Minggu, 20 November 2016

Bintang Sesungguhnya

Nanti menoleh ke arah Kosasih. Dia cukup senang karena pacarnya sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Nanti melanjutkan kisahnya. “Dulu, ketika umurku empat tahun, Ibuku pernah bilang kalau setiap orang yang meningggal akan menjadi bintang, dan bertahun-tahun aku terus percaya akan hal itu. Karena perkataan Ibuku itu, setiap malam aku selalu melihat ke atas langit melalui jendela kamar, lalu berasumsi bahwa bintang yang paling besar dan terang adalah Ayahku. Dan setelah Ibuku meninggal dua tahun lepas, hampir tidak satu malam pun aku absen ke bukit ini, agar bisa berjumpa dengan kedua orang tuaku.”

Kosasih masih diam, membiarkan Nanti melepaskan semua kenangannya.

“Ya, aku tahu apa yang kau fikirkan. Tak seperti di desa dulu, di bawah sana, hirup pikuk kota membuat langit tampak muram pada malam hari. Tak ada bintang yang terlihat, aku tidak bisa menemui Ayah dan Ibuku lagi. Tampak berbeda jika dari atas bukit ini, bintang-bintang terlihat dengan jelas.” Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. “Aku sangat menyayangi mereka, mereka bintang sesungguhnya di hidupku.”

Sekali lagi Nanti menoleh ke samping, melihat pacarnya, seketika tersenyum seperti mengingat sesuatu. “Sekarang kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini, bukan? Kau adalah orang yang sangat aku sayangi setelah kedua orang tuaku, sekarang kau harus bertemu dengan mereka di atas sana...”

Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Nanti menghujamkan pisau dapur yang sedari tadi digenggamnya, tepat mengarah ke ulu hati Kosasih. Kosasih mengeram, coba berontak. Pisau dapur itu hanya sepantaran 10 cm, butuh sedikit usaha agar pisau itu menusuk cukup dalam dan bekerja dengan baik. Di detik-detik terakhir, Kosasih masih sempat berfikir, sejak awal dia tahu apa yang akan dia hadapi malam ini, tapi tak banyak yang bisa dilakukannya dengan kondisi mulut tersumpal serta tangan dan kaki yang terikat. Percikan darah yang keluar dari mulut Kosasih membuat merah pekat kain sumpalan di mulutnya. Kosasih masih sempat bergerak, erangan terakhirnya seperti disengat listrik ribuan volt beberapa detik, sebelum nyawanya benar-benar melayang.

“Terimakasih, sekarang aku jadi lebih semangat ke atas bukit ini setiap malam, bertemu tiga orang yang sangat aku sayangi. Melihat dan bertemu bintang sesungguhnya dihidupku”, Nanti beranjak pergi, meninggalkan Kosasih yang terbujur kaku dengan pisau dapur yang masih tegak menancap di ulu hatinya.   


Ayah, Ibu, kenalkan, ini Kosasih, pacarku. 
Besok malam aku akan kembali ke bukit ini lagi.


Cerita Fiksi kali ini tentang... kisah yang sedikit horror (kalau memang bisa dibilang begitu). Sudah sejak lama saya selalu punya keinginan yang besar untuk membuat cerita seperti pada cerpen-cerpen tragedi yang pernah saya baca, yang alurnya mengejutkan dan nggk bisa ditebak. Namun, saya lebih tertarik untuk membuat fiksi yang lumayan singkat, to the point, dan langusng masuk ke dalam inti cerita. Sekarang, apakah fiksi saya ini cukup mengejutkan? Saya akan sangat senang bila ada yang mau memberikan sedikti komentar, kritik ataupun saran. :) 

  

Kamis, 12 Mei 2016

Motivasi Terbaik

Ada satu hal baru yang aku pelajari setiap nonton talkshow ataupun bedah buku ataupun sejenisnya yang menghadirkan Tere Liye. Acara-acara itu beberapa rekaman videonya bisa ditemukan di Youtube. Hal yang aku pelajari di sini, mungkin akan terdengar sederhana, namun rasanya jarang terpikirkan. Pada acara-acara semacam itu (talkshow kepenulisan atau bedah buku), biasanya ada satu pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan peserta kepada penulis yang mengisi acara. Pertanyaannya kira-kira seperti ini:

Bagaimana anda bisa terus konsisten menulis dan selalu mendapatkan inspirasi?

Pertanyaan seperti itu hampir selalu ada. Dan kebetulan, beberapa talkshow ataupun bedah buku yang menghadirkan Tere Liye yang aku temukan di Youtube, pertanyaan itu hampir tidak pernah absen. Dan apa jawaban dari Tere Liye? Jawabannya dalam setiap talkshow pun kurang lebih selalu sama:

“Kalau motivasi terbaikmu untuk menulis sangat kokoh, InsyaAllah kau akan terus menulis dengan sungguh-sungguh, dengan begitu, inspirasi akan datang dengan sendirinya”, begitulah kira-kira katanya.

Dan apa yang terjadi? Yap, perkataan itu dengan mudahnya meresap dikepalaku.

Tergantung apa motivasi terbaikmu.

Benar sekali, dalam menulis, setiap orang memiliki motivasi-motivasi berbeda pada diri mereka. Ada yang menulis karena ingin berbagi pengalaman, ada yang menulis karena ingin berbagi cerita, ada yang menulis karena ingin sekedar menghibur, ada yang menulis karena ingin berbagi petuah-petuah kehidupan yang baik, ada yang menulis untuk pengembangan dirinya sendiri, dan karena-karena lainnya yang membuat mereka terus-menerus menulis. Apapun itu, sadar atau tidak sadar, jika dibalik itu semua tersimpan motivasi yang sangat kokoh, maka mereka akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya, setelah mendengar jawaban dari Tere Liye tersebut, yang ada dipikiranku bukan hanya soal motivasi terbaik untuk menulis, namun lebih luas lagi, soal motivasi terbaik kita dalam melakukan hal-hal apa saja. Apa saja. Toh, faktanya, kalau setiap yang kita lakukan dalam berbagai aspek kehidupan ini dibaliknya tersimpan motivasi terbaik, maka apa pun yang kita lakukan itu, akan terus kita hadapi dengan sungguh-sungguh.  

Kira-kira begini, kau akan sungguh-sungguh nyelesain studi mu itu jika motivasi terbaikmu adalah untuk membahagiakan kedua orang tuamu. Kau akan sungguh-sungguh dan total dalam bekerja, etos kerja yang begitu baik, jika ada anak-istri yang menunggu di rumah yang harus kau nafkahi sebagai motivasi terbaikmu, walaupun pekerjaanmu itu hanyalah sebagai petugas kebersihan taman kota misalnya. Kalau kita melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan hasil yang terbaik akan datang dengan sendirinya.

Tapi, tetap saja, siapa pula yang mau mendengarkan celotehan sok dewasa dari anak yang baru menginjak angka dua puluhan tahun ini. Tenang, ini cuma tentang sesuatu yang terus terngiang-ngiang dikepalaku. Sesedarhana itu. Karena jawaban dari Tere Liye ini lah, aku jadi selalu menerka-nerka setiap melakukan suatu hal. Misalnya, setiap mau berangkat ke kampus, aku jadi bertanya sendiri dalam hati, apa motivasi terbaikku untuk kuliah? Misalnya saat diberi tanggung jawab untuk melaksanakan suatu kegiatan, aku jadi bertanya, apa motivasi terbaikku untuk melaksanakan kegiatan ini? Misalnya, ketika sedang membaca buku, mengerjakan tugas, hingga remeh temeh seperti ketika sedang menyetrika kemeja, aku juga bertanya tentang hal yang sama; untuk apa? Apa motivasi terbaikku melakukan semua ini? Lalu, soal menulis, soal konsistensi mosting tulisan di blog yang... ah, sudahlah, rasanya tulisan di blog ini melulu soal aku yang terus mengeluh karena nggak bisa produktiv bikin tulisan.

Belakangan, aku seperti menyembunyikan diri dari kegiatan tulis menulis. Yang aku lakukan hanyalah membaca dan membaca. Mencoba keluar dari zona nyaman dengan bacaan-bacaan baru yang mungkin bagiku terasa sedikit “berat”, nggak tahu bagi orang lain. Apakah novel-novel karya Eka Kurniawan terasa “berat”? Bagaimana dengan Pramoedya? Atau Gibran? Hahaha, bagi aku yang belum terlalu terbiasa pada tulisan ataupun genre yang mereka angkat, pada awalnya akan terasa sedikit berat. Jika begitu, apa motivasi terbaikku membaca buku-buku karya mereka—padahal sudah pasti akan lebih seru membaca novel-novel bergenre sedikit komedi, ataupun roman-roman remaja yang dekat dengan kita, ataupun karya-karya fiksi yang tidak terlalu monoton lainnya? Tentu, motivasi terbaikku melakukan semua itu untuk diri aku sendiri, untuk tulisan aku sendiri. Paling tidak, ada gaya tulisannya yang menular padaku walau hanya setitik. Paling tidak, ada kosakata baru yang aku ketahui walau barang satu dua. Paling tidak, secuil ilmunya bisa aku dapat. Paling tidak dari yang paling tidak, ada hal-hal baru yang aku ketahui, dari tidak tahu menjadi tahu. Paling tidak seperti itu.

Menyepi. Mencoba referensi-referensi baru. Nabung hanya untuk membeli buku-buku yang genre-nya cukup asing bagiku. Hanya lebih banyak larut dalam bacaan-bacaan baru. Lebih banyak mengamati dan merenung terhadap berbagai hal. Ahh, sungguh pekerjaan orang-orang malas.


Tiba-tiba saja waktu berlalu. Sama sekali nggak nulis dan ngeblog selama lebih dari dua bulanan. Selama dua bulanan nyepi itu, hasrat menulis hanya aku tuntaskan dengan meninggalkan catatan-catatan kecil yang lahir lewat pengamatan terhadap hal-hal baru. Kebetulan pula, sebulan yang lalu dapat kesempatan bertemu teman-teman mahasiswa dari seluruh Indonesia lewat Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia di Pekanbaru. Bertemu orang-orang baru lagi dari berbagai pelosok negeri. Melihat bagaimana kebiasaan mereka hingga berbagi banyak hal lewat persepektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Tambah banyak hal-hal baru untuk diamati, selain dengan membaca buku-buku yang genre-nya pun terasa baru. Tanpa aku sadari, ada motivasi yang sangat kokoh di balik itu semua, yang akhirnya memberanikanku  mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyamanku. Kalian tahu, motivasi yang terakhir aku ceritakan ini, adalah motivasi yang dua bulan belakangan ini kekokohannya mengalahkan motivasi terbaikku untuk menulis. Tunggu, mengalahkan motivasiku untuk menulis? Iya, aku tahu, lagi-lagi cuma bisa ngeles.

Minggu, 28 Februari 2016

Ambisi Bapak

"Pak, aku tidak ingin menjadi aparat.”

“Bukankah sudah Bapak bilang, kau itu harus jadi anak yang membanggakan!”

“Apakah membanggakan Bapak harus dengan menjadi aparat? Bukankah dengan uang yang Bapak miliki saat ini Bapak bisa menyekolahkanku di kampus terbaik? Lalu aku akan lulus dengan predikat bagus, melamar kerja di perusahaan ternama, bergaji tinggi, dan apakah itu tidak cukup membanggakan Bapak?”

Pagi itu, pembicaraanku dengan Bapak berakhir setelah telapak tangan Bapak yang kasar mendarat telak di pipi kiriku.

Saat ini umurku sudah 17 tahun, dan kurang dari sebulan lagi sebelum Ujian Nasional—yang berarti pula, aku juga harus memilih pijakan masa depanku selanjutnya.

Sudah setahun belakangan Bapak selalu menginginkanku untuk ikut tes penerimaan di akademi negeri setelah tamat SMA nanti. Bapak selalu ingin anaknya melanjutkan sekolah di akademi dengan ­grade terbaik, yang lulusannya langsung mendapatkan pangkat yang tinggi, dan di tempatkan di posisi strategis aparatur negara.

Abangku sudah tiga kali berusaha mengabulkan ambisi Bapak. Tiga kali pula Abang gagal tes penerimaan. Ratusan juta uang Bapak habis untuk Abang. Salah satu aparat berseragam  kenalan Bapak yang ikut “mengantarkan” Abang pernah bilang ke Bapak, “Masih kurang Pak Frans, calon-calon lain banyak yang kasih lebih ke atas.”

Waktu itu, aku yang mengintip dari balik tirai pembatas ruang tamu dapat dengan jelas melihat wajah lesu Bapak. Ada Abang juga di sana yang terlihat kecewa. Tak berapa lama aparat berseragam itu permisi pergi. Itu adalah kesempatan terakhir Abang, umur abang sudah tidak cukup untuk ikut tes penerimaan tahun depan lagi.

Saat ini Abang sudah kuliah di kampus swasta, di fakultas hukum, “Setidaknya, nanti kau bisa jadi hakim atau jaksa” kata Bapak waktu itu.

Setelah Abang gagal, tak khayal akulah yang menjadi harapannya. Ya, anak Bapak hanya Abang dan aku saja. Bapak pernah bilang kalau tahun ini dia akan menyiapkan satu miliar untuk persiapan aku ikut tes penerimaan akademi. Satu miliar? Aku tak habis pikir dengan ambisi Bapak. Sudah ratusan juta uang Bapak habis begitu saja untuk Abang, dan tahun ini, Bapak menyiapkan satu miliar untukku.

***

Aku bukanlah anak yang terlalu tertarik dengan segala hal yang berbau dengan aparat. Aku tak pernah bercita-cita menjadi orang yang menggunakan seragam ketat, dengan lencana, dan segala macam pangkat yang bertengger di kanan dan kiri bahuku. Sama sekali tidak tertarik.

Aku lebih tertarik berkarir di perusahaan swasta, bersetelan  rapi dengan dasi dan jas, bekerja di balik meja di dalam gedung puluhan lantai di Ibu Kota. Aku ingin bekerja di perusahaan terbaik, ternama, dengan gaji yang cukup mentereng—aku tidak mau ada senjata api jenis apa pun di saku celanaku.

Sampai sekarang, aku tak tahu dengan pasti apa yang membuat Bapak bangga kalau anaknya menjadi aparat. Setahuku, tak ada darah militer dalam diri Bapak. Bapak besar dari kalangan pengusaha. Hingga sekarang, Bapak masih merupakan pengusaha tambang pasir yang cukup sukses. Beberapa tempat galian pasir dan alat-alat berat itu, semua milik Bapak. Setiap hari, truk-truk pengangkut pasir milik Bapak keluar masuk di tempat penambangan. Begu raksasa (yang juga milik Bapak) tak pernah henti menyuapkan pasirnya ke dalam truk, seakan truk-truk itu selalu lapar. Truk-truk itu pula yang akan membawa pasir kepada pembeli yang mayoritas sudah lama langganan dengan Bapak. Sampai saat ini, Bapak punya belasan tambang pasir di provinsi—yang aku sendiri tak tahu di mana saja letaknya. Sebagian keuntungan dari tambang pasir itu Bapak sisihkan untuk modal usaha lainnya yang menurut Bapak punya prospek bagus, sebagian lagi Bapak tabung di bank swasta, ada pula yang didepositokan oleh Bapak.

Lalu, buat apa memaksaku ikut tes penerimaan akademi itu? Bapak bisa menyekolahkanku di kampus terbaik, bahkan, dengan uang Bapak, aku bisa melanjutkan sekolah di kampus ternama di luar negeri. Aku bisa bekerja di perusahaan ternama, dengan dasi dan jas sesuai impianku.

Apakah semua ini karena soal jaminan masa depan? Kalau soal itu, bisa saja benar. Belakangan ini, beberapa tambang pasir milik Bapak satu persatu di tutup paksa. Beberapa kali pula kulihat Bapak terlibat pembicaraan serius dengan beberapa pria berseragam dan seorang lawyer yang sudah lama ikut bersama Bapak di ruang kerjanya.  Jangan heran, sudah menjadi kebiasaan melihat beberapa aparat berseragam keluar masuk rumah ini setiap bulannya. Terkadang, aparat-aparat itu dijamu oleh Bapak di ruang tamu, terkadang di ruang kerja Bapak.

“Setoran dari Pak Frans bulan ini belum turun sampai sekarang, kami nggak bisa bantu banyak kalau ada warga turun bawa beking lain, apalagi beking-nya bisa di bilang komandan sendiri, ya angkat tangan saya” Kata salah seorang pria berseragam di ruang kerja Bapak suatu waktu.

Selain beberapa tambang pasir yang sudah gulung tikar, kulihat pula ada beberapa usaha kecil Bapak yang juga sudah dijual. Mungkin usaha Bapak mulai surut. Tak ada yang bisa menjamin sebuah usaha apakah bisa terus maju dan berkembang. Bisa saja, kalau terus seperti ini, besok lusa usaha Bapak bangkrut semua. Tebakanku, hal ini lah yang selalu Bapak pertimbangkan. Dengan menjadikanku sebagai aparatur negara, berarti aku akan dibiayain oleh negara, memiliki jaminan di masa tua, dan dengan segala tunjangan lainnya tanpa perlu memikirkan kata bangkrut. Tapi, tetap saja, itu hanya tebakanku. Di luar itu semua, aku tak tahu ada ambisi apa lagi yang ingin digapai oleh Bapak. Aku hanya tak ingin telapak tangan Bapak yang kasar itu kembali mendarat di pipiku.

"Beberapa tambang pasir ilegal ditutup paksa oleh warga.", "Pengusaha tambang pasir menyuap aparat", "Beberapa tambang pasir di wilayah x tidak memilki izin usaha" dll merupakan isi berita yang sering kita lihat di media-media saat ini. Pengusaha, aparat, saling membantu satu sama lain. Sedangkan banjir dan longsor merupakan bencana yang bisa dimaklumin oleh semua pihak. Biasa. Banjir musiman, katanya.
Ide untuk tulisan ini melintas begitu saja setelah saya membaca sebuah berita tentang pengusaha tambang pasir ilegal yang menyuap aparat untuk bisa terus beroperasi. Ambisi Bapak, sesungguhnya memuat hal-hal yang menganggu di kepala saya, namun tidak bisa saya katakan dengan frontal. Ambisi Bapak, sesungguhnya berbicara tentang "Ambisi". Hanya itu.  


  

Senin, 15 Februari 2016

Selasa, 12 Januari 2016

Fenomena Buncitnya Perut Anak Kos


Kata banyak orang, kalau kita sudah memasuki fase di mana kita hidup sendiri di tanah orang, merantau, di situ lah pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup muncul. Lalu di masa yang akan datang, pelajaran-pelajaran tersebut akan kita panggil dengan sebutan pengalaman. Karenanya, orang tua kita selalu menasihati: belajarlah dari pengalaman. Dengannya, kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Dengannya, kita tahu mana hikmah yang perlu kita ambil, mana yang tidak baik kita buang jauh-jauh. Hmm, sebagai pembuka ini lumayan berat.

Sebelum lanjut lebih jauh, boleh lah aku sedikit bercerita tentang apa yang menimpa diriku belakangan ini. Entah mengapa, belakangan ini hatiku mendadak melankolis. Kepalaku dipenuhi intrik-intrik drama. Beberapa tulisan yang terakhir aku post di blog ini, yang awalnya hanya ingin coba-coba nulis fiksi, berakhir sukses menjadi fiksi-fiksi galau tak tentu arah. Akhirnya, aku membuat diriku sendiri berada dalam dunia khayalan semi-melankolis ber-setting kehidupan sehari-hari—yang ide kecilnya aku dapat dari pengalamanku, lantas dengan pedenya aku menambahkan intrik-intrik drama agar ceritanya lebih kuat. Mungkin ini bisa sedikit mengklarifikasi (orang waras mana yang butuh klarifikasi dariku) bahwa hidupku tak se-melankolis dan se-drama kelihatannya. Tapi, ini lah indahnya dunia fiksi, aku bisa berada di mana saja, di mana pun aku mau. Maka resmi lah MEMFIKSIKAN DIRI menjadi label baru dari tulisanku di blog ini. Tsahhh.

Tinggalkan sejenak dunia fiksi, mari kita kembali ke apa yang mau aku bahas di awal tadi. Oh, iya, kata pembuka tulisan ini agaknya terlalu berlebihan. Merantau, pelajaran hidup, pengalaman, hikmah, semua itu hanyalah kedok belaka agar pembukanya terlihat bagus dan berisi. Kenyataannya, otakku belum memadai untuk merangkai itu semua menjadi tulisan yang bagus layaknya penasehat ulung. Oke, yang mau aku bahas sebenarnya adalah yang pertama: ngekos, kedua: perut buncit. Sudah aku katakan, kan? Tidak sebagus kelihatannya.

Kebanyakan orang meyakini bahwa ngekos termasuk salah satu jenis program diet yang tingkat keberhasilannya bisa menyamai tingkat keberhasilan program-program diet lain seperti diet dengan minum teh hijau, diet dengan makan pisang, OCD yang dipopulerkan Deddy Corbuzier, diet herbivora (baca: vegetarian), dan berbagai macam diet-diet lain yang aku tak tahu jenis dan namanya.

Dulu, sebelum berangkat ngekos untuk kuliah, aku berfikir bahwa hidupku akan berubah seiringan dengan berat badanku. Pada akhirnya berat badanku memang berubah, tapi bukan mengarah ke yang negatif (-), melainkan positif (+). Iya, badanku bertambah besar dan perutku semakin memuai. Apa yang salah dengan diriku? Dosa apa aku? Kenapa Chelsea bisa peringkat 14?

Sebagai anak kos, tak ada yang berbeda antara diriku dan anak-anak kos lainnya. Awal bulan, darahku mendadak biru. Akhir bulan, aku justru kekurangan darah. Sama seperti yang lain, makananku juga tak jauh dari nasi dan indomie yang di masak dengan magic com mini sebagai sayurnya. Cemilanku juga tak jauh dari indomie “mentah” yang diremukkan tanpa di masak terlebih dahulu. Makanku tak teratur. Sarapanku pukul 10 pagi, di jamak dengan makan siang. Baru makan lagi sekitar pukul 5 sore, di jamak dengan makan malam. Kenyataannya, mana ada anak kos yang sarapan tepat pukul 7 pagi. Jam bangun adalah jam kuliah. Malam? Baru sibuk ngerjain tugas. Tugas yang paling telat di kirim ke email dosen hari ini, baru dikirim nanti malam pukul 23.59 WIB. Mahasiswa, coyy...

Di tengah jadwal dan rutinitas yang tak menentu ini, perutku justru semakin membesar. Pasalnya, walaupun dulu waktu SMA badanku tak bisa di bilang kurus, namun perutku setidaknya masih terlihat rata bila ditutupi dengan kemeja putih SMA. Paling tidak, waktu SMA badanku tidak seperti ini.

Hal ini ternyata bukan hanya dialami oleh aku seorang, tapi hampir semua teman seangkatanku, baik teman-teman waktu SMA maupun teman-teman yang sekarang kuliah satu kampus denganku, semuanya mengalami hal yang sama. Perut mereka sudah mulai eksis menyembul dari baju yang mereka kenakan. Ketika kumpul, suara kami juga mulai berubah lebih dalam karena terlalu lama menahan nafas. Bayangkan, tak ada yang lebih menyiksa dari membusungkan dada dengan nafas ditahan untuk waktu yang lama. Ini bukan perut yang kami kenal waktu SMA dulu!  
Diriku waktu masih SMA, paling kiri yang tangannya di saku. Perutnya masih rata kan? btw, nahan nafas itu sedikit menyiksa, ya

Setelah aku analisis lebih dalam, fenomena anak kos yang perutnya membuncit di tengah jadwal kuliah yang padat dan rutinitas yang tidak menentu bukanlah suatu keanehan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa anak kos perutnya buncit.

Pertama, kebanyakan duduk.
Berapa persen waktu yang di habiskan mahasiswa dalam sehari untuk duduk? Iya, duduk. Jawabannya bisa aku taksir 50-60% bila dalam satu hari 3-6 sks dihabiskan untuk kuliah. Bisa lebih bagi yang jadwal kuliahnya padat dari pagi sampai sore. Malam? Juga duduk, semisal ngerjain tugas. Yang ngerjain tugas sambil koprol silahkan ngacung.

Biarpun bukan ahlinya, tapi bisa kita sepakati bersama bahwa kelamaan duduk menyebabkan perut menjadi tertekan dan lemak di perut menumpuk terlalu lama. Aku sarankan selingi kuliah dengan gerakan-gerakan yang menyehatkan. Main futsal di kelas misalnya.

Kedua, kurang olahraga.
Berbeda waktu di SMA, hampir setiap sore, kalau tidak main bola di lapangan bola sekolah, aku pasti lari sore keliling lapangan. Selain itu, aku dan teman-teman sekolah juga rutin bermain futsal satu kali seminggu. Sekarang, boro-boro main bola ataupun lari sore, nentuin jadwal main futsal sama teman-teman kampus saja susahnya minta ampun.

Rutinitas kuliah yang padat, terkadang membuat waktu untuk olahraga berkurang. Sebagai mahasiswa yang berorganisasi dan sering makan gorengan, aku mengalami hal itu. Kurang olahraga ditambah rutinitas kuliah-organisasi-makan-tugas-indomie-tidur-kuliah membuat tubuh menjadi tidak bersahabat untuk diri kita sendiri. Perutpun seakan memuai dengan sendirinya.

Ketiga, busung lapar.
Jangan tertipu oleh buncitnya perut anak kos. Perut mereka buncit bukan karena makannya enak, tapi karena kelaparan dan makanan yang mereka makan tidak bergizi. Lihat saja apa yang anak kosan makan: indomie dan indomie. Tak pernah tersentuh buah, apa lagi daging. Ditambah dengan jadwal makan yang serba nggak jelas. Sesungguhnya, perut buncitnya teridentifikasi busung lapar. Bahkan, terkadang anak-anak kos ini hampir mati ketika akhir bulan, lalu hidup lagi ketika kiriman awal bulan tiba. Kasihan sekali mereka. Mati-hidup-mati-hidup.

Keempat, pertanda jadi orang sukses.
Faktor keempat adalah faktor yang paling aku sukai, karena faktor ini bisa kita jadikan alasan berkelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dibenak orang lain terkait fenomena anak kos-perut buncit ini—sekaligus alibi paling topcer dari semua alibi yang ada. Biarpun ada indikasi kebanyakan duduk, kurang olahraga, maupun busung lapar, tetapi banyak orang bilang kalau perut yang semakin buncit sebagai tanda bahwa kesuksesan semakin dekat.   

Lihatlah orang-orang sukses di luar sana, perutnya lama kelamaan semakin membesar, pertanda hidupnya bahagia. Lalu apa itu sukses? Bagiku, sukses berarti punya pekerjaan yang upahnya lebih dari cukup, atau bagi seorang pengusaha memliki penghasilan yang berlimpah, yang selanjutnya bisa ditabung untuk menjamin masa depan dia dan keluarganya. Apa itu bahagia? Bagiku, bahagia adalah punya istri cantik, punya keluarga kecil yang rukun dan sejahtera, dan bisa makan kepiting saus asam manis sebanyak-banyak yang aku mau. Sungguh, alasan keempat ini akan membungkam mereka semua yang meragukan perut buncitmu!

Jadi, kamu mahasiswa? Ngekos? Tersiksa setiap akhir bulan, tapi perutmu buncit? Jangan takut dan jangan bimbang, karena bisa jadi itu hanya karena keempat faktor di atas. Kalau masih ragu dan bimbang, lihat lagi faktor yang keempat. Baca berulang-ulang. Terus-menerus.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gambar perut buncitnya diambil dari: clubrashasia.blogspot.com

       

Yang Nyasar di Mari: