Jumat, 11 Januari 2019

"Lagu Lama" PSMS Medan


Mari sedikit bernostalgia ke era Liga Indonesia tahun 2007, di mana pada saat itu tim kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, PSMS Medan, berhasil menembus final Liga Indonesia dan berhadapan dengan sesama tim asal sumatera, Sriwijaya FC. Ketika itu, James Koko Lomell dan kawan-kawan yang diasuh pelatih Freddy Muli harus mengakui keunggulan Sriwijaya FC yang diasuh oleh pelatih Rahmad Darmawan dengan skor 1-3. Kebanggaan masyarakat pecinta sepakbola Medan dan Sumatera Utara secara khusus tetap tak luntur walau saat itu tim Ayam Kinantan hanya menjadi Runner up kompetisi. Ya, tahun 2007 PSMS medan adalah tim terbaik nomor dua di Liga Indonesia.

Setelah final Liga Indonesia tahun 2007, PSMS justru dihadapkan dengan masalah finansial untuk persiapan musim selanjutnya. Manajemen tak mampu membayar pemain-pemain yang saat itu sudah banyak berlabel Tim Nasional seperti Saktiawan Sinaga, Markus Horison, ataupun Mahyadi Pangabean. Alhasil, 95 persen skuad runner up liga Indonesia saat itu dibubarkan dan digantikan dengan pemain-pemain muda untuk mengarungi musim selanjutnya.

Selain harus menghadapi musim 2008/2009 dengan skuad baru dan pemain-pemain muda, PSMS pun harus menerima kenyataan pahit akibat regulasi standar stadion yang diperketat. Ayam Kinantan harus rela bermain di luar kandang alias menjadi tim musafir karena stadion Teladan saat itu sangat jauh dari layak. Problem keuangan, skuad muda, dan bermain sebagai tim musafir di kota orang membuat PSMS tak kuasa bersaing di liga dan harus turun kasta di musim selanjutnya.

Setelah berkutat cukup lama di kasta kedua, PSMS Medan sempat merasakan liga level tertinggi lagi pada musim 2011/2012. Dan lagi, akibat tak mampu menyusun skuad mumpuni yang dapat bersaing, Ayam Kinantan hanya mampu bertahan satu musim dan turun kasta kembali di musim selanjutnya.

“Lagu Lama” di Tubuh PSMS

Pada dasarnya, “lagu lama” adalah istilah untuk mengutarakan pendapat yang telah usang atau sudah sering dikatakan orang (sumber kbbi.kata.web.id). Sekarang ini istilah tersebut lazim juga diutarakan untuk menggambarkan suatu hal yang terus-menerus atau berulang kali terjadi. Seperti itulah gambaran kondisi di tubuh tim yang pembinanya adalah Gubernur Sumut ini. Kondisi finansial klub PSMS setelah final liga tahun 2007 masih tidak membaik hingga sekarang, yang kata orang Medan masih “megap-megap” alias pas-pasan.

Tahun 2018, PSMS kembali lagi ke liga kasta tertinggi di Indonesia yang saat ini sudah berganti nama menjadi Liga 1. Musim sebelumnya, skuad PSMS yang diasuh Djajang Nurjaman sudah susah payah menembus final Liga 2 demi mendapatkan tiket promosi naik kasta. Sayangnya, diakhir musim ini PSMS hanya menjadi juru kunci dan harus kembali lagi ke Liga 2 musim depan. Ayam Kinantan cuma numpang lewat di Liga 1.

Di sini lah letak “lagu lama” itu. Untuk mengarungi Liga 1 tahun 2018 ini, PSMS masih mengandalkan 90 persen pemain yang musim lalu berkompetisi di Liga 2. Pemain-pemain tersebut sebenarnya belum terlalu mampu bersaing di kompetisi level tertinggi di Indonesia. Artinya, lagi-lagi manajemen tak mampu membentuk skuad yang ideal untuk bisa bersaing di level tertinggi, dan hasilnya bisa dilihat di akhir musim ini: degradasi.

Pelatih yang berjasa membawa Ayam Kinantan promosi dari Liga 2 kemarin, Djajang Nurjaman, sejak awal musim sudah mengatakan bahwa target paling realistis PSMS musim ini adalah bertahan, tak perlu muluk-muluk memasang target dapat bersaing di papan atas. Walaupun Djanur (sapaan Djajang Nurjaman) dipecat dipertengahan musim oleh manajemen, namun pelatih penggantinya yaitu Peter Butler (asal Inggris) juga tak mampu menyelamatkan PSMS.

Cerita berbeda ada pada Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang yang merupakan sesama tim promosi di musim ini. Kedua tim ini justru dapat bertahan di Liga 1, di mana Persebaya nyaman di papan atas dan PSIS cukup nyaman di papan tengah. Persebaya sendiri punya kualitas pemain lokal yang baik sedangkan PSIS memanfaatkan kuota pemain asing sebaik-baiknya dengan mendatangkan pemain asing yang mumpuni. Di satu sisi, PSMS yang datang dengan mayoritas skuad Liga 2 dan kualitas pemain asing yang jauh dari ekspektasi, membuat tim ini hanya mengisi papan bawah sepanjang musim dan akhirnya menjadi satu-satunya tim promosi yang gagal bertahan.

“Lagu lama” bukan hanya soal kondisi finansial yang berdampak pada buruknya kualitas skuad PSMS. “Lagu lama” juga soal jajaran manajemen yang terus dikritik pecinta sepakbola Sumut karena dianggap tidak kompeten mengurus klub profesional dan nihil prestasi.

Rival PSMS di era perserikatan seperti Persib Bandung bisa dijadikan contoh bagaimana klub perserikatan bisa beradaptasi dengan perubahan iklim sepakbola modern yang sangat mengandalkan kesehatan finansial dan pandai mengelola bisnis sepakbola untuk menafkahi klubnya. Saat ini Persib merupakan salah satu klub dengan kondisi keuangan paling sehat di Indonesia. Tak usah heran mengapa klub tersebut setiap musimnya selalu dihuni pemain-pemain bintang.

Satu klub lagi yang bisa dijadikan contoh adalah Bali United. Klub asal Bali ini bisa dibilang baru di liga Indonesia. Namun jangan coba ejek mereka sebagi “anak bau kencur”,  sebab Bali United adalah contoh bagi semua klub di Indonesia bagaimana sistem pengelolaan klub yang modern dapat berjalan dengan sangat baik. Mereka punya fasilitas latihan yang bagus, kerap menjaga kualitas rumput stadion pada standar terbaik, serta membangun cafe di dalam stadion mereka demi memanjakan para pendukung klub tersebut. Hal tersebut berdampak pada keuangan klub yang sehat karena sponsor terus berdatangan bahkan menawarkan diri. Bandingkan dengan fasilitas latihan tim PSMS serta kualitas stadion Teladan saat ini? Jauh dari kata layak untuk sebuah klub profesional.

Revolusi Manajemen

Maka, tak ada kata lain selain revolusi habis-habisan. Manajemen PSMS saat ini tak perlu memaksakan diri untuk terus mengurus tim karena mereka memang terbukti tak mampu berbuat banyak. Mereka (manajemen) baru saja menyianyiakan kesempatan PSMS untuk dapat kembali membuktikan diri sebagai salah satu tim terbaik di Indonesia. Apa lagi, masih ada saja salah satu pengurus klub yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di sana dan nihil prestasi.  

PSMS harus diisi orang-orang baru yang lebih segar, yang mampu mengelola klub secara profesional, serta pandai membangun bisnis sepakbola yang modern sehingga keuangan klub berada pada kondisi yang baik, dan itu berdampak pada perbaikan kualitas pemain-pemain yang bermain di PSMS kedepannya. Manajemen PSMS tak boleh terus-terusan “kolot” dalam mengelola sebuah klub profesional.

Satu lagi, soal stadion Teladan. Stadion yang telah berdiri sejak tahun 50-an ini sudah waktunya “diistirahatkan” karena sudah sangat tidak layak menggelar pertandingan kandang PSMS. Sudah waktunya kota Medan sebagai kota nomor tiga terbesar di Indonesia memiliki stadion baru yang dapat menampung penonton lebih banyak serta memiliki standar nternasional. Yang tak boleh dilupakan pula, janji Gubsu ketika kampanye dulu soal ingin membangun stadion bertaraf internasional di Sumut harus terus ditagih. Seharusnya Gubsu masih ingat dan terus berusaha merealisasikannya karena beliau juga merupakan pembina PSMS Medan.

Terakhir, ucapan selamat patut diberikan kepada Persija Jakarta yang sukses menjuarai Liga 1 tahun ini. Mereka punya skuad yang layak untuk juara. Untuk PSMS Medan, sebaliknya harus mengucapkan selamat tinggal pada Liga 1 karena musim depan kembali ke Liga 2. Masalah di tubuh PSMS layaknya benang kusut, terkadang kembali terdegradasi membuat semua pihak sadar bahwa benang kusut tersebut harus segera diurai melalui perbaikan dan revolusi di tubuh manajemennya.



Opini saya di Harian Analisa, 17 Desember 2018
Tulisan ini adalah opini saya yang telah diterbitkan oleh Harian Analisa edisi Senin, 17 Desember 2018. Opini saya muat di blog ini sebagai arsip atau dokumentasi pribadi saya saja. Salam damai dan keep writing.Note: Opini dapat dilihat di web Harian Analisa: Analisa Daily
Sumber gambar:

  • https://www.bolasport.com/read/311352425/lawan-persija-psms-dilanda-dua-masalah
  • Dokumentasi Pribadi
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: