Kamis, 24 September 2015

Kuliah dan Matematika itu Sangat Tidak Matching


Akhirnya setelah sekian lama, dapat kesempatan lagi buat nulis. Maklum, orang sibuk. Mumpung nggak pernah ada jadwal shooting dan meeting, jadi nggak boleh di sia-siain. Iya, emang nggak pernah ada, jangan di bawa serius. Sebelumnya juga, aku mau ucapin selamat merayakan Hari Raya Idul Adha bagi umat muslim yang mampir ke blog ini. Yang nggak mampir? Selamat hari raya juga deh. Buat anak kos yang nggak bisa pulang ke kampung masing-masing karena libur kuliah yang sehari dua hari doang, jangan bersedih, kalian masih bisa merasakan lezatnya rendang daging… biarpun wujudnya berbentuk Pop Mie.

Kembali ke blog sederhana ini.

Akhir-akhir ini, kesempatan buat nulis memang sangat sempit. Sebagaian besar waktu biasanya digunakan untuk urusan kuliah. Yah, dinamika kampus nggak pernah usai. Sebagian lagi digunakan untuk tidur. Sebagian yang lebih besar lagi, emang karena nggak punya ide. 

Kuliah menyita banyak waktu ya sampai blog jadi terlantar gini?

Iya, emang menyita banyak waktu. Apa lagi kalau sekarang baru menyadari bahwa pelajaran yang sangat kita benci ketika SMA dulu menjadi pelajaran yang ilmunya sangat dibutuhkan di jurusan yang kita ambil di bangku kuliah. Semua jadi serba sulit. Pernah kayak gitu? Sekarang aku alamin sendiri.

Misalnya ketika SMA kamu sangat membenci pelajaran fisika, tapi sekarang justru kuliah di jurusan Teknik Elektro yang banyak hitungan fisikanya. Ada? Banyak. Maka, kalau saja ada mata pelajaran makan-makan di SMA—dan sialnya ada siswa yang membenci mata pelajaran tersebut, maka bisa jadi sekarang siswa tersebut sudah kuliah di jurusan Tata Boga.

Aku yang saat ini sedang kuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan, jurusan yang mempelajari ilmu ekonomi secara murni, justru sedang tersungkur di sudut kamar kos karena selalu gagal dalam menyelesaikan matriks 3x3 dengan metode Gauss-Jordan Elimination. Suatu kebodohan ketika dulu tidak mengetahi bahwa matematika adalah ilmu yang wajib dikuasai jika ingin menjadi seorang ekonom. Dan matematika itu sendiri, adalah pelajaran yang sangat tidak aku suka.  Sebenarnya bukan hanya tidak suka, aku juga termasuk lemah di bidang ilmu ini.

Dulu waktu SMA, kalau ada pelajaran matematika di kelas, aku lebih tertarik menghitung berapa helai kumis yang ada di bibir Pak Sukamto dari pada serius memperhatikan materi-materi yang sedang diterangkan. Makanya ketika Pak Sukamto tiba-tiba nanyak, “Irsyad, kamu kok melamun!? berapa hasil dari turunan ke dua fungsi ini?”


Dengan gelagapan aku jawab, “dua-ribu-dua-ratus-tujuh-puluh-tiga helai, Pak!”.

***

Seperti kata Sudjiwotedjo, Tuhan memang Maha Asyik. Sesuatu yang sangat kita tidak suka dulu, justru kini menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Begitu juga dengan matematika ini. Sekarang, satu-satunya cara bagiku adalah mengejar ketertinggalan.

Sebagai penutup jumpa kita di tulisan ini, ada sedikit quote dari bapak ekonomi makro sekaligus ekonom besar Inggris, John Maynard Keynes. Beliau mengatakan: seorang ekonom harus merupakan ahli matematika, sejarawan, dan filsuf sekaligus. Tiada duanya dan mulia seperti seniman, namun tetap mampu membumi seperti politikus.

Yap, sudah jelas apa yang dikatakan Keynes. Ahli matematika dan ahli menghitung berapa helai kumis guru matematika itu berbeda. Keynes ternyata jago nyindir juga.   


Reaksi:

4 komentar:

  1. "Kenyes ternyata jago nyindir juga".... Kok ngakak ya :)))
    -jevonlevin.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keynes bro, bukan Kenyes xD jadinya kayak kenyes-kenyes gt hahaha

      Hapus
  2. aku juga gak suka matematika dan fisika mas, hahaha, kayak disiksa kalau belajar itu, ihihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo gitu boleh ditanyak nih kuliahnya dulu dimana? hahaha

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: