Kamis, 24 Januari 2019

Debat yang Membuat Suasana Makin Panas


Usai sudah Debat Calon Presiden (Capres) ronde pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan (17/01/2019) malam tadi. Belum bisa bernapas lega, sebab para pasangan calon (paslon) masih harus naik ring sebanyak empat ronde lagi. Debat ronde pertama ini bisa dijadikan patokan kita untuk menilai seberapa berpengaruhnya Debat Capres yang akan datang terhadap keputusan peserta Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 april mendatang.

Saya sendiri sempat menulis opini yang berjudul “Lika-liku Menuju Debat Pilpres”, yang dimuat di Harian Analisa pada tanggal 10/01/2019 kemarin. Di tulisan tersebut saya memberi tanggapan terkait berbagai polemik yang muncul sebelum debat berlangsung, termasuk soal bocoran pertanyaan yang sudah diberikan sejak awal.

Kekhawatiran saya terbukti, Debat Capres kemarin hanya menjadi panggung hafalan bagi para paslon. Moderator memang mengundi daftar pertanyaan dalam beberapa susunan amplop yang katanya dalam kondisi tersegel, namun segel tersebut sebenarnya tidak berguna karena para paslon selanjutnya hanya kembali pada kertas contekan yang sudah mereka siapkan masing-masing. Toh, siapa pula jadinya yang bakal mempermasalahkan segel amplop pertanyaan tersebut? Para paslon sudah punya susunan jawabannya.

Daripada itu, sudah punya modal contekan dari kisi-kisi yang diberikan, para paslon masih memberikan beberapa jawaban yang “jaka sembung”. Jawaban “jaka sembung” itu paling jelas pada saat masing-masing paslon melontarkan pertanyaan, dan itu dilakukan oleh masing-masing paslon. Bisa dipahami bagaimana ruwetnya lagi jawaban yang keluar dari kedua paslon bila bocoran soal panelis tidak diberikan.

Justru Membuat Suasana Semakin Panas

Semua berharap, Debat Capres seharusnya menjadi ajang penentu bagi para pemilih untuk memutuskan siapa Capres atau Cawapres pilihannya. Melalui Debat Capres, seharusnya para pemilih abu-abu atau yang tidak punya pilihan jadi punya pilihan, sebelumnya memilih paslon A jadi memilih paslon B, atau pemilih paslon B jadi memilih paslon A. Itu lah salah satu output yang harus dihasilkan dari debat ini.

Fakta yang saya dapatkan tidak demikian. Debat Capres yang lebih mirip panggung cerdas cermat anak sekolah ini saya yakini tidak akan merubah apapun. Terlihat, malam setelah debat usai, meme-meme yang lebih bersifat provokatif bertebaran di sosial media. Ada beberapa pakar dadakan yang mengomentari setiap suku kata yang keluar dari paslon, ada pula yang mengomentari setiap gerak-gerik hingga mimik muka paslon. Menyedihkannya, komentar-komentar tersebut lahir dari hawa nafsu para pendukung untuk mencari kesalahan paslon lawannya.

Akhirnya, yang terjadi adalah parade para pendukung paslon A yang mengejek perkataan paslon B dan para pendukung paslon B yang mengejek gerak-gerik paslon A. Tulisan-tulisan dari para pendukung kedua paslon pun tak kalah buasnya. Masing-masing menjunjung setiap suku kata yang keluar dari paslon yang ia dukung, dan sebaliknya menyerang setiap suku kata yang keluar dari paslon lawan. Bukannya semakin sejuk, suasana justru jadi semakin panas.

Dari sini, saya berani mengatakan bahwa debat babak pertama barusan hanya membuat cebong menjadi semakin menjadi cebong dan kampret yang semakin menjadi kampret. Tidak ada metamorfosis cebong yang menjadi kampret atau kampret yang menjadi cebong. Bahasa kerennya, harapan akan munculnya swing voters dari debat ini tidak tercapai.

Pemilih Harus Lebih Bijak

Sangat disayangkan, kelakuan pendukung garis keras dari kedua paslon ini justru membuat iklim politik semakin tidak sehat. Pendukung garis keras ini sudah mengajarkan masyarakat Indonesia untuk menjauhkan akal sehatnya dengan cara-cara yang tidak seharusnya: menyanjung penuh paslonnya dan sebaliknya membabi-buta menyerang paslon lawan. Hal-hal seperti ini yang secara nyata bisa membuat orang-orang semakin tidak tertarik pada proses politik.

Alih-alih berharap ada swing voters, orang-orang yang sudah punya pilihan bisa saja memutuskan untuk golput. Orang-orang yang sebelumnya masih abu-abu atau bingung justru semakin bingung dan ujung-ujungnya juga memilih golput. Berangkat dari hal ini, kemungkinan naiknya angka pemilih golput sangat besar, sebab diluar sana banyak yang lelah melihat perilaku para pendukung garis keras ini.

Saya sendiri, terlepas siapa pun pilihan saya, tetap mengakui bahwa tidak semua yang keluar dari mulut kedua paslon di debat itu harus diapresiasi, begitu juga saya bebas mengkritisi mereka tanpa terkecuali (bila memang patut dikritisi). Pun bilamana ada beberapa pernyataan salah satu paslon yang kita tidak sependapat, kita harus berbesar hati mengakuinya walaupun itu adalah paslon yang kita dukung, bukan sebaliknya menutup mata dari kekurangan paslon yang didukung dan menganggap kurang semua yang ada di paslon lawan.

Pada akhirnya, kita tidak perlu jadi pendukung garis keras. Kita hanya masyarakat biasa, bukan simpatisan partai dan bukan pula buzzer yang dibayar salah satu tim pemenangan. Bertikai hanya membuat kita menjadi motor politik mereka yang siap mereka panaskan kapan saja demi kepentingan mereka. Untuk itu, kita harus lebih bijak lagi, harus mengedepankan akal sehat dan harus semakin selektif. Tugas kita hanya memilih siapa yang pantas menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk lima tahun mendatang, tidak lebih dan tidak kurang. 



Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Harian Analisa, edisi senin tanggal 21 januari 2019, dapat dilihat juga di link ini berikut ini.
Opini saya yang terbit di surat kabar saya muat di blog hanya sebagai arsip pribadi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Salam damai dan keep writing.

Sumber gambar:

  • Style.tribunnews.com/2019/01/17/10-meme-cuitan-kocak-debat-capres-2019-maaruf-amin-paling-jadi-sorotan 
  • Dokumentasi pribadi
Reaksi:

20 komentar:

  1. Penghinaan terhadap kelompok tertentu juga meningkat mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kita berharap hal-hal kayak gini bisa dihilangkan. Sayang pilpres cuma buat gaduh aja

      Hapus
  2. Sampai sekarang, aku belum paham kenapa harus ada contekan padahal sebelumnya hapir tidak ada dan mungkin tidak ada sama sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alasan dari KPU agar salah satu paslon tidak ada yang dipermalukan bang :')

      Hapus
  3. .... 🙄tapi kebanyakan yg terjadi adalah, pendukung tutup mata dan telinga untuk melihat kebenaran tentang capres pilihan mereka. Tapi aku nggak terlalu mau ikut-ikutan lah. Aku punya pengalaman pahit, didelet dari facebook beberapa teman. Kan status mereka muncul di timeline aku tuh... udah banyak komentarnya yang menyudutkan si temenku itu karena memang dari cara dia berbahasa menurutku kurang sopan, sampai bawa-bawa nama hewan... aku cuma komen.. sudah-sudah, jangan pada ribut. Ngebela capres gak usah sampe segitunya... kita semua kan teman... udah gitu doang. Aih sumpah gitu dowaaang... eh besoknya muncul notifikasi orang lain komenin status itu tapi aku ga bisa liat karena aku bukan temen lagi. Ya Allah😭

    Eh yu kno wat?
    Malem taun baru dia (temen yg delet aku di facebook) whatsapp aku dong minjem duwit....

    *bodo lah... ngemeng sama tembok sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukti nyata kalau pilpres bisa menghilangkan nalar berpikir orang-orang disekitar kita hahaha
      Jangan emosi to, mungkin aja malam taun baru dia perlu beli kuota buat add facebook kamu balik xD

      Hapus
  4. Pemimpin harus sering mengadakan lomba blog, supaya masyarakatnya sejahtera :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide yang bagus mas Bepe, supaya narablog2 lebih sejahtera lebih tepatnya..
      Sayang ya, jadi kepikiran, narablog mah kurang diperhatiin paslon dalam visi misinya, harusnya ada janji pemberdayaan narablog ya hahaha

      Hapus
  5. yups, sebagai pemilih memang wajib bijak, cermat, jangan terbawa arus provokasi , Berhati-hati pake medsos, banyak hoax wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali, hoax di mana-mana. Waspadalah, waspadalah

      Hapus
  6. Masyarakat kita memang unik, mereka mudah untuk ribut, namun setelah itu mereka berdamai lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa, benar-benar berhati lapang, selapang lapangan bola

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap saja, tidak ribut sama sekali tetap lebih baik hehehe

      Hapus
  7. Overall saya setuju dengan tulisan ini, tetapi kurang di paragraf terakhir. Buat saya sih sah-sah saja jadi pendukung garis keras atau pun jadi buzzer. Yang ga boleh itu mencela dan menyebarkan berita negatif, meski ia sudah jadi garis keras atau pun buzzer. Simaptisan garis keran dan buzzer harusnya ikut menaikkan nama yang didukungnya tanpa merendahkan apa lagi "membunuh" yang lain. Tugas kita bukan hanya memilih, tetapi mengawal capres-cawapres hingga nanti jadi, dan ketika sudah jadi kita pun mengawal mereka agar janji-janji ketika kampanye bisa terealisasi.

    Maaf.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh benar juga mas, emang saya terlalu "keras" menanggapi pendukung garis keras atau buzzer ini.
      Bagaimana tidak, semua yang saya temukan hampir cuma memuja-muji dukungannya dan menjelakkan lawan, walaupun tidak semua demikian. Ya, tetap saja seharusnya saya bisa tutup endingnya dengan lebih "halus" lagi. Maaf, kebawa kesal duluan hehe
      Terimakasih mas farid atas kritik dan masukannya

      Hapus
  8. Absolutely agree dengan pendapat mas, terutama tentang format debat yang kayak cerdas cermat anak sekolah. Semoga bisa jadi bahan evaluasi buat KPU nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas. KPU kemungkinan bakal evaluasi kok, utk format debat selanjutnya bakal beda katanya

      Hapus
  9. pendapatnya bener nih! saya setuju bro! tapi kalau urusan begituan gak terlalu mengikuti sih, soalnya pertama emang gk minat dan gak terlalu suka sama hal begituan

    mending bergumul dengan kata dan gambar :) ngerjain tugas dosen yang tak tau belas kasih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha jadi curhat soal tugas dosen nih. Emang begitu, mending stamina nya dihabiskan buat ngerjain tugas2 dosen yang super menyiksa itu, daripada habis buat ngikutin dunia politik tanah air yang semakin menjemukan hahaha

      Hapus
  10. Debat kemarin saya nggak tertarik nonton, jadi sayup-sayup dengerin suara televisi dari kamar sembari mengisi blog...hehe. Entahlah, ya seperti yang disebut di atas, meski disegel tapi ada contekannya gitu.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak seru kan jadinya krn pake contekan. Hmm semoga nanti lebih seru lagi ya, jadi calon pemilih pun jadi lebih bijak lagi menentukan pilihannya

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: