Senin, 31 Desember 2018

Mengejar Ketertinggalan



Selamat datang 2019

Tahun 2018 ke bawah adalah masa-masa di mana saya banyak membuang waktu menulis dan membaca saya—terutama sejak memasuki semester-semester padat (padat kelas dan padat aktivitas) ketika kuliah dulu. Benar, ketika kuliah dulu. Anggap lah bulan november lalu saya baru saja sarjana. Sama halnya sebagai narablog, kuliah menjadi alibi untuk sedikitnya waktu yang bisa saya luangkan, atau pada dasarnya saya saja yang memang pelit menyisihkan waktu buat mengurus blog ini.

Saya jadi ingat, blog ini telah menjadi wadah untuk menampung tulisan-tulisan saya sejak tahun 2012, sejak saya masih SMA. Awalnya, selain jadi pelampiasan hasrat menulis saya, blog ini saya tujukan juga untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tulisan saya lewat bunyi komentar yang masuk. Ada perasaan senang ketika tahu ada orang yang terhibur atau minimal menyukai tulisan saya. Saat itu juga saya merasakan serunya menjadi seorang narablog.

Di awal mengembangkan blog, saya jadi mengenal beberapa narablog lain yang sama-sama baru memulai seperti saya juga. Blogwalking, sharing ilmu dan sebagainya sudah menjadi rutinitas saya dengan narablog seperjuangan itu. Sekarang, ceritanya berbeda. Narablog-narablog yang saya tahu dulu telah melesat jauh di atas saya. Blog mereka berkembang pesat dengan kualitas konten dan tampilan yang semakin bagus nan menarik, pengunjung yang semakin ramai, serta sudah punya domain TLD. Sekedar informasi, blog ini masih blogspot(dot)com sejak awal berdiri. Iya, era digital terus berkembang, saya masih begini-begini saja. Menyedihkan, memang.

Kesal rasanya ketika narablog-narablog seperjuangan dulu sudah berkembang begitu pesat dengan berbagai pencapaian yang telah mereka raih lewat blognya. Penyesalan itu mampir dan seakan menampar benak saya: kalau dulu saya konsisten dan serius pasti saya juga bisa! Dan seperti nasehat orang tua dulu, penyesalan tidak akan ada artinya.

***

Tentu saya punya resolusi sendiri menyambut tahun 2019 ini, dan resolusi ini lahir akibat dari ketertinggalan-ketertinggalan yang telah saya alami belakangan tahun—perihal membaca, perihal menulis, dan perihal jati diri saya sebagai seorang narablog. Aih, saya baru saja mengakui kalau keberlangsungan blog ini menyangkut jati diri saya. Mau bagaiamana lagi, begitu adanya.

Karena itu, untuk mengejar ketertinggalan tersebut saya harus memastikan tujuan saya dan langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan. Setelah melewati perenungan dan muhasabah diri yang panjang (baik, ini berlebihan), saya langsung menyusun tujuan dan langkah-langkah yang akan saya lakukan demi mengejar ketertinggalan-ketertinggalan ini.
Apa yang ingin kalian capai di 2019?

Tujuan

Punya domain TLD
Baru tujuan pertama tapi sudah terdengar menyedihkan. Sepele memang, namun kenyataannya tak kunjung terwujud. Punya domain TLD memang sudah lama saya niatkan, tapi karena soal sulitnya waktu yang saya luangkan untuk blog ini, rasanya hal itu belum menjadi prioritas utama saya. Mungkin sekarang sudah saatnya. Jadi, tidak salah kalau ini menjadi salah satu resolusi saya di tahun 2019. Tolong, jangan dibully.
Merasakan nikmatnya juara dari event blog atau event menulis
Kalau yang ini juga sederhana, hanya sekedar ingin merasakan sensasi juara event blog atau event menulis. Saya membayangkan betapa bahagianya dipilih menjadi salah satu yang terbaik oleh orang-orang yang berkompeten dari event blog atau event menulis itu. Semoga bisa segera merasakannya.
Tiga sampai empat opini dimuat setiap bulan
Opini adalah salah satu bentuk tulisan yang mulai serius saya pelajari. Menulis opini dapat melatih ketajaman berpikir saya, dan opini yang dimuat di media menjadi tolak ukur sejauh mana ketajaman berpikir tersebut. Beberapa bulan ke belakang opini saya rutin dimuat di surat kabar lokal yang cukup ternama di kota saya. Mudah-mudahan bertahan terus dan semakin sering dimuat.
Puisi dan cerpen juga dimuat di media
Sejalan dengan yang di atas, tapi kali ini dalam bentuk puisi dan cerpen. Saya berusaha agar puisi dan cerpen saya bernasib sama dengan opini saya. Saya pun tak masalah mau dimuat di media cetak seperti surat kabar atau di media online yang menerima tulisan-tulisan dari pembaca. Dengan dimuatnya tulisan di media, berarti menunjukkan bahwa tulisan tersebut telah lolos kurasi. Berbeda dengan blog atau platform sejenis yang bebas menulis apa saja, terlepas bagus atau tidaknya tulisan tersebut.
Sebuah naskah buku
Yup, naskah saja dulu. Saya tak mau muluk-muluk ditahun 2019 nanti sudah punya buku karangan sendiri yang berjejer rapi di toko buku kesayangan anda lengkap dengan label bestseller. Cukup sebuah naskah. Ya, sebuah naskah. Naskah novel lebih tepatnya. Doakan.
Menghasilkan uang lewat tulisan
Siapa yang tidak mau menghasilkan uang lewat sesuatu yang disukainya. Pun saya yang merasa senang menulis ini ingin rutin menghasilkan uang lewat tulisan. Sekarang mungkin sudah merasakannya sedikit demi sedikit, dan semakin bersemangat untuk menjadikannya bukit. Bukit penghasilan.

Never stop learning

Cara Mencapainya

Tujuan-tujuan saya tersebut tak akan mungkin terwujud tanpa adanya usaha. Dan sekedar usaha tanpa memikirkan cara yang baik untuk mencapainya pun hanya omong kosong belaka. Sedikitnya, ada tiga langkah yang sudah saya siapkan untuk mencapai tujuan-tujuan saya di atas.
Membaca satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi setiap bulan
Ide membaca satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi setiap bulan ini tidak datang begitu saja. Ada sosok yang membuat saya ingin melakukan hal tersebut, yaitu JS Khairen, seorang penulis lokal yang cukup produktif menelurkan buku. Ia pernah menyebutkan kebiasaannya itu disebuah video di salah satu kanal Youtube dan itu menginspirasi saya untuk ikut melakukannya. Seperti yang kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah satu paket komplit yang tak mungkin dipisahkan.

Satu lagi kata-kata JS Khairen di video itu yang cukup membekas dikepala saya, “menulis itu membangunkan peradaban, dan membaca adalah menghidupkan peradaban itu”. Kalimat itu langsung mensugesti pikiran saya sehingga saya semakin terpacu untuk tidak hanya menulis, tapi lebih dari itu harus lebih banyak membaca.

Ngomong-ngomong, videonya ada di kanal Youtube Raditya Dika, mana tau ada yang belum atau mau lihat, nih saya sediakan:


Mengkonsep Blog
Saya ingin mengkonsep blog ini sebaik mungkin agar punya karakter tersendiri. Konsep yang saya maksud mungkin lebih kepada konten. Sampai saat ini konsep tersebut masih akan terus saya godok. Blog yang terkonsep dengan baik saya pikir dapat memudahkan saya agar blognya lebih terarah. Tunggu tanggal mainnya saja. Hehe.
Belajar
Pada akhirnya langkah-langkah yang saya sebutkan di atas bermuara pada satu kata saja: belajar. Mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya harus kita pelajari lebih dulu. Lalu apa yang dipelajari? Bisa apa saja. Terlebih, di era digital seperti sekarang, informasi berserakan di mana-mana, bahkan sampai digenggaman tangan kita.

Saya harus terus belajar untuk menulis opini agar opini saya semakin sering dimuat dimedia-media. Saya harus terus belajar menulis puisi, menulis cerpen, agar puisi dan cerpen saya semakin bagus kualitasnya. Saya harus belajar mengkonsep blog dari narablog lain yang blognya sudah terkonsep dengan baik dan keren. Saya harus belajar menulis novel dari mulai membuat kerangka, menciptakan tokoh, membangun karakter, membuat konflik dan seterusnya. Saya harus mencuri ilmu dari orang yang bisa hidup hanya lewat menulis, demi tahu cara menghasilkan uang dari tulisan itu sendiri. Belajar, belajar, dan belajar. Saya selalu yakin bahwa tidak ada yang salah dari yang namanya belajar.

Ibarat pertandingan sepakbola, sebuah tim yang sudah tertinggal 0-3 dibabak pertama harus segera memutar otak dan berusaha lebih keras untuk membalikkan keadaan di 45 menit babak kedua. Dan tak ada yang mustahil memang, sejarah mencatat ada beberapa tim yang melakukannya. Maka, menyambut tahun 2019 ini saya harus memutar otak untuk mengkonsep blog dengan lebih baik lagi dan berusaha lebih keras melalui proses belajar secara terus-menerus, demi mengejar ketertinggalan yang sudah saya alami belakangan tahun ini.  

Menulis itu bukan karena bakat, menulis itu karena belajar.–Ahmad Fuadi

***

Sumber gambar/ilustrasi:
https://www.inc.com/young-entrepreneur-council/5-tips-for-reaching-your-goals-in-2019.html
https://www.123rf.com/photo_96238967_businessman-underlining-2019-goals-text-with-black-felt-tip-or-marker.html
http://neurobonkers.com/2015/01/05/learning-how-to-learn/

Sumber video:
https://www.youtube.com/watch?v=qjY3pl34ro8

Senin, 24 Desember 2018

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi: Petualangan Seru, Miris, dan Penuh Kejutan


Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Akhirnya saya tidak tahan untuk tidak berbagi kesan setelah membaca novel karya Yusi Avianto Pareanom ini. Betapa tidak, novel ini penuh kejutan. Beberapa ekspektasi saya sebelum membaca buku sudah dipatahkan sejak awal bab. Sebagai novel pertama sang penulis, saya kira ini karya yang luar biasa.

Awal saya tertarik untuk membeli novel ini bermula dari banyaknya lapak pedagang buku online di instagram (lapak buku ori lho, ya, bukan bajakan) yang merekomendasikan buku ini. Bahkan, beberapa lapak memasukkan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dalam daftar teratas buku yang paling banyak dibeli dan itu bertahan dalam tempo waktu berbulan-bulan. Jelas saja saya ingin membelinya.

Oh iya, terus terang saya tidak terbiasa membaca review sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku. Menurut saya, membaca review dan komentar orang terlebih dahulu dapat mengurangi kenikmatan saya ketika membaca bukunya nanti. Saya takut beberapa bagian kejutan jadi “ketahuan” lebih dulu sebelum membacanya nanti.

Untuk itu, jangan terlalu berharap banyak pada review buku saya yang ini, karena saya juga tidak ingin membuat review buku kerdasarkan kaidah-kaidah me-review yang umum digunakan. Saya hanya ingin membagi kesan terhadap suatu karya, dan berharap kalian jadi ikut tertarik untuk membacanya.

***

Tak seperti judulnya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ternyata mengambil sudut pandang dari seorang tokoh bernama Sungu Lembu. Itu lah mengapa saya katakan bahwa ekspektasi saya sudah dipatahkan sejak bab awal. Saya pikir sudut pandang akan dari tokoh bernama Raden Mandasia atau dari orang ketiga. Tapi tenang saja, kejutan sudah pasti ditemukan dalam setiap bagian cerita di novel ini.

Selanjutnya saya tertarik pada sebuah kalimat di bagian bawah cover buku tersebut. Pada bagian bawah cover tertulis “sebuah dongeng karya Yusi Avianto Pareanom”. Tentu saja, cerita di novel ini bak sebuah dongeng yang sangat menghibur. Setting cerita diambil pada zaman antah berantah di mana pada saat itu beberapa kerajaan besar berlomba saling berebut daerah kekuasaan. Sebuah dongeng, tentu saja novel ini begitu “kolosal”.

Dan jangan salah kaprah juga kalau dongeng yang dikandung dalam novel ini bisa dikonsumsi oleh semua umur—seperti dongeng pengantar tidur anak, misalnya. Beberapa bagian cerita hanya layak dikonsumsi untuk orang yang sudah dewasa. Bisa saya katakan, Yusi telah menaikkan kelas dari dongeng itu sendiri. Hehe..

Lalu siapa Raden Mandasia dalam cerita ini, sehingga namanya dijadikan judul novel?

Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari kerajaan bernama Gilingwesi. Sebagai salah satu pangeran kerajaan, Raden Mandasia merasa punya tanggung jawab untuk menghindari kerajaannya dari perang besar melawan kerajaan lain yang begitu digdaya bernama Gerbang Agung. Raden Mandasia tidak ingin mengorbankan begitu banyak nyawa untuk perang dua kerajaan besar ini. Maka, ia pun menyusun sebuah misi menuju ke kerajaan Gerbang Agung yang jaraknya berbulan-bulan perjalanan.

Di sisi lain, ada seorang pemuda bernama Sungu Lembu yang mempunyai sebuah misi pribadi. Singkat cerita, dua misi yang berbeda antara Sungu Lembu dan Raden Mandasia justru mengantarkan mereka dalam sebuah perjalanan bersama yang panjang. Di sini lah letak keseruan itu. Sungu Lembu dan Raden Mandasia terlibat dalam sebuah petualangan penuh ketegangan, kejutan, dan sekali dua menimbulkan kemirisan di benak yang membacanya.

***

“Raden, aku tahu. Aku juga ingin bersama Raden sampai kita benar-benar menjadi tua berbarengan. Nah, aku bisa membuat Raden tersenyum. Bagus. Tapi tolong dengarkan permintaanku Raden.”
“Baiklah, katakan Nyai.”
“Raden harus mengikuti Raden Mandasia kalau aku pergi.” –hal 173.

***

Ada unsur romance dan sesekali nilai-nilai persahabatan yang terkandung dalam novel ini, pun tak lupa gaya komedi Yusi yang kaku namun tetap jenaka.

Satu lagi yang begitu membekas dalam benak saya adalah kelebihan yang ada pada tokoh Sungu Lembu. Ya, Sungu Lembu mempunyai kelebihan dalam indra pengecapannya. Sepersekian detik ia bisa tahu bumbu apa saja dan bagaimana cara memasak suatu makanan dari hanya mencicipi makanan tersebut seujung lidah. Yusi membangun sebuah tokoh yang karakternya mudah melekat di benak pembacanya. Pintar.

***

“Untuk bumbu pengharumnya, kau pakai lagi merica hitam, merica putih, cengkih, pala, tabia bun lagi, ketumbar, kemiri, bengle, kulit jeruk purut, dan eh... dlingo atau yang kau kenal dengan nama jangu, mungkin? Dan, ada satu lagi yang benar-benar tak kukenal,” kataku.
“Menyan,” kata Loki Tua. Ia lalu tertawa keras. “Ternyata lidahmu tak setolol tampangmu.”
“Anjing,” kataku. –hal 294.

***

Aku mengambil buli-buli dan menenggak sisa tuak. Perasaan sedih dan bersalah menyergapku. Teman seperjalananku yang sekarang berbaring lemah ini, sejauh mana aku mengenalnya? –hal 430.

***

Menurut saya juga novel ini sangat mudah untuk dibaca, tidak membosankan atau terlalu monoton. Bisa dibaca kapan saja dalam keaadan apa pun. Terlebih, beberapa diksi yang digunakan Yusi bagi saya masih terdengar asing, dan itu bagus untuk memperkaya kosakata atau perbendaharaan kata saya; sebut saja pemilihan kata “mendusin”, “jatmika” atau “menukas” yang tidak sekali dua kali dimasukkan. Saya pribadi masih asing dengan kata-kata itu, dan tentu banyak diksi unik lainnya.

Penghargaan yang diperoleh Yusi dari novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi antara lain adalah Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016, Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016, dan Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Sebagai karya pertama, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi berhasil membuat saya untuk tidak ragu membeli karya-karya Yusi setelah ini.

Bagaimana, masih ragu? Buat yang belum baca, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi bisa masuk ke daftar buku yang harus kalian baca di tahun 2019 nanti. Sangat direkomendasikan.

***

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Yusi Avianto Pareanom
470 halaman
Penerbit Banana

Yang Nyasar di Mari: