Senin, 28 Januari 2019

ASUS Zenfone Max M2: Smartphone Gaming yang Cocok untuk Aktivitas Sehari-hari

Jika gamers adalah sebutan untuk orang-orang yang main Mobile Legends atau PUBG, yang matanya kerap terpaku pada layar smartphone, yang jempolnya ke sana ke mari pencet tombol, maka dengan berat hati saya katakan saya bukan gamers. Game yang sering saya mainkan di smartphone paling cuma UFC dari EA Sports, atau kalau lagi bosen  saya main game catur yang banyak berserakan di Play Store. Game bagi saya cuma selingan ketika otak terlalu penat atau butuh refreshing sejenak. 

Hal ini jadinya berlaku pada kriteria smartphone yang saya butuhkan. Saya tidak terlalu tertarik pada smartphone-smartphone gaming yang sekarang makin banyak pilihannya. Biasanya, smartphone kriteria saya tidak muluk-muluk, cukup untuk aktivitas sehari-hari, punya RAM besar, baterai tahan lama, kamera bagus, tidak lelet buat selingan bermain game, dan harganya terjangkau (satu yang terakhir sudah pasti).


Namun, baru-baru ini ASUS meluncurkan sebuah smartphone gaming yang sukses menarik perhatian saya. Smartphone itu bernama ASUS Zenfone Max M2 ZB633KL, atau ASUS Zenfone Max M2. Bagi seorang gamers, mungkin nama smartphone ini lumayan familiar. Betapa tidak, Zenfone Max M2 ini adalah "adik kandung" dari smartphone gaming andalan ASUS yaitu Zenfone Max Pro M2. Namanya hanya beda di sebutan Pro saja.

Kalau Zenfone Max Pro M2 adalah smartphone gaming yang benar-benar diperuntukkan buat gamers sejati, maka sang adik Zenfone Max M2 adalah smartphone gaming yang cenderung lebih ramah buat non-gamers seperti saya ini. Mengapa? Sebab harganya sendiri lebih murah dari versi Pro-nya, serta spesifikasi yang disediakan oleh ASUS sangat cocok untuk aktivitas sehari-hari. Nggak percaya? mari simak di bawah ini:

Kapasitas Baterai 4000 mAh

Benar, di dalam Zenfone Max M2 ini tersimpan baterai li-polimer berkapasitas 4000 mAh. Dengan kapasitas sebesar itu, kita tidak perlu sebentar-bentar nge-charge smartphone atau repot-repot bawa powerbank setiap hendak keluar rumah. ASUS mengklaim stamina smartphone ini bisa bertahan dua hari walaupun terus digunakan, tentu sesuai situasi dan kondisi yang ada. Stamina smartphone ini sepertinya juga cocok buat yang berprofesi sebagai ojek online.

Desain Tipis dan Kokoh


Kapasitas baterai yang besar tidak membuat tampilan Zenfone Max M2 jadi lebih "gemuk". Smartphone ini memiliki tebal hanya 7.7 mm dengan tiga pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan gaya masing-masing. Body-nya yang berbahan metal juga menambah kesan premium pada smartphone ini. Zenfone Max M2 adalah smartphone gaming murah yang tidak murahan.

Layar 19:9 dengan Resolusi HD+ 


Zenfone Max M2 juga memiliki layar yang lebar dengan screen to body ratio sebesar 88 persen. Dengan layar sebesar itu serta resolusi HD+ yang disediakan oleh ASUS, streaming film, youtube, atau bermain game jadi lebih enjoy.

Android Oreo 8.0 dan Prosesor Qualcomm Snapdragon 632

Zenfone Max M2 sudah dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632 yang merupakan upgrade dari Snapdragon 625. Snapdragon 632 membuat smartphone ini lebih cepat 40 persen dari generasi sebelumnya serta performa yang lebih responsif tanpa mempengaruhi daya baterai. Main game jadi tetap lancar jaya tanpa takut smartphone panas atau baterai terkuras.

Tak hanya itu, smarthphone ini juga hadir dengan sistem operasi Android Oreo 8.0 yang menjadikannya lebih ringan dan efisien dalam mengkonsumsi RAM. Perpaduan sistem operasi dan prosesor ini benar-benar menunjang performa maksimal dari Zenfone Max M2.

Dual-Camera



Kamera adalah salah satu kriteria yang tidak dapat dipisahkan ketika kita ingin membeli smartphone. Walaupun kamera bukan fitur unggulan pada Zenfone Max M2 ini, namun kemampuan kamera yang disediakan bukan main-main. 

Zenfone Max M2 dilengkapi dengan kamera belakang ganda dengan resolusi 13 megapiksel dan kamera kedua dengan resolusi 2 megapiksel. Kombinasi dua kamera belakang ini menjadikan tangkapan potret jadi lebih tajam dan cepat, serta mendukung untuk pengambilan gambar potrait. Fitur lain pada kamera Zenfone Max M2 antara lain adalah Phase Detection Auto Focus yang otomatis menangkap fokus kamera.


Untuk swafoto pun tak kalah mumpuni, sudah dilengkapi kamera depan 8 megapiksel. Fitur yang ditawarkan untuk kamera depan benar-benar menarik dengan menyediakan fitur real time beautification yang secara langsung dapat menghilangkan jerawat hingga menyeimbangkan bentuk wajah. Wah, sepertinya ASUS juga menyasar kaum hawa untuk membeli smartphone gaming ini. Toh, cewek-cewek juga banyak yang main mobile game, bukan?

  Fitur Keren ASUS Zenfone Max M2 Lainnya


2 slot Sim Card 4G LTE dan 1 slot untuk MicroSD hingga 2TB


Tidak cuma fingerprint, membuka kunci layar juga bisa menggunakan sensor wajah

Dengan spesifikasi dan performa seperti ini, ASUS Zenfone Max M2 ZB633KL bukan hanya cocok buat para gamers saja, tetapi juga cocok buat non-gamers seperti saya yang membutuhkan smartphone untuk aktivitas sehari-hari. Selain itu, untuk sebuah smartphone gaming, harganya pun sangat terjangkau. Penasaran harganya berapa? 

Di situs resminya (klik di sini), ASUS ZenFone Max M2 ZB633KL ini dibandrol dengan harga Rp 2.299.000 untuk RAM 3GB dengan memori internal 32GB, dan untuk versi RAM 4GB dengan memori internal 64GB dibandrol Rp 2.699.000. Murah meriah sekali. Sepertinya saya harus nabung dari sekarang buat bawa pulang smartphone ini. 

Sumber gambar:
https://www.asus.com/id/Phone/ZenFone-Max-M2/

Spesifikasi Lengkap ASUS Zenfone Max M2

Model: ZenFone Max M2 (ZB633KL)
Display, Resolution: 6.3-inch HD+ (1520 x 720) All-screen display LED Backlit IPS LCD, Capacitive touch panel with 10-point multi-touch
SoC Processor: CPU Powerful 14nm Qualcomm Snapdragon 632 Octa Core Processor
GPU: Qualcomm® Adreno™ 506 GPU
Memory RAM / Storage
  • LPDDR4 3GB RAM, 32GB ROM
  • LPDDR4 4GB RAM, 64GB ROM
  • Supports up to 2TB MicroSD, 100GB Google Drive (free 1 year)
Camera System
  • Rear (main) Camera: 13 Megapixel with wide aperture f/1.8
  • Rear (wide) Camera: 2 Megapixel for bokeh mode
  • Front camera: 8MP, F2.0, 77.2 degree view angle with LED Flash
  • Camera feature: PixelMaster 4.0 camera mode: Beauty, Auto (with HDR features), Selfie Panorama, GIF Animation
  • AI Camera with 13 types AI Scene Detection
Wireless: WLAN 802.11 a/b/g/n, 2.4HGHz with Wi-Fi Driect / Bluetooth 4.2
Sensor: Rear fingerprint sensor (0.3 seconds unlock, supports 5 fingerprints), Accelerator, E-Compass, Proximity, Ambient Light Sensor, Gyroscope
SIM card and SD slot
  • Triple Slots: dual SIM, one MicroSD card
  • Slot 1: 2G/3G/4G Nano SIM Card
  • Slot 2: 2G/3G/4G Nano SIM Card
  • Slot 3: Supports up to 256GB MicroSD card
  • Both SIM card slots support 3G WCDMA / 4G LTE network band. But only one SIM card can connect to 4G LTE service at a time.
Network: FDD-LTE, TD-LTE, WCDMA, GSM
Data rate:DC-HSPA+ (DL/UL): 42/5.76 Mbps; LTE CAT 7 (DL/UL): 300/150 Mbps, 3CA support
GPS: GPS, AGPS, Glonass, BDS
OS: Pure Android 8.0 Oreo
Battery: 4.000mAh capacity
Audio / Microphone: 5-magnet speaker with NXP 9874 smart amplifier, Dual internal microphones with ASUS Noise Reduction Technology, FM Receiver
Size / Weight: 158 x 76 x 7.7mm / 160 grams
Color: Midnight Black, Space Blue, Meteor Silver

Kamis, 24 Januari 2019

Debat yang Membuat Suasana Makin Panas


Usai sudah Debat Calon Presiden (Capres) ronde pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan (17/01/2019) malam tadi. Belum bisa bernapas lega, sebab para pasangan calon (paslon) masih harus naik ring sebanyak empat ronde lagi. Debat ronde pertama ini bisa dijadikan patokan kita untuk menilai seberapa berpengaruhnya Debat Capres yang akan datang terhadap keputusan peserta Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 april mendatang.

Saya sendiri sempat menulis opini yang berjudul “Lika-liku Menuju Debat Pilpres”, yang dimuat di Harian Analisa pada tanggal 10/01/2019 kemarin. Di tulisan tersebut saya memberi tanggapan terkait berbagai polemik yang muncul sebelum debat berlangsung, termasuk soal bocoran pertanyaan yang sudah diberikan sejak awal.

Kekhawatiran saya terbukti, Debat Capres kemarin hanya menjadi panggung hafalan bagi para paslon. Moderator memang mengundi daftar pertanyaan dalam beberapa susunan amplop yang katanya dalam kondisi tersegel, namun segel tersebut sebenarnya tidak berguna karena para paslon selanjutnya hanya kembali pada kertas contekan yang sudah mereka siapkan masing-masing. Toh, siapa pula jadinya yang bakal mempermasalahkan segel amplop pertanyaan tersebut? Para paslon sudah punya susunan jawabannya.

Daripada itu, sudah punya modal contekan dari kisi-kisi yang diberikan, para paslon masih memberikan beberapa jawaban yang “jaka sembung”. Jawaban “jaka sembung” itu paling jelas pada saat masing-masing paslon melontarkan pertanyaan, dan itu dilakukan oleh masing-masing paslon. Bisa dipahami bagaimana ruwetnya lagi jawaban yang keluar dari kedua paslon bila bocoran soal panelis tidak diberikan.

Justru Membuat Suasana Semakin Panas

Semua berharap, Debat Capres seharusnya menjadi ajang penentu bagi para pemilih untuk memutuskan siapa Capres atau Cawapres pilihannya. Melalui Debat Capres, seharusnya para pemilih abu-abu atau yang tidak punya pilihan jadi punya pilihan, sebelumnya memilih paslon A jadi memilih paslon B, atau pemilih paslon B jadi memilih paslon A. Itu lah salah satu output yang harus dihasilkan dari debat ini.

Fakta yang saya dapatkan tidak demikian. Debat Capres yang lebih mirip panggung cerdas cermat anak sekolah ini saya yakini tidak akan merubah apapun. Terlihat, malam setelah debat usai, meme-meme yang lebih bersifat provokatif bertebaran di sosial media. Ada beberapa pakar dadakan yang mengomentari setiap suku kata yang keluar dari paslon, ada pula yang mengomentari setiap gerak-gerik hingga mimik muka paslon. Menyedihkannya, komentar-komentar tersebut lahir dari hawa nafsu para pendukung untuk mencari kesalahan paslon lawannya.

Akhirnya, yang terjadi adalah parade para pendukung paslon A yang mengejek perkataan paslon B dan para pendukung paslon B yang mengejek gerak-gerik paslon A. Tulisan-tulisan dari para pendukung kedua paslon pun tak kalah buasnya. Masing-masing menjunjung setiap suku kata yang keluar dari paslon yang ia dukung, dan sebaliknya menyerang setiap suku kata yang keluar dari paslon lawan. Bukannya semakin sejuk, suasana justru jadi semakin panas.

Dari sini, saya berani mengatakan bahwa debat babak pertama barusan hanya membuat cebong menjadi semakin menjadi cebong dan kampret yang semakin menjadi kampret. Tidak ada metamorfosis cebong yang menjadi kampret atau kampret yang menjadi cebong. Bahasa kerennya, harapan akan munculnya swing voters dari debat ini tidak tercapai.

Pemilih Harus Lebih Bijak

Sangat disayangkan, kelakuan pendukung garis keras dari kedua paslon ini justru membuat iklim politik semakin tidak sehat. Pendukung garis keras ini sudah mengajarkan masyarakat Indonesia untuk menjauhkan akal sehatnya dengan cara-cara yang tidak seharusnya: menyanjung penuh paslonnya dan sebaliknya membabi-buta menyerang paslon lawan. Hal-hal seperti ini yang secara nyata bisa membuat orang-orang semakin tidak tertarik pada proses politik.

Alih-alih berharap ada swing voters, orang-orang yang sudah punya pilihan bisa saja memutuskan untuk golput. Orang-orang yang sebelumnya masih abu-abu atau bingung justru semakin bingung dan ujung-ujungnya juga memilih golput. Berangkat dari hal ini, kemungkinan naiknya angka pemilih golput sangat besar, sebab diluar sana banyak yang lelah melihat perilaku para pendukung garis keras ini.

Saya sendiri, terlepas siapa pun pilihan saya, tetap mengakui bahwa tidak semua yang keluar dari mulut kedua paslon di debat itu harus diapresiasi, begitu juga saya bebas mengkritisi mereka tanpa terkecuali (bila memang patut dikritisi). Pun bilamana ada beberapa pernyataan salah satu paslon yang kita tidak sependapat, kita harus berbesar hati mengakuinya walaupun itu adalah paslon yang kita dukung, bukan sebaliknya menutup mata dari kekurangan paslon yang didukung dan menganggap kurang semua yang ada di paslon lawan.

Pada akhirnya, kita tidak perlu jadi pendukung garis keras. Kita hanya masyarakat biasa, bukan simpatisan partai dan bukan pula buzzer yang dibayar salah satu tim pemenangan. Bertikai hanya membuat kita menjadi motor politik mereka yang siap mereka panaskan kapan saja demi kepentingan mereka. Untuk itu, kita harus lebih bijak lagi, harus mengedepankan akal sehat dan harus semakin selektif. Tugas kita hanya memilih siapa yang pantas menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk lima tahun mendatang, tidak lebih dan tidak kurang. 



Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Harian Analisa, edisi senin tanggal 21 januari 2019, dapat dilihat juga di link ini berikut ini.
Opini saya yang terbit di surat kabar saya muat di blog hanya sebagai arsip pribadi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Salam damai dan keep writing.

Sumber gambar:

  • Style.tribunnews.com/2019/01/17/10-meme-cuitan-kocak-debat-capres-2019-maaruf-amin-paling-jadi-sorotan 
  • Dokumentasi pribadi

Selasa, 22 Januari 2019

Goresan Kata #1: Angin Sepi


Sumber: https://pixabay.com/en/photos/dandelion/













Angin Sepi

Pada angin yang suaraku dikoyak oleh ketakutan
Pada angin kuutarakan keganjilan
Terbawa ia dan ranting-ranting pohon pun mengering
Daun-daunnya jatuh menguning
Mimpiku sekarat dihujam terik
***
Pada angin yang gagal mengusir kerinduan
Pada angin yang jejak langkahku dihapusnya
Tatkala tapak kaki luka oleh pengharapan
Dan rumput yang kutemui diam-diam menangis
Di injak-injak sepi
Desember, 2018


IMAJI

Seorang lahir dari imajiku sebagai tokoh protagonis yang menyenangkan
Ia tak secantik atau seanggun putri pewaris kerajaan
Atau muncul dalam hikayat dongeng antah berantah
Sudi kau menjadi sosok nyata
Berkelebat khayal morat-marit tak tentu arah
Tersadar aku dari tidur malam itu
Arunika menerpa wajahku lewat celah dinding udara
November, 2018



Menunggu Ombak

Gulungan ombak kecil menghantam lembut semata kaki
Semilir angin sejuk menerpa kulit
Matahari perlahan menjorok ke barat
Sang gulungan meninggi
Menghempas tubuh yang berdiri tanpa permisi
Dan aroma asin menguap dari diri
Kaki kebas, gigi manja menggeretak
Hanya kedua tangan; senjata ampuh penghapus asa
Menyapu wajah lalu melipat kembali di atas dada
Menyiksa
Menunggu ombak menarikku bersamanya
2017-2018



Siswa Bergelar Maha#1

Jangan marah dulu
Aku tak sekedar basa-basi
Lalu ketahuan ia tak tahu kisah sejarah negeri
Terlebih tentang perjuangan tokoh dunia penggerak revolusi
Modalnya cuma orasi berlagak percaya diri
Tak lupa bersama omong kosong yang menggelitik
***
Aih, alih-alih idealis
Siswa bergelar maha gagap meraba kondisi publik
Idealisnya abu-abu, semu tak berisi
Lalu aku bertanya
Bagaimana kau wakili suara publik sedang literasi dikepalamu tak punya bilik?
Esok lusa ia sang pemimpin
Siapa yang sudi
November, 2018

Sumber gambar: http://harian.analisadaily.com/epaper/read/2019-01-16
Goresan Kata-kata ini telah dimuat di Rubrik Puisi Harian Analisa edisi Rabu, 16 Januari 2019 atau dapat dilihat di link:
Rubrik Puisi Harian Analisa



Selasa, 15 Januari 2019

Lika-liku Menuju Debat Pilpres



Semakin dekat menuju pesta demokrasi, semakin kental pula aura kompetisi antar kedua pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres). Pun sebelum hari H pada tanggal 17 april 2019 nanti, kedua pasangan harus melewati tahapan debat terlebih dahulu. Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tahap pertama akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini yaitu pada hari kamis tanggal 17 januari 2019 mendatang.

Dalam Debat Pilpres, KPU sejatinya hanya sebagai fasilitator. Debat Pilpres yang berkualitas akan membantu gagasan yang disampaikan kedua pasangan sampai ke telinga masyarakat dengan baik. Betapa tidak, gagasan-gagasan dalam debat itu yang nantinya akan menentukan pilihan publik. Tidak salah kalau sesi debat Capres dan Cawapres dianggap suatu yang sakral dalam tahapan Pilpres.

Sakralnya Debat Pilpres juga membuat KPU kalang-kabut meladeni keinginan kedua pasangan serta menjawab setiap komentar yang keluar dari mulut masyarakat. Belum apa-apa, sudah ada berbagai polemik yang muncul. Salah satu yang paling awal sekali yaitu soal tarik ulur siapa yang harus menyampaikan visi-misi di Debat Pilpres tahap pertama nanti.

Tim dari pasangan nomor urut 01 menginginkan visi-misi disampaikan olem Tim Sukses, sedangkan pasangan nomor urut 02 menginginkan visi-misi disampaikan langsung oleh kedua pasangan yang akan bertarung. Kedua tim pasangan bertahan dengan argumen masing-masing dan kesepakatan pun tidak ketemu. Akhirnya KPU mengambil jalan tengah dengan membatalkan penyampaian visi misi pada sesi debat dan memutuskan bahwa penyampaian visi-misi dilakukan sendiri-sendiri, begitu pun waktu dan tempat pelaksanaannya.

Belum habis, dicoretnya Bambang Widjojanto sebagai calon panelis untuk sesi debat pertama ini juga menimbulkan komentar yang menurut saya tidak perlu dipermasalahkan. Tim dari pasangan nomor urut 01 sudah menyampaikan keberatannya kepada KPU terkait nama Bambang Widjojanto yang dianggap sering menjadi tim pemenangan di beberapa Pilkada. KPU pun mencoret Bambang dari calon panelis debat dengan meminta kesepakatan juga kepada tim pasangan nomor urut 02, dan tim 02 menyetujuinya.

Dalam hal ini, menurut saya KPU sudah menjalankan tugasnya dengan baik. KPU tetap mengembalikan keputusan kepada kedua tim pasangan apa bila ada perangkat debat yang dianggap erat dengan afiliasi politik. Polemik penyampaian visi-misi dengan KPU yang mengambil jalan tengah juga bisa dijadikan pegangan bahwa KPU tidak berat sebelah seperti yang dikhawatirkan banyak pihak.

Bocoran Pertanyaan Sebelum Debat

Yang tak kalah hangat baru-baru ini adalah soal keputusan KPU yang akan menyerahkan terlebih dahulu daftar pertanyaan kepada kedua pasangan calon seminggu sebelum debat berlangsung. Nah, berbeda pada pandangan saya sebelumnya, keputusan KPU yang satu ini memang mengundang komentar miring.

Memang, setiap keputusan KPU yang menyangkut debat pilpres selalu didasarkan atas kesepakatan bersama antara KPU dan kedua pasangan calon itu sendiri. Namun, dalam hemat saya, memberikan daftar pertanyaan kepada kedua pasangan sebelum debat berlangsung dapat mengurangi kualitas dari debat itu.

Setiap elemen masyarakat yang begitu antusias menyaksikan ajang debat ini pasti sangat menunggu seperti apa kualitas berpikir dari kedua pasangan calon. Kualitas berpikir kedua pasangan calon akan terkandung dalam gagasan dan program yang mereka jual kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lima tahun ke depan. Diantara kualitas berpikir itu, menurut saya, termasuk pula di dalamnya adalah seberapa cepat dan tanggap kedua calon pemimpin dalam melihat sekaligus menjawab persoalan-persoalan yang ada di Indonesia saat ini. 

KPU sendiri mengambil keputusan tersebut dengan alasan agar debat nanti berjalan lebih substantif dan tidak keluar dari tema yang telah diberikan. Alasan tersebut menurut saya cukup bias, sebab persiapan untuk pemahaman dan penguasaan materi kedua pasangan calon sebenarnya sudah “dibocorkan” sejak awal pada tema besar debat tersebut, yaitu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme. Cukup menggelikan apa bila pertanyaan debat sekelas calon Presiden harus dibocorkan terlebih dahulu daftar pertanyaannya agar mereka bisa menjelaskan gagasannya dengan baik dan benar. Sekali lagi, saya mengatakan ini adalah debat calon Presiden di sebuah negara yang besar.

Membandingkan Debat di Tingkat Sekolah atau Perguruan Tinggi

Saya kira, keputusan ini sedikit banyak menyakiti perasaan generasi-generasi muda yang aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Saat pemilihan ketua eksekutif ataupun senat di tingkat perguruan tinggi, sepengetahuan saya, hampir semua sesi debat tidak membocoran daftar pertanyaan sebelum debat berlangsung, apa lagi diberi tempo waktu hingga seminggu. Pun hal ini lumrah dalam proses debat sekelas pemilihan Ketua OSIS di tingkat sekolah.

Sejak usia sekolah hingga perguruan tinggi, para calon pemimpin organisasi sudah dituntut pandai berbicara atau berorasi untuk menyampaikan gagasan dan ide-idenya, termasuk pula visi-misi. Kepiawaian dalam berorasi membuat para aktivis muda tidak hanya wajib pandai berbicara, melainkan juga harus cepat dan tanggap dalam menjawab hingga menjelaskan suatu topik. Dalam hal ini, ketangkasan berpikir cepat harus dikedepankan dari sekedar cuma pandai menghafal.     

Bila ada yang berargumen bahwa Debat Pilpres ini menyangkut keberlangsungan negara lima tahun ke depan dengan segala persoalannya, menurut saya juga sah-sah saja. Sudah barang tentu persoalan untuk memimpin sebuah negara jauh lebih kompleks dari sekedar memimpin organisasi tingkat kemahasiswaan.

Namun poin yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah bahwa kita sendiri telah dibiasakan berdemokrasi dalam organisasi sekolah sampai perguruan tinggi, yang mana sebagian besar juga menggunakan sistem debat terlebih dahulu sebelum prosesi pemilihan ketua organisasi terkait berlangsung.

Sistem KPU dalam menyelenggarakan debat Pilpres ini justru bertolak belakang dengan tatanan yang ada. Dan saya kira, tatanan pendidikan yang sudah dibiasakan sejak dini pasti mencermikan tujuan jangka panjang. Tidak elok rasanya tatanan tersebut berbalik arah ketika sudah pada tahap debat untuk memilih Calon Presiden.

Tentu di luar itu semua dari kita berharap Debat Pilpres tahap pertama pada tanggal 17 januari 2019 nanti berjalan dengan baik dan menghasilkan gagasan-gagasan yang berkualitas dari kedua pasangan calon. Semoga pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi mampu meyakinkan publik bahwa mereka benar-benar punya maksud baik serta niat tulus mengabdi untuk bangsa dan negara.



Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Harian Analisa, edisi kamis tanggal 10 januari 2019, dapat dilihat juga di link ini berikut ini.Opini saya yang terbit di surat kabar saya muat di blog hanya sebagai arsip pribadi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Salam damai dan keep writing.
Sumber gambar:

  • https://bisnis.tempo.co/read/1166467/prabowo-bicara-ekonomi-saat-debat-erick-thohir-tak-sesuai-tema
  • Dokumentasi pribadi

Sabtu, 12 Januari 2019

Eka Kurniawan diantara Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan O


Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara irnoik ia memberinya nama si Cantik.—Cantik itu Luka.

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi dalam perangkap, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan penghianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau dalam tubuhku”—Lelaki Harimau.

Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.—O.

Novel Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, O

Ada tiga novel karya Eka Kurniawan yang sudah saya baca. Masing-masing novel berjudul Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan O. Ketiga novel tersebut membuat saya cukup yakin menjadikan Eka Kurniawan sebagai salah satu penulis favorit saya—walaupun sang penulis mempunyai beberapa buku lain yang belum sempat saya baca.

Maka tiga penggalan tulisan di atas adalah sinopsis buku-buku Eka tersebut. Saya penasaran apa yang pertama kali terlintas dibenak kalian setelah membaca ketiga sinopsisnya? Unik, liar, atau justru brilian? Atau punya pendapat lain?

Bagi saya, unik, liar, dan brilian adalah yang paling tepat. Terkadang juga saya menilai buku-buku Eka yang sudah saya baca ini adalah pencampuran dari unik, liar, dan brilian itu sendiri, dan entah seperti apa saya harus mendefinisikannya lagi. Tentu saja pencampuradukkan antara kesemua ini akan kalian rasakan setelah merampungkan buku-buku di atas.

Eka Kurniawan. Sumber gambar: https://electricliterature.com/eka-kurniawan-on-indonesia-and-magical-realism-77cfbe2d2917

Siapa Eka Kurniawan?

Saya sendiri belum terlalu jauh mengenal penulis ini, sebab masih ada bukunya yang belum saya baca. Eka telah menulis beberapa novel dan kumpulan cerpen, dan kebetulan ketiga buku yang saya ceritakan ditulisan ini kesemuanya adalah novel. Yang saya tahu Eka seorang penulis yang berasal dari Tasikmalaya dan seorang alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

Tentang Cantik itu Luka, Lelaki Harimau, dan O

Novel Cantik Itu Luka

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.—Kalimat pembuka novel Cantik itu Luka, hal 1.

Cantik Itu Luka adalah novel pertama karangan Eka Kurniawan yang langsung menghentak dikalimat pembukanya. Cantik Itu Luka dibuka dengan adegan mengejutkan di mana Dewi Ayu, seorang perempuan blasteran Belanda-Indonesia bangkit dari kuburannya setelah dua puluh satu tahun kematian. Adegan pembuka yang horor ini menjanjikan kegetiran yang tidak biasa.

Dewi Ayu sendiri dikisahkan sebagai seorang pelacur paling cantik juga paling mahal di Halimunda. Ia tidur dengan banyak lelaki dari berbagai kalangan, para penduduk belanda, tentara jepang, hingga kalangan pejabat—Dewi Ayu akhirnya mempunyai tiga anak perempuan yang kesemuanya cantik, yang tidak diketahui siapa ayahnya.

Karena ketiga anak perempuannya cantik, banyak lelaki dari berbagai kalangan juga ingin menidurinya. Dewi Ayu kesal, sebab setelah dirinya, ketiga anak gadisnya jadi ikut terjerambab di kehidupan kelam yang sama. Ketika mengandung anak keempat (entah dari lelaki mana lagi), Dewi Ayu kemudian berharap anak itu lahir buruk rupa. Dewi Ayu pada akhirnya mati empat hari setelah melahirkan anak keempatnya yang ia beri nama Cantik. Ironisnya anak tersebut memang begitu buruk rupa. Kembali seperti adegan pembuka novel: setelah dua puluh satu tahun kematiannya, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya.

Pembukaan yang rada horor dan dipadukan dengan kehidupan masa penjajahan menambah kesan gelap dalam novel ini. Eka menggambarkan dengan jelas fase-fase kehidupan sosial masyarakat di Indonesia dari masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga awal setelah kemerdekaan. Tak salah juga kalau Cantik Itu Luka mempunyai alur yang monoton dan lamban. Namun dibalik lambannya alur novel ini, pembacanya dibuat jadi seperti benar-benar merasa hidup di masa kolonial, walaupun pada beberapa adegan kita sadar bahwa ada kengerian di dalam fantasi Eka Kurniawan.

Cantik Itu Luka memberikan gambaran tentang perubahan situasi politik setiap tahunnya. Antar fase perubahan situasi politik itu memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada kondisi kehidupan sosial masyarakatnya. Namun, dibalik itu Eka menyimpan suatu pesan bahwa ada yang tidak berubah, yaitu betapa semena-menanya perlakuan terhadap perempuan yang sudah ada sejak era penjajahan dahulu (mungkin sedikit banyak juga ditemukan hingga sekarang). Cantik Itu Luka penuh ironi.

Novel Lelaki Harimau

“Tanpa alasan apa pun, ia gila menggigit orang dengan cara ini,” kata Mayor Sadrah.—Lelaki Harimau, hal 22.

Lelaki Harimau adalah novel kedua yang ditulis Eka Kurniawan sekaligus novel pertamanya yang saya baca. Benar, saya mengenal Eka pertama sekali lewat Lelaki Harimau. Ketertarikan saya diawali dari sebuah berita yang mengatakan bahwa novel sastra karya penulis Indonesia yang berjudul Lelaki Harimau masuk dalam nominasi Man Booker Prize 2016, sebuah penghargaan buku bergengsi dari Inggris. Lelaki Harimau (yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris: Man Tiger) masuk bersama buku karangan penulis-penulis ternama dunia, termasuk diantaranya adalah Orhan Pamuk.

Ada kemiripan antara novel pertama Eka yang berjudul Cantik Itu Luka dengan novel keduanya yang berjudul Lelaki Harimau ini, yaitu sama-sama dibuka dengan sebuah adegan yang mengejutkan. Walaupun tidak seperti Cantik itu Luka yang sudah mengejutkan sejak kalimat pembuka, Lelaki Harimau mengejutkan dengan cara perlahan.

Hentakan di awal novel Lelaki Harimau ini ada pada kesadaran tokoh-tokohnya bahwa baru saja terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda bernama Margio, terhadap lelaki bernama Anwar Sadat. Pembunuhan itu dilakukan Margio dengan menggigit leher Anwar Sadat hingga putus. Setelah pembunuhan keji tersebut, Margio mengaku bahwa bukan dia yang membunuh Anwar Sadat, melainkan itu adalah perbuatan harimau yang ada di tubuhnya.

Lelaki Harimau kental dengan kondisi kehidupan sosial orang-orang pedesaan. Layaknya kondisi kehidupan di pedesaan yang orang-orangnya saling mengenal dengan baik, Margio maupun Anwar Sadat yang dikisahkan ini pun demikian.

“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau di dalam tubuhku.”—Lelaki Harimau, hal 38.

Selain itu, ada mitos-mitos yang secara khusus erat dengan kehidupan orang-orang di pedesaan kita yang ikut disisipkan. Di mana hal-hal berbau mistis (seperti pengakuan Margio yang memiliki harimau dalam tubuhnya) adalah sesuatu yang masih sering beredar dimasyarakat sampai sekarang. Di novel ini, harimau dalam tubuh Margio juga disebutkan beberapa kali berwarna putih seperti angsa, dan harimau ini secara tidak langsung disebut sebagai peninggalan dari kakeknya.

Hal yang membuat saya takjub dan mual disaat yang bersamaan adalah saat Eka menggambarkan adegan Margio yang menggigit leher Anwar Sadat dengan sangat detail. Pemilihan kata atau kalimat seperti “tercabik-cabik” atau “urat leher itu telah putus, menggelayut serupa kabel radio yang poranda” nyatanya mendatangkan sensasi mual yang berbeda dari sekedar menonton film yang menayangkan adegan yang sama, terlebih menyadari bahwa leher tersebut dicabik dengan cara digigit oleh gigi manusia normal sehingga membuat pembunuhan itu berlangsung “alot”.

Lelaki Harimau pada dasarnya menggambarkan sebuah kehidupan di keluarga yang benar-benar sedang tidak bahagia. Margio memiliki ayah yang suka berlaku kasar terhadap istri dan anaknya, serta ibu Margio yang selingkuh dengan majikannya. Kisah keluarga yang morat-marit ini selanjutnya membawa kita mencari tahu motif dibalik kejadian sesungguhnya atas pembunuhan yang dilakukan Margio.


Sebuah novel kriminal? Sepenuhnya bisa benar, sebab novel ini akan begerak mundur setelah adegan brutal Margio yang membunuh Anwar Sadat usai. Seluruh alur mundur novel ini akan membantu kita mencari tahu motif dibalik pembunuhan itu, mengupas kisah masing-masing tokohnya—yang disaat bersamaan kita akan mempelajari psikologis masing-masing tokoh.

Lelaki Harimau sendiri mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan dari dalam maupun luar negeri. Tidak heran kalau novel ini mendapat penghargaan di ajang buku sastra bergengsi dunia dan bisa dikatakan sebagai salah satu novel sastra terbaik yang ada di Indonesia.


Novel O

“Enggak gampang menjadi manusia,” pikir O, mengenang semua keributan itu.—O,   hal  1.

Novel karangan Eka Kurniawan yang berjudul cuma satu huruf ini adalah novel dengan pesan sosial yang paling kentara dari kedua novel sebelumnya yang sudah saya baca. Isinya erat dengan konflik sosial di masyarakat, tidak jauh-jauh dengan kesusahan orang-orang kecil menghadapi kehidupan.

Kalimat pembuka pada novel ini pun erat dengan tanda tanya: enggak gampang menjadi manusia. Kalimat pembuka itu membawa kita pada karakter bernama O, seekor monyet betina yang terobsesi menjadi seorang manusia. O ingin menjadi manusia agar bisa menikahi penyanyi dangdut bernama Entang Kosasih. Entang Kosasih sendiri adalah kaisar dangdut yang punya keinginan untuk terjun ke dunia politik. Untuk menjadi manusia dan bisa menikahi kaisar dangdut tersebut, O rela kerja sebagai topeng monyet. Ia sangat yakin, karena hanya ditopeng monyet para monyet-monyet diajarkan cara bertingkah laku seperti manusia, tak perduli walaupun terkadang O tidak diberi makan dan harus menerima perlakuan kasar dari manusia pemilik topeng monyetnya.

Di luar sinopsisnya yang singkat: tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut, novel ini nyatanya memiliki beberapa lapisan cerita. Setiap lapisan cerita memiliki tokoh dan konflik masing-masing yang pesannya secara jenius sangat berkaitan. Ada seekor anjing jalanan bernama Kirik, ada seekor burung Kakatua yang diajarkan majikannya berbicara dalam bahasa manusia. Selain tokoh-tokoh binatang tersebut juga banyak tokoh-tokoh manusia lainnya yang punya ceritanya masing-masing.

Konsep cerita dalam novel O ini sangat rumit, jika saya memposisikan diri saya sebagai seorang penulis yang sedang menyusun novel ini. Bayangan dalam pikiran saya itu langsung terjawab setelah saya mendapati fakta bahwa Eka Kurniawan menyusun novel ini selama delapan tahun lamanya. Saya cukup yakin bahwa delapan tahun itu terbayarkan dengan novel yang sarat pesan moral kehidupan ini.

***

Media-media luar negeri menyebut Eka Kurniawan sebagai salah satu penulis sastra kelas dunia. Novel Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa, setelah itu novel Lelaki Harimau membawa namanya disejajarkan dengan penulis sastra kelas dunia lainnya macam Orhan Pamuk dan Han Kang, beberapa kritikus sastra juga menyebut ia sebagai pengganti sepadan Pramoedya Ananta Toer. Eka Kurniawan mempertahankan estafet Indonesia dalam meramaikan panggung kesusastraan dunia.

Buku-buku Eka Kurniawan antara lain adalah Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), O (2016), kumpulan cerpen berjudul Corat Coret di Toilet (2002). Tentu saya tidak ragu mengeluarkan uang lagi untuk membaca beberapa buku Eka Kurniawan lainnya.






Jumat, 11 Januari 2019

"Lagu Lama" PSMS Medan


Mari sedikit bernostalgia ke era Liga Indonesia tahun 2007, di mana pada saat itu tim kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, PSMS Medan, berhasil menembus final Liga Indonesia dan berhadapan dengan sesama tim asal sumatera, Sriwijaya FC. Ketika itu, James Koko Lomell dan kawan-kawan yang diasuh pelatih Freddy Muli harus mengakui keunggulan Sriwijaya FC yang diasuh oleh pelatih Rahmad Darmawan dengan skor 1-3. Kebanggaan masyarakat pecinta sepakbola Medan dan Sumatera Utara secara khusus tetap tak luntur walau saat itu tim Ayam Kinantan hanya menjadi Runner up kompetisi. Ya, tahun 2007 PSMS medan adalah tim terbaik nomor dua di Liga Indonesia.

Setelah final Liga Indonesia tahun 2007, PSMS justru dihadapkan dengan masalah finansial untuk persiapan musim selanjutnya. Manajemen tak mampu membayar pemain-pemain yang saat itu sudah banyak berlabel Tim Nasional seperti Saktiawan Sinaga, Markus Horison, ataupun Mahyadi Pangabean. Alhasil, 95 persen skuad runner up liga Indonesia saat itu dibubarkan dan digantikan dengan pemain-pemain muda untuk mengarungi musim selanjutnya.

Selain harus menghadapi musim 2008/2009 dengan skuad baru dan pemain-pemain muda, PSMS pun harus menerima kenyataan pahit akibat regulasi standar stadion yang diperketat. Ayam Kinantan harus rela bermain di luar kandang alias menjadi tim musafir karena stadion Teladan saat itu sangat jauh dari layak. Problem keuangan, skuad muda, dan bermain sebagai tim musafir di kota orang membuat PSMS tak kuasa bersaing di liga dan harus turun kasta di musim selanjutnya.

Setelah berkutat cukup lama di kasta kedua, PSMS Medan sempat merasakan liga level tertinggi lagi pada musim 2011/2012. Dan lagi, akibat tak mampu menyusun skuad mumpuni yang dapat bersaing, Ayam Kinantan hanya mampu bertahan satu musim dan turun kasta kembali di musim selanjutnya.

“Lagu Lama” di Tubuh PSMS

Pada dasarnya, “lagu lama” adalah istilah untuk mengutarakan pendapat yang telah usang atau sudah sering dikatakan orang (sumber kbbi.kata.web.id). Sekarang ini istilah tersebut lazim juga diutarakan untuk menggambarkan suatu hal yang terus-menerus atau berulang kali terjadi. Seperti itulah gambaran kondisi di tubuh tim yang pembinanya adalah Gubernur Sumut ini. Kondisi finansial klub PSMS setelah final liga tahun 2007 masih tidak membaik hingga sekarang, yang kata orang Medan masih “megap-megap” alias pas-pasan.

Tahun 2018, PSMS kembali lagi ke liga kasta tertinggi di Indonesia yang saat ini sudah berganti nama menjadi Liga 1. Musim sebelumnya, skuad PSMS yang diasuh Djajang Nurjaman sudah susah payah menembus final Liga 2 demi mendapatkan tiket promosi naik kasta. Sayangnya, diakhir musim ini PSMS hanya menjadi juru kunci dan harus kembali lagi ke Liga 2 musim depan. Ayam Kinantan cuma numpang lewat di Liga 1.

Di sini lah letak “lagu lama” itu. Untuk mengarungi Liga 1 tahun 2018 ini, PSMS masih mengandalkan 90 persen pemain yang musim lalu berkompetisi di Liga 2. Pemain-pemain tersebut sebenarnya belum terlalu mampu bersaing di kompetisi level tertinggi di Indonesia. Artinya, lagi-lagi manajemen tak mampu membentuk skuad yang ideal untuk bisa bersaing di level tertinggi, dan hasilnya bisa dilihat di akhir musim ini: degradasi.

Pelatih yang berjasa membawa Ayam Kinantan promosi dari Liga 2 kemarin, Djajang Nurjaman, sejak awal musim sudah mengatakan bahwa target paling realistis PSMS musim ini adalah bertahan, tak perlu muluk-muluk memasang target dapat bersaing di papan atas. Walaupun Djanur (sapaan Djajang Nurjaman) dipecat dipertengahan musim oleh manajemen, namun pelatih penggantinya yaitu Peter Butler (asal Inggris) juga tak mampu menyelamatkan PSMS.

Cerita berbeda ada pada Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang yang merupakan sesama tim promosi di musim ini. Kedua tim ini justru dapat bertahan di Liga 1, di mana Persebaya nyaman di papan atas dan PSIS cukup nyaman di papan tengah. Persebaya sendiri punya kualitas pemain lokal yang baik sedangkan PSIS memanfaatkan kuota pemain asing sebaik-baiknya dengan mendatangkan pemain asing yang mumpuni. Di satu sisi, PSMS yang datang dengan mayoritas skuad Liga 2 dan kualitas pemain asing yang jauh dari ekspektasi, membuat tim ini hanya mengisi papan bawah sepanjang musim dan akhirnya menjadi satu-satunya tim promosi yang gagal bertahan.

“Lagu lama” bukan hanya soal kondisi finansial yang berdampak pada buruknya kualitas skuad PSMS. “Lagu lama” juga soal jajaran manajemen yang terus dikritik pecinta sepakbola Sumut karena dianggap tidak kompeten mengurus klub profesional dan nihil prestasi.

Rival PSMS di era perserikatan seperti Persib Bandung bisa dijadikan contoh bagaimana klub perserikatan bisa beradaptasi dengan perubahan iklim sepakbola modern yang sangat mengandalkan kesehatan finansial dan pandai mengelola bisnis sepakbola untuk menafkahi klubnya. Saat ini Persib merupakan salah satu klub dengan kondisi keuangan paling sehat di Indonesia. Tak usah heran mengapa klub tersebut setiap musimnya selalu dihuni pemain-pemain bintang.

Satu klub lagi yang bisa dijadikan contoh adalah Bali United. Klub asal Bali ini bisa dibilang baru di liga Indonesia. Namun jangan coba ejek mereka sebagi “anak bau kencur”,  sebab Bali United adalah contoh bagi semua klub di Indonesia bagaimana sistem pengelolaan klub yang modern dapat berjalan dengan sangat baik. Mereka punya fasilitas latihan yang bagus, kerap menjaga kualitas rumput stadion pada standar terbaik, serta membangun cafe di dalam stadion mereka demi memanjakan para pendukung klub tersebut. Hal tersebut berdampak pada keuangan klub yang sehat karena sponsor terus berdatangan bahkan menawarkan diri. Bandingkan dengan fasilitas latihan tim PSMS serta kualitas stadion Teladan saat ini? Jauh dari kata layak untuk sebuah klub profesional.

Revolusi Manajemen

Maka, tak ada kata lain selain revolusi habis-habisan. Manajemen PSMS saat ini tak perlu memaksakan diri untuk terus mengurus tim karena mereka memang terbukti tak mampu berbuat banyak. Mereka (manajemen) baru saja menyianyiakan kesempatan PSMS untuk dapat kembali membuktikan diri sebagai salah satu tim terbaik di Indonesia. Apa lagi, masih ada saja salah satu pengurus klub yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di sana dan nihil prestasi.  

PSMS harus diisi orang-orang baru yang lebih segar, yang mampu mengelola klub secara profesional, serta pandai membangun bisnis sepakbola yang modern sehingga keuangan klub berada pada kondisi yang baik, dan itu berdampak pada perbaikan kualitas pemain-pemain yang bermain di PSMS kedepannya. Manajemen PSMS tak boleh terus-terusan “kolot” dalam mengelola sebuah klub profesional.

Satu lagi, soal stadion Teladan. Stadion yang telah berdiri sejak tahun 50-an ini sudah waktunya “diistirahatkan” karena sudah sangat tidak layak menggelar pertandingan kandang PSMS. Sudah waktunya kota Medan sebagai kota nomor tiga terbesar di Indonesia memiliki stadion baru yang dapat menampung penonton lebih banyak serta memiliki standar nternasional. Yang tak boleh dilupakan pula, janji Gubsu ketika kampanye dulu soal ingin membangun stadion bertaraf internasional di Sumut harus terus ditagih. Seharusnya Gubsu masih ingat dan terus berusaha merealisasikannya karena beliau juga merupakan pembina PSMS Medan.

Terakhir, ucapan selamat patut diberikan kepada Persija Jakarta yang sukses menjuarai Liga 1 tahun ini. Mereka punya skuad yang layak untuk juara. Untuk PSMS Medan, sebaliknya harus mengucapkan selamat tinggal pada Liga 1 karena musim depan kembali ke Liga 2. Masalah di tubuh PSMS layaknya benang kusut, terkadang kembali terdegradasi membuat semua pihak sadar bahwa benang kusut tersebut harus segera diurai melalui perbaikan dan revolusi di tubuh manajemennya.



Opini saya di Harian Analisa, 17 Desember 2018
Tulisan ini adalah opini saya yang telah diterbitkan oleh Harian Analisa edisi Senin, 17 Desember 2018. Opini saya muat di blog ini sebagai arsip atau dokumentasi pribadi saya saja. Salam damai dan keep writing.Note: Opini dapat dilihat di web Harian Analisa: Analisa Daily
Sumber gambar:

  • https://www.bolasport.com/read/311352425/lawan-persija-psms-dilanda-dua-masalah
  • Dokumentasi Pribadi

Yang Nyasar di Mari: