Minggu, 28 Februari 2016

Ambisi Bapak

"Pak, aku tidak ingin menjadi aparat.”

“Bukankah sudah Bapak bilang, kau itu harus jadi anak yang membanggakan!”

“Apakah membanggakan Bapak harus dengan menjadi aparat? Bukankah dengan uang yang Bapak miliki saat ini Bapak bisa menyekolahkanku di kampus terbaik? Lalu aku akan lulus dengan predikat bagus, melamar kerja di perusahaan ternama, bergaji tinggi, dan apakah itu tidak cukup membanggakan Bapak?”

Pagi itu, pembicaraanku dengan Bapak berakhir setelah telapak tangan Bapak yang kasar mendarat telak di pipi kiriku.

Saat ini umurku sudah 17 tahun, dan kurang dari sebulan lagi sebelum Ujian Nasional—yang berarti pula, aku juga harus memilih pijakan masa depanku selanjutnya.

Sudah setahun belakangan Bapak selalu menginginkanku untuk ikut tes penerimaan di akademi negeri setelah tamat SMA nanti. Bapak selalu ingin anaknya melanjutkan sekolah di akademi dengan ­grade terbaik, yang lulusannya langsung mendapatkan pangkat yang tinggi, dan di tempatkan di posisi strategis aparatur negara.

Abangku sudah tiga kali berusaha mengabulkan ambisi Bapak. Tiga kali pula Abang gagal tes penerimaan. Ratusan juta uang Bapak habis untuk Abang. Salah satu aparat berseragam  kenalan Bapak yang ikut “mengantarkan” Abang pernah bilang ke Bapak, “Masih kurang Pak Frans, calon-calon lain banyak yang kasih lebih ke atas.”

Waktu itu, aku yang mengintip dari balik tirai pembatas ruang tamu dapat dengan jelas melihat wajah lesu Bapak. Ada Abang juga di sana yang terlihat kecewa. Tak berapa lama aparat berseragam itu permisi pergi. Itu adalah kesempatan terakhir Abang, umur abang sudah tidak cukup untuk ikut tes penerimaan tahun depan lagi.

Saat ini Abang sudah kuliah di kampus swasta, di fakultas hukum, “Setidaknya, nanti kau bisa jadi hakim atau jaksa” kata Bapak waktu itu.

Setelah Abang gagal, tak khayal akulah yang menjadi harapannya. Ya, anak Bapak hanya Abang dan aku saja. Bapak pernah bilang kalau tahun ini dia akan menyiapkan satu miliar untuk persiapan aku ikut tes penerimaan akademi. Satu miliar? Aku tak habis pikir dengan ambisi Bapak. Sudah ratusan juta uang Bapak habis begitu saja untuk Abang, dan tahun ini, Bapak menyiapkan satu miliar untukku.

***

Aku bukanlah anak yang terlalu tertarik dengan segala hal yang berbau dengan aparat. Aku tak pernah bercita-cita menjadi orang yang menggunakan seragam ketat, dengan lencana, dan segala macam pangkat yang bertengger di kanan dan kiri bahuku. Sama sekali tidak tertarik.

Aku lebih tertarik berkarir di perusahaan swasta, bersetelan  rapi dengan dasi dan jas, bekerja di balik meja di dalam gedung puluhan lantai di Ibu Kota. Aku ingin bekerja di perusahaan terbaik, ternama, dengan gaji yang cukup mentereng—aku tidak mau ada senjata api jenis apa pun di saku celanaku.

Sampai sekarang, aku tak tahu dengan pasti apa yang membuat Bapak bangga kalau anaknya menjadi aparat. Setahuku, tak ada darah militer dalam diri Bapak. Bapak besar dari kalangan pengusaha. Hingga sekarang, Bapak masih merupakan pengusaha tambang pasir yang cukup sukses. Beberapa tempat galian pasir dan alat-alat berat itu, semua milik Bapak. Setiap hari, truk-truk pengangkut pasir milik Bapak keluar masuk di tempat penambangan. Begu raksasa (yang juga milik Bapak) tak pernah henti menyuapkan pasirnya ke dalam truk, seakan truk-truk itu selalu lapar. Truk-truk itu pula yang akan membawa pasir kepada pembeli yang mayoritas sudah lama langganan dengan Bapak. Sampai saat ini, Bapak punya belasan tambang pasir di provinsi—yang aku sendiri tak tahu di mana saja letaknya. Sebagian keuntungan dari tambang pasir itu Bapak sisihkan untuk modal usaha lainnya yang menurut Bapak punya prospek bagus, sebagian lagi Bapak tabung di bank swasta, ada pula yang didepositokan oleh Bapak.

Lalu, buat apa memaksaku ikut tes penerimaan akademi itu? Bapak bisa menyekolahkanku di kampus terbaik, bahkan, dengan uang Bapak, aku bisa melanjutkan sekolah di kampus ternama di luar negeri. Aku bisa bekerja di perusahaan ternama, dengan dasi dan jas sesuai impianku.

Apakah semua ini karena soal jaminan masa depan? Kalau soal itu, bisa saja benar. Belakangan ini, beberapa tambang pasir milik Bapak satu persatu di tutup paksa. Beberapa kali pula kulihat Bapak terlibat pembicaraan serius dengan beberapa pria berseragam dan seorang lawyer yang sudah lama ikut bersama Bapak di ruang kerjanya.  Jangan heran, sudah menjadi kebiasaan melihat beberapa aparat berseragam keluar masuk rumah ini setiap bulannya. Terkadang, aparat-aparat itu dijamu oleh Bapak di ruang tamu, terkadang di ruang kerja Bapak.

“Setoran dari Pak Frans bulan ini belum turun sampai sekarang, kami nggak bisa bantu banyak kalau ada warga turun bawa beking lain, apalagi beking-nya bisa di bilang komandan sendiri, ya angkat tangan saya” Kata salah seorang pria berseragam di ruang kerja Bapak suatu waktu.

Selain beberapa tambang pasir yang sudah gulung tikar, kulihat pula ada beberapa usaha kecil Bapak yang juga sudah dijual. Mungkin usaha Bapak mulai surut. Tak ada yang bisa menjamin sebuah usaha apakah bisa terus maju dan berkembang. Bisa saja, kalau terus seperti ini, besok lusa usaha Bapak bangkrut semua. Tebakanku, hal ini lah yang selalu Bapak pertimbangkan. Dengan menjadikanku sebagai aparatur negara, berarti aku akan dibiayain oleh negara, memiliki jaminan di masa tua, dan dengan segala tunjangan lainnya tanpa perlu memikirkan kata bangkrut. Tapi, tetap saja, itu hanya tebakanku. Di luar itu semua, aku tak tahu ada ambisi apa lagi yang ingin digapai oleh Bapak. Aku hanya tak ingin telapak tangan Bapak yang kasar itu kembali mendarat di pipiku.

"Beberapa tambang pasir ilegal ditutup paksa oleh warga.", "Pengusaha tambang pasir menyuap aparat", "Beberapa tambang pasir di wilayah x tidak memilki izin usaha" dll merupakan isi berita yang sering kita lihat di media-media saat ini. Pengusaha, aparat, saling membantu satu sama lain. Sedangkan banjir dan longsor merupakan bencana yang bisa dimaklumin oleh semua pihak. Biasa. Banjir musiman, katanya.
Ide untuk tulisan ini melintas begitu saja setelah saya membaca sebuah berita tentang pengusaha tambang pasir ilegal yang menyuap aparat untuk bisa terus beroperasi. Ambisi Bapak, sesungguhnya memuat hal-hal yang menganggu di kepala saya, namun tidak bisa saya katakan dengan frontal. Ambisi Bapak, sesungguhnya berbicara tentang "Ambisi". Hanya itu.  


  

Senin, 15 Februari 2016

Yang Nyasar di Mari: