luar biasa. Kita punya Evan Dimas, Paolo Sitanggang, Muchlis dkk yang menjadi modal berharga untuk mengisi skuad Timnas nanti. Mau dikemanakan bakat mereka?
Besok-besok, tak ada satupun orang tua di negeri ini yang mendukung anaknya untuk menjadi pemain sepakbola.
Apakah bapak-bapak yang "makan bola" ini tidak memikirkan akibat seperti ini? Padahal di sana ada pihak dari organisasi yang harus memastikan bahwa sepakbola Indonesia bisa berjalan dengan benar, dan ada pihak dari pemerintah yang kalau kita kembalikan tugasnya adalah memastikan perekonomian berjalan dengan baik. Bukan sebaliknya yang justru menambah suram potret sepakbola di negeri ini ataupun menciptakan pengangguran-pengangguran baru yang sebenarnya sudah berserakan di mana-mana. 

  • Share:

You Might Also Like

4 Comments

  1. Nah iya. Aku juga kadang mikir gimana sama keluarganya pesepak bola. Tapi nggak terlalu ngerti soal bola sih mas. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau untuk melihat hal kayak gini, kita nggk perlu terlalu paham soal sepakbola. kritis boleh jadi.

      Hapus
  2. Terkadang mereka pun terpaksa untuk bermain di kompetisi tingkat kampung demi menjaga api kompor tetap mengepul

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, main tarkam. kalau kayak gini terus sepakbola kita cuma sampai level tarkam

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.