Kamis, 12 Mei 2016

Motivasi Terbaik

Ada satu hal baru yang aku pelajari setiap nonton talkshow ataupun bedah buku ataupun sejenisnya yang menghadirkan Tere Liye. Acara-acara itu beberapa rekaman videonya bisa ditemukan di Youtube. Hal yang aku pelajari di sini, mungkin akan terdengar sederhana, namun rasanya jarang terpikirkan. Pada acara-acara semacam itu (talkshow kepenulisan atau bedah buku), biasanya ada satu pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan peserta kepada penulis yang mengisi acara. Pertanyaannya kira-kira seperti ini:

Bagaimana anda bisa terus konsisten menulis dan selalu mendapatkan inspirasi?

Pertanyaan seperti itu hampir selalu ada. Dan kebetulan, beberapa talkshow ataupun bedah buku yang menghadirkan Tere Liye yang aku temukan di Youtube, pertanyaan itu hampir tidak pernah absen. Dan apa jawaban dari Tere Liye? Jawabannya dalam setiap talkshow pun kurang lebih selalu sama:

“Kalau motivasi terbaikmu untuk menulis sangat kokoh, InsyaAllah kau akan terus menulis dengan sungguh-sungguh, dengan begitu, inspirasi akan datang dengan sendirinya”, begitulah kira-kira katanya.

Dan apa yang terjadi? Yap, perkataan itu dengan mudahnya meresap dikepalaku.

Tergantung apa motivasi terbaikmu.

Benar sekali, dalam menulis, setiap orang memiliki motivasi-motivasi berbeda pada diri mereka. Ada yang menulis karena ingin berbagi pengalaman, ada yang menulis karena ingin berbagi cerita, ada yang menulis karena ingin sekedar menghibur, ada yang menulis karena ingin berbagi petuah-petuah kehidupan yang baik, ada yang menulis untuk pengembangan dirinya sendiri, dan karena-karena lainnya yang membuat mereka terus-menerus menulis. Apapun itu, sadar atau tidak sadar, jika dibalik itu semua tersimpan motivasi yang sangat kokoh, maka mereka akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya, setelah mendengar jawaban dari Tere Liye tersebut, yang ada dipikiranku bukan hanya soal motivasi terbaik untuk menulis, namun lebih luas lagi, soal motivasi terbaik kita dalam melakukan hal-hal apa saja. Apa saja. Toh, faktanya, kalau setiap yang kita lakukan dalam berbagai aspek kehidupan ini dibaliknya tersimpan motivasi terbaik, maka apa pun yang kita lakukan itu, akan terus kita hadapi dengan sungguh-sungguh.  

Kira-kira begini, kau akan sungguh-sungguh nyelesain studi mu itu jika motivasi terbaikmu adalah untuk membahagiakan kedua orang tuamu. Kau akan sungguh-sungguh dan total dalam bekerja, etos kerja yang begitu baik, jika ada anak-istri yang menunggu di rumah yang harus kau nafkahi sebagai motivasi terbaikmu, walaupun pekerjaanmu itu hanyalah sebagai petugas kebersihan taman kota misalnya. Kalau kita melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan hasil yang terbaik akan datang dengan sendirinya.

Tapi, tetap saja, siapa pula yang mau mendengarkan celotehan sok dewasa dari anak yang baru menginjak angka dua puluhan tahun ini. Tenang, ini cuma tentang sesuatu yang terus terngiang-ngiang dikepalaku. Sesedarhana itu. Karena jawaban dari Tere Liye ini lah, aku jadi selalu menerka-nerka setiap melakukan suatu hal. Misalnya, setiap mau berangkat ke kampus, aku jadi bertanya sendiri dalam hati, apa motivasi terbaikku untuk kuliah? Misalnya saat diberi tanggung jawab untuk melaksanakan suatu kegiatan, aku jadi bertanya, apa motivasi terbaikku untuk melaksanakan kegiatan ini? Misalnya, ketika sedang membaca buku, mengerjakan tugas, hingga remeh temeh seperti ketika sedang menyetrika kemeja, aku juga bertanya tentang hal yang sama; untuk apa? Apa motivasi terbaikku melakukan semua ini? Lalu, soal menulis, soal konsistensi mosting tulisan di blog yang... ah, sudahlah, rasanya tulisan di blog ini melulu soal aku yang terus mengeluh karena nggak bisa produktiv bikin tulisan.

Belakangan, aku seperti menyembunyikan diri dari kegiatan tulis menulis. Yang aku lakukan hanyalah membaca dan membaca. Mencoba keluar dari zona nyaman dengan bacaan-bacaan baru yang mungkin bagiku terasa sedikit “berat”, nggak tahu bagi orang lain. Apakah novel-novel karya Eka Kurniawan terasa “berat”? Bagaimana dengan Pramoedya? Atau Gibran? Hahaha, bagi aku yang belum terlalu terbiasa pada tulisan ataupun genre yang mereka angkat, pada awalnya akan terasa sedikit berat. Jika begitu, apa motivasi terbaikku membaca buku-buku karya mereka—padahal sudah pasti akan lebih seru membaca novel-novel bergenre sedikit komedi, ataupun roman-roman remaja yang dekat dengan kita, ataupun karya-karya fiksi yang tidak terlalu monoton lainnya? Tentu, motivasi terbaikku melakukan semua itu untuk diri aku sendiri, untuk tulisan aku sendiri. Paling tidak, ada gaya tulisannya yang menular padaku walau hanya setitik. Paling tidak, ada kosakata baru yang aku ketahui walau barang satu dua. Paling tidak, secuil ilmunya bisa aku dapat. Paling tidak dari yang paling tidak, ada hal-hal baru yang aku ketahui, dari tidak tahu menjadi tahu. Paling tidak seperti itu.

Menyepi. Mencoba referensi-referensi baru. Nabung hanya untuk membeli buku-buku yang genre-nya cukup asing bagiku. Hanya lebih banyak larut dalam bacaan-bacaan baru. Lebih banyak mengamati dan merenung terhadap berbagai hal. Ahh, sungguh pekerjaan orang-orang malas.


Tiba-tiba saja waktu berlalu. Sama sekali nggak nulis dan ngeblog selama lebih dari dua bulanan. Selama dua bulanan nyepi itu, hasrat menulis hanya aku tuntaskan dengan meninggalkan catatan-catatan kecil yang lahir lewat pengamatan terhadap hal-hal baru. Kebetulan pula, sebulan yang lalu dapat kesempatan bertemu teman-teman mahasiswa dari seluruh Indonesia lewat Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia di Pekanbaru. Bertemu orang-orang baru lagi dari berbagai pelosok negeri. Melihat bagaimana kebiasaan mereka hingga berbagi banyak hal lewat persepektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Tambah banyak hal-hal baru untuk diamati, selain dengan membaca buku-buku yang genre-nya pun terasa baru. Tanpa aku sadari, ada motivasi yang sangat kokoh di balik itu semua, yang akhirnya memberanikanku  mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyamanku. Kalian tahu, motivasi yang terakhir aku ceritakan ini, adalah motivasi yang dua bulan belakangan ini kekokohannya mengalahkan motivasi terbaikku untuk menulis. Tunggu, mengalahkan motivasiku untuk menulis? Iya, aku tahu, lagi-lagi cuma bisa ngeles.

Yang Nyasar di Mari: