Senin, 24 Desember 2018

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi: Petualangan Seru, Miris, dan Penuh Kejutan


Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Akhirnya saya tidak tahan untuk tidak berbagi kesan setelah membaca novel karya Yusi Avianto Pareanom ini. Betapa tidak, novel ini penuh kejutan. Beberapa ekspektasi saya sebelum membaca buku sudah dipatahkan sejak awal bab. Sebagai novel pertama sang penulis, saya kira ini karya yang luar biasa.

Awal saya tertarik untuk membeli novel ini bermula dari banyaknya lapak pedagang buku online di instagram (lapak buku ori lho, ya, bukan bajakan) yang merekomendasikan buku ini. Bahkan, beberapa lapak memasukkan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dalam daftar teratas buku yang paling banyak dibeli dan itu bertahan dalam tempo waktu berbulan-bulan. Jelas saja saya ingin membelinya.

Oh iya, terus terang saya tidak terbiasa membaca review sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku. Menurut saya, membaca review dan komentar orang terlebih dahulu dapat mengurangi kenikmatan saya ketika membaca bukunya nanti. Saya takut beberapa bagian kejutan jadi “ketahuan” lebih dulu sebelum membacanya nanti.

Untuk itu, jangan terlalu berharap banyak pada review buku saya yang ini, karena saya juga tidak ingin membuat review buku kerdasarkan kaidah-kaidah me-review yang umum digunakan. Saya hanya ingin membagi kesan terhadap suatu karya, dan berharap kalian jadi ikut tertarik untuk membacanya.

***

Tak seperti judulnya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ternyata mengambil sudut pandang dari seorang tokoh bernama Sungu Lembu. Itu lah mengapa saya katakan bahwa ekspektasi saya sudah dipatahkan sejak bab awal. Saya pikir sudut pandang akan dari tokoh bernama Raden Mandasia atau dari orang ketiga. Tapi tenang saja, kejutan sudah pasti ditemukan dalam setiap bagian cerita di novel ini.

Selanjutnya saya tertarik pada sebuah kalimat di bagian bawah cover buku tersebut. Pada bagian bawah cover tertulis “sebuah dongeng karya Yusi Avianto Pareanom”. Tentu saja, cerita di novel ini bak sebuah dongeng yang sangat menghibur. Setting cerita diambil pada zaman antah berantah di mana pada saat itu beberapa kerajaan besar berlomba saling berebut daerah kekuasaan. Sebuah dongeng, tentu saja novel ini begitu “kolosal”.

Dan jangan salah kaprah juga kalau dongeng yang dikandung dalam novel ini bisa dikonsumsi oleh semua umur—seperti dongeng pengantar tidur anak, misalnya. Beberapa bagian cerita hanya layak dikonsumsi untuk orang yang sudah dewasa. Bisa saya katakan, Yusi telah menaikkan kelas dari dongeng itu sendiri. Hehe..

Lalu siapa Raden Mandasia dalam cerita ini, sehingga namanya dijadikan judul novel?

Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari kerajaan bernama Gilingwesi. Sebagai salah satu pangeran kerajaan, Raden Mandasia merasa punya tanggung jawab untuk menghindari kerajaannya dari perang besar melawan kerajaan lain yang begitu digdaya bernama Gerbang Agung. Raden Mandasia tidak ingin mengorbankan begitu banyak nyawa untuk perang dua kerajaan besar ini. Maka, ia pun menyusun sebuah misi menuju ke kerajaan Gerbang Agung yang jaraknya berbulan-bulan perjalanan.

Di sisi lain, ada seorang pemuda bernama Sungu Lembu yang mempunyai sebuah misi pribadi. Singkat cerita, dua misi yang berbeda antara Sungu Lembu dan Raden Mandasia justru mengantarkan mereka dalam sebuah perjalanan bersama yang panjang. Di sini lah letak keseruan itu. Sungu Lembu dan Raden Mandasia terlibat dalam sebuah petualangan penuh ketegangan, kejutan, dan sekali dua menimbulkan kemirisan di benak yang membacanya.

***

“Raden, aku tahu. Aku juga ingin bersama Raden sampai kita benar-benar menjadi tua berbarengan. Nah, aku bisa membuat Raden tersenyum. Bagus. Tapi tolong dengarkan permintaanku Raden.”
“Baiklah, katakan Nyai.”
“Raden harus mengikuti Raden Mandasia kalau aku pergi.” –hal 173.

***

Ada unsur romance dan sesekali nilai-nilai persahabatan yang terkandung dalam novel ini, pun tak lupa gaya komedi Yusi yang kaku namun tetap jenaka.

Satu lagi yang begitu membekas dalam benak saya adalah kelebihan yang ada pada tokoh Sungu Lembu. Ya, Sungu Lembu mempunyai kelebihan dalam indra pengecapannya. Sepersekian detik ia bisa tahu bumbu apa saja dan bagaimana cara memasak suatu makanan dari hanya mencicipi makanan tersebut seujung lidah. Yusi membangun sebuah tokoh yang karakternya mudah melekat di benak pembacanya. Pintar.

***

“Untuk bumbu pengharumnya, kau pakai lagi merica hitam, merica putih, cengkih, pala, tabia bun lagi, ketumbar, kemiri, bengle, kulit jeruk purut, dan eh... dlingo atau yang kau kenal dengan nama jangu, mungkin? Dan, ada satu lagi yang benar-benar tak kukenal,” kataku.
“Menyan,” kata Loki Tua. Ia lalu tertawa keras. “Ternyata lidahmu tak setolol tampangmu.”
“Anjing,” kataku. –hal 294.

***

Aku mengambil buli-buli dan menenggak sisa tuak. Perasaan sedih dan bersalah menyergapku. Teman seperjalananku yang sekarang berbaring lemah ini, sejauh mana aku mengenalnya? –hal 430.

***

Menurut saya juga novel ini sangat mudah untuk dibaca, tidak membosankan atau terlalu monoton. Bisa dibaca kapan saja dalam keaadan apa pun. Terlebih, beberapa diksi yang digunakan Yusi bagi saya masih terdengar asing, dan itu bagus untuk memperkaya kosakata atau perbendaharaan kata saya; sebut saja pemilihan kata “mendusin”, “jatmika” atau “menukas” yang tidak sekali dua kali dimasukkan. Saya pribadi masih asing dengan kata-kata itu, dan tentu banyak diksi unik lainnya.

Penghargaan yang diperoleh Yusi dari novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi antara lain adalah Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016, Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016, dan Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Sebagai karya pertama, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi berhasil membuat saya untuk tidak ragu membeli karya-karya Yusi setelah ini.

Bagaimana, masih ragu? Buat yang belum baca, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi bisa masuk ke daftar buku yang harus kalian baca di tahun 2019 nanti. Sangat direkomendasikan.

***

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Yusi Avianto Pareanom
470 halaman
Penerbit Banana

Reaksi:

12 komentar:

  1. Wow, buku pertama tapi sepertinya sangat menarik.

    Saya juga nggak suka baca review buku sebelum membeli bukunya, kalau ingin membeli novel saya cukup tahu saja siapa penulis dan blurb saja. Review-review buku memang bakalan membuka kisah-kisah di dalamnya, jadi udah bisa ketebak pas baca aslinya. Jadi kurang seru saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi tenang aja, novel ini penuh kejutan kok.. Yang saya tulis di atas hanya bagian kecil dari cerita. Novel ini sangat direkomendasikan :)

      Hapus
  2. udah lama banget saya ga baca novel, sejak kapan yaa... baca judul2 begini, mengingatkan saya zaman SMP baca novel yang ditulis tahun 80-an.... tapi ini lebih tua lagi, zaman antah berantah... masa kerajaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, novel ini memang kontemporer banget, tp penyampaiannya modern.. mungkin karena itu jg novelnya sangat diminati banyak orang

      Hapus
  3. Wow sbnernya udh liat buku ini bbrp kali di toko buku online tp ga tertarik buat beli karna ga bgitu suka fiksi tp baca review ini jd penasaran sama kejutan2 apa aja yg ada di ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan ragu deh buat beli buku ini. Sangat menghibur. Semoga mba bisa ikut merasakan keseruannya :)

      Hapus
  4. wah aku suka banget dongeng!
    Aku suka cerita2 kerajaan gitu..
    Hmm, ini menarik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk baca juga, nanti sharing pendapatnya soal buku ini :)

      Hapus
  5. Baca ulasannya sedikit tentang novel satu ini langsung kebayang serunya imajinasi kita dibawa kisah yang disampaikan penulis ..., aku suka kisah dongeng seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sabar denger pendabat masnya setelah baca ini nanti

      Hapus
    2. Pendapatku, jawabannya pasti suka banget setelah nantinya baca sampai akhir novel ini :)

      Senang aja setiap membaca novel dongeng atau fantasi, rasanya imajinasi ikut dibawa berpetualang ...
      Kadang merasa, aku yang jadi tokoh utamanya wwwkkkwkkk ..

      Hapus
  6. Penulisnya sudah lama berkecimpung dalam dunia literatur, entah sebagai pewarta atau dosen, saya tidak tahu namun pernah baca namanya pada tahun 2000-an.
    Nah, itulah buku yang dibutuhkan bagi pembaca era milenial agar tak lupa akar. Dongeng juga ada banyak segi menariknya, jangan melulu nonton drakor, he he.
    Yah, kadang saya malas baca ulasan buku jika terlalu detail atau spoiler, ironisnya saya masih menulis dengan cara bocorin beberapa bagian. Masih harus banyak belajar. :D
    Baguslah Mas Irsyad baca buku berbobot. Bisa memperkaya warna tulisan.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: