Senin, 31 Desember 2018

Mengejar Ketertinggalan



Selamat datang 2019

Tahun 2018 ke bawah adalah masa-masa di mana saya banyak membuang waktu menulis dan membaca saya—terutama sejak memasuki semester-semester padat (padat kelas dan padat aktivitas) ketika kuliah dulu. Benar, ketika kuliah dulu. Anggap lah bulan november lalu saya baru saja sarjana. Sama halnya sebagai narablog, kuliah menjadi alibi untuk sedikitnya waktu yang bisa saya luangkan, atau pada dasarnya saya saja yang memang pelit menyisihkan waktu buat mengurus blog ini.

Saya jadi ingat, blog ini telah menjadi wadah untuk menampung tulisan-tulisan saya sejak tahun 2012, sejak saya masih SMA. Awalnya, selain jadi pelampiasan hasrat menulis saya, blog ini saya tujukan juga untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tulisan saya lewat bunyi komentar yang masuk. Ada perasaan senang ketika tahu ada orang yang terhibur atau minimal menyukai tulisan saya. Saat itu juga saya merasakan serunya menjadi seorang narablog.

Di awal mengembangkan blog, saya jadi mengenal beberapa narablog lain yang sama-sama baru memulai seperti saya juga. Blogwalking, sharing ilmu dan sebagainya sudah menjadi rutinitas saya dengan narablog seperjuangan itu. Sekarang, ceritanya berbeda. Narablog-narablog yang saya tahu dulu telah melesat jauh di atas saya. Blog mereka berkembang pesat dengan kualitas konten dan tampilan yang semakin bagus nan menarik, pengunjung yang semakin ramai, serta sudah punya domain TLD. Sekedar informasi, blog ini masih blogspot(dot)com sejak awal berdiri. Iya, era digital terus berkembang, saya masih begini-begini saja. Menyedihkan, memang.

Kesal rasanya ketika narablog-narablog seperjuangan dulu sudah berkembang begitu pesat dengan berbagai pencapaian yang telah mereka raih lewat blognya. Penyesalan itu mampir dan seakan menampar benak saya: kalau dulu saya konsisten dan serius pasti saya juga bisa! Dan seperti nasehat orang tua dulu, penyesalan tidak akan ada artinya.

***

Tentu saya punya resolusi sendiri menyambut tahun 2019 ini, dan resolusi ini lahir akibat dari ketertinggalan-ketertinggalan yang telah saya alami belakangan tahun—perihal membaca, perihal menulis, dan perihal jati diri saya sebagai seorang narablog. Aih, saya baru saja mengakui kalau keberlangsungan blog ini menyangkut jati diri saya. Mau bagaiamana lagi, begitu adanya.

Karena itu, untuk mengejar ketertinggalan tersebut saya harus memastikan tujuan saya dan langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan. Setelah melewati perenungan dan muhasabah diri yang panjang (baik, ini berlebihan), saya langsung menyusun tujuan dan langkah-langkah yang akan saya lakukan demi mengejar ketertinggalan-ketertinggalan ini.
Apa yang ingin kalian capai di 2019?

Tujuan

Punya domain TLD
Baru tujuan pertama tapi sudah terdengar menyedihkan. Sepele memang, namun kenyataannya tak kunjung terwujud. Punya domain TLD memang sudah lama saya niatkan, tapi karena soal sulitnya waktu yang saya luangkan untuk blog ini, rasanya hal itu belum menjadi prioritas utama saya. Mungkin sekarang sudah saatnya. Jadi, tidak salah kalau ini menjadi salah satu resolusi saya di tahun 2019. Tolong, jangan dibully.
Merasakan nikmatnya juara dari event blog atau event menulis
Kalau yang ini juga sederhana, hanya sekedar ingin merasakan sensasi juara event blog atau event menulis. Saya membayangkan betapa bahagianya dipilih menjadi salah satu yang terbaik oleh orang-orang yang berkompeten dari event blog atau event menulis itu. Semoga bisa segera merasakannya.
Tiga sampai empat opini dimuat setiap bulan
Opini adalah salah satu bentuk tulisan yang mulai serius saya pelajari. Menulis opini dapat melatih ketajaman berpikir saya, dan opini yang dimuat di media menjadi tolak ukur sejauh mana ketajaman berpikir tersebut. Beberapa bulan ke belakang opini saya rutin dimuat di surat kabar lokal yang cukup ternama di kota saya. Mudah-mudahan bertahan terus dan semakin sering dimuat.
Puisi dan cerpen juga dimuat di media
Sejalan dengan yang di atas, tapi kali ini dalam bentuk puisi dan cerpen. Saya berusaha agar puisi dan cerpen saya bernasib sama dengan opini saya. Saya pun tak masalah mau dimuat di media cetak seperti surat kabar atau di media online yang menerima tulisan-tulisan dari pembaca. Dengan dimuatnya tulisan di media, berarti menunjukkan bahwa tulisan tersebut telah lolos kurasi. Berbeda dengan blog atau platform sejenis yang bebas menulis apa saja, terlepas bagus atau tidaknya tulisan tersebut.
Sebuah naskah buku
Yup, naskah saja dulu. Saya tak mau muluk-muluk ditahun 2019 nanti sudah punya buku karangan sendiri yang berjejer rapi di toko buku kesayangan anda lengkap dengan label bestseller. Cukup sebuah naskah. Ya, sebuah naskah. Naskah novel lebih tepatnya. Doakan.
Menghasilkan uang lewat tulisan
Siapa yang tidak mau menghasilkan uang lewat sesuatu yang disukainya. Pun saya yang merasa senang menulis ini ingin rutin menghasilkan uang lewat tulisan. Sekarang mungkin sudah merasakannya sedikit demi sedikit, dan semakin bersemangat untuk menjadikannya bukit. Bukit penghasilan.

Never stop learning

Cara Mencapainya

Tujuan-tujuan saya tersebut tak akan mungkin terwujud tanpa adanya usaha. Dan sekedar usaha tanpa memikirkan cara yang baik untuk mencapainya pun hanya omong kosong belaka. Sedikitnya, ada tiga langkah yang sudah saya siapkan untuk mencapai tujuan-tujuan saya di atas.
Membaca satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi setiap bulan
Ide membaca satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi setiap bulan ini tidak datang begitu saja. Ada sosok yang membuat saya ingin melakukan hal tersebut, yaitu JS Khairen, seorang penulis lokal yang cukup produktif menelurkan buku. Ia pernah menyebutkan kebiasaannya itu disebuah video di salah satu kanal Youtube dan itu menginspirasi saya untuk ikut melakukannya. Seperti yang kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah satu paket komplit yang tak mungkin dipisahkan.

Satu lagi kata-kata JS Khairen di video itu yang cukup membekas dikepala saya, “menulis itu membangunkan peradaban, dan membaca adalah menghidupkan peradaban itu”. Kalimat itu langsung mensugesti pikiran saya sehingga saya semakin terpacu untuk tidak hanya menulis, tapi lebih dari itu harus lebih banyak membaca.

Ngomong-ngomong, videonya ada di kanal Youtube Raditya Dika, mana tau ada yang belum atau mau lihat, nih saya sediakan:


Mengkonsep Blog
Saya ingin mengkonsep blog ini sebaik mungkin agar punya karakter tersendiri. Konsep yang saya maksud mungkin lebih kepada konten. Sampai saat ini konsep tersebut masih akan terus saya godok. Blog yang terkonsep dengan baik saya pikir dapat memudahkan saya agar blognya lebih terarah. Tunggu tanggal mainnya saja. Hehe.
Belajar
Pada akhirnya langkah-langkah yang saya sebutkan di atas bermuara pada satu kata saja: belajar. Mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya harus kita pelajari lebih dulu. Lalu apa yang dipelajari? Bisa apa saja. Terlebih, di era digital seperti sekarang, informasi berserakan di mana-mana, bahkan sampai digenggaman tangan kita.

Saya harus terus belajar untuk menulis opini agar opini saya semakin sering dimuat dimedia-media. Saya harus terus belajar menulis puisi, menulis cerpen, agar puisi dan cerpen saya semakin bagus kualitasnya. Saya harus belajar mengkonsep blog dari narablog lain yang blognya sudah terkonsep dengan baik dan keren. Saya harus belajar menulis novel dari mulai membuat kerangka, menciptakan tokoh, membangun karakter, membuat konflik dan seterusnya. Saya harus mencuri ilmu dari orang yang bisa hidup hanya lewat menulis, demi tahu cara menghasilkan uang dari tulisan itu sendiri. Belajar, belajar, dan belajar. Saya selalu yakin bahwa tidak ada yang salah dari yang namanya belajar.

Ibarat pertandingan sepakbola, sebuah tim yang sudah tertinggal 0-3 dibabak pertama harus segera memutar otak dan berusaha lebih keras untuk membalikkan keadaan di 45 menit babak kedua. Dan tak ada yang mustahil memang, sejarah mencatat ada beberapa tim yang melakukannya. Maka, menyambut tahun 2019 ini saya harus memutar otak untuk mengkonsep blog dengan lebih baik lagi dan berusaha lebih keras melalui proses belajar secara terus-menerus, demi mengejar ketertinggalan yang sudah saya alami belakangan tahun ini.  

Menulis itu bukan karena bakat, menulis itu karena belajar.–Ahmad Fuadi

***

Sumber gambar/ilustrasi:
https://www.inc.com/young-entrepreneur-council/5-tips-for-reaching-your-goals-in-2019.html
https://www.123rf.com/photo_96238967_businessman-underlining-2019-goals-text-with-black-felt-tip-or-marker.html
http://neurobonkers.com/2015/01/05/learning-how-to-learn/

Sumber video:
https://www.youtube.com/watch?v=qjY3pl34ro8

Senin, 24 Desember 2018

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi: Petualangan Seru, Miris, dan Penuh Kejutan


Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Akhirnya saya tidak tahan untuk tidak berbagi kesan setelah membaca novel karya Yusi Avianto Pareanom ini. Betapa tidak, novel ini penuh kejutan. Beberapa ekspektasi saya sebelum membaca buku sudah dipatahkan sejak awal bab. Sebagai novel pertama sang penulis, saya kira ini karya yang luar biasa.

Awal saya tertarik untuk membeli novel ini bermula dari banyaknya lapak pedagang buku online di instagram (lapak buku ori lho, ya, bukan bajakan) yang merekomendasikan buku ini. Bahkan, beberapa lapak memasukkan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dalam daftar teratas buku yang paling banyak dibeli dan itu bertahan dalam tempo waktu berbulan-bulan. Jelas saja saya ingin membelinya.

Oh iya, terus terang saya tidak terbiasa membaca review sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku. Menurut saya, membaca review dan komentar orang terlebih dahulu dapat mengurangi kenikmatan saya ketika membaca bukunya nanti. Saya takut beberapa bagian kejutan jadi “ketahuan” lebih dulu sebelum membacanya nanti.

Untuk itu, jangan terlalu berharap banyak pada review buku saya yang ini, karena saya juga tidak ingin membuat review buku kerdasarkan kaidah-kaidah me-review yang umum digunakan. Saya hanya ingin membagi kesan terhadap suatu karya, dan berharap kalian jadi ikut tertarik untuk membacanya.

***

Tak seperti judulnya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ternyata mengambil sudut pandang dari seorang tokoh bernama Sungu Lembu. Itu lah mengapa saya katakan bahwa ekspektasi saya sudah dipatahkan sejak bab awal. Saya pikir sudut pandang akan dari tokoh bernama Raden Mandasia atau dari orang ketiga. Tapi tenang saja, kejutan sudah pasti ditemukan dalam setiap bagian cerita di novel ini.

Selanjutnya saya tertarik pada sebuah kalimat di bagian bawah cover buku tersebut. Pada bagian bawah cover tertulis “sebuah dongeng karya Yusi Avianto Pareanom”. Tentu saja, cerita di novel ini bak sebuah dongeng yang sangat menghibur. Setting cerita diambil pada zaman antah berantah di mana pada saat itu beberapa kerajaan besar berlomba saling berebut daerah kekuasaan. Sebuah dongeng, tentu saja novel ini begitu “kolosal”.

Dan jangan salah kaprah juga kalau dongeng yang dikandung dalam novel ini bisa dikonsumsi oleh semua umur—seperti dongeng pengantar tidur anak, misalnya. Beberapa bagian cerita hanya layak dikonsumsi untuk orang yang sudah dewasa. Bisa saya katakan, Yusi telah menaikkan kelas dari dongeng itu sendiri. Hehe..

Lalu siapa Raden Mandasia dalam cerita ini, sehingga namanya dijadikan judul novel?

Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari kerajaan bernama Gilingwesi. Sebagai salah satu pangeran kerajaan, Raden Mandasia merasa punya tanggung jawab untuk menghindari kerajaannya dari perang besar melawan kerajaan lain yang begitu digdaya bernama Gerbang Agung. Raden Mandasia tidak ingin mengorbankan begitu banyak nyawa untuk perang dua kerajaan besar ini. Maka, ia pun menyusun sebuah misi menuju ke kerajaan Gerbang Agung yang jaraknya berbulan-bulan perjalanan.

Di sisi lain, ada seorang pemuda bernama Sungu Lembu yang mempunyai sebuah misi pribadi. Singkat cerita, dua misi yang berbeda antara Sungu Lembu dan Raden Mandasia justru mengantarkan mereka dalam sebuah perjalanan bersama yang panjang. Di sini lah letak keseruan itu. Sungu Lembu dan Raden Mandasia terlibat dalam sebuah petualangan penuh ketegangan, kejutan, dan sekali dua menimbulkan kemirisan di benak yang membacanya.

***

“Raden, aku tahu. Aku juga ingin bersama Raden sampai kita benar-benar menjadi tua berbarengan. Nah, aku bisa membuat Raden tersenyum. Bagus. Tapi tolong dengarkan permintaanku Raden.”
“Baiklah, katakan Nyai.”
“Raden harus mengikuti Raden Mandasia kalau aku pergi.” –hal 173.

***

Ada unsur romance dan sesekali nilai-nilai persahabatan yang terkandung dalam novel ini, pun tak lupa gaya komedi Yusi yang kaku namun tetap jenaka.

Satu lagi yang begitu membekas dalam benak saya adalah kelebihan yang ada pada tokoh Sungu Lembu. Ya, Sungu Lembu mempunyai kelebihan dalam indra pengecapannya. Sepersekian detik ia bisa tahu bumbu apa saja dan bagaimana cara memasak suatu makanan dari hanya mencicipi makanan tersebut seujung lidah. Yusi membangun sebuah tokoh yang karakternya mudah melekat di benak pembacanya. Pintar.

***

“Untuk bumbu pengharumnya, kau pakai lagi merica hitam, merica putih, cengkih, pala, tabia bun lagi, ketumbar, kemiri, bengle, kulit jeruk purut, dan eh... dlingo atau yang kau kenal dengan nama jangu, mungkin? Dan, ada satu lagi yang benar-benar tak kukenal,” kataku.
“Menyan,” kata Loki Tua. Ia lalu tertawa keras. “Ternyata lidahmu tak setolol tampangmu.”
“Anjing,” kataku. –hal 294.

***

Aku mengambil buli-buli dan menenggak sisa tuak. Perasaan sedih dan bersalah menyergapku. Teman seperjalananku yang sekarang berbaring lemah ini, sejauh mana aku mengenalnya? –hal 430.

***

Menurut saya juga novel ini sangat mudah untuk dibaca, tidak membosankan atau terlalu monoton. Bisa dibaca kapan saja dalam keaadan apa pun. Terlebih, beberapa diksi yang digunakan Yusi bagi saya masih terdengar asing, dan itu bagus untuk memperkaya kosakata atau perbendaharaan kata saya; sebut saja pemilihan kata “mendusin”, “jatmika” atau “menukas” yang tidak sekali dua kali dimasukkan. Saya pribadi masih asing dengan kata-kata itu, dan tentu banyak diksi unik lainnya.

Penghargaan yang diperoleh Yusi dari novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi antara lain adalah Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016, Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016, dan Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Sebagai karya pertama, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi berhasil membuat saya untuk tidak ragu membeli karya-karya Yusi setelah ini.

Bagaimana, masih ragu? Buat yang belum baca, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi bisa masuk ke daftar buku yang harus kalian baca di tahun 2019 nanti. Sangat direkomendasikan.

***

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Yusi Avianto Pareanom
470 halaman
Penerbit Banana

Minggu, 11 November 2018

Tekanan Soal Rangkap Jabatan



Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah baru saja resmi bertugas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Kedua pemimpin baru ini telah ditunggu oleh segudang permasalahan yang ada di Sumut, dan menjadi pemangku harapan banyak orang untuk membawa provinsi ini ke arah yang lebih baik. Khusus sang Gubernur baru, sepertinya harus memutar otak lebih dalam, karena saat ini beliau tak hanya bertanggung jawab untuk masyarakat Sumut, melainkan juga untuk masyarakat sepakbola Indonesia. Edy Rahmayadi,  namanya kemudian semakin kencang diperbincangkan publik karena saat ini beliau baru saja resmi memiliki dua jabatan sekaligus: Gubernur Sumut dan Ketua Umum PSSI.

Sejak diketahui akan maju dalam pemilihan Gubernur Sumut, hingga dipastikan menang dalam perhitungan suara, Edy Rahmayadi terus mendapat tekanan yang begitu kuat dari publik sepakbola nasional. Tekanan tersebut tak lain karena posisisnya yang juga masih menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga tahun 2020 mendatang. Banyak yang meyakini bahwa sepak bola Indonesia tidak akan pernah maju dan akan kembali menemui jalan suram jika polemik dalam tataran kepengurusan PSSI ini tak kunjung usai, apa lagi bila dipimpin oleh seorang yang juga punya jabatan politik yang tidak main-main di daerah lain. Emerson Yuntho, seorang aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), kemudian memulai sebuah petisi di Change.org yang meminta agar Edy Rahmayadi lebih baik mundur sebagai Ketum PSSI dan fokus menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Sumut lima tahun kedepan. Petisi tersebut, setidaknya hingga tanggal 6 september 2018 kemarin, ditandatangani hampir sebanyak 58 ribu orang.

Soal Hukum

Edy Rahmayadi sebenarnya sudah jauh-jauh hari merespon protes dan tekanan yang datang bertubi kepadanya. Mantan Pangkostrad ini mengatakan di banyak media, bahwa tak ada hukum yang dilanggar bila ia merangkap jabatan akibat terpilih menjadi Gubernur Sumut. Namun, bila ditelisik pada regulasi yang ada, terdapat Surat Edaran Mendagri Nomor 800/148/sj 2012 tanggal 17 Januari 2012 tentang Larangan Perangkapan Jabatan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah pada Kepengurusan KONI, PSSI, Klub Sepakbola Profesional dan Amatir, serta Jabatan Publik dan Jabatan Struktural. Melihat Surat Edaran Mendagri yang teramat jelas isinya tersebut, cukup aneh rasanya bila beliau dengan percaya diri mengatakan bahwa tidak ada hukum yang dilanggar dari rangkap jabatan tersebut.

Polemik tak sampai disitu. Isu bahwa FIFA akan kembali turun tangan atas status kepengurusan Edy Rahmayadi di PSSI belakangan mulai mencuat. Hal tersebut tak lain karena Timor Leste, pada tahun 2014 lalu sempat disanksi oleh FIFA karena Ketum PSSI-nya terlibat kasus korupsi. Kasus tersebut juga disinyalir akibat posisi sang Ketum yang pada saat itu juga memiliki jabatan politik di tempat lain. Setelah kasus di Timor Leste tersebut, FIFA secara tegas melarang ketua federasi sepak bola suatu negara memiliki jabatan politik di tempat lain, tentu jika tidak ingin federasinya dibekukan. Tentu saja, sangat riskan bila urusan sepakbola dicampur-baurkan dengan urusan politik.

Wajar penikmat sepak bola tanah air kembali khawatir, mengingat ada “trauma” mendalam ketika PSSI dibekukan oleh FIFA pada tahun 2015 silam. Kala itu, sehebat dan setenar apa pun pemain sepak bola yang bertanding di atas rumput Indonesia, dianggap tak lebih dari sebuah pertunjukan tarkam (antar kampung). Terlebih, akan berdampak pula pada penyelenggaraan liga yang sudah pasti akan amburadul, Timnas Indonesia yang tak bisa bertanding di level internasional, hingga para pesepakbola profesional Indonesia yang bakal terlantar tak tentu arah. Siapa pun pasti tidak ingin sepakbola kita mati suri lagi, terutama di saat gairah sepakbola di Indonesia sedang tinggi-tingginya seperti sekarang ini setelah pada beberapa event internasional—termasuk Asian Games 2018 kemarin, permainan Timnas sepakbola kita menunjukkan peningkatan yang semakin membaik dibawah arahan pelatih asal Spanyol, Luis Milla Aspas.

Soal Etika

Bila hendak dicermati lebih dalam, persoalan rangkap jabatan di PSSI bukan hanya soal ada hukum yang dilanggar atau tidak. Pun jika memang ada hukum yang dilanggar, di luar itu, rangkap jabatan juga berbicara soal etika. Sepakbola Indonesia yang masih minim prestasi, minim infrastruktur yang menunjang, kualitas liga yang saban tahun penuh polemik, sampai pengembangan usia muda yang masih terkendala hingga saat ini, pasti membutuhkan sosok pemimpin organisasi yang benar-benar fokus untuk mengelola dan memperbaikinya.

Sama halnya dalam memimpin Sumatera Utara, segudang permasalahan dari minimnya kualitas infrastruktur publik, jalan-jalan yang masih banyak rusak di berbagai kabupaten dan kota, masalah ekonomi dan kemiskinan, hingga tingginya angka kriminalitas yang masih menjadi persoalan pun sama sekali tidak cocok diselaraskan dengan program-program yang ada di PSSI. Artinya, memimpin PSSI dan memimpin Sumatera Utara adalah dua hal yang jauh berbeda dan tak bisa berjalan seiringan.

Tak sampai disitu, publik pecinta sepak bola Sumut sadar betul bahwa masih ada komentar-komentar miring dari publik sepak bola nasional terkait status Edy Rahmayadi yang merupakan Ketum PSSI, namun juga masih menjadi Pembina klub sepak bola asal Sumut (PSMS Medan) yang notabene adalah klub kontestan Liga 1. Tentu, pecinta sepak bola Sumut tidak ingin klub kebanggaannya terus dianggap sebagai “anak kesayangan” PSSI. Tidak terbayangkan setajam apa lagi komentar miring dari publik setelah Jenderal bintang tiga ini turut merangkap sebagai Gubernur Sumut seperti saat ini. Ya, pada kondisi sekarang ini, Edy Rahmayadi ditekan dari segala macam sisi.

Terkait pelantikan Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumut kemarin, masyarakat Sumut tentu berharap sangat banyak kepada beliau untuk menjawab persoalan di Sumut yang selama ini tak kunjung usai. Di satu sisi, ada pula masyarakat sepak bola nasional yang dulunya berharap banyak kepada Edy Rahmayadi untuk memajukan sepakbola di Indonesia, sekarang harus menelan kenyataan bahwa Ketua Umumnya juga punya tanggung jawab di tempat lain yang tidak bisa dianggap enteng: seorang Gubernur di provinsi dengan penduduk terbanyak nomor satu di luar pulau Jawa. 

Lalu, bagaimana pula perasaan masyarakat Sumut yang juga sebagai pecinta sepak bola menanggapi hal ini? Tentu saja, bagi masyarakat Sumut yang juga merangkap sebagai pecinta sepak bola nasional, rasionalitas tetaplah dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan porsi dan prioritas masing-masing. Dan tentu pula, bagi Gubernur Sumut yang juga merangkap sebagai Ketum PSSI, ketegasan seorang pemimpin selalu dibutuhkan pada segala kondisi, terutama ketika dituntut untuk hanya memilih satu dari dua pilihan yang ada. Istilahnya, agar semua sama-sama senang. Kami senang, Jenderal juga senang.          





Opini sebelumnya telah dimuat di Harian Analisa edisi 1 Oktober 2018 dengan judul yang sama, saya post di blog sebagai dokumentasi atau arsip pribadi saya. Opini dapat pula diakses pada link http://harian.analisadaily.com/opini/news/tekanan-soal-rangkap-jabatan/626142/2018/10/01.

Sumber gambar:

  • https://web.facebook.com/Doriposcom/photos/a.199961880792113/313629149425385/?type=1&theater
  • Dokumentasi pribadi 

Minggu, 04 November 2018

Temukan Apartemen Idealmu hanya Lewat Smartphone


Menjalani kehidupan di kota metropolitan seperti Jakarta tidaklah mudah. Kemacetan, banjir musiman, aktivitas ulang-alik pekerja yang bergerak sangat cepat sudah makanan sehari-hari. Sebagai ibu kota negara sekaligus pusat perekonomian, Jakarta menawarkan gaya hidup metropolitan dengan level berbeda dari kota-kota lain di Indonesia.  

Gaya hidup metropolitan di Jakarta yang bergerak begitu cepat namun dituntut tetap efisien menjadikan orang yang tinggal di dalamnya harus cerdas dalam memilih hunian yang terjangkau. Terjangkau bisa diimplementasikan dalam dua kategori sekaligus: pertama, terjangkau berdasarkan letak huniannya, seperti strategis atau tidak, rawan banjir atau tidak, atau yang tak kalah penting biasanya dekat dengan kantor atau tidak. Kedua, tentu harus terjangkau dari segi budget yang sesuai dengan isi dompet kita. Tak jarang, kedua “jangkauan” ini harus pintar-pintar dikombinasikan sesuai keinginan dan kemampuan diri sendiri.

Jenis hunian tempat tinggal yang banyak dipilih oleh penduduk metropolitan di Jakarta adalah apartemen. Mengapa demikian? Tinggal di apartemen menawarkan beberapa kemudahan karena banyaknya pilihan apartemen yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita. Kita dapat menyesuaikan jumlah kamar yang kita mau, fasilitas seperti apa yang kita butuhkan di unit maupun di lingkungan apartemen, dekatnya jarak menuju kantor, hingga harga yang sesuai dengan budget yang tersedia.

Iya sih, tinggal di apartemen memang menawarkan beberapa kemudahan, tapi dibalik itu semua banyak juga yang mengeluhkan bahwa buat dapetin apartemen yang ideal tidak sesimpel itu. Keluhan-keluhan yang sering didengar biasanya seperti sulit mencari informasi sewa apartemen di internet, kualitas foto unit apartemennya yang nge-blur atau tidak jelas, belum pula harus meluangkan waktu untuk mengujungi unit satu per satu, kontak agent/pemilik apartemen sulit dihubungi, hingga sistem pembayaran yang memberatkan karena harus dibayar di depan sekaligus.

Oke, jika kalian berfikir bahwa memilih apartement ideal masih sangat merepotkan, maka bisa jadi kalian belum mengenal yang namanya Jendela360. Ya, Jendela 360 merupakan startup properti yang sangat dapat membantu kalian dalam memilih apartement ideal, bahkan hanya lewat smartphone yang ada digenggaman anda. Nggak percaya? Mari saya jelaskan mengapa Jendela360 sangat membantu kalian dalam mendapatkan apartemen ideal.

Seperti yang sudah saya katakan, Jendela360 adalah sebuah startup properti yang merupakan penyedia jasa sewa apartemen secara online. Nah, untuk lebih jelasnya, silahkan anda buka Jendela360.com lewat smartphone anda. Ketika pertama kali membuka web Jendela360, maka anda langsung diarahkan ke kotak pencarian untuk mencari nama apartemen atau lokasi yang anda inginkan. 
Welcome Page di Jendela360 dari smartphone-mu, bisa langsung cari apartemen.
klik gambar untuk memperbesar

Jika anda memiliki gambaran yang lebih spesifik, anda bisa mem-filter pencarian terlebih dahulu dengan beberapa kriteria. Dari filter tersebut dapat anda pilih tipe atau jumlah kamar yang anda inginkan seperti tipe studio, tipe 1 kamar, tipe 2 kamar, atau tipe yang lebih dari 3 kamar. Anda dapat juga menentukan range harga yang sesuai dengan isi dompet anda seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Tak sampai di situ, anda pun bisa mempersempit lagi pencariannya dengan memilih fasilitas dan kelengkapan apa yang anda butuhkan seperti yang saya tampilkan di bawah. Tenang saja, ada lebih dari 3000 unit apartemen yang tersedia di Jendela360.



Kemudahan lainnya anda dapat langsung melakukan virtual tour dengan kamera 360 derajat untuk mengecek unit calon hunian apartemen anda. Inilah keunggulan jendela360, anda tak perlu khawatir mencari waktu luang ditengah kesibukan anda untuk datang langsung ke lokasi apartemennya dan mengecek unit satu per satu. Anda cukup mengecek kondisi unit apartemen melalui gambar virtual 360 derajat yang dapat menampilkan setiap sudut apartemen hanya dengan jari anda. Bila anda sudah menemukan unit apartemen ideal seperti yang anda harapkan, klik “kunjungi unit” untuk menentukan jadwal kunjungan sesuai dengan waktu luang yang anda punya. Anda pun dapat menghubungi nomor kontak agen apartemen yang tersedia di sana.


Tentukan jadwal kunjungan sesuai dengan jadwal kosongmu.
klik gambar untuk memperbesar.
Atau hubungi kontak yang tertera untuk janjian makan malam kunjungan apartemen.
klik gambar untuk memperbesar.

Untuk harga, anda pun tak perlu khawatir karena apartemen yang tersedia di jendela360 dapat dibayar per bulan dengan cicilan 0 persen melalui kartu kredit anda tanpa uang muka. Jika anda telah menemukan unit apartemen yang ideal bagi anda, harga pun sudah oke, tinggal di booking, deh. Oh, iya, apartemen yang tersedia di jendela360 juga bisa di booking secara online, lho! Hemat waktu, uang, dan tentunya juga tenaga anda.   

Salah satu layanan informasi di Jendela360 yang menurut saya sangat membantu adalah adanya tambahan review beberapa apartemen dan artikel-artikel informatif yang dapat menambah wawasan anda. Hal tersebut sangat membantu untuk anda yang mungkin baru pertama kali mencari apartemen di Jakarta. Untuk anda yang berada di Jakarta Barat misalnya, Apartemen Royal Mediterania bisa menjadi salah satu pilihan anda. Jika anda masih ragu untuk sewa apartemen Royal Mediterania, Jendela360 menyediakan reviewnya untuk anda (klik disini).


Artikel seputar apartemen.
klik gambar untuk memperbesar.

Satu informasi lain yang diberikan adalah berupa daftar apartemen populer yang tersedia di Jendela360, lengkap dengan start harga sewanya dan jumlah bintang penilaiannya. Semua informasi tersebut bisa anda akses cuma lewat smartphone anda. Apartemen paling populer di Jendela360 adalah Casa Grande Apartement, dengan nilai 4,6 dari 5 bintang. Casa Grande Apartement yang beralamat di Menteng Dalam, Tebet ini untuk cocok masuk daftar pilihan anda yang ingin sewa apartemen di Jakarta Selatan.


Apartemen populer di Jendela360.
klik gambar untuk memperbesar.

Dengan segala keunggulan tersebut, tak dipungkiri bahwa Jendela360 sangat membantu dalam mencari apartemen ideal. Pihak Jendela360 sendiri dengan yakinnya mengklaim bahwa jasa mereka sangat cocok bagi para pekerja atau generasi muda Jakarta yang dituntut dengan gaya hidup yang sibuk dan super cepat. Jendela360 adalah jawaban bagi anda-anda yang selama ini merasa kerepotan setiap mencari apartemen lewat internet. Bagaimana, menarik, bukan?

Nah, sekarang sila kunjungi webnya (klik disini), dan temukan apartemen ideal anda!

  

*Sumber gambar milik pribadi penulis

Rabu, 31 Oktober 2018

Mulusnya Karir Bowo Tik-tok di Dunia Entertainment, dari Dihujat Sampai Didiukung buat Akting


Bowo dulu | Bowo sekarang
Bowo Alpenliebe (betul tulisannya?) sudah terlanjur dikenal banyak orang. Kenyataan bahwa ia sempat viral lewat komentar nyinyir dari yang maha benar netijen Indonesia karena aplikasi tik-tok, menjadi tak berarti ketika tiba-tiba dirinya diundang talkshow televisi sana sini, satu frame dengan youtuber terkenal, lalu buat channel Youtube sendiri, beli mobil sendiri, hingga sekarang... main serial FTV. Bayangkan, kalau ini pertandingan sepakbola, sudah berapa gol Bowo lesakkan untuk membalik keadaan?

Untuk urusan mem-bully, netijen Indonesia memang jagonya. Sesuatu yang viral di sosial media hampir semuanya dimulai dari komentar-komentar yang keluar lewat jari netijen tanah air, entah komentar positif atau negatif (mem-bully tadi, misalnya). Bowo menjadi salah satu dari produk viral tersebut.

Ia masih 13 tahun dan namanya kadung dibicarakan banyak orang. Siapa yang membicarakan? Ya, jelas, netijen. Siapa yang dijadikan topik pembicaraan oleh netijen? Jelas Bowo (dalam kasus ini). Ketika Bowo dijadikan topik pembicaraan banyak orang, secara tidak langsung Bowo telah menjadi publik figur dari produk viral yang dihasilkan komentar netijen tersebut.

Saya akui, saya sendiri juga menjadi bagian dari netijen yang ikut termakan viral-nya Bowo tik-tok atau Bowo Alpenliebhe (benar begitu tulisannya?) ini. Saya akui pula, tulang saya ikut ngilu sampai ke sumsum melihat video tik-tok Bowo, ataupun ikut terkekeh ketika video meet and greet Bowo itu menjadi bahan lawakan netijen.

Namun, karena komentar netijen itu Bowo udah ngerasain empuknya jok alphard Arief Muhammad, diajak collab juga dengan Ria Ricis, diundang acara talkshow di tv swasta, hingga main FTV, tak terasa wajah Bowo lama kelamaan terus ditonton banyak orang. Percaya atau tidak, netijen masih sibuk berkomentar, diam-diam Bowo sedang meniti karirnya sendiri di dunia entertainment Indonesia. Maapkeun saya, Bowo.  

Saya memang sempat melihat akting Bowo waktu main di FTV walaupun masih berupa video promonya saja. Tapi saya akui, bocah ini punya bakat akting—setidaknya untuk saya yang awam soal akting-aktingan begini. Apa yang saya katakan menjadi tidak berlebihan jika dilihat dari komentar-komentar dari video promo FTV tersebut.

Kira-kira begini dah waktu nih bocah main FTV..
Netijen berbalik arah. Yang sebelumnya menghujat Bowo, berbalik mendukung langkah Bowo untuk mengasah bakatnya di dunia akting. Katanya sih, lebih baik dari pada main tik-tok yang tidak ada faedahnya itu. Tapi-tapi, harus diakui kalau tidak ada tik-tok, tidak ada Bowo yang sekarang, bukan?
Bisa jadi, aplikasi tik-tok sendiri akan makin digandrungi bocah-bocah lainnya di luar sana jika melihat kiprah Bowo ini, walaupun Bowo harus merasakan pahitnya dibully lebih dulu akibat aplikasi tersebut.

Bagi saya sendiri, kalaupun di luar sana banyak anak-anak yang pingin eksis atau pingin punya nama di dunia entertainment, lebih baik cari media lain selain tik-tok. Bukan, bukan tik-tok tidak baik, bisa bisa saya yang akan dituntut dari pihak aplikasi ini. Tetapi, haruskah mengulangi kejadian yang dialami Bowo untuk menjadi terkenal dari aplikasi ini?

Aplikasi tersebut tidaklah salah, penggunanya yang tidak memanfaatkannya dengan baik sehingga kejadian seperti Bowo ini sempat terjadi. Apa memang faedahnya video-video tik-tok yang kebanyakan kita lihat dari anak-anak Indonesia ini? Toh, banyak kok tik-tok user di luar negeri sana yang juga viral karena kreatifitasannya. Karena kreatifnya, loh ya, bukan viral karena sesuatu yang dicap tidak baik dan tidak ada manfaatnya. Untuk itu, saya salah satu yang mendukung langkah Menkominfo untuk memblokir tik-tok—walaupun sekarang blokirnya sudah dicabut.

Satu hal positif yang terselip dari kejadian ini: anak-anak Indonesia kreatif dan punya bakat, kok. Asalkan memang dimulai dari hal yang baik untuk menunjukkan bakat tersebut. Kasus Bowo bisa dijadikan contoh, ia dikenal akibat hujatan netijen, namun karena anak ini memang punya bakat di entertainment, wajahnya jadi terus muncul di layar kita. Sudah rezekinya, kata orang tua dulu.

Beberapa polesan lagi, mungkin besok lusa ia sudah punya di program tv sendiri dan satu program pula dengan Raffi Ahmad. Lha.. kenapa harus Raffi Ahmad? 


Kan bener sama Raffi Ahmad.. 




Sumber gambar:

https://neetizen.com/artist/5-meme-lucu-bowo-alpenliebe-lord-of-tiktok-nyesel-kalo-gak-liat/

https://media.iyaa.com/post/2018/10/26283/bowo-tik-tok-main-ftv-mnctv-aktingnya-tuai-pujian/

https://www.liputan6.com/showbiz/read/3580966/bertemu-bowo-alpenliebe-raffi-ahmad-cute-dan-keren

Kamis, 25 Oktober 2018

Musim ini, Chelsea harus Memanjakan Hazard


Eden Hazard sedang menggila. Satu gol terakhirnya di Liga Primer dilesakkan pada kemenangan telak Chelsea dengan skor 0-3 di kandang Southampton pada pekan ke delapan Liga Primer—sekaligus mengokohkan namanya sebagai top skor sementara Liga Primer dengan torehan 7 gol. Performa mengesankan Hazard menjadi salah satu alasan mengapa Chelsea di musim ini menjadi calon kuat juara Liga Primer bersama Liverpool dan Manchester City.

Torehan tersebut cukup fantastis untuk pemain yang sebenarnya bukan berposisi sebagai penyerang murni ini. Patut disadari bahwa saat ini usia Hazard sudah menginjak angka 27, di mana usia tersebut adalah usia yang menjadi pintu gerbang seorang penyerang menuju masa keemasannya. Untuk itu, musim ini adalah musim yang paling tepat bagi Maurizio Sarri, pelatih baru Chelsea, guna memaksimalkan potensi terbaik yang dimiliki oleh Hazard.

Sarri memang telah menyadari hal itu. Pelatih yang juga seorang perokok ini berulang kali melemparkan pujian kepada Hazard dengan mengatakan bahwa pemain andalannya ini tak hanya merupakan pemain terbaik di Inggris, namun juga sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Sarri juga sesumbar bahwa tak menutup kemungkinan musim ini Hazard akan mencetak 40 gol bersama Chelsea jika performanya terus menanjak.

Catatan manis Hazard di awal musim memang tak terlepas dari kepercayaan Sarri untuk membebaskan peran Hazard di lapangan. Ia (Hazard) berperan sebagai pembangun serangan tim London Biru, pengobrak-abrik pertahanan lawan lewat sisi kiri atau sisi kanan penyerangan, dan juga pencetak gol. Hazard pun bisa diletakkan sebagai penyerang tengah jika Sarri menginginkan peran false nine untuk timnya. Tak perlu pusing-pusing dalam memainkan Hazard karena ia adalah penyerang yang komplit.

Kecerdikan Sarri dalam memaksimalkan Hazard juga terlihat dengan lebih dipilihnya Olivier Giroud sebagai penyerang tengah utama the blues dan mengesampingkan pemain yang musim lalu dibeli seharga 80 juta euro, Alvaro Morata. Secara kecepatan, Giroud mungkin masih kalah dibandingkan Morata, namun penyerang yang membawa Prancis juara Piala Dunia 2018 itu sangatlah pintar dalam menggunakan body-nya sehingga bisa membuat penyerang lain di sisi kanan dan kirinya lebih leluasa mencari ruang, termasuk Eden Hazard.

Peran yang diemban Giroud ini bukanlah peran baru dalam sepakbola. Penyerang tipe ini lebih sering disebut dengan istilah pemantul, di mana penyerang tersebut lebih suka berada di depan bek lawan dan memaksimalkan body­ balance-nya untuk memberikan umpan satu-dua kepada pemain lainnya demi memaksimalkan peluang. Jangan heran mengapa Giroud selalu menjadi pilihan utama Timnas Prancis di Piala Dunia 2018 hingga mampu mengantarkan Prancis juara.

Peran lini tengah juga sangat dimaksimalkan oleh Sarri. Sarri sukses membajak mantan anak asuh kesayangannya di Napoli, Jorginho, dari rayuan tim kaya Manchester City untuk mau bergabung ke Chelsea. Selain itu, kehadiran pemain muda sekelas Mateo Kovacic yang datang dari Real Madrid sangat diharapkan dapat memperkuat lini tengah Chelsea, terlebih Chelsea masih memiliki nama-nama besar lainnya sekelas N’golo Kante, Ross Barkley, ataupun gelandang kawakan jenius seperti Cesc Fabregas. Apakah Hazard cukup puas dengan lini tengah yang dimiliki timnya? Setiap penyerang tentu butuh mendapatkan pelayanan yang maksimal dari lini keduanya.  

Memanjakan Eden Hazard musim ini adalah sebuah keharusan, mengingat di awal musim Chelsea hampir saja gagal mempertahankannya dari bujuk rayu juara bertahan Liga Champions, Real Madrid. Bahkan, Chelsea disebut akan memberikan ban kapten utama Chelsea kepada Hazard bila memang hal tersebut dapat membuat Hazard bertahan di Chelsea. Jika disepelekan, Hazard bisa saja menolak proposal perpanjangan kontraknya yang tinggal dua musim lagi, dan Real Madrid yang performanya menurun setelah ditinggal Cristiano Ronaldo tak akan pernah menyerah untuk mengangkutnya musim depan. Terlebih, peluang untuk meraih penghargaan pemain terbaik dunia di tahun yang akan datang tentu lebih besar jika ia bermain bersama Madrid.

Hazard bisa jadi adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh Chelsea. Jika tim asal London ini mampu mempertahankan Hazard hingga umurnya sudah tidak produktif lagi dalam mencetak gol, bisa dipastikan pemain bernomor punggung sepuluh ini akan menjadi legenda terbaik Chelsea, mengalahkan Frank Lampard atau Didier Drogba sekalipun. Terlalu berlebihan? Tidak. Umurnya masih 27 tahun, umur seorang penyerang menuju masa keemasaannya. Ia akan semakin berbahaya untuk dua atau tiga musim yang akan datang, dan akan tetap berbahaya hingga empat atau lima musim lagi.

Bagaimana, blues, tak ada ruginya untuk mempertahankan pemain sekelas Eden Hazard, bukan?


***

Sumber gambar: https://bola.kompas.com/read/2018/09/16/08453228/hazard-bisa-cetak-35-gol-musim-ini-andai-tak-buang-buang-energi

Kamis, 08 Maret 2018

Polemik Transportasi Online


Saya sebenarnya tidak terlalu terkejut melihat kehadiran trasnportasi online yang sebulan terakhir meramaikan jalan-jalan di kota Banda Aceh, mengingat Banda Aceh yang merupakan Ibu Kota provinsi paling barat di Indonesia ini akan terus berkembang dalam peranannya sebagai pusat kegiatan dan bisnis.

Namun, beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari senin (16/10/2017), ratusan massa yang terdiri dari penarik becak, supir labi-labi, supir taksi dan tukang ojek konvesional memadati kantor Gubernur Aceh dalam rangka melaksanakan aksi demonstrasi untuk menyuarakan penolakan kehadiran moda transportasi online di Banda Aceh yang dirasa mereka “berat sebelah”.

Sebelumnya, kota-kota besar lain di Indonesia sudah lebih dulu merasakan kehadiran transportasi online ini (Go-Jek, Grab, dan Uber), dan pada awal kehadirannya di masing-masing kota, selalu menimbulkan polemik yang sama.

Kita mundur ke belakang ketika seorang pemuda lulusan Harvard mencoba menghadirkan inovasi baru dalam pelayanan jasa transportasi di Jakarta. Bermodal inovasi berbasis online serta penawaran yang menggiurkan, para pelamar datang dari berbagai lapisan masyarakat untuk sekiranya dapat bergabung di perusahaan tersebut. Dalam waktu singkat, perusahaan penyedia layanan transportasi yang kita sebut saja Go-Jek ini mendapat sambutan luar biasa atas kemudahan dan “kemurahan” yang ia berikan kepada konsumennya.

Di awal kehadirannya di Jakarta, berbagai polemik langsung berdatangan. Para supir taksi konvensional, supir angkot, serta tukang ojek pengkolan juga pernah melakukan aksi serupa seperti yang terjadi di depan kantor Gubernur Aceh baru-baru ini. Setelah itu, peraturan terkait kehadiran transportasi online mulai dibedah. Peraturan tentang pelarangan kendaraan roda dua untuk dijadikan jasa angkutan umum mulai dipertanyakan. Selain itu, tarif Rp 3.500 per KM yang mereka patok dirasa terlalu murah dan dapat mengancam eksistensi moda transportasi lain yang masih konvensional.

Merambah ke kota-kota lain

Tak menunggu waktu lama, kota-kota besar lain seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, hingga Makassar pun tak luput dari kehadiran jasa transportasi berbasis online ini. Dari semua kota yang dirambahi, pada awalnya juga selalu menimbulkan polemik. Bahkan, sering kita lihat berita di televisi, media cetak, dan di media sosial terkait kejadian-kejadian di lapangan. Para supir taksi konvensional memberhentikan supir taksi online yang sedang membawa penumpang dan memaksa penumpangnya untuk turun, pengerusakan-pengerusakan kendaraan, hingga aksi saling bentrok antara dua oknum kelompok moda transportasi online dan konvensional adalah sekian dari banyak kasus yang kita lihat di media-media. Pertanyaannya, apakah polemik di kota Banda Aceh akan sampai pada tahap tersebut: clash?

Pemerintah harus turun tangan

Dalam hemat saya, potensi untuk terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjadinya clash antara oknum kelompok transportasi online dan konvensional di kota Banda Aceh bisa saja terjadi, tergantung apakah pemerintah bisa sigap menyikapi polemik itu sendiri. Artinya, pemerintah harus mengambil sikap dan keputusan, bila tidak segera, potensi tersebut akan membesar.

Dishub Jawa Barat misalnya, yang beberapa waktu lalu mengeluarkan pelarangan untuk moda transportasi online beroperasi sebelum memiliki peraturan baru yang sah. Tentu saya tidak serta merta menyarankan pemerintah Aceh melakukan hal yang sama seperti di Jawa Barat, karena skala konflik yang terjadi pada tiap wilayah juga berbeda. Di Jawa Barat, aksi demonstrasi angkutan umum sudah sampai pada ancaman untuk sama-sama mogok beroperasi, yang bila tidak segera diambil keputusan, maka akan sangat berdampak pada aktivitas perekonomian di provinsi tersebut. Namun yang perlu kita garis bawahi, pengambilan sikap dari Pemprov Jabar tersebut harus segera dilakukan semata-mata agar polemik tidak menjalar ke mana-mana lagi.

Kabar baik langsung datang dari Pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan yang baru saja menyelesaikan revisi Peraturan Menteri (PM) Perhubungan nomor 26 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek. Revisi tersebut berisi beberapa poin, diantaranya menyebutkan bahwa kuota dan tarif transportasi online akan dikenakan batas bawah dan batas atas, serta kuota dan tarif tersebut akan berbeda pada tiap wilayah, tergantung usulan dari masing-masing provinsi. Hal ini menjadi pintu awal yang baik untuk menyelesaikan polemik yang terjadi di hampir setiap kota yang dirambahi moda transportasi online ini, dan menjadi dasar Pemprov Aceh ataupun Pemkot Banda Aceh dalam menyelesaikan polemik yang semuanya hampir serupa.  

Pada akhirnya, kehadiran moda transportasi berbasis online ini tidak dipungkiri lagi sebagai interpretasi dari kemajuan zaman yang semakin hari semakin berkembang. Mekanisme pasar yang bersifat kapitalis memang memberi keleluasaan bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi demi merebut hati konsumen. Namun harus tetap diingat bahwa pasar juga tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Polemik berkepanjangan yang terjadi di hampir seluruh wilayah yang dirambahi jasa transportasi online ini—termasuk di Banda Aceh—membuktikan bahwa pasar masih tak mampu menyelesaikan persoalan dengan sendirinya.

Kehadiran penyedia layanan transportasi online, di satu sisi memberikan konsumen pilihan baru yang lebih mudah, murah, dan juga cepat di tengah gaya hidup yang semakin menuntut efisiensi. Di sisi lain, ada pelaku jasa transportasi kovensional yang juga butuh uang dan sedang resah karena eksistensi mereka semakin terancam. Di sini lah pemerintah harus turun tangan, yang diharapkan mampu menetapkan regulasi yang menguntungkan kedua belah pihak, serta tetap memberikan konsumen untuk bebas memilih jasa transportasi apa yang akan mereka gunakan: online atau konvensional. Win-win solution.

Satu yang pasti, untuk terus maju, kita tak perlu terlalu lama berputar pada polemik dan harus segera menemukan jalan keluarnya. Selalu siap sedia terhadap perubahan zaman menjadi sebuah keharusan agar bangsa kita tidak terus tertinggal dengan bangsa-bangsa lain yang sudah selangkah lebih maju. Semoga.

Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Serambi Indonesia Edisi Selasa 24 Oktober 2017 dengan judul yang sama. Sila diakses pada: http://aceh.tribunnews.com/2017/10/24/polemik-transportasi-online.
Sumber gambar:

  • https://setara.net/wp-content/uploads/2017/04/polemik-ojek-online.jpg
  • Dokumentasi pribadi

Yang Nyasar di Mari: