Motivasi Terbaik

By Irsyad Muhammad - 5/12/2016 05:07:00 PM

Ada satu hal baru yang aku pelajari setiap nonton talkshow ataupun bedah buku ataupun sejenisnya yang menghadirkan Tere Liye. Acara-acara itu beberapa rekaman videonya bisa ditemukan di Youtube. Hal yang aku pelajari di sini, mungkin akan terdengar sederhana, namun rasanya jarang terpikirkan. Pada acara-acara semacam itu (talkshow kepenulisan atau bedah buku), biasanya ada satu pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan peserta kepada penulis yang mengisi acara. Pertanyaannya kira-kira seperti ini:

Bagaimana anda bisa terus konsisten menulis dan selalu mendapatkan inspirasi?

Pertanyaan seperti itu hampir selalu ada. Dan kebetulan, beberapa talkshow ataupun bedah buku yang menghadirkan Tere Liye yang aku temukan di Youtube, pertanyaan itu hampir tidak pernah absen. Dan apa jawaban dari Tere Liye? Jawabannya dalam setiap talkshow pun kurang lebih selalu sama:

“Kalau motivasi terbaikmu untuk menulis sangat kokoh, InsyaAllah kau akan terus menulis dengan sungguh-sungguh, dengan begitu, inspirasi akan datang dengan sendirinya”, begitulah kira-kira katanya.

Dan apa yang terjadi? Yap, perkataan itu dengan mudahnya meresap dikepalaku.

Tergantung apa motivasi terbaikmu.

Benar sekali, dalam menulis, setiap orang memiliki motivasi-motivasi berbeda pada diri mereka. Ada yang menulis karena ingin berbagi pengalaman, ada yang menulis karena ingin berbagi cerita, ada yang menulis karena ingin sekedar menghibur, ada yang menulis karena ingin berbagi petuah-petuah kehidupan yang baik, ada yang menulis untuk pengembangan dirinya sendiri, dan karena-karena lainnya yang membuat mereka terus-menerus menulis. Apapun itu, sadar atau tidak sadar, jika dibalik itu semua tersimpan motivasi yang sangat kokoh, maka mereka akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya, setelah mendengar jawaban dari Tere Liye tersebut, yang ada dipikiranku bukan hanya soal motivasi terbaik untuk menulis, namun lebih luas lagi, soal motivasi terbaik kita dalam melakukan hal-hal apa saja. Apa saja. Toh, faktanya, kalau setiap yang kita lakukan dalam berbagai aspek kehidupan ini dibaliknya tersimpan motivasi terbaik, maka apa pun yang kita lakukan itu, akan terus kita hadapi dengan sungguh-sungguh.  

Kira-kira begini, kau akan sungguh-sungguh nyelesain studi mu itu jika motivasi terbaikmu adalah untuk membahagiakan kedua orang tuamu. Kau akan sungguh-sungguh dan total dalam bekerja, etos kerja yang begitu baik, jika ada anak-istri yang menunggu di rumah yang harus kau nafkahi sebagai motivasi terbaikmu, walaupun pekerjaanmu itu hanyalah sebagai petugas kebersihan taman kota misalnya. Kalau kita melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan hasil yang terbaik akan datang dengan sendirinya.

Tapi, tetap saja, siapa pula yang mau mendengarkan celotehan sok dewasa dari anak yang baru menginjak angka dua puluhan tahun ini. Tenang, ini cuma tentang sesuatu yang terus terngiang-ngiang dikepalaku. Sesedarhana itu. Karena jawaban dari Tere Liye ini lah, aku jadi selalu menerka-nerka setiap melakukan suatu hal. Misalnya, setiap mau berangkat ke kampus, aku jadi bertanya sendiri dalam hati, apa motivasi terbaikku untuk kuliah? Misalnya saat diberi tanggung jawab untuk melaksanakan suatu kegiatan, aku jadi bertanya, apa motivasi terbaikku untuk melaksanakan kegiatan ini? Misalnya, ketika sedang membaca buku, mengerjakan tugas, hingga remeh temeh seperti ketika sedang menyetrika kemeja, aku juga bertanya tentang hal yang sama; untuk apa? Apa motivasi terbaikku melakukan semua ini? Lalu, soal menulis, soal konsistensi mosting tulisan di blog yang... ah, sudahlah, rasanya tulisan di blog ini melulu soal aku yang terus mengeluh karena nggak bisa produktiv bikin tulisan.

Belakangan, aku seperti menyembunyikan diri dari kegiatan tulis menulis. Yang aku lakukan hanyalah membaca dan membaca. Mencoba keluar dari zona nyaman dengan bacaan-bacaan baru yang mungkin bagiku terasa sedikit “berat”, nggak tahu bagi orang lain. Apakah novel-novel karya Eka Kurniawan terasa “berat”? Bagaimana dengan Pramoedya? Atau Gibran? Hahaha, bagi aku yang belum terlalu terbiasa pada tulisan ataupun genre yang mereka angkat, pada awalnya akan terasa sedikit berat. Jika begitu, apa motivasi terbaikku membaca buku-buku karya mereka—padahal sudah pasti akan lebih seru membaca novel-novel bergenre sedikit komedi, ataupun roman-roman remaja yang dekat dengan kita, ataupun karya-karya fiksi yang tidak terlalu monoton lainnya? Tentu, motivasi terbaikku melakukan semua itu untuk diri aku sendiri, untuk tulisan aku sendiri. Paling tidak, ada gaya tulisannya yang menular padaku walau hanya setitik. Paling tidak, ada kosakata baru yang aku ketahui walau barang satu dua. Paling tidak, secuil ilmunya bisa aku dapat. Paling tidak dari yang paling tidak, ada hal-hal baru yang aku ketahui, dari tidak tahu menjadi tahu. Paling tidak seperti itu.

Menyepi. Mencoba referensi-referensi baru. Nabung hanya untuk membeli buku-buku yang genre-nya cukup asing bagiku. Hanya lebih banyak larut dalam bacaan-bacaan baru. Lebih banyak mengamati dan merenung terhadap berbagai hal. Ahh, sungguh pekerjaan orang-orang malas.


Tiba-tiba saja waktu berlalu. Sama sekali nggak nulis dan ngeblog selama lebih dari dua bulanan. Selama dua bulanan nyepi itu, hasrat menulis hanya aku tuntaskan dengan meninggalkan catatan-catatan kecil yang lahir lewat pengamatan terhadap hal-hal baru. Kebetulan pula, sebulan yang lalu dapat kesempatan bertemu teman-teman mahasiswa dari seluruh Indonesia lewat Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia di Pekanbaru. Bertemu orang-orang baru lagi dari berbagai pelosok negeri. Melihat bagaimana kebiasaan mereka hingga berbagi banyak hal lewat persepektif atau cara pandang yang berbeda-beda. Tambah banyak hal-hal baru untuk diamati, selain dengan membaca buku-buku yang genre-nya pun terasa baru. Tanpa aku sadari, ada motivasi yang sangat kokoh di balik itu semua, yang akhirnya memberanikanku  mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyamanku. Kalian tahu, motivasi yang terakhir aku ceritakan ini, adalah motivasi yang dua bulan belakangan ini kekokohannya mengalahkan motivasi terbaikku untuk menulis. Tunggu, mengalahkan motivasiku untuk menulis? Iya, aku tahu, lagi-lagi cuma bisa ngeles.

  • Share:

You Might Also Like

22 Comments

  1. Aku juga lagi males banget ngeblog. Alasannya cuma males aja, alias gak punya motivasi kuat untuk menulis

    BalasHapus
  2. yap, betul sekali. motivasi orang dalam menulis pasti berbeda. selama motivasinya ada, konsistensi pun bukanlah hal yang menjaidi mitos belaka. wah, tere liye ini emang inspiring banget ya sosoknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali, jev! semuanya harus dilandasi motivasi..

      berawal dari suka baca novelnya, sekarang jadi suka petuah2nya dia di facebook haha

      Hapus
  3. Balasan
    1. kalau ada motivasi pasti semangat kan ya mba? :D

      Hapus
  4. Apapun motivasinya, selama itu membuat kita konsisten ya gapapa.

    BalasHapus
  5. Bro, jadi lo orang Pekanbaru juga?? atau lagi ada acara di Pekanbaru? Kalo iya, Kapan-kapan bisa dong Kopdar bareng gue dan temen-temen lain.

    Jadi konsisten itu menurut gue gampang-gampang susah. Inget! Gampangnya 2x. jadi, gak ada alasan buat males2an. Sebenarnya gak ngeblog itu ya karena males. Seperti yg dibilang Mas Renggo. Kalo udah males, siapa yg mau ngasi solusi??

    Terus nulis aja bro. Motivasi pasti perlu banget. Selain membangun semangat, bisa jadi pembangkit semangat dikala lemah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku orang Medan yang lagi kuliah di Aceh bang. Sayang banget, kemarin waktu ada acara di Pekanbaru, nggak inget buat kopdaran krn jadwal yang padat bener -_-

      iya sih bang, sebenarnya tulisan ini ngeles banget, cuma males doang buat nulis ini mah hahaha
      kalau males pasti nggak ada obatnya -_-
      makasih bang masukannya :')

      Hapus
  6. Motivasinya sih ada, tapi kadang kalah sama rasa malas :D
    Hehehehehehhehe....
    Musti dibikin jadwal pake alarm kayaknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau malas nggk ada obatnya :'D

      Hapus
    2. Link blognya dah ada keuleus di tab 'blogger' gue, dari kapan tau... Masa gak ngenalin fotonya sendiri? Baris ke-4 dari atas, cari sendiri... ^_^

      Hapus
  7. Hemm bener juga sih. Kita nggak akan konsisten melakukan suatu aktivitas kalau nggak ada motivasi (dan niat) yang kuat. Rata-rata tulisan di blogku juga melulu soal aku yang terus mengeluh karena nggak produktiv menulis Huehue

    Belum banyak novel Pramoedya & Gibran yang udah aku baca sih, dan memang perlu ekstra konsentrasi untuk paham ceritanya :3

    Semoga bisa konsisten menulis lagi. Semangat \:D/

    BalasHapus
  8. Heeehm buat gue motivasi menulis adalah seperti mencintai, gak tahu kapan akan berhenti, yang jelas cuma ingin terus berbagi :)
    #Ahaaaaydeuh

    BalasHapus
  9. pernah banget ngerasain hal yang sama... di blog saya pun melulu tentang saya, saya, dan saya, tanpa peduli menarik atau tidaknya, tapi tetap saja berharap supaya bermanfaat... saja juga baru 'belajar' suka menbaca, karya pramoedya berat banget menurut saya, novel tere liye malah lebih ringan tapi ngena banget menurut saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan semoga yang terus kita tulis adalah sesuatu yang bermanfaat, minimal untuk si penulis itu sendiri :))

      ada saatnya level pembaca itu akan terus meningkat kok, :D

      Hapus
    2. Amin...

      Salam kenal + follow, jika berkenal follow balik ya :)

      Hapus
  10. Setuju banget dengan tere, inspirasi akan datang dengan sendiri nya disaat kita mmg punya hasrat untuk menulis

    BalasHapus

Sila tinggalkan komentarnya.