Eka Kurniawan diantara Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan O

By Irsyad Muhammad - 1/12/2019 02:41:00 PM


Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara irnoik ia memberinya nama si Cantik.—Cantik itu Luka.

Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi dalam perangkap, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan penghianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau dalam tubuhku”—Lelaki Harimau.

Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.—O.

Novel Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, O

Ada tiga novel karya Eka Kurniawan yang sudah saya baca. Masing-masing novel berjudul Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan O. Ketiga novel tersebut membuat saya cukup yakin menjadikan Eka Kurniawan sebagai salah satu penulis favorit saya—walaupun sang penulis mempunyai beberapa buku lain yang belum sempat saya baca.

Maka tiga penggalan tulisan di atas adalah sinopsis buku-buku Eka tersebut. Saya penasaran apa yang pertama kali terlintas dibenak kalian setelah membaca ketiga sinopsisnya? Unik, liar, atau justru brilian? Atau punya pendapat lain?

Bagi saya, unik, liar, dan brilian adalah yang paling tepat. Terkadang juga saya menilai buku-buku Eka yang sudah saya baca ini adalah pencampuran dari unik, liar, dan brilian itu sendiri, dan entah seperti apa saya harus mendefinisikannya lagi. Tentu saja pencampuradukkan antara kesemua ini akan kalian rasakan setelah merampungkan buku-buku di atas.

Eka Kurniawan. Sumber gambar: https://electricliterature.com/eka-kurniawan-on-indonesia-and-magical-realism-77cfbe2d2917

Siapa Eka Kurniawan?

Saya sendiri belum terlalu jauh mengenal penulis ini, sebab masih ada bukunya yang belum saya baca. Eka telah menulis beberapa novel dan kumpulan cerpen, dan kebetulan ketiga buku yang saya ceritakan ditulisan ini kesemuanya adalah novel. Yang saya tahu Eka seorang penulis yang berasal dari Tasikmalaya dan seorang alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

Tentang Cantik itu Luka, Lelaki Harimau, dan O

Novel Cantik Itu Luka

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.—Kalimat pembuka novel Cantik itu Luka, hal 1.

Cantik Itu Luka adalah novel pertama karangan Eka Kurniawan yang langsung menghentak dikalimat pembukanya. Cantik Itu Luka dibuka dengan adegan mengejutkan di mana Dewi Ayu, seorang perempuan blasteran Belanda-Indonesia bangkit dari kuburannya setelah dua puluh satu tahun kematian. Adegan pembuka yang horor ini menjanjikan kegetiran yang tidak biasa.

Dewi Ayu sendiri dikisahkan sebagai seorang pelacur paling cantik juga paling mahal di Halimunda. Ia tidur dengan banyak lelaki dari berbagai kalangan, para penduduk belanda, tentara jepang, hingga kalangan pejabat—Dewi Ayu akhirnya mempunyai tiga anak perempuan yang kesemuanya cantik, yang tidak diketahui siapa ayahnya.

Karena ketiga anak perempuannya cantik, banyak lelaki dari berbagai kalangan juga ingin menidurinya. Dewi Ayu kesal, sebab setelah dirinya, ketiga anak gadisnya jadi ikut terjerambab di kehidupan kelam yang sama. Ketika mengandung anak keempat (entah dari lelaki mana lagi), Dewi Ayu kemudian berharap anak itu lahir buruk rupa. Dewi Ayu pada akhirnya mati empat hari setelah melahirkan anak keempatnya yang ia beri nama Cantik. Ironisnya anak tersebut memang begitu buruk rupa. Kembali seperti adegan pembuka novel: setelah dua puluh satu tahun kematiannya, Dewi Ayu bangkit dari kuburannya.

Pembukaan yang rada horor dan dipadukan dengan kehidupan masa penjajahan menambah kesan gelap dalam novel ini. Eka menggambarkan dengan jelas fase-fase kehidupan sosial masyarakat di Indonesia dari masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga awal setelah kemerdekaan. Tak salah juga kalau Cantik Itu Luka mempunyai alur yang monoton dan lamban. Namun dibalik lambannya alur novel ini, pembacanya dibuat jadi seperti benar-benar merasa hidup di masa kolonial, walaupun pada beberapa adegan kita sadar bahwa ada kengerian di dalam fantasi Eka Kurniawan.

Cantik Itu Luka memberikan gambaran tentang perubahan situasi politik setiap tahunnya. Antar fase perubahan situasi politik itu memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada kondisi kehidupan sosial masyarakatnya. Namun, dibalik itu Eka menyimpan suatu pesan bahwa ada yang tidak berubah, yaitu betapa semena-menanya perlakuan terhadap perempuan yang sudah ada sejak era penjajahan dahulu (mungkin sedikit banyak juga ditemukan hingga sekarang). Cantik Itu Luka penuh ironi.

Novel Lelaki Harimau

“Tanpa alasan apa pun, ia gila menggigit orang dengan cara ini,” kata Mayor Sadrah.—Lelaki Harimau, hal 22.

Lelaki Harimau adalah novel kedua yang ditulis Eka Kurniawan sekaligus novel pertamanya yang saya baca. Benar, saya mengenal Eka pertama sekali lewat Lelaki Harimau. Ketertarikan saya diawali dari sebuah berita yang mengatakan bahwa novel sastra karya penulis Indonesia yang berjudul Lelaki Harimau masuk dalam nominasi Man Booker Prize 2016, sebuah penghargaan buku bergengsi dari Inggris. Lelaki Harimau (yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris: Man Tiger) masuk bersama buku karangan penulis-penulis ternama dunia, termasuk diantaranya adalah Orhan Pamuk.

Ada kemiripan antara novel pertama Eka yang berjudul Cantik Itu Luka dengan novel keduanya yang berjudul Lelaki Harimau ini, yaitu sama-sama dibuka dengan sebuah adegan yang mengejutkan. Walaupun tidak seperti Cantik itu Luka yang sudah mengejutkan sejak kalimat pembuka, Lelaki Harimau mengejutkan dengan cara perlahan.

Hentakan di awal novel Lelaki Harimau ini ada pada kesadaran tokoh-tokohnya bahwa baru saja terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda bernama Margio, terhadap lelaki bernama Anwar Sadat. Pembunuhan itu dilakukan Margio dengan menggigit leher Anwar Sadat hingga putus. Setelah pembunuhan keji tersebut, Margio mengaku bahwa bukan dia yang membunuh Anwar Sadat, melainkan itu adalah perbuatan harimau yang ada di tubuhnya.

Lelaki Harimau kental dengan kondisi kehidupan sosial orang-orang pedesaan. Layaknya kondisi kehidupan di pedesaan yang orang-orangnya saling mengenal dengan baik, Margio maupun Anwar Sadat yang dikisahkan ini pun demikian.

“Bukan aku,” kata Margio tenang dan tanpa dosa. “Ada harimau di dalam tubuhku.”—Lelaki Harimau, hal 38.

Selain itu, ada mitos-mitos yang secara khusus erat dengan kehidupan orang-orang di pedesaan kita yang ikut disisipkan. Di mana hal-hal berbau mistis (seperti pengakuan Margio yang memiliki harimau dalam tubuhnya) adalah sesuatu yang masih sering beredar dimasyarakat sampai sekarang. Di novel ini, harimau dalam tubuh Margio juga disebutkan beberapa kali berwarna putih seperti angsa, dan harimau ini secara tidak langsung disebut sebagai peninggalan dari kakeknya.

Hal yang membuat saya takjub dan mual disaat yang bersamaan adalah saat Eka menggambarkan adegan Margio yang menggigit leher Anwar Sadat dengan sangat detail. Pemilihan kata atau kalimat seperti “tercabik-cabik” atau “urat leher itu telah putus, menggelayut serupa kabel radio yang poranda” nyatanya mendatangkan sensasi mual yang berbeda dari sekedar menonton film yang menayangkan adegan yang sama, terlebih menyadari bahwa leher tersebut dicabik dengan cara digigit oleh gigi manusia normal sehingga membuat pembunuhan itu berlangsung “alot”.

Lelaki Harimau pada dasarnya menggambarkan sebuah kehidupan di keluarga yang benar-benar sedang tidak bahagia. Margio memiliki ayah yang suka berlaku kasar terhadap istri dan anaknya, serta ibu Margio yang selingkuh dengan majikannya. Kisah keluarga yang morat-marit ini selanjutnya membawa kita mencari tahu motif dibalik kejadian sesungguhnya atas pembunuhan yang dilakukan Margio.


Sebuah novel kriminal? Sepenuhnya bisa benar, sebab novel ini akan begerak mundur setelah adegan brutal Margio yang membunuh Anwar Sadat usai. Seluruh alur mundur novel ini akan membantu kita mencari tahu motif dibalik pembunuhan itu, mengupas kisah masing-masing tokohnya—yang disaat bersamaan kita akan mempelajari psikologis masing-masing tokoh.

Lelaki Harimau sendiri mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan dari dalam maupun luar negeri. Tidak heran kalau novel ini mendapat penghargaan di ajang buku sastra bergengsi dunia dan bisa dikatakan sebagai salah satu novel sastra terbaik yang ada di Indonesia.


Novel O

“Enggak gampang menjadi manusia,” pikir O, mengenang semua keributan itu.—O,   hal  1.

Novel karangan Eka Kurniawan yang berjudul cuma satu huruf ini adalah novel dengan pesan sosial yang paling kentara dari kedua novel sebelumnya yang sudah saya baca. Isinya erat dengan konflik sosial di masyarakat, tidak jauh-jauh dengan kesusahan orang-orang kecil menghadapi kehidupan.

Kalimat pembuka pada novel ini pun erat dengan tanda tanya: enggak gampang menjadi manusia. Kalimat pembuka itu membawa kita pada karakter bernama O, seekor monyet betina yang terobsesi menjadi seorang manusia. O ingin menjadi manusia agar bisa menikahi penyanyi dangdut bernama Entang Kosasih. Entang Kosasih sendiri adalah kaisar dangdut yang punya keinginan untuk terjun ke dunia politik. Untuk menjadi manusia dan bisa menikahi kaisar dangdut tersebut, O rela kerja sebagai topeng monyet. Ia sangat yakin, karena hanya ditopeng monyet para monyet-monyet diajarkan cara bertingkah laku seperti manusia, tak perduli walaupun terkadang O tidak diberi makan dan harus menerima perlakuan kasar dari manusia pemilik topeng monyetnya.

Di luar sinopsisnya yang singkat: tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut, novel ini nyatanya memiliki beberapa lapisan cerita. Setiap lapisan cerita memiliki tokoh dan konflik masing-masing yang pesannya secara jenius sangat berkaitan. Ada seekor anjing jalanan bernama Kirik, ada seekor burung Kakatua yang diajarkan majikannya berbicara dalam bahasa manusia. Selain tokoh-tokoh binatang tersebut juga banyak tokoh-tokoh manusia lainnya yang punya ceritanya masing-masing.

Konsep cerita dalam novel O ini sangat rumit, jika saya memposisikan diri saya sebagai seorang penulis yang sedang menyusun novel ini. Bayangan dalam pikiran saya itu langsung terjawab setelah saya mendapati fakta bahwa Eka Kurniawan menyusun novel ini selama delapan tahun lamanya. Saya cukup yakin bahwa delapan tahun itu terbayarkan dengan novel yang sarat pesan moral kehidupan ini.

***

Media-media luar negeri menyebut Eka Kurniawan sebagai salah satu penulis sastra kelas dunia. Novel Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa, setelah itu novel Lelaki Harimau membawa namanya disejajarkan dengan penulis sastra kelas dunia lainnya macam Orhan Pamuk dan Han Kang, beberapa kritikus sastra juga menyebut ia sebagai pengganti sepadan Pramoedya Ananta Toer. Eka Kurniawan mempertahankan estafet Indonesia dalam meramaikan panggung kesusastraan dunia.

Buku-buku Eka Kurniawan antara lain adalah Cantik itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), O (2016), kumpulan cerpen berjudul Corat Coret di Toilet (2002). Tentu saya tidak ragu mengeluarkan uang lagi untuk membaca beberapa buku Eka Kurniawan lainnya.






  • Share:

You Might Also Like

18 Comments

  1. Kalau saya baru baca yang Corat Coret di Toilet mas. Bukunya Mas Eka Kurniawan emang top.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya penasaran tuh sama yang corat coret di toilet, wajib masuk book list sih

      Hapus
  2. Tertarik sama yang '0'. Di Gramedia Sby ada gak ya.. wajib hunting :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasti ada dong, buku Eka Kurniawan udah tersebar di mana-mana kok mas :)

      Hapus
  3. wah semau belum pernah baca , agak penasaran juga dg karya eka ini

    BalasHapus
  4. Saya pernah lihat sosok Eka Kurniawan secara langsung di toko buku Ultimus kala saya masih kerja di Bandung. Mas Eka jadi narasumber bedah buku, lupa apa. Mungkin Cantik Itu Luka kala masih diterbitkan Bentang yang lama. Tahun 2004 , mungkin. Orangnya kurus kecil namun dia tampak disegani banyak orang.
    Satu hal lagi, karyanya memang layak disebut sastra karena dia mampu mengurai peristiwa dengan bahasa pilihan yang subtil. Menukik ke ruang terdalam pemikiran dan perasaan. Imajinasi liar yang dibalut dengan kecerdasan wawasan. Ada banyak pengetahuan yang dirangkum dan diurai.
    Saya belum baca bukunya. Cuma pernah baca cerpennya, juga esainya di koran atau majalah sastra "On/Off".
    Mas Irsyad sudah bagus dalam mengulas buku. Mampu memaparkan segi menarik. Saya kagum. Senang bisa bersua rekan penulis lain yang juga memahami pentingnya blog agar karya bisa lebih tersebar, dan meleluasakan diri dalam menulis lewat blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh keren mba pernah ketemu langsung Eka Kurniawan, kalau saya yg ketemu langsung kayaknya wajib bawa bukunya buat di ttd. hehe

      Bagi saya, rasanya sayang buku2 berkualitas yang sudah saya baca dilewatkan begitu saja, alangkah baiknya saya bagikan lewat review apa adanya. Saya mah belum bisa memaparkan buku lewat uraian2 tajam seperti mba, masih sering bingung saya buat ngungkapin apa yang saya rasakan tentang membaca buku itu.. Masih perlu belajar lagi nih

      Hapus
  5. Saya baru tahu nihh.... terimakasih yaa ulasan buku2nya, sepertinya menarik banget, apalagi kalau seorang filosofi yang nulis...keren!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba, jangan lupa beli yang belum saya baca jg ya, biar nanti bisa pinjem.. hehe

      Hapus
  6. Sayang sekali belum ada buku dari Eka Kurniawan yang aku baca. Kemarin sempat mau dipinjamkan sama salah satu Cafe, tapi aku yang ga mau karena pasti bakal balik ke Cafe itu dan lokasinya jauh. Mau cari aja di Gramedia.

    Dan setelah baca tulisan ini, aku malah mau ke Cantik itu Luka juga. Ulasannya menghipnotis untuk membacanya. Keren bang.

    Btw kan tinggal di dekat Tangkahan ya? Boleh dong bagi nomor kontak untuk sharing blog dan mana tau ke Tangkahan, aku bisa kabarin. Terima kasih bg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sila cuss bang ke gramed nya..
      Wahh itu udah lama kali bang waktu tinggal dekat tangkahan, sekarang udh di stabat.
      Sip, nanti aku kontak bang

      Hapus
  7. ulasan yang sangat bagus mas, Eka kurniawan memang top, dibuktikan dengan novel pertamanya yang langsung berkualitas masterpiece. Sepertinya bulan depan harus beli novelnya Eka nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren, mas. Langsung di plan bulan depan beli novel Eka nih

      Hapus
  8. Karya debutnya saja sudah brilian, ya. Enggak heran kalau langsung punya fans yang terus-terusan menanti karya barunya. Aset bangsa nih Mas Eka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, kita menunggu karya2 baru mas Eka yang bakal jadi masterpiece

      Hapus
  9. saya udah baca corat-coret di toilet,

    Eka kurniawan tulisanya emang bagus, salah satu penulis acuan saya selain Seno Gumira Ajidarma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya jg penasaran banget sama tulisan seno gumira ajidarma mas, mesti nabung nih

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.