Selasa, 12 Januari 2016

Fenomena Buncitnya Perut Anak Kos


Kata banyak orang, kalau kita sudah memasuki fase di mana kita hidup sendiri di tanah orang, merantau, di situ lah pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup muncul. Lalu di masa yang akan datang, pelajaran-pelajaran tersebut akan kita panggil dengan sebutan pengalaman. Karenanya, orang tua kita selalu menasihati: belajarlah dari pengalaman. Dengannya, kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Dengannya, kita tahu mana hikmah yang perlu kita ambil, mana yang tidak baik kita buang jauh-jauh. Hmm, sebagai pembuka ini lumayan berat.

Sebelum lanjut lebih jauh, boleh lah aku sedikit bercerita tentang apa yang menimpa diriku belakangan ini. Entah mengapa, belakangan ini hatiku mendadak melankolis. Kepalaku dipenuhi intrik-intrik drama. Beberapa tulisan yang terakhir aku post di blog ini, yang awalnya hanya ingin coba-coba nulis fiksi, berakhir sukses menjadi fiksi-fiksi galau tak tentu arah. Akhirnya, aku membuat diriku sendiri berada dalam dunia khayalan semi-melankolis ber-setting kehidupan sehari-hari—yang ide kecilnya aku dapat dari pengalamanku, lantas dengan pedenya aku menambahkan intrik-intrik drama agar ceritanya lebih kuat. Mungkin ini bisa sedikit mengklarifikasi (orang waras mana yang butuh klarifikasi dariku) bahwa hidupku tak se-melankolis dan se-drama kelihatannya. Tapi, ini lah indahnya dunia fiksi, aku bisa berada di mana saja, di mana pun aku mau. Maka resmi lah MEMFIKSIKAN DIRI menjadi label baru dari tulisanku di blog ini. Tsahhh.

Tinggalkan sejenak dunia fiksi, mari kita kembali ke apa yang mau aku bahas di awal tadi. Oh, iya, kata pembuka tulisan ini agaknya terlalu berlebihan. Merantau, pelajaran hidup, pengalaman, hikmah, semua itu hanyalah kedok belaka agar pembukanya terlihat bagus dan berisi. Kenyataannya, otakku belum memadai untuk merangkai itu semua menjadi tulisan yang bagus layaknya penasehat ulung. Oke, yang mau aku bahas sebenarnya adalah yang pertama: ngekos, kedua: perut buncit. Sudah aku katakan, kan? Tidak sebagus kelihatannya.

Kebanyakan orang meyakini bahwa ngekos termasuk salah satu jenis program diet yang tingkat keberhasilannya bisa menyamai tingkat keberhasilan program-program diet lain seperti diet dengan minum teh hijau, diet dengan makan pisang, OCD yang dipopulerkan Deddy Corbuzier, diet herbivora (baca: vegetarian), dan berbagai macam diet-diet lain yang aku tak tahu jenis dan namanya.

Dulu, sebelum berangkat ngekos untuk kuliah, aku berfikir bahwa hidupku akan berubah seiringan dengan berat badanku. Pada akhirnya berat badanku memang berubah, tapi bukan mengarah ke yang negatif (-), melainkan positif (+). Iya, badanku bertambah besar dan perutku semakin memuai. Apa yang salah dengan diriku? Dosa apa aku? Kenapa Chelsea bisa peringkat 14?

Sebagai anak kos, tak ada yang berbeda antara diriku dan anak-anak kos lainnya. Awal bulan, darahku mendadak biru. Akhir bulan, aku justru kekurangan darah. Sama seperti yang lain, makananku juga tak jauh dari nasi dan indomie yang di masak dengan magic com mini sebagai sayurnya. Cemilanku juga tak jauh dari indomie “mentah” yang diremukkan tanpa di masak terlebih dahulu. Makanku tak teratur. Sarapanku pukul 10 pagi, di jamak dengan makan siang. Baru makan lagi sekitar pukul 5 sore, di jamak dengan makan malam. Kenyataannya, mana ada anak kos yang sarapan tepat pukul 7 pagi. Jam bangun adalah jam kuliah. Malam? Baru sibuk ngerjain tugas. Tugas yang paling telat di kirim ke email dosen hari ini, baru dikirim nanti malam pukul 23.59 WIB. Mahasiswa, coyy...

Di tengah jadwal dan rutinitas yang tak menentu ini, perutku justru semakin membesar. Pasalnya, walaupun dulu waktu SMA badanku tak bisa di bilang kurus, namun perutku setidaknya masih terlihat rata bila ditutupi dengan kemeja putih SMA. Paling tidak, waktu SMA badanku tidak seperti ini.

Hal ini ternyata bukan hanya dialami oleh aku seorang, tapi hampir semua teman seangkatanku, baik teman-teman waktu SMA maupun teman-teman yang sekarang kuliah satu kampus denganku, semuanya mengalami hal yang sama. Perut mereka sudah mulai eksis menyembul dari baju yang mereka kenakan. Ketika kumpul, suara kami juga mulai berubah lebih dalam karena terlalu lama menahan nafas. Bayangkan, tak ada yang lebih menyiksa dari membusungkan dada dengan nafas ditahan untuk waktu yang lama. Ini bukan perut yang kami kenal waktu SMA dulu!  
Diriku waktu masih SMA, paling kiri yang tangannya di saku. Perutnya masih rata kan? btw, nahan nafas itu sedikit menyiksa, ya

Setelah aku analisis lebih dalam, fenomena anak kos yang perutnya membuncit di tengah jadwal kuliah yang padat dan rutinitas yang tidak menentu bukanlah suatu keanehan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa anak kos perutnya buncit.

Pertama, kebanyakan duduk.
Berapa persen waktu yang di habiskan mahasiswa dalam sehari untuk duduk? Iya, duduk. Jawabannya bisa aku taksir 50-60% bila dalam satu hari 3-6 sks dihabiskan untuk kuliah. Bisa lebih bagi yang jadwal kuliahnya padat dari pagi sampai sore. Malam? Juga duduk, semisal ngerjain tugas. Yang ngerjain tugas sambil koprol silahkan ngacung.

Biarpun bukan ahlinya, tapi bisa kita sepakati bersama bahwa kelamaan duduk menyebabkan perut menjadi tertekan dan lemak di perut menumpuk terlalu lama. Aku sarankan selingi kuliah dengan gerakan-gerakan yang menyehatkan. Main futsal di kelas misalnya.

Kedua, kurang olahraga.
Berbeda waktu di SMA, hampir setiap sore, kalau tidak main bola di lapangan bola sekolah, aku pasti lari sore keliling lapangan. Selain itu, aku dan teman-teman sekolah juga rutin bermain futsal satu kali seminggu. Sekarang, boro-boro main bola ataupun lari sore, nentuin jadwal main futsal sama teman-teman kampus saja susahnya minta ampun.

Rutinitas kuliah yang padat, terkadang membuat waktu untuk olahraga berkurang. Sebagai mahasiswa yang berorganisasi dan sering makan gorengan, aku mengalami hal itu. Kurang olahraga ditambah rutinitas kuliah-organisasi-makan-tugas-indomie-tidur-kuliah membuat tubuh menjadi tidak bersahabat untuk diri kita sendiri. Perutpun seakan memuai dengan sendirinya.

Ketiga, busung lapar.
Jangan tertipu oleh buncitnya perut anak kos. Perut mereka buncit bukan karena makannya enak, tapi karena kelaparan dan makanan yang mereka makan tidak bergizi. Lihat saja apa yang anak kosan makan: indomie dan indomie. Tak pernah tersentuh buah, apa lagi daging. Ditambah dengan jadwal makan yang serba nggak jelas. Sesungguhnya, perut buncitnya teridentifikasi busung lapar. Bahkan, terkadang anak-anak kos ini hampir mati ketika akhir bulan, lalu hidup lagi ketika kiriman awal bulan tiba. Kasihan sekali mereka. Mati-hidup-mati-hidup.

Keempat, pertanda jadi orang sukses.
Faktor keempat adalah faktor yang paling aku sukai, karena faktor ini bisa kita jadikan alasan berkelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dibenak orang lain terkait fenomena anak kos-perut buncit ini—sekaligus alibi paling topcer dari semua alibi yang ada. Biarpun ada indikasi kebanyakan duduk, kurang olahraga, maupun busung lapar, tetapi banyak orang bilang kalau perut yang semakin buncit sebagai tanda bahwa kesuksesan semakin dekat.   

Lihatlah orang-orang sukses di luar sana, perutnya lama kelamaan semakin membesar, pertanda hidupnya bahagia. Lalu apa itu sukses? Bagiku, sukses berarti punya pekerjaan yang upahnya lebih dari cukup, atau bagi seorang pengusaha memliki penghasilan yang berlimpah, yang selanjutnya bisa ditabung untuk menjamin masa depan dia dan keluarganya. Apa itu bahagia? Bagiku, bahagia adalah punya istri cantik, punya keluarga kecil yang rukun dan sejahtera, dan bisa makan kepiting saus asam manis sebanyak-banyak yang aku mau. Sungguh, alasan keempat ini akan membungkam mereka semua yang meragukan perut buncitmu!

Jadi, kamu mahasiswa? Ngekos? Tersiksa setiap akhir bulan, tapi perutmu buncit? Jangan takut dan jangan bimbang, karena bisa jadi itu hanya karena keempat faktor di atas. Kalau masih ragu dan bimbang, lihat lagi faktor yang keempat. Baca berulang-ulang. Terus-menerus.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gambar perut buncitnya diambil dari: clubrashasia.blogspot.com

       

Reaksi:

28 komentar:

  1. Masih mikir nih,"apa iya kebanyakan duduk jadi bikin gemuk?"

    Kalopun iya kok nyatanya saya gak gemuk-gemuk yah -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu di bedakan antara perut buncit dan gemuk hahaha
      bisa di liat kok d google, banyak duduk salah satu penyebab perut menjadi buncit..
      kalau masih normal, anda patut bersyukur :))

      Hapus
  2. Balasan
    1. itu yang diharapkan oleh semua orang, sayangnya kenyataan tak sejalan dengan harapan :')

      Hapus
    2. haha lol. Biarin apa adanya itu lebih bagus:D eniwei follback atuhh katanya udh tp belum :'v

      Hapus
    3. Iya2, td mau d follow, tp bingung nggk ada widgetnya x_X
      Ntar ya kalau ada wifi :D

      Hapus
  3. Kalo gue agak nggak ngaruh sih .. di rumah atau dirantauan masih tetep aja cungkring .. Tapi waktu udah di perantauan emang bawaannya pengen ngemil/makan mulu sih daripada di rumah ..
    Mungkin di Malang (kota rantau gue) lebih dingin dari kampung gue Madiun .. ngaruh gak sih ..?? Hmmm

    Yaa banyakin olahraga aja .. futsal sama temen2 kau kan bisa .. lembur SKS tiap malem aja udah jadi olahraga rutin buat mahasiswa .. bwahahaha

    BalasHapus
  4. jelas ngaruh lah, kalo dingin bawaannya pasti pengen makan hahaha :D

    iya, lebur sks sih olahraga.. olahraga duduk. pantat tepos, perut membuncit -_-

    BalasHapus
  5. Nasib anak kost. Duh saya juga suka mengalami hal seperti ini nih.
    Etapi saya baru tau kalau banyak duduk juga bisa menjadi salah satu faktor yang buat perut kita buncit, mulai sekarang berdiri aja terus deh (?)
    Ohiya salam kenal ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah kenyataannya bro hahaha
      Salam kenal kembali :)

      Hapus
  6. hahaha, balada anak kos. nggak selamanya anak kos itu six pack karena kebanyakan diet. kalau makan tapi jarang gerak karena jarang olahraga ya sama aja :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja emang :')
      Serasa gagal jd anak kos :(

      Hapus
  7. wkwkwkwk aneh2 aja hahaha. kebanyakan makan indomie nih pada anak kos :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indomie penyalamat anak kos d akhir bulan :')

      Hapus
  8. huhuh gue juga. Padahal baru setahun, tapi gejala-gejala si buncit udah kelihatan, terbuktii dari celana gue yang bisa nge-pas walaupun tanpa belt, padahal sebelumnya harus pakai belt.

    BalasHapus
  9. Jadi anak kuliahan tambah kurus itu mitos, selain makan gak teratur gak sehat pula, duh perut :|

    BalasHapus
  10. hahaha, udah saya kunjungi nih broo blog nya. saluut, mantep nh blog nya. tampilan nya blog nya bagus bgt lagi. hhahaha jd sirik, mampir2 lagi ya bro di blog gue. salam kenal.

    BalasHapus
  11. hhmm, obatnya rajin-rajin olahraga nih. ga ada yang lain udah.

    BalasHapus
  12. Tepatkan dugaaanku. Perut busungnya anak kost karena busung lapar. Eheheh :v
    Alhamdulillah, semenjak gue 3 tahung ngekost berat badan gue -6kg. Sampe sekarang nggak bisa nambah lagi. Tapi gue malah sedih. Soalnya gue pengen bgt gemuk lagi. Tapi udah nyoba dg cara apapun gak bisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah, sesungguhnya anda diantara anak2 kos yang beruntung :D

      Hapus
  13. Orang sukses yang busung lapar dan kebanyakan duduk pasti perutnya super buncit ya. Hahahah. :))
    *lalu inget kalo udah lama banget ga olahraga*

    BalasHapus
    Balasan
    1. tak usah ditanyakan lagi, itu hal yang sangat bisa dipastikan -___-

      Hapus
    2. *sampe sekarang masih belom sempet olahraga* Muahahaha. Pertanda apakah ini gueee. :))

      Hapus
  14. keren jg kalo anak kos pny perut ndut. Sukses atau busung lapar hehehe

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: