Header Ads

(Cerpen) Kosasih, Kekasihku

Pixabay.com


Kosasih, Kekasihku

Oleh: Irsyad Muhammad

Nanti menoleh ke arah Kosasih. Dia cukup senang karena kekasihnya sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Nanti melanjutkan kisahnya. “Ketika umurku empat tahun, Ibuku pernah bilang kalau setiap orang yang meningggal akan menjadi bintang, dan bertahun-tahun aku terus percaya akan hal itu. Lalu setiap malam aku melihat ke atas langit melalui jendela kamar, dan berasumsi bahwa bintang yang paling besar dan terang adalah Ayahku. Dan setelah Ibuku meninggal dua tahun lepas, hampir tidak satu malam pun aku absen ke bukit ini, agar bisa berjumpa dengan kedua orang tuaku.”

Kosasih masih diam, membiarkan Nanti melepaskan semua kenangannya.

“Ya, aku tahu apa yang kau pikirkan. Tak seperti di desa dulu, di bawah sana, hiruk-pikuk kota membuat langit tampak muram pada malam hari. Tak ada bintang yang terlihat, aku tidak bisa menemui Ayah dan Ibuku lagi. Tampak berbeda jika dari atas bukit ini, bintang-bintang terlihat dengan jelas.” Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. “Aku sangat menyayangi mereka, mereka bintang sesungguhnya di hidupku.”

Nanti menoleh sekali lagi, melihat kekasihnya. Sudut bibirnya melebar seperti teringat sesuatu yang menyenangkan. “Sekarang kau tahu kenapa aku membawamu ke sini, bukan? Kau adalah orang yang sangat aku sayangi setelah kedua orang tuaku. Kau harus bertemu mereka di atas sana.”

Tepat setelah itu, Nanti menghujamkan pisau dapur yang sedari tadi digenggamnya, menuju ulu hati Kosasih. Kosasih mengeram, coba berontak. Panjang pisau dapur itu hanya sepantaran jengkalnya, butuh sedikit usaha agar tak menusuk lebih dalam. Nyawa Kosasih dalam genggaman Nanti.

Sejak awal dia tahu apa yang akan dihadapinya malam ini. Apa daya, tak banyak yang bisa dia lakukan dengan kondisi mulut tersumpal serta tangan dan kaki yang terikat. Darah memaksa keluar dari mulutnya, membuat merah pekat kain sumpalan di mulutnya. Kosasih meronta-ronta, masih sempat mengerang, sebelum nyawanya benar-benar melayang beberapa detik kemudian.

“Aku akan ke atas bukit ini setiap malam, bertemu tiga orang yang sangat aku sayangi,” Nanti beranjak pergi, meninggalkan Kosasih yang terbujur kaku dengan pisau dapur yang masih tegak menancap di ulu hatinya.   

Ayah, Ibu, kenalkan, ini Kosasih, kekasihku.

11 komentar:

  1. Kalo sayang kenapa mesti dibunuh?:')
    kalo sayang kenapa tega menghujamkan pisau itu?
    kesyeeel aslik :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. niatnya memang mau bikin yang baca jadi kesel kok hehe xD

      Hapus
  2. wihwihwih, ini genrenya romance-thriller. provokatif sih bro ceritanya :")

    BalasHapus
  3. Jyaaa nanti psikopat juga ey, berarti karena pengen ngliat bintang orang orang dan disayang sampe tega menghabisi nyawa kosasih..,uwawww

    BalasHapus
  4. Serem amat di bunuh, trus kenapa ngak sekalian bunuh diri ??? biar bintang2 bersinar terang

    BalasHapus
  5. Waah pertamanya aja udah bikin nagih pengen baca lagi.

    BalasHapus

Sila tinggalkan komentarnya.