Jumat, 22 Februari 2019

3 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Traveller untuk Memajukan Pariwisata Indonesia

Aceh Besar. Sumber: dok. Pribadi

Perkembangan sektor pariwisata yang pesat adalah salah satu ciri negara yang sudah maju. Indonesia sebagai negara dengan keindahan alam luar biasa dan kebudayaan yang beragam tentu sangat potensial untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan negara.


Hal ini didukung oleh gaya hidup manusia modern saat ini yang sudah mengalami pergeseran. Dulu, mungkin aktivitas liburan selalu dinomor sekiankan setelah kebutuhan pokok terpenuhi, sekarang liburan atau traveling sudah menjadi kebutuhan prioritas terutama bagi kaum milenial.

Untuk itu, tidak ada salahnya para traveller bisa ikut memberikan sumbangsih kepada pariwisata Indonesia agar lebih berkembang. Sumbangsih tersebut tidak perlu muluk-muluk: bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Setidaknya, ada tiga hal sederhana yang bisa dilakukan traveller agar dapat berkontribusi dalam mendukung sektor pariwisata Indonesia. 

1) Dimulai dari Bangga Menjadi Orang Indonesia
Iya, ini adalah hal sederhana pertama sekaligus paling mendasar. Dengan bangga menjadi orang Indonesia, kita pun selalu antusias untuk menelusuri seluk-beluk daerah di Indonesia. Dengan bangga menjadi orang Indonesia pula, kita selalu punya motivasi lebih untuk mempelajari budaya-budaya di Indonesia.


Sumber: hipwee.com

Selain itu, jika traveller sudah bangga menjadi orang Indonesia, destinasi traveling yang diutamakan pasti destinasi yang ada di Indonesia. Kalau pun punya uang lebih untuk traveling ke luar negeri, kebanggaan menjadi orang Indonesia bisa tercermin dari usaha untuk memperkenalkan Indonesia kepada orang-orang luar negeri. Dengan begitu, traveller dari mancanegara akan lebih tertarik datang ke Indonesia.

2) Menjaga Keamanan dan Keasrian Lingkungan 
Kalau yang ini berkaitan dengan kepedulian lingkungan. Sederhana, tapi sering diabaikan. Benar, menjaga lingkungan adalah hal sederhana yang harus dipegang teguh traveller di mana pun dia berada. 
Sumber: obatrindu.com

Hal sederhana yang bisa dilakukan terkait menjaga lingkungan adalah tidak meninggalkan jejak berupa sampah. Kalau habis mengkonsumsi makanan, sampah lebih baik di simpan sendiri dulu lalu dibuang ketika menemukan tong sampah. Tidak cuma itu, mengutip sampah orang lain dan membuangnya di tempat pembuangan sampah juga adalah hal sederhana yang dapat dilakukan, berpahala pula. 


Terkait hal yang sama, tidak merusak keindahan tempat kunjungan juga patut disadari para traveller. Sesederhana tidak menulis kalimat Sukri love Maimunah di dinding tempat-tempat wisata, misalnya. Tidak merusak keindahan dan keaslian tempat wisata adalah hal yang sangat diapresiasi saat ini. 

3) Mempromosikan Destinasi Wisata di Indonesia Lewat Travelblog.id
Nomor tiga adalah cara kekinian yang sederhana namun sangat efektif. Di era media sosial saat ini, sudah sangat banyak pilihan platform yang tersedia. Salah satu platform paling efektif yang bisa dicoba untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia adalah lewat Travelblog.id. 

Di bawah ini akan saya jelaskan apa Travelblog.id dan apa saja manfaat dengan kita bergabung di platform ini, sehingga teman-teman semua bisa ikut mempromosikan destinasi wisata di Indonesia dengan mudah.

Berbeda dengan platform lain, Travelblog.id adalah web atau blog khusus traveller yang berfungsi sebagai sarana berbagi informasi seputar lokasi, wisata, dan kuliner antar sesama traveller dan masyarakat online dalam bentuk blog maupun vlog. Iya, nggak salah dengar kok, Travelblog.id adalah perpaduan dari blog (artikel) dan vlog (video) di satu platform yang sama namun bedanya khusus buat para traveller. Tentu, menjadi sangat efektif karena platform ini adalah tempat berkumpulnya para traveller untuk berbagi jurnalnya. 

Mungkin teman-teman masih banyak yang belum tahu soal Travelblog.id. Untuk itu di bawah ini akan dijelaskan seperti apa platform khusus traveller ini dan apa manfaat serta kelebihan Travelblog.id sehingga sangat bermanfaat untuk dunia pariwisata Indonesia.


***

Untuk bisa bergabung dan mempromosikan artikel maupun vlog traveling di Travelbog.id, maka terlebih dahulu harus mendaftar sebagai user. Cara daftarnya sangat mudah, bisa dalam hitungan menit lewat akun media sosial facebook atau akun google masing-masing. Setelah masuk, jangan lupa isi data pribadi dengan lengkap. Oh, iya, platform ini gratis loh, jadi siapa saja bisa mendaftar.


Buka user.travelblog.id dan daftar lewat akun Facebook atau Google masing-masing.
Setelah itu isi data diri dengan lengkap.

Dengan bergabung sebagai user Travelblog.id, kita dapat merasakan manfaat yang diantaranya adalah:

  • Bisa berbagi informasi destinasi wisata kepada masyarakat luas, sehingga orang-orang semakin tertarik mengunjungi destinasi wisata di Indonesia
  • Bisa menambahkan foto pada artikel yang dibuat
  • Bisa bantu promosiin vlog traveling kita, dengan copas link video youtube kita ke Travelblog.id
  • Bisa berbagi lokasi akurat tempat wisata dari Latitude dan Longititude yang akan tampil sebagi map di artikel yang dibuat
  • Ada reward poin. Poin akan bertambah dari setiap artikel yang diterbitkan dan poinnya dapat ditukarkan dengan barang-barang keren
Kolom menulis artikel untuk pemilik akun Travelblog.id
Masukkan link vlog dari Youtube kalian
Beberapa hadiah yang dapat ditukarkan dengan poin user, selengkapnya bisa di cek di sini

Tak cuma itu, buat masyarakat umum yang sedang mempersiapkan rencana liburan, mengunjungi Travelblog.id terlebih dahulu adalah sebuah kewajiban. Di Travelblog.id kita bisa mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan. Infromasi yang tersedia mulai dari apa saja tempat wisata di suatu daerah lengkap bersama map lokasinya, tempat-tempat kuliner yang maknyus, sampai artikel penambah wawasan seputar traveling. Dengan Travelblog.id, calon traveller nggak akan mati gaya selama perjalanan karena sudah mengantongi segala informasi yang dibutuhkan seputar destinasi tujuannya.


Map di dalam artikel, memudahkan buat yang mau mengunjungi tempat wisatanya

Artikel yang ditulis oleh para traveller, melingkupi berbagai lokasi wisata di Indonesia
Ada juga artikel kuliner, nggak perlu takut kelaparan sebelum mengunjungi lokasi wisata tujuan
Berbagai tips dan informasi bermanfaat untuk para atau calon traveller
Bukti rasa bangga kita sebagai orang Indonesia, ada artikel tentang Seni dan Budaya yang dapat dibaca untuk menambah wawasan kita
Nih dia contoh vlog traveling di Travelblog.id
Hampir lupa, Travelblog.id menyediakan infografis yang sangat mengedukasi dan bisa di download gratis di link ini

Jadi, kesimpulan tentang TRAVELBLOG.ID adalah...


Dari segi manfaat untuk masyarakat Indonesia:
  1. Dapat membantu daerah yang tempat wisatanya mungkin belum banyak diketahui orang, padahal bisa saja sangat berpotensi.
  2. Secara tidak langsung membantu perekonomian masyarakat di daerah-daerah wisata, karena Travelblog.id ikut andil dalam mempromosikan destinasi wisata di Indonesia sehingga banyak orang yang ingin mengunjungi tempat wisatanya.
  3. Sebagai wadah silaturahmi, alias tempat berkumpulnya para traveller untuk berbagi kisah dan pengalamannya selama traveling.

Dari segi kelebihan untuk masyarakat yang membutuhkan informasi wisata:
  1. Websitenya sangat ringan dan memanjakan mata, simpel serta fitur-fitur yang ada sangat jelas kegunaannya.
  2. Artikel terkait tempat wisata dilengkapi map, sehingga membantu kita tidak tersesat ketika hendak pergi traveling.
  3. Buat yang lagi males baca artikel, ada vlog traveling yang bisa ditonton.
  4. Cara daftar sebagai user mudah dan sangat cepat.


    ***


    Nah, itu tadi tiga hal sederhana yang bisa para traveller lakukan untuk berkontribusi memajukan dunia pariwisata Indonesia. Tentu tidak sulit untuk bangga menjadi orang Indonesia karena keindahan alam negara ini juga sangat luar biasa, untuk itu kita juga harus mengutamakan daerah-daerah di Indonesia sebagai destinasi wisata kita. Oh, iya, dan jangan lupa pula tetap senantiasa menjaga keamanan dan keasrian lingkungan bumi pertiwi ini. Selain itu, agar lebih maksimal sumbangsihnya terhadap pariwisata Indonesia, tak ada salahnya memanfaatkan Travelblog.id sebagai platform berbagi informasi destinasi wisata terbaik di Indonesia. Semoga bermanfaat.




    Rabu, 20 Februari 2019

    Parade Saling Lapor Lewat UU ITE


    Sumber: aksi.id
    Ada-ada saja ulah Tim Sukses (Timses) Calon Presiden (Capres) di negara berkembang ini. Semakin dekat menuju 17 april 2019, kontestasi semakin riuh oleh parade saling lapor-melapor antar Timses. Semua laporan hampir disebabkan oleh kasus pencemaran nama baik ataupun ujaran kebencian. Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE) menjadi payung hukum paling favorit dari para pelapor ini.

    Paling hangat, nama musisi yang terjun ke dunia politik, Ahmad Dhani, harus merasakan dinginnya hotel prodeo akibat cuitan “idiot” yang ia posting di media sosial pribadinya. Selanjutnya, masih dari kubu yang tidak jauh, nama akademisi populer Rocky Gerung juga tersangkut pelaporan atas kalimat “kitab suci itu fiksi” yang ia lontarkan di salah satu forum diskusi di televisi swasta.

    Dari kubu seberangnya lagi, nama Ketua BTP (Basuki Tjahaja Purnama) Mania, Immanuel Ebenezer juga masuk dalam berkas laporan kepolisian atas ucapannya menyebut Alumni 212 sebagai wisatawan penghamba uang. Tak sampai disitu, bahkan nama Capres dari kubu petahana beserta beberapa nama Timsesnya juga dilaporkan akibat pidato Jokowi soal keterlibatan atau propaganda Russia.

    Berdalil dengan UU ITE
    UU ITE yang disahkan pada saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini tanpa diduga menyeret banyak korban, terutama setiap menjelang Pemilihan Umum dan korbannya adalah para politisi. UU ITE dijadikan dalil atas pernyataan-pernyataan politikus yang menyinggung atau menyindir pihak atau kelompok tertentu. Biasanya pihak yang tersinggung adalah lawan politiknya.

    Dikutip dari tulisan Scholastica Gerintya yang dimuat oleh tirto.id (30/08/18), menyebutkan bahwa laporan yang paling banyak masuk ke kepolisian adalah berupa konten di media sosial baik itu dalam bentuk teks, meme, atau video. Konten bernuansa ejekan dan ujaran kebencian yang bertendesi politik adalah sasaran empuk bagi para pelapor.

    Masih berasal dari sumber yang sama, ditemukan beberapa pasal yang paling banyak digunakan sebagai dalil pelaporan. Yang paling banyak adalah pasal 27 UU ITE yang mengacu pada ketentuan pencemaran nama baik. Pada tahun 2016, pasal ini digunakan pada 54 kasus, dan tahun 2017 kasus yang dilaporkan berjumlah 32. Lalu ada pasal 28 ayat (2) UU ITE yang juga tak kalah banyak digunakan, di mana pasal ini mengatur setiap orang untuk tidak menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

    Kedua pasal tersebut, oleh beberapa pihak disebut sebagai salah dua dari sekian “pasal karet” yang ada pada UU ITE. Mengapa demikian? Sebab pasal-pasal dalam UU ITE seperti contoh sebelumnya rentan digunakan sebagai alat balas dendam, membungkam kritik, ataupun sebagai alat untuk mempersekusi perorangan atau kelompok. UU ITE pada akhirnya sarat digunakan sebagai alat saling serang kedua kubu politik. Sekedar informasi, Undang-undang yang sama juga dijadikan dalil atas penahanan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

    Menunggu Lawan Politik “Keseleo Lidah”
    Saya tidak mau melebar dengan mengomentari sekian banyak kasus yang terjerat akibat UU ITE. Saya menemukan hal yang lebih menarik, di mana sejatinya ada pola tertentu yang digunakan kedua kubu Timses politik untuk menjegal lawannya dengan dalil Undang-undang ITE ini.

    Pola yang paling kentara adalah kedua kubu saling menunggu lawan politiknya “keseleo lidah” alias salah ucap. “Keseleo lidah” ini bisa menyebabkan kalimat atau cuitan yang keluar dari mulut atau jari politikus mengarah ke unsur fitnah, ujaran kebencian, atau pencemaran nama baik. Panggung “aksi keseleo” lidah ini sendiri bisa terjadi pada berbagai medium. Bisa terjadi di diskusi politik yang saban hari ditayangkan stasiun televisi swasta, pada cuitan beberapa tokoh politik di media sosial, atau pada pidato politik para tokoh baik Capres-Cawapres maupun Tim Suksesnya yang terekam video.

    Pola seperti ini terjadi seiring panasnya suhu politik dari kedua kubu, sehingga pernyataan-pernyataan yang terlempar ke publik bisa berpotensi menimbulkan kontroversi. Panasnya perdebatan politik mau tak mau harus dihadapi dengan kepala dingin, jika tidak, “keseleo lidah” bisa terjadi kapan saja dan berujung pada pelaporan pencemaran nama baik atau ujaran kebencian.

    Tetapi, walaupun terlihat samar-samar, pola ini sebenarnya gampang terbaca. Saya sedikitnya dapat mencium trik khusus para politisi di setiap perdebatannya. Seringkali, para politisi ini seperti sengaja membawa perdebatan ke arah yang lebih panas dengan kalimat-kalimat pancingan yang membawa emosi lawan politiknya. Emosi ini lah yang diharapkan menjadi tak terkendali dan membuat lawan politiknya “keseleo lidah”. Politikus juga manusia biasa, tentu mereka harus lebih berhati-hati lagi dalam berucap atau menggunakan sosial medianya.

    Tentu ini adalah subjektifitas Saya dalam memperhatikan jalannya kontestasi menuju 17 april nanti. Dan memang terbukti, parade saling lapor-melapor antar kedua kubu benar-benar terjadi. Tak terpungkiri pula, bukti yang dipakai dalam pelaporan adalah cuitan media sosial atau potongan diskusi atau pidato yang terekam video.

    Auara politis dari kasus-kasus pelaporan dengan dalil UU ITE ini justru menjauhkan kita dari esensi dibentuknya si Undang-undang ini. UU ITE pada tahun 2008 sebenarnya dibentuk sebagai persiapan Indonesia dalam menghadapi dunia ekonomi digital, yang mana pada saat itu Indonesia belum mempunyai landasan hukum yang jelas soal transaksi ekonomi digital. Benar, dari namanya saja (Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik), UU ini fokusnya adalah mengatur transaksi ekonomi berbasis digital. Namun, seiring waktu, adanya beberapa pasal karet seperti yang sudah Saya kutip di atas membawa UU ITE ke ranah yang lebih melebar dan jauh dari esensi dibentuknya UU ITE ini.  

    Oleh karena itu, saya sendiri merujuk pada sebuah kesimpulan sederhana dalam memandang fenomena saling lapor anggota Timses ini. Saya menyimpulkan bahwa fenomena ini terjadi lewat “akal-akalan” beberapa pihak dalam menggunakan UU ITE yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Selain itu, suhu politik yang sudah terlanjur tidak sehat akhirnya berujung pada saling serang dan saling lapor dari masing-masing kubu, di mana siapa saja yang “keseleo lidah” harus siap-siap dilaporkan lawan politiknya. Bahkan dalam beberapa kasus, nama Jokowi maupun Prabowo sekalipun tak terlepas dari aduan berlandaskan UU ITE.     

    Jika saya boleh sedikit berkhayal, saya jadi membayangkan bagaimana nantinya jika penjara justru dipenuhi oleh orang-orang yang terjerat UU ITE ini. Uniknya, penjara itu ternyata diisi oleh politisi yang kerap “keseleo lidah” dalam perdebatan politik di depan publik. Atau, karena kedua pasangan calon yang ikut pertarungan juga rentan dilaporkan, jangan-jangan nantinya kedua pasangan bisa masuk jeruji besi juga. Bisa dibayangkan bagaimana itu terjadi, Pilpres 17 april 2019 mendatang pasti gagal terlaksana. Ah, semoga ini memang cuma khayalan saya saja.

    ***

    Tulisan ini telah dimuat di rubrik opini Harian Analisa hari Sabtu, 16 Februari 2019. Dapat dilihat juga di link: Harian Analisa/Opini

    Kamis, 14 Februari 2019

    ASUS ZenBook 13/14/15: Laptop Paling Ringkas Tanpa ada yang di Pangkas

    Jika saya punya rezeki lebih untuk membeli laptop baru dengan spesifikasi lebih tinggi lagi, pasti pilihan utama saya adalah laptop keluaran ASUS. Bukan tanpa alasan, karena di tahun 2018 pangsa pasar laptop ASUS di Indonesia menurut Gfk menunjukkan pertumbuhan yang positif, naik dari 41.2 persen ke 41.8 persen. Masih menurut data Gfk, di segmen notebook ultrathin ASUS juga terus mengalami peningkatan market share dari 5,4 persen di tahun 2017 ke 23 persen di november 2018. Selain itu, ASUS masuk dalam daftar World's Most Admired Companies dari majalah Fortune, yang berarti bahwa ASUS sudah berdedikasi menghadirkan berbagai produk IT yang komprehensif. Pencapaian yang diraih itu menunjukkan tingginya kepercayaan dan kepuasan para pengguna produk ASUS.

    Sekarang laptop saya sendiri adalah ASUS X451CAP, bukan seri premiumnya ASUS memang, tapi sudah saya pakai dari tahun 2016. Sampai detik ini laptop ASUS itu masih setia menemani saya dari menulis, ngeblog, nonton film, browsing, sampai berjasa siang malam membantu saya menyelesaikan skripsi saya. Selama itu pula, laptop ASUS saya tidak pernah rewel. 

    Oleh karenanya, ketika tanggal 17 Januari 2019 kemarin ASUS memperkenalkan seri ZenBook terbarunya di Jakarta, saya cukup terkejut abang terheran-heran. Betapa tidak, tanpa tanggung seri ZenBook yang baru ini mereka klaim sebagai laptop paling ringkas di dunia. Wah, saya pikir apakah ASUS tidak kepedean? Sebagai pengguna laptop keluaran mereka, saya tentu jadi penasaran. Akhirnya saya mencari tahu lebih dalam soal laptop terbaru mereka.

    Acara Launching ASUS ZenBook 13,1 4, 15 di Jakarta.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia
    Telusur punya telusur, laptop yang baru mereka perkenalkan di Indonesia adalah laptop dari seri ZenBook yang masing-masing ada tiga varian, yaitu ZenBook 13 UX333 (13 inci), ZenBook 14 UX433  (14 inci), dan ZenBook 15 UX533 (15 inci). Ketiga ZenBook ini masuk dalam kategori laptop premium ultra kecil dan ultra tipis. Nah, biasanya, laptop-laptop kecil dan tipis itu banyak pemangkasan fitur di sana-sini karena ruang yang tersedia sangat terbatas. Lalu kenapa ASUS berani mengklaim kalau ketiga laptop terbarunya adalah yang paling ringkas di dunia? Apakah cuma sekedar ringkas doang, terus udah, gitu?

    Jangan buru-buru dulu, saya rasa saya harus mengerti apa maksud dari sematan 'paling ringkas' yang diklaim oleh ASUS. Terus terang saya masih ambigu: apakah paling kecil, paling tipis, atau paling yang lain? Makanya, mari kita telusuri apa arti kata 'ringkas' menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

    Menurut KBBI,
    Ringkas artinya tidak banyak memerlukan tempat.
    Iya, udah, gitu doang.

    Kalau begitu, dengan kata lain, ASUS mengklaim laptop ini adalah laptop yang paling tidak banyak memerlukan tempat. Waduh, gimana itu, ya?

    Ternyata setelah saya telusuri lebih dalam lagi, setidaknya ada 3 alasan mengapa ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa disebut demikian:

    1) Laptop seri 13, 14, dan 15 inci dengan dimensi terkecil di dunia
    Ternyata, banyak laptop yang tipis, namun tidak seringkas ZenBook terbaru ini. ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini diklaim ASUS sebagai laptop dengan dimensi paling kecil di dunia. Artinya, ia memang bukan yang paling tipis, tapi adalah yang paling ringkas karena dimensinya yang kecil. ZenBook ini punya dimensi paling kecil karena screen to body rationya yang besar. Bingung? Begini maksudnya.

    Bisa seperti itu karena ZenBook seri ini tidak seperti laptop-laptop lainnya yang punya bezel tebal kurang tebal. Bezel ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa dibilang hampir tidak ada. Secara keseluruhan, screen to body ratio di ZenBook ini hampir 95% berkat teknologi NanoEdge Display. Selain jadi lebih elegan, bezelnya yang tipis membawa pengalaman visual yang pasti tidak di dapat di laptop-laptop premium lain sekelasnya.

    Screen to body ratio up to 95%.
    Sumber: asus.com

    Bila dibandingkan bezel laptop ASUS 14 inci saya yang tebal.
    Sumber: pribadi

    Karena itu, ZenBook terbaru ini akhirnya muncul dengan penampakan yang ultra kecil, bahkan lebih kecil dari kertas A4. Kalian nggak salah dengar kok, kertas A4. 

    Perbandingan lebar ZenBook terbaru ASUS dengan kertas A4 dan laptop keluaran lain.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

    Dengan dimensi yang mungil ini, ZenBook terbaru ASUS tidak membutuhkan ruang tempat penyimpanan yang besar di tas kalian. Untuk bobot pun tidak berat, hanya sekitar 1.19 kilogram saja untuk varian 13 inci. Mudah dibawa ke mana-mana.

    2) Kecil tapi tidak pelit port 
    Kalau laptop-laptop kecil itu biasanya miskin port, maka tidak untuk seri ZenBook yang ini. Di bagian kiri laptop sudah disediakan port headphone-out jack yang sudah terintegrasi dengan microphone, lalu ada USB 3.1 Type-A generasi ke-2 dan sudah ada memoricard reader untuk MicroSD. Sedangkan port bagian kanan laptop ini, dilengkapi port charger (sudah pasti ada ya), port HDMI, port USB 3.1 Type-A generasi ke-2 lagi, dan ada port USB 3.1 Type-C generasi ke-2. Untuk aktivitas normal, dengan laptop ini kita tidak perlu repot-repot pakai adaptor lagi. Ini juga alasan ZenBook 13/14/15 disebut paling ringkas, karena walaupun kecil, laptop ini mampu menyediakan semua kebutuhan kita.

    Tampak port kiri dan kanan ASUS ZenBook 13/14/15.
    Sumber: editan pribadi.

    3) Khusus ZenBook 13 UX333 dan 14 UX433, hadir dengan numpad virtual
    Biasanya, laptop kecil tidak punya numpad khusus. Berhubung ini laptop yang diklaim paling ringkas, maka ASUS 'mengakalinya' dengan menyatukan numpad dengan touchpad pada satu tempat yang sama. Begini penampakannya:

    Tampilan numpad virtual.
    Sumber: channel.asus.com

    Numpad ini bisa dihidupkan dengan menekan tombol kecil di pojok kanan atas touchpad-nya, maka setelah itu akan muncul tombol numpad virtual di tempat yang sama dengan touchpad. Menurut saya 'kecerdikan' ASUS ini patut diapresiasi. Oh, iya, perlu diiingat kalau numpad virtual ini hanya tersedia untuk seri 13 dan 14 inci yang tertinggi saja. Sedangkan varian 15 inci sudah dilengkapi dengan numpad fisik.

    Itu tadi tiga alasan mengapa ASUS mengklaim laptop ini adalah yang paling ringkas atau punya dimensi paling kecil di dunia. Lalu, apa keunggulan lain dari laptop ini? Apa cuma sekedar kecil doang? Setelah saya telusuri lagi, berikut adalah keunggulan dari ZenBook 13/14/15 yang saya temukan:

    Diperuntukkan untuk Pengguna yang Punya Mobilitas Tinggi 

    Kombinasi performa dan mobilitas adalah ciri khas utama seri ZenBook ini. Untuk membuktikannya, ASUS sudah menyematkan prosesor Intel Core generasi ke-8 (tersedia core i5 dan core i7) serta didukung oleh GPU NVIDIA GeForce. Dapur pacu ini membuat ZenBook menjadi lebih hemat daya, punya grafis terbaik, sekaligus memiliki performa yang luar biasa cepat.  Ketahanan baterai pun bisa sampai 14 hingga 16 jam untuk pemakaian normal. Menurut ASUS, ZenBook ini cocok untuk pekerja kreatif dan hiburan yang ingin punya laptop ringkas sekaligus elegan, namun tetap punya tenaga dan performa maksimal.

    Ini waktu saya nyobain laptopnya. Jangan percaya.
    Sumber: channel.asus.com

    Untuk tampilan layar, ZenBook terbaru juga sudah full HD display (1920x1080 pixel), warna yang ditampilkan juga pasti lebih cemerlang dan akurat karena punya reproduksi warna sampai 100% sRGB. ZenBook ini juga sudah dilengkapi kamera infra-merah yang terintegrasi dengan sistem face login. Untuk audio, laptop ini sudah disematkan speaker Harman Kardon yang punya suara lebih jernih. Kalau untuk nonton film sih puas sekali karena warna dan audionya punya kualitas nomor wahid.

    Bersertifikasi Military Grade

    Bodi yang didesain oleh ASUS ini bukan kaleng-kaleng sembarangan. Bodinya telah mengantongi sertifikasi standar militer MIL-STD 810G di semua lini. ZenBook terbaru ini sudah lolos dalam berbagai pengujian ekstrem mulai dari uji ketinggian, uji suhu dan kelembapan, hingga uji banting dan getaran. Selain elegan, ZenBook 13/14/15 juga akan sangat kokoh. Laptop ini siap menemani segala macam aktivitas yang super mobile. Kurang apa lagi coba, laptop aja dibuat standar militer.

    Standar Militer 810G.
    Sumber: asus.com

    Kenyamanan Kelas Satu

    Tidak cuma punya desain elegan, performa yang oke, dan bodi yang kokoh saja, ASUS juga sangat memperhatikan dengan detail kenyamanan penggunanya saat menggunakan ZenBook ini.  Ada dua alasan kenapa laptop ini bisa sangat nyaman dipakai.

    Pertama, adanya teknologi ErgoLift Hinge
    ErgoLift Hinge adalah inovasi teknologi terbaru ASUS untuk memanjakan penggunanya. Teknologi ini membuat bodi tiga ZenBook terbaru ASUS menjadi sedikit terangkat ketika dibuka dan membentuk sudut 3 derajat. Setidaknya ada tiga manfaat dari teknologi ini untuk penggunanya: pertama, posisi tangan untuk mengetik jadi lebih nyaman karena keyboard jadi agak miring. Kedua, karena ada sedikit ruang di bawah, speaker audio yang keluar dari bawah jadi tidak terpendam. Ketiga, laptopnya bisa jadi lebih dingin, karena sirkulasi udara yang keluar lebih lega.  

    ErgoLift Hinge Design di ASUS ZenBook terbaru.
    Sumber: asus.com

    Kedua, teknologi Full-Size Backlit pada keyboard
    Blogger pasti suka ngerasain ketika lagi nulis di laptop atau komputer, terkadang tidak nyaman sama keyboardnya karena key travel yang terlalu jauh atau bahkan nggak berasa sama sekali. Nah, pada ZenBook ini ASUS memikirkan kenyamanan sampai sedetail itu. Key travel pada keyboard laptop ini dirancang khusus sejauh 1,4 milimeter sehingga kedalamannya sangat pas waktu diketik. lampu LED backlit pada keyboarnya pun bisa memudahkan kita untuk mengetik diruangan yang gelap. 

    Key travel pada ASUS ZenBook 13/14/15.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

    Kalau ada istilah kecil-kecil cabe rawit, maka laptop ini kecil-kecil ajaib. Desainnya yang kecil dan ringkas, ternyata tidak membuat banyak fitur-fitur yang dipangkas. Bahkan, bukannya dipangkas demi menjadikannya ringkas, ASUS justru menambahkan beberapa fitur dan inovasi terkini, sehingga rasanya ini adalah laptop yang mampu menampung segala kebutuhan kita. Karena ini laptop untuk produktivitas, tentu tidak disarankan untuk bermain game berat layaknya laptop gamers. Kalau buat gamers sebaiknya langsung beralih ke ASUS ROG saja.

    Penasaran dengan harganya?

    Tentu, sebagai laptop premium, ASUS ZenBook 13, 14 dan 15 inci ini bisa dibilang cukup mahal. Untuk varian paling rendahnya, ZenBook terbaru dibandrol mulai dari 15 jutaan, dan yang paling mahal dibandrol 27 juta. Hmm, tertarik untuk punya laptop ini? Tenang, ada harga ada kualitas.

    Baiklah, akhirnya rasa penasaran saya sama laptop ini sudah terjawab. Bisa saya katakan kalau ASUS benar-benar memperhatikan kualitas dan inovasi dalam seri ZenBook terbaru mereka ini. Maka tak boleh heran kenapa harganya mahal (apalagi buat kantong saya). Katakanlah saya ada rezeki berlebih buat beli laptop baru, ZenBook 13, 14, dan 15 ini justru terlalu sempurna untuk saya. Bagaimana tidak, ini adalah laptop paling ringkas di dunia.

    Harga ZenBook 13 inci.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

    Harga ZenBook 14 inci.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia

    Harga ZenBook 15 inci.
    Sumber: youtube.com/ASUS Indonesia




    Main Spec.
    ASUS ZenBook 13 UX333, ZenBook 14 UX433, ZenBook 15 UX533
    CPU
    Intel Core i5 8265U Quad Core Processor (6M Cache, up to 3.4GHz)
    Intel Core i7 8565U Quad Core Processor (8M Cache, up to 4.6GHz)
    Operating System
    Windows 10 Home
    Memory
    Up to 16GB LPDDR3 RAM
    Storage
    Up to 512GB M.2 NVMe PCIe SSD
    Display
    13,3” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX333)
    14” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX433)
    15,6” (16:9) FHD (1920x1080) with NanoEdge Display (UX533)
    Graphics
    Discrete graphics NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q (UX533)
    Discrete graphics NVIDIA GeForce MX150 (UX333 & UX433)
    Integrated Intel UHD Graphics 620
    Input/Output
    1 x USB3.1 Type-C (GEN 2)1x USB 3.1 Type-A (Gen 2), 1x USB 3.1 Type-A (Gen1), 1 x HDMI, 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 1 x MicroSD Card Reader
    Camera
    HD IR/RGB Combo Camera
    Connectivity
    Dual-band 802.11ac gigabit-class Wi-Fi, Bluetooth 5.0
    Audio
    Harman Kardon certified audio system with ASUS SonicMaster surround-sound technology, Array microphone with Cortana voice-recognition support
    Battery
    50WHrs 3-cell battery (UX333 & UX433)
    73WHrs 4-cell battery (UX533)
    Dimension
    (WxDxH) 302 x 189 x 16,9 mm (UX333)
    (WxDxH) 319 x 199 x 15,9 mm (UX433)
    (WxDxH) 354 x 220 x 17,9 mm (UX533)
    Weight
    1,19Kg with Battery (UX333 & UX433)
    1,67Kg with Battery (UX533)
    Colors
    Royal Blue, Icicle Silver, Burgundy Red
    Price
    Start from Rp15.299.000
    Warranty
    2 tahun garansi global

    Senin, 11 Februari 2019

    Pelajaran Selepas Kuliah: IPK Bukan Segalanya, Tapi Tetap Lakukan yang Terbaik

    Sebagai mantan mahasiswa yang baru lulus pada bulan november tahun 2018 kemarin (sebutan kerennya pengangguran freshgraduate), saya ingin berbagi sedikit pelajaran yang saya dapatkan selama kurang lebih empat tahun masa perkuliahan saya. 

    Kebetulan pula, bulan ini adalah bulan-bulan para pelajar setingkat SMA sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan proses seleksi masuk ke universitas, baik lewat undangan ataupun lewat ujian masuk. Saya berharap, pembaca yang sedang mempersiapkan diri menuju bangku kuliah ataupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari tulisan saya ini.

     *Tulisan ini murni opini saya pribadi, setuju atau tidak setuju adalah hal yang lumrah.
    Seperti judulnya: IPK bukan segalanya. Singkat, padat dan jelas. Keyakinan ini sudah membatu di kepala saya, seperti sebuah mindset yang saya pegang sejak awal bahkan sebelum saya benar-benar menjadi mahasiswa. Selepas kuliah, saya mendapatkan pelajaran berharga dari mindset ini.


    Saya meyakini bahwa kuliah bukan hanya sebatas pada ilmu yang disampaikan oleh dosen atau yang  sekedar tertulis pada buku teori. Kuliah bukan hanya sebatas pada tugas akhir atau skripsi yang dengan teganya telah mengambil siang dan malam kita.

    Di luar kuliah dan mengejar IPK, sebetulnya, banyak sekali kegiatan positif yang dapat diambil. Itu lah yang menurut saya paling penting: kuliah adalah kesempatan besar untuk mengembangkan minat dan bakat kita diluar teoritis ilmu dari jurusan yang kita ambil. Kita dapat bergabung di dalam unit-unit kegiatan mahasiswa, bergabung di organisasi-organisasi, bisa mencari kerja sampingan untuk menambah penghasilan, bisa mencoba kuliah sambil berdagang, bisa coba ikut kelas-kelas sampingan yang dapat menambah pengetahuan atau skill baru, bisa ikut lomba-lomba baik lomba akademik maupun non-akademik untuk meramaikan portofolio diri, dan masih banyak lagi pilihan yang dapat dicoba. Percayalah, pelajaran yang paling terasa manfaatnya untuk diri sendiri selepas kuliah nanti sebagian besar karena kegiatan-kegiatan positif yang pernah kita lakukan diluar kuliah itu.

    Berarti, IPK itu tidak penting, dong?

    Saya tidak setuju juga. Menurut saya, IPK juga penting sebagai bukti bahwa orang tua kita tidak salah menyisihkan uangnya untuk membiayai kuliah kita. Artinya, IPK yang tinggi, seminimal mungkin bermanfaat untuk orang tua kita, setidaknya untuk menyenangkan hatinya. Ya, setelah orang tua kita pontang-panting membiayai kita, apa lagi yang bisa kita berikan selain itu?

    Serem amat, Pak.
    Bagi yang sudah bekerja dan sedang mencari pekerjaan pun pasti tahu, nilai IPK dengan angka tertentu kerap dijadikan syarat minimal yang harus dipenuhi untuk melamar kerja di suatu perusahaan. Untuk itu, sekali lagi saya tidak katakan IPK itu tidak penting, yang tepat adalah IPK bukan segalanya. Intinya, cari kegiatan positif di luar kuliah, tapi kuliah juga jangan sampe cuma asal-asalan doang.

    Cari kegiatan positif di luar kuliah itu penting, tapi kuliah juga nggak boleh ngasal. Bagaimana menyeimbangkannya? Emang semudah itu?

    Pertanyaan seperti ini sering sekali menyelimuti pikiran saya dulu. Dulu saya sering menanyakan pertanyaan yang sama pada siapa saja yang saya anggap pantas untuk menjawabnya. Pada akkhirnya, seiring waktu, saya menemukan jawabannya sendiri dan dapat mengambil suatu pelajaran berharga.

    Saya sering menemukan, banyak mahasiswa yang berlagak idealis dan setuju bahwa IPK bukan segalanya, tetapi orangnya sendiri tidak pernah keliatan wajahnya di kelas. Ada pula mahasiswa yang juga berlagak idealis, tetapi kelewat "masa bodo" setiap kali UTS atau UAS mau datang. Lalu setelah itu, idealisnya menjadi layu ketika yang bersangkutan tidak lulus matakuliah penting karena masalah absensi atau nilainya memang tidak mencukupi. Maka, tergopoh-gopoh si mahasiswa menemui dosen, memohon-mohon minta keringanan hati. Jelas saja dosen yang bersangkutan tak bergeming, memang nilai yang harus didapat segitu adanya.

    Memang, terserah orang mau melakukan apa, terserah orang mau bagaimana menjalani hidupnya. Tetapi, jika memang yang ditanyakan adalah bagaimana cara menyeimbangkan tanggungjawab diluar kuliah dan tanggungjawab kuliah itu sendiri, jawaban yang saya dapat selama proses empat tahun perkuliahan saya adalah dengan melakukan yang terbaik.

    Jika kita berdagang sambil kuliah, maka kita tetap harus serius berdagang dan tetap serius juga mengikuti perkuliahan. Kalau kita serius berorganisasi, kita harus serius juga di bangku kuliah. UTS/UAS sudah dekat dan kita dikepung sekelumit jadwal kegiatan di luar kampus? Kita tetap harus serius mempersiapkan diri menghadapinya walaupun waktu yang ada sangat terbatas. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, tapi jangan bersikap masa bodo.

    Hal ini penting karena berkaitan langsung dengan tanggungjawab yang kita ambil. Kita memilih kuliah, maka jalankan tanggungjawab itu sebaik mungkin. Kita ambil juga kegiatan ekstra di luar kampus, maka harus bertanggungjawab juga di situ.

    Bukan apa-apa, saya selalu yakin, idealis bukan berarti kita harus meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Tugas kita di kampus itu kuliah, untuk itu kita harus menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita sebagaimana semestinya. Seidealis tokoh-tokoh hebat di Indonesia maupun dunia itu, tetap mereka adalah orang-orang pintar yang tidak buta ilmu, bukan orang-orang yang semata buta pada prinsip semu. Nah, jika kita sudah melakukan yang terbaik namun hasil yang didapat bukan seperti keinginan kita, maka itu adalah pelajaran berharga yang sesungguhnya. Idealis dan malas adalah dua hal yang sangat bertolak belakang.

    Ini yang nulis, dirinya sendiri gimana? Jangan-jangan waktu kuliah juga main doang, tidur doang, terus IPK-nya anjlok. Hayo?

    Syukurnya mindset bahwa IPK bukan segalanya sudah saya tanamkan jauh hari sebelum saya kuliah, bukan mindset yang datang kemarin sore. Namun, alhamdulillah, IPK saya bisa dikatakan lebih dari cukup sebagai syarat cumlaude. Saya katakan begitu karena saya termasuk yang gagal cumlaude dengan IPK yang cukup bagus.

    Saya gagal cumlaude karena sempat mengulang salah satu matakuliah. Waktu itu saya kaget bukan main ketika nilai yang keluar justru E. Padahal saya sudah belajar keras karena ini bukan matakuliah main-main, dan saya tahu nilai ujian saya di matakuliah tersebut layak diganjar B atau B+ (dari hasil ujian yang diumumkan dosen).

    Bayangkan, nilai E, sama saja seperti saya tidak pernah ikut matakuliah sama sekali, atau lembar jawaban di UTS dan UAS saya kosong melompong, atau kalau saya isi semua, jawaban saya ngaur ke planet jupiter. Akhirnya saya minta konfirmasi kepada dosen yang bersangkutan. Saya pun baru tahu kalau nilai E itu karena kesalahan saya sendiri: saya salah menghitung batas maksimal tidak hadir saya di matakuliah itu.

    Karena tidak cumlaude cuma gara-gara satu matakuliah, banyak teman yang mengatakan kalau saya pasti sangat kecewa berat. Jawaban saya? tidak sama sekali. Mengapa? Pertama, dengan mindset ini, cumlaude sudah pasti bukan tujuan utama saya. Target utama saya kuliah adalah mengambil pelajaran hidup sebanyak mungkin. Kedua, karena saya mengakui bahwa itu adalah kesalahan saya, saya merasa saya pantas mendapatkannya. Reaksi saya ketika diberi penjelasan oleh dosen tersebut pun biasa saja: legowo, menerima keputusan dan siap bertanggungjawab di semester depan. Saya tidak memohon-mohon apa pun pada dosen itu.

    Kebetulan, ada faktor lain. Kala itu saya memang harus cermat betul membagi waktu kuliah dan kegiatan di luar kampus, pasalnya saya cukup aktif terlibat di organisasi dan di waktu yang sama saya diamanahkan menjadi ketua salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus. Kala itu saya sedikit blunder membagi waktu.

    Sampai sini, saya jadi ingat apa yang dikatakan Rocky Gerung (seorang akademisi), bahwa ijazah cuma bukti kalau kita pernah sekolah, bukan bukti kalau kita pernah berpikir. 100% saya sepakat. Hanya saja saya tidak berani seekstrim beliau yang tidak mau mengambil ijazahnya. Saya tidak mau munafik karena saya tetap butuh ijazah dalam berbagai keperluan. Tetapi, sebagus apa pun nilai yang tertera di ijazah saya, tetap tidak cukup untuk mengukur "nilai" sebenarnya yang ada pada diri saya. Apalah arti selembar ijazah itu?


    Saya yakin betul, "nilai" yang ada pada diri saya hampir semuanya ditempah diluar kelas kuliah, dan itu sedikit banyaknya sangat saya rasakan manfaatnya sekarang ini. Melalui kegiatan diluar bangku kuliah saya belajar cara berkomunikasi yang baik, belajar kepemimpinan, belajar membagi waktu, belajar bersikap yang baik, tahu ini dan itu. Saya pun tidak lepas dari berbagai kekurangan selama proses "penempahan" diri di luar kuliah itu, tetapi bagi saya itu semua adalah pelajaran dan pengalaman paling berharga untuk diri saya.

    ***

    Menjelang akhir tulisan ini, izinkan saya membagikan sedikit kisah nyata dari apa yang telah dialami seorang teman seangkatan saya. Beliau ini, katakanlah bisa lulus kuliah tepat waktu sama seperti saya di bulan november tahun lalu. Beliau memiliki IPK yang sangat mentereng (lebih tinggi dari saya) dan peluang mendapatkan gelar cumlaude terbuka lebar. Malang tak dapat ditolak, ibunya menderita sakit serius, harus menjalani operasi dan dirawat cukup lama di rumah sakit.

    Akhirnya, beliau harus pintar membagi waktu, bergantian dengan ayahnya menjaga ibunya di rumah sakit, di tengah sibuk-sibuknya ia menyelesaikan skripsi. Sekedar informasi, untuk mendapatkan gelar cumlaude, selain tidak boleh ada matakuliah yang mengulang, satu syarat lainnya adalah harus lulus tidak lebih dari delapan semester. Syarat pertama sudah dipenuhi teman saya ini, tapi waktu yang tersedia untuk bisa wisuda di bulan november 2018 sudah sangat mepet. Jika lewat dari bulan itu, siap-siap wisuda di bulan februari 2019, dan itu artinya dia wisuda di semester ke sembilan, dan itu artinya juga tidak bisa cumlaude.

    Beliau berjuang sedemikian rupa, melakukan yang terbaik demi menjaga asa wisuda di bulan november tahun 2018. Ke sana ke mari dia, mondar-mandir kampus-rumah sakit, pontang-panting. Singkat cerita, diakhir deadline pengumpulan berkas wisuda, tiga huruf AAC dari dosen pembimbing tak kunjung didapat, dia tidak sempat mengumpulkan administrasi wisudanya. Ia legowo, cumlaude lepas begitu saja.

    Belum sampai disitu ujiannya. Sampailah waktu yang ditunggu, awal februari 2019 ia wisuda. Ibunya sudah membaik (walaupun belum sepenuhnya), sudah bisa dibawa pulang. Di gedung wisuda, ibunya hadir, duduk di deretan bangku belakang bersama orang tua lainnya. Dia lulus dengan IPK 3.77.

    Di waktu bersamaan, di panggung besar gedung akademik universitas, berpidato lah seorang wisudawan. Sudah menjadi keharusan, perwakilan wisudawan yang berpidato adalah wisudawan cumlaude dengan IPK tertinggi. Tentu saja wisudawan yang berpidato bukan teman saya. Wisudawan yang berpidato di depan adalah wisudawan dengan IPK 3.74, lebih rendah dari IPK teman saya yang gagal cumlaude.

    Apa yang mau saya sampaikan adalah, bahwa kita cuma ditugaskan untuk melakukan yang terbaik. Selebihnya, biarkan Tuhan bersama semesta menjalankan tugasnya. Kita tinggal memilah nantinya mana yang benar-benar harus kita korbankan, mana yang harus diprioritaskan, tak perduli itu membutuhkan sebuah pengorbanan. Teman saya itu, bisa saja cumlaude dan lulus tepat waktu jika ia menomorduakan ibunya. Yang dia pilih adalah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik. Tapi, tidak semua harus berlangsung seperti apa yang kita mau, bukan?

    Itulah kuliah, pelajaran hidup sesungguhnya bukan dari ilmu yang kita dapatkan di kelas, bukan dari tugas-tugas kuliah, bukan pula diukur dari IPK. Tapi pengalaman hidup di luar kelas itu lah proses pendewasaan diri dan pelajaran yang sebenarnya. Tugas kita, cari pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin, bijak dalam melihat cobaan yang datang pada diri kita.

    ***

    Tulisan ini refleksi diri. Saya tidak ingin hasil empat tahun perkuliahan saya dengan gampangnya diukur lewat selembar ijazah atau transkrip nilai yang bagi saya tidak seberapa itu. Dengan tulisan ini, saya tidak ingin masa perkuliahan saya lepas begitu saja tanpa ada pelajaran berharga yang dapat saya ambil.

    Oh, iya. Tidak ada maksud saya menyinggung atau merendahkan siapa pun: bukan berarti yang memiliki IPK tinggi tidak baik atau semacamnya, apalagi menganggap enteng yang memilih tidak kuliah. Niat saya cuma ingin berbagi sudut pandang soal dunia perkuliahan saja, bisa salah dan bisa benar. Semoga, baik yang akan kuliah maupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dari tulisan saya ini.

    Sumber gambar:
    • https://www.idntimes.com/life/education/rizky-jonathan-lumban-gaol/jangan-jadi-mahasiswa-pas-pasan-c1c2
    • https://www.inovasee.com/untuk-para-mahasiswa-pemuja-ipk-sadarlah-jika-itu-hanya-sekedar-angka-24967/
    • Twitter @rockygerung

    Yang Nyasar di Mari: