Bintang Sesungguhnya

By Irsyad Muhammad - 11/20/2016 04:10:00 PM

Nanti menoleh ke arah Kosasih. Dia cukup senang karena pacarnya sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Nanti melanjutkan kisahnya. “Dulu, ketika umurku empat tahun, Ibuku pernah bilang kalau setiap orang yang meningggal akan menjadi bintang, dan bertahun-tahun aku terus percaya akan hal itu. Karena perkataan Ibuku itu, setiap malam aku selalu melihat ke atas langit melalui jendela kamar, lalu berasumsi bahwa bintang yang paling besar dan terang adalah Ayahku. Dan setelah Ibuku meninggal dua tahun lepas, hampir tidak satu malam pun aku absen ke bukit ini, agar bisa berjumpa dengan kedua orang tuaku.”

Kosasih masih diam, membiarkan Nanti melepaskan semua kenangannya.

“Ya, aku tahu apa yang kau fikirkan. Tak seperti di desa dulu, di bawah sana, hirup pikuk kota membuat langit tampak muram pada malam hari. Tak ada bintang yang terlihat, aku tidak bisa menemui Ayah dan Ibuku lagi. Tampak berbeda jika dari atas bukit ini, bintang-bintang terlihat dengan jelas.” Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. “Aku sangat menyayangi mereka, mereka bintang sesungguhnya di hidupku.”

Sekali lagi Nanti menoleh ke samping, melihat pacarnya, seketika tersenyum seperti mengingat sesuatu. “Sekarang kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini, bukan? Kau adalah orang yang sangat aku sayangi setelah kedua orang tuaku, sekarang kau harus bertemu dengan mereka di atas sana...”

Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Nanti menghujamkan pisau dapur yang sedari tadi digenggamnya, tepat mengarah ke ulu hati Kosasih. Kosasih mengeram, coba berontak. Pisau dapur itu hanya sepantaran 10 cm, butuh sedikit usaha agar pisau itu menusuk cukup dalam dan bekerja dengan baik. Di detik-detik terakhir, Kosasih masih sempat berfikir, sejak awal dia tahu apa yang akan dia hadapi malam ini, tapi tak banyak yang bisa dilakukannya dengan kondisi mulut tersumpal serta tangan dan kaki yang terikat. Percikan darah yang keluar dari mulut Kosasih membuat merah pekat kain sumpalan di mulutnya. Kosasih masih sempat bergerak, erangan terakhirnya seperti disengat listrik ribuan volt beberapa detik, sebelum nyawanya benar-benar melayang.

“Terimakasih, sekarang aku jadi lebih semangat ke atas bukit ini setiap malam, bertemu tiga orang yang sangat aku sayangi. Melihat dan bertemu bintang sesungguhnya dihidupku”, Nanti beranjak pergi, meninggalkan Kosasih yang terbujur kaku dengan pisau dapur yang masih tegak menancap di ulu hatinya.   


Ayah, Ibu, kenalkan, ini Kosasih, pacarku. 
Besok malam aku akan kembali ke bukit ini lagi.


Cerita Fiksi kali ini tentang... kisah yang sedikit horror (kalau memang bisa dibilang begitu). Sudah sejak lama saya selalu punya keinginan yang besar untuk membuat cerita seperti pada cerpen-cerpen tragedi yang pernah saya baca, yang alurnya mengejutkan dan nggk bisa ditebak. Namun, saya lebih tertarik untuk membuat fiksi yang lumayan singkat, to the point, dan langusng masuk ke dalam inti cerita. Sekarang, apakah fiksi saya ini cukup mengejutkan? Saya akan sangat senang bila ada yang mau memberikan sedikti komentar, kritik ataupun saran. :) 

  

  • Share:

You Might Also Like

11 Comments

  1. Kalo sayang kenapa mesti dibunuh?:')
    kalo sayang kenapa tega menghujamkan pisau itu?
    kesyeeel aslik :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. niatnya memang mau bikin yang baca jadi kesel kok hehe xD

      Hapus
  2. wihwihwih, ini genrenya romance-thriller. provokatif sih bro ceritanya :")

    BalasHapus
  3. Jyaaa nanti psikopat juga ey, berarti karena pengen ngliat bintang orang orang dan disayang sampe tega menghabisi nyawa kosasih..,uwawww

    BalasHapus
  4. Serem amat di bunuh, trus kenapa ngak sekalian bunuh diri ??? biar bintang2 bersinar terang

    BalasHapus
  5. Waah pertamanya aja udah bikin nagih pengen baca lagi.

    BalasHapus

Sila tinggalkan komentarnya.