Sekumpulan Sajak: Angin Sepi

By Irsyad Muhammad - 1/22/2019 12:43:00 PM


Sumber: https://pixabay.com/en/photos/dandelion/













Angin Sepi

Pada angin yang suaraku dikoyak oleh ketakutan
Pada angin kuutarakan keganjilan
Terbawa ia dan ranting-ranting pohon pun mengering
Daun-daunnya jatuh menguning
Mimpiku sekarat dihujam terik
***
Pada angin yang gagal mengusir kerinduan
Pada angin yang jejak langkahku dihapusnya
Tatkala tapak kaki luka oleh pengharapan
Dan rumput yang kutemui diam-diam menangis
Di injak-injak sepi
Desember, 2018


IMAJI

Seorang lahir dari imajiku sebagai tokoh protagonis yang menyenangkan
Ia tak secantik atau seanggun putri pewaris kerajaan
Atau muncul dalam hikayat dongeng antah berantah
Sudi kau menjadi sosok nyata
Berkelebat khayal morat-marit tak tentu arah
Tersadar aku dari tidur malam itu
Arunika menerpa wajahku lewat celah dinding udara
November, 2018



Menunggu Ombak

Gulungan ombak kecil menghantam lembut semata kaki
Semilir angin sejuk menerpa kulit
Matahari perlahan menjorok ke barat
Sang gulungan meninggi
Menghempas tubuh yang berdiri tanpa permisi
Dan aroma asin menguap dari diri
Kaki kebas, gigi manja menggeretak
Hanya kedua tangan; senjata ampuh penghapus asa
Menyapu wajah lalu melipat kembali di atas dada
Menyiksa
Menunggu ombak menarikku bersamanya
2017-2018



Siswa Bergelar Maha#1

Jangan marah dulu
Aku tak sekedar basa-basi
Lalu ketahuan ia tak tahu kisah sejarah negeri
Terlebih tentang perjuangan tokoh dunia penggerak revolusi
Modalnya cuma orasi berlagak percaya diri
Tak lupa bersama omong kosong yang menggelitik
***
Aih, alih-alih idealis
Siswa bergelar maha gagap meraba kondisi publik
Idealisnya abu-abu, semu tak berisi
Lalu aku bertanya
Bagaimana kau wakili suara publik sedang literasi dikepalamu tak punya bilik?
Esok lusa ia sang pemimpin
Siapa yang sudi
November, 2018

Sumber gambar: http://harian.analisadaily.com/epaper/read/2019-01-16
Goresan Kata-kata ini telah dimuat di Rubrik Puisi Harian Analisa edisi Rabu, 16 Januari 2019 atau dapat dilihat di link:
Rubrik Puisi Harian Analisa



  • Share:

You Might Also Like

9 Comments

  1. Keren ...
    Ternyata mas Irsyad punya bakat jadi pujangga.
    Karya puisinya bagus-bagus.
    Sukses, mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terimakasih banyak mas Hima. Sayang aja catetan2 lama nggak coba dipublish hahaha

      Hapus
  2. Wah sudah lama saya tidak mengirim tulisan ke Media. Baca puisi-puisi Mas Irsyad jadi kepingin nulis puisi lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku request gawe puisi soal mendoan purbalingga pak camat, hahaha

      Hapus
    2. Mari mas Broh kita bersyair ria hahaha

      Hapus
  3. Biasanya org yg syka puisi itu cenderung romantis yah 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau liat aslinya, kayaknya saya nggk ada potongan romantis2nya hahaha
      Nulis2 kayak gini seru aja mba, mulai dari pemilihan diksi, menyampaikan lewat metafor2 dan lainnya

      Hapus
  4. Siswa Bergelar Maha#1

    Dalem ya. Fenomena jaman sekarang sih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, itu sebenarnya saya potong dua bagian, nah yang diambil bagian keduanya. Ada bagian pertama yang nggk diambil redaksinya
      Beranjak dari keresahan sih liat fenomena sekarang

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.