Biarkan Aku Menyapamu

By Irsyad Muhammad - 11/19/2015 06:28:00 PM

Aku masih tersungut sebal setiap melihatnya. Hari ini, ku hitung sudah tiga kali dia menyapa ku dengan cara seperti itu. Pertama, tadi pagi saat aku baru memasuki kelas. Kedua, saat berpapasan di kantin ketika jam istirahat. Dan ketiga, baru beberapa menit yang lalu, ketika jam sekolah sudah usai, ketika aku baru saja men-starter motorku di parkiran sekolah. Sehari tiga kali, seperti orang sakit yang harus minum obat. Ah, kenapa aku ini, kenapa pula harus sebal dengan orang yang menyapa kita. Bukankah kita sebagai orang Indonesia, keramah-tamahan menjadi ciri khasnya?

“Kau sadar, selama dua minggu ini dia terus menyapamu dengan cara yang menggelikan itu.” Rama, sahabatku, langsung bertanya tepat setelah sapaan ketiga tadi.

Ya, kami selalu bersama-sama, saat pulang sekolah seperti ini juga bareng karena rumah kami searah. Ralat, Rama sering minta diantarin pulang. Lebih tepatnya, Rama tukang nebeng.

Di motor, dalam perjalanan pulang, Rama tak henti-hentinya bertanya soal dia. Dia yang dua minggu terakhir selalu menyapaku. Yang dalam sehari, bisa sampai tiga kali menyapaku. Tiga kali.

Rama tahu semua kejadian itu.

“Mungkin dia menyukaimu, Gas.” Di belakangku, Rama setengah berteriak, memecahkan kebisingan knalpot-knalpot kendaraan lain di jalan raya.

Dia menyukaiku?

“Bagass!! Awasss!!” Rama memukul punggunggku sambil berteriak panik.

Di depan, dari arah yang sama, seorang Ibu-ibu mengendarai motor matic dengan laju yang sangat pelan. Tak mampu mengimbangi kecepatan motor yang aku bawa. Sedetik kemudian, umpatan Ibu-ibu itu memecah kebisingan lalu lintas. Ya, aku hampir menabrak Ibu itu. Beruntung di detik terakhir aku bisa menghindarinya. Ku lihat dari spion, Ibu itu dengan tatapan marah mengarahkan telunjuknya ke depan. Sedetik kemudian, jalan raya kembali beraktifitas sebagai mana lazimnya. Keringat bercucuran dari dahi ku.

“Hati-hati dong, Gas!” Rama marah-marah di belakang.

Harusnya aku yang marah karena dia melemparkan kalimat yang tidak tepat diucapkan disaat seperti ini.

“Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan tadi?” aku bertanya kepada Rama ketika sudah sampai di depan rumahnya.

“Kayaknya sih yakin.” Rama menjawab sambil turun dari motorku.

“Yee, kalau kayaknya, berarti belum yakin.” Aku menjitak kepala Rama, dia meringis.

“Yaudah deh, sebagai sahabat yang baik, aku kan cuma menyampaikan apa yang aku lihat aja.” Rama masih memegang kepalanya, masih meringis.

“Terserah sajalah.” kataku. “Aku cabut nih.”

“Nggak singgah?” tawar Rama.

Aku menggeleng.

“Oke, deh. Besok jemput lagi ya.” Rama nyengir.

Aku memasang wajah protes.

“Traktir siomay deh di kantin.”

“Besok aku jemput jam setengah tujuh.” kataku dengan mantap. Bergegas pergi.   

Dari spion, aku melihat Rama membuka pagar rumahnya. Namun, seiring motor yang semakin menjauh dan Rama yang sudah tak terlihat dari kaca spion, kalimat Rama tadi justru semakin melekat di kepalaku. Kalimat yang hampir membuatku menabrak ibu-ibu tadi.

***

Esok sama seperti hari-hari sebelumnya. Paling tidak, sama seperti dua minggu sebelumnya.

Aku hampir memasuki kelas. Rama berjalan lima langkah di depanku, Rama duluanlah yang menginjakkan kaki di kelas dari pada aku. Tetapi, aku lah yang mendapat sapaan itu. Sapaan dari dia.

Aku hanya membalas sapaan itu dengan senyuman. Aku tak tahu lagi harus bagaimana membalasnya, itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan. Merasa sedikit tidak nyaman, tapi sebisa mungkin tidak aku tunjukkan. Aku berjalan melewati dia. Menuju tempat dudukku yang letaknya paling belakang. Jauh di belakang dia yang duduk paling depan, tepat di depan meja guru. Entahlah, Dari empat lorong tempat duduk yang ada di kelasku, entah mengapa kami berada di lorong tempat duduk yang sama. Jadinya, setiap pagi aku harus melewati dia. Menghadapi sapaannya yang belakangan, aku menganggapnya sebagai sebuah rintangan yang harus aku lewati setiap mau ke tempat dudukku.

Aku meletakkan tas di atas meja, Rama yang duduk disampingku berbisik: satu kali.

Benar, hari ini masih ada dua kali lagi.

Ketika jam istirahat, aku yang sedang dengan lahapnya menyantap siomay traktiran dari Rama di kantin sekolah, tiba-tiba melihat dia berjalan di depanku bersama Nisa, sahabatnya. Matanya seperti mencari-cari sesuatu. Lalu ketika melihatku (seperti menemukan sesuatu), dia langsung berhenti sejenak dan menyapaku seperti biasa. Seperti biasa, yang bagiku tak biasa.

Aku menelan siomay yang aku kunyah. Setelah hasil kunyahan itu meluncur melewati kerongkongan, aku mengangguk tersenyum. Ya, hanya tersenyum. Senyum yang aku sendiri tak bisa merasakannya.

Rama berbisik: dua kali. Aku membalasnya dengan tatapan sebal.

Ketika... ah, aku rasa kalian sudah mengetahuinya. Tentu ini yang ketiga. Iya, saat pulang sekolah. Aku berjalan dengan Rama menuju parkiran motor, dia berlari kecil di belakangku, seperti hendak menyusul. Persis seperti kisah di sinetron-sinetron itu, ketika sesorang tak sengaja menjatuhkan sapu tangannya saat berjalan. Lalu, dia yang melihat kejadian itu, mengutip sapu tangan yang tergelatak di atas tanah, dan berniat mengembalikannya kepada sang pemilik. Pemilik sapu tangan ternyata sudah jauh berjalan di depan, tertutup oleh keurumunan orang lainnya. Dia yang mengutip sapu tangan, terpaksa cepat menyusul sang pemilik sapu tangan. Kalau tidak, dia akan kehilangan jejak pemilik sapu tangan dan sapu tangan tak akan pernah kembali pada tuannya. Persis seperti itu. Dia berlari kecil menyusulku, seakan aku menjatuhkan sapu tanganku dan dia mengutipnya.

Sayang seribu sayang, sapu tanganku masih di saku kemeja putihku. Tak ada yang terjatuh. Untuk apa dia berlari kecil menyusulku? Tentu untuk menyapaku. Aku, Rama, dia, dan kalian sudah tahu itu. Tak perlu panjang lebar aku menceritakan kisah-kisah yang ada di sinetron tadi.

Dia menyapaku, menyebut namaku, melambaikan tangan kanannya, tersenyum lebar, lalu pergi setelah aku membalasnya.. masih dengan senyuman. Ya, hanya seperti itu. Setelah sapaan di parkiran itu, tugas dia selesai. Rintangan yang aku lewatin pun juga selesai.

Rama berbisik: tiga kali.

Di motor, saat perjalanan pulang, Rama kembali membahas hal ini. Rama kembali mengatakan hal yang sama seperti kemarin: bahwa dia menyukaiku.

“Mungkin dia memang seperti itu. Memang ramah.” kataku setengah teriak, memecah kebisingan jalan raya.

“Kau lihat, di sekolah, kita ke mana pun selalu berdua. Apakah dia pernah menyapaku? Lihat, hanya kau yang dia sapa.” nada bicara Rama sedikit tertutup oleh bisingnya knalpot kendaraan lain, namun terdengar serius.

Aku hanya diam.

Kali ini, Rama kembali mengatakan hal yang menyita pikiranku. Beruntung kali ini aku bisa mengendalikannya. Setidaknya tak ada Ibu-ibu lain yang hampir aku tabrak.

***

Siapa yang tak mengenal dia. Murid yang selalu datang paling awal di kelas. Duduk paling depan, tepat di depan meja guru. Tipikal murid teladan yang sering bertanya pada saat pelajaran. Pintar, bahkan mendekati jenius. Berprestasi dan juara umum di sekolah. Secara pribadi, dia merupakan sosok yang ceria. Rambutnya selalu di kuncir ekor kuda. Sorot matanya penuh keyakinan. Sorot mata yang selalu melihat ke depan. Cantik? Bagi setiap orang itu relatif. Beberapa temanku pernah mengatakan bahwa dia berparas manis, namun, tak ada yang mau mendekatinya karena kejeniusanya. Ketahuilah, cowok-cowok juga tak terlalu tertarik dengan cewek yang jeniusnya kelewat batas, yang kepintarannya jauh melebihinya. Cowok nggak akan mau di saingi soal harga diri. Yang terakhir tadi mungkin menjawab pertanyaan kenapa dia tidak pernah terlihat punya pacar.

Di taksir oleh cewek seperti dia? Aku tidak yakin.

Lihatlah diriku, datang ke sekolah hanya untuk menunggu bel istirahat dan bel pulang. Duduk paling belakang. Boro-boro perprestasi, dapat 10 besar di kelas aja syukur. Tak ada prestasi yang membanggakan bagiku. Aku bukanlah anak ekskul basket atau futsal yang digemari banyak cewek. Bahkan, aku cenderung “tak terlihat” di sekolah. Murid yang biasa saja. Lurus. Bagiku, aku datang ke sekolah dengan damai. Tak perlu membuat masalah, pun cenderung tak mampu untuk berprestasi. Sekali lagi, aku tidak yakin dengan apa yang dikatakan Rama.

Aku sering mendapatkan teman-temanku bertanya perihal sikap dia ini. Aku hanya menjelaskan bahwa hal itu biasa saja. Di satu sisi, sapaan dia terlalu kentara. Apabila dia menyapaku di tengah keramaian (contohnya saat di kantin atau di parkiran saat pulang sekolah), semua orang seperti melihat kepadaku dengan tatapan yang menurutku menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan sapaan dia.

Bayangkan saja. Pagi hari, dia yang paling awal sampai di kelas, sudah duduk manis dengan buku pelajaran yang terbuka di mejanya (padahal kelas masih setengah jam lagi). Ketika langkah kaki ku memasuki kelas, sapaan itu datang. Sapaan dengan menyebutkan nama ku seceria mungkin. Sapaan dengan gestur tubuh yang terdiri dari lambaian tangan kanannya, senyum lebar khas iklan-iklan pasta gigi itu, dan sorot cahaya mata yang menatapku dengan binarnya. Sapaan yang kuduga sudah dia persiapkan dengan matang. Sapaan yang bagiku… entahlah.. sapaan yang seperti mengharapkan sesuatu dariku. Apa sesuatu itu? Aku juga tak tahu. Yang pasti, aku tidak nyaman dengan ini.

Di kelas, isu-isu menyebar dengan cepat. Teman-teman lain sibuk menanyakan hubunganku dengan dia. Aku semakin tidak nyaman. Faktanya, aku memang tak menjalin hubungan apa-apa dengannya.

***

Terhitung sudah tiga minggu sejak dia mulai menyapaku dengan cara seperti itu. Selama tiga minggu, tiga kali dalam sehari.

Ketidaknyamananku semakin bertambah. Isu-isu menyebar bagai penyakit cacar. Dari sebuah titik merah yang awalnya hanya terlihat di tangan, besok sudah ada di sekujur tubuh. Lalu menyebar ke orang-orang lain yang berdekatan dengan yang terkena penyakit. Menular.

Tiga minggu ini terasa lama berlalu, dan hal ini bagiku sudah terlalu jauh. Kabar kedekatanku dengan dia menyebar luas. Tunggu, kedekatan? Kami tidak dekat! Bahkan, berbicara selama 30 detik dengan dia saja tak pernah. Interaksi kami tak lebih dari sapaan dan senyuman saja. Tak lebih.  

Tubuhku merespon ketidaknyamanan ini.

Setiap aku mau memasuki kelas di pagi hari, secepat mungkin aku berjalan melewatinya. Dia tetap menyapa seperti biasa, aku membalasnya seperti biasa. Tapi, detik aku putar lebih cepat. Langkah kaki lebih ku percepat agar bisa sesegera mungkin ke tempat dudukku. Persis seperti orang yang kebelet buang air besar bergegas pergi ke WC.  

Setiap aku di kantin, lagi melahap siomay favoritku, sebisa mungkin aku menunduk, tak berani melihat ke mana-mana. Aku tak ingin dia melihatku (biarpun pada akhirnya tetap terlihat dan sapaan itu tetap terjadi).

Setiap pulang sekolah, hendak berjalan ke parkiran motor, aku berjalan dengan cepat, berharap dia tidak bisa menyusulku (biarpun pada akhirnya dia bisa menyusulku dan sapaan itu tetap terjadi).

Aku terus menghindar.

***

Entah kenapa, rasanya malas sekali untuk memulai hari ini. Aku memasuki kelas dengan tidak bergairah. Lalu menuju tempat dudukku. Meletakkan tas di atas meja, dan menyandarkan kepalaku di atas meja. Rama? Dia sudah dibelikan motor baru oleh orang tuanya. Jadi bisa pergi sendiri. Mungkin masih di jalan.

Deg.

Aku tersadar sesuatu: dia.

Kali ini dia tidak menyapaku seperti biasa. Aku terlalu tidak bersemangat berangkat sekolah sehingga tak memperhatikan hal ini. Mataku mencari ke depan. Dia ada di sana, duduk di tempat duduknya. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat punggungnya. Bisa dengan jelas ku lihat bahwa dia sedang membaca buku pelajaran. Mungkin terlalu serius membaca sehingga tak sadar akan kehadiranku.

Saat jam istirahat, aku duduk di kantin bersama Rama dan beberapa teman lainnya, hanya memesan minuman. Ditengah obrolanku dan teman-teman lainnya, mataku melihat dia datang ke kantin dengan Nisa, menuju lemari pendingin minuman, mengambil sebotol minuman jeruk, lalu pergi setelah membayarnya. Pandangannya lurus, sama sekali tak berusaha mencari apalagi melihatku.

Rama, yang kebetulan juga melihat hal itu, menatapku, mengerti ada sesuatu yang terjadi.

Begitu juga ketika pulang sekolah. Aku berjalan menuju parkiran motor, dan tak ada dia yang berusaha menyusulku lagi.  

***

Setelah hari itu, dia tak pernah menyapaku lagi. Jangan tanyakan soal senyumnya, lambaian tangannya, apalagi cara dia memanggil nama ku itu, semuanya satu paket dalam sapaannya.

Kabar baiknya, aku merasa hari ku kembali berjalan dengan normal. Aku memasuki kelas dengan damai, melahap siomay favoritku di kantin dengan khusyuk, berjalan menuju parkiran motor saat pulang sekolah tanpa merasa di kejar-kejar siapa pun. Aku kembali menjalankun fungsi sebagai murid yang “tak terlihat”. Isu kedekatan ku dengan dia sudah tak pernah terdengar. Setidaknya, dia juga tak perlu lagi menyapa ku seperti orang yang sedang “sakit”. Dia sudah benar-benar “sembuh”. Tak perlu minum obat sehari tiga kali lagi. Hal ini bagus untuk dia, bagus juga untukku.

Rama pernah mengatakan bahwa mungkin saja dia sudah lelah. Berharap sedikit kepekaan dari ku, yang aku sendiri tak mengerti harus peka dari sudut apa.

“Lihat, bahkan dia tak lagi memperdulikanmu sama sekali.” Kata Rama ketika suatu waktu kami makan di kantin, kebetulan dia berada di tempat yang sama.

Aku menjawabnya cuek.

Rama sempat menyarankan kalau aku harus mengirimkan pesan atau berteman dengannya di sosial media (mengirim permintaan pertemanan di facebook atau bbm, follow twitter atau instagram miliknya). Menurut Rama, setidaknya ada sedikit respon dari ku atas “usaha” dia selama ini. Agar aku tak terlalu menyakiti hatinya.

Aku menjitak kepala Rama. Aku tak pernah merasa menyakiti siapa pun.

“Kau baru saja menyakiti kepalaku.” Rama meringis sambil memegang kepalanya.

Dia menyukaiku? Aku tak tahu. Dia tak pernah menyatakannya dan aku tak pernah menanyakannya. Sapaan itu? Bagiku sapaan itu tidak menyatakan apa-apa. Hanya menyisakan kebingungan untukku.

Mengirimkan pesan atau lebih dekat dengannya di sosial media? Bagiku itu sudah terlambat. Dia sudah terlanjur berhenti. Lagi pula, buat apa? Aku tak pernah memikirkan dia.

Bagiku, dia masih seorang murid berprestasi dan jenius. Menjadi anak emas di sekolah, dan teladan yang harus di contoh oleh murid-murid lainnya. Terasa terlalu aneh buat cewek seperti dia, menyukai cowok biasa seperti aku. Dan itulah yang membuatku tak mengerti terhadap tingkah lakunya selama ini.

***

Pukul 14:00 WIB. Bel pulang sekolah. Pak Rofik, guru matematika kami menutup pelajaran dan mengucapkan salam. Murid-murid sibuk memasukkan alat tempurnya ke dalam tas. Berkontribusi menciptakan riak kecil yang memenuhi seisi ruang kelas XI-IA1 ini.

Tanpa kusadari, selembar kertas terlempar dari buku tulisku, buku terakhir yang akan aku masukkan ke dalam tas. Dari buku tulis itu, selembar kertas melayang lembut, jatuh menuju lantai, mendarat di antara kedua kaki ku. Di bawah sana, tergeletak lemas selembar kertas binder berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga di sudut kanan atasnya. Jelas itu bukan kertas milikku, namun entah kenapa bisa berada di buku tulis ini.

Aku memberikan kode pada Rama kalau dia bisa duluan keluar kelas. Rama mengangguk dan beranjak pergi. Rama tak melihat kertas yang terjatuh ini.

Aku mengutip kertas itu. Sekarang, di kelas ini, hanya ada aku dan selembar kertas di genggamanku. Di atasnya, tertera tulisan tangan yang rapi.

Sekarang aku baru menyadarinya.

Kau sama sekali tak mengharapkanku. Tak pernah, walaupun setiap kali aku mengharapkanmu.

Kepadamu, aku ingin bertanya..

Apakah aku mengganggumu?

Apakah aku membuatmu tidak nyaman?

Kalau benar seperti itu, aku minta maaf.

Tahu kah kau, setiap orang di sekolah ini selalu mengagumiku. Mereka dengan sangat mudah “melihatku”. Sekarang, bagaimana jika kita tukar kondisinya. Setiap orang yang ada di sekolah ini menjadi aku, dan aku menjadi kamu. Maka, begitulah caraku “melihatmu”. Oleh karena itu, aku sedikit mengerti atas ketidaknyamananmu ini.

Maafkan aku, aku hanya terlalu mengagumi attitude dan kepribadianmu. Salahkah itu?

Apakah aku juga harus menyalahkan orang-orang di sekolah ini yang selalu membangga-banggakan aku?

Kabar baik buatmu, ini terlalu sakit.

Rasa sakit ini yang pada akhirnya membantuku dalam memutuskan satu hal.

Hari ini, dalam tulisan di selembar kertas ini, aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku tidak akan pernah memanggil namamu lagi, tidak akan pernah tersenyum lagi untukmu, tak akan pernah melambaikan tangan kepadamu. Tak akan pernah.

Tolong ingatkan aku bila aku melanggar janji ini.

Maaf, aku benci kamu.

       Dari orang yang pernah mengagumimu, S.

Ku lipat kertas itu empat kali, ku simpan di saku dompetku, lalu beranjak meninggalkan kelas.             
MEMFIKSIKAN DIRI adalah sebuah karangan fiksi di mana saya menerjunkan diri saya sendiri ke dalam dunia fiksinya. Harap maklum kalau fiksinya masih membingungkan, namanya juga masih belajar :D Semoga berkenan meninggalkan kritik dan sarannya di kolom komentar :)

  • Share:

You Might Also Like

22 Comments

  1. Balasan
    1. Waduh, belum raja ini mah namanya.. :(
      hahaha, tapi terimakasih banyak :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. referensi buat apaan sob? jarang2 nih tulisanku dijadiin referensi :D

      Hapus
  3. Buset dah, jago bikin cerita fiksi. Boleh dong diajarin, wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak bro :D
      ane sendiri baru aja belajar xD

      Hapus
  4. AKU SUKAAAAAAA;3 followback boleh mas hihi? thank you keep writing!

    BalasHapus
  5. Cowok yang pinter nulis itu biasanya romantis.
    Setahu gue sih. ahahahah sotoy... :D

    BalasHapus
  6. sungguh keputusan yang sulit untuk diambil tentunya. berhenti mengaggumi. huh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu ada saatnya untuk berhenti, berpindah, dan melanjutkan hidup. huh..

      Hapus
  7. Sapa aku juga bang :D

    Yang penting gak ngasih rasa sebalnya juga hihi

    Dapet tulisan awesome di pagi sabtu ini ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesuai karakter si 'aku' yang cenderung cuek dan ingin hidup dengan damai, sapaan seperti itu bagi dia sangat menganggu ;)
      terimakasih banyak :))

      Hapus
  8. fiksi yang baguss.. :))
    pasti dari inspirasi yang bagus pula.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. idenya sih biasa aja, tergantung cara kita mengembangkannya aja :p

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. fiksinya bagus kakak, mampir - mampir ke blog saya ya kakak ??

    terima kasih

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.