Rabu, 09 Desember 2015

Mimpi

Mataku memandangi wajahnya lamat-lamat. Selain tatapannya yang semakin teduh dan wajahnya yang semakin tirus, tak ada lagi yang berubah. Tahi lalat itu masih dengan nyaman berada di pipi kirinya, mengikuti kemana pun pipi kiri itu ingin tersenyum dengan indah.

Menjadi lebih indah lagi karena sejauh mata memandang, hanya ada padang rumput hijau yang diantaranya terselip bunga-bunga matahari yang berdiri lebih tinggi. Cahaya mentari sangat akrab menyinari bunga-bunga yang terobsesi dengannya itu. Nyanyian angin sepoi-sepoi menyamankan telinga, lembut menyentuh kulit, dan terasa segar bila dihirup dalam-dalam. Hari yang indah ini, tanpa meminta imbalan apa pun, rela menemani kami berdua yang duduk di atas rerumputan hijau, diantara bunga-bunga matahari yang berdiri jarang-jarang.

Tak jelas diingatanku apa yang kami bicarakan saat itu. Yang pasti, kami membicarakan banyak hal. Tak sabar bercerita apa saja yang sudah terjadi pada diri kami masing-masing. Kenangan-kenangan yang tak seberapa itu, tiba-tiba saja menjadi begitu mewah untuk diceritakan. Beberapa hal yang didasari oleh rasa ingin tahu, mendesak untuk segera ditanyakan.

Setiap patah kata yang keluar dari mulutku dia simak dengan baik. Aku mengadu apa saja padanya. Mengatakan bahwa aku mulai terbiasa dengan rutinitas baru ku, lalu aku mengakui bahwa aku melupakannya dan tak tahu di mana keberadaannya selama ini. Dia merespon semua ocehanku dengan anggukan dan senyum manisnya. Di saat yang sama, tiupan angin menyibakkan rambut hitam sebahu yang ia biarkan tergurai. Dia adalah pendengar yang baik.

Setiap patah kata yang keluar dari mulutnya, bagiku seperti sebuah potongan film bisu. Yang aku dengar adalah apa yang aku lihat. Senyumnya menandakan dia sedang bersama kenangan indahnya. Bila matanya sayu dan tatapannya kosong, dia teringat kenangannya yang pahit. Tawa riangnya membuktikan bahwa dia dapat melihat masa depan dengan penuh keyakinan.

Tanpa aku duga dia bangkit. Sebentar menatapku yang masih terduduk, lalu tersenyum melihat wajahku yang kebingungan. Sejurus kemudian dia membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dari sini, aku bisa melihat punggungnya yang tertutup gaun putih yang anggun, perlahan menjauh dari pandanganku. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah tak melihatnya lagi. Dia sudah pergi bersama padang rumput yang hijau ini, bahkan tak meninggalkan setangkai pun bunga matahari untukku. Semuanya hilang.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 WIB. Bersama malam yang hening, suara detik jarum jam yang terdengar, dan lampu yang temaram, aku memandangi langit-langit kamar dengan perasaan aneh bergejolak di dalam dada. Persoalannya bukan apa-apa, hanya saja, mimpi yang barusan aku alami ini mengingatkanku pada kenangan-kenangan itu—setidaknya sebelum dia meninggalkanku tanpa kabar.
   

Cerita Fiksi ini pada dasarnya bercerita tentang seseorang yang teringat kembali pada kenangan-kenangannya lewat sebuah mimpi. Selebihnya tentang siapa sosok 'dia' yang hadir di mimpinya, hanya tergantung pada persepsi masing-masing pembaca.

Yang Nyasar di Mari: