Jumat, 01 Februari 2019

Mundurnya Edy dan Segudang Masalah PSSI


Edy Rahmayadi sudah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres PSSI di Bali tanggal 20/01/2019 kemarin. Otomatis, tonggak  kepemimpinan PSSI diserahkan kepada Joko Driyono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Wakil Ketua Umum baru selanjutnya diberi kepada Iwan Budianto.

Kita patut memberikan hormat kepada Edy Rahmayadi. Betapa tidak, sekelumit masalah dan tekanan tanpa henti didapatkan oleh orang yang juga punya jabatan politik sebagai Gubernur Sumut ini. Beliau hadir di PSSI dengan menanggung beban ekspektasi luar biasa dari para pecinta sepakbola nasional terkait dengan keringnya prestasi Tim Nasional kita. Tak kalah hebat, tekanan paling kuat adalah protes terkait posisinya yang merangkap jabatan politik. Beliau dianggap tidak akan bisa berkonsentrasi penuh dalam mengelola federasi sepakbola Indonesia.

Edy Rahmayadi menyerahkan jabatan Ketum PSSI kepada Joko Driyono

Kembali pada pengunduran diri Edy Rahmayadi pada Kongres PSSI di Bali. Pada Kongres tersebut ada Persib Bandung yang dikabarkan tidak setuju dengan keputusan mundurnya Edy Rahmayadi. Sikap Persib Bandung itu menjadi menarik karena pada Liga 1 musim 2018 lalu, Persib mengaku sebagai pihak yang paling dirugikan dari sanksi PSSI. Seperti yang diketahui, Persib sempat memimpin kelasmen Liga 1 tahun 2018 dengan jarak yang cukup jauh. Seiring waktu posisi kelasemen Persib jadi terperosok sejak diberikannya hukuman dari PSSI karena kasus kematian salah satu suporter Persija Jakarta di Stadion GBLA, Bandung.

Saat itu Persib dihukum menggelar pertandingan kandang di luar pulau Jawa dan tanpa penonton sampai akhir musim. Beberapa pemain kunci Persib (yang tidak ada hubungannya dengan kematian salah satu suporter) juga sampai dihukum larangan bermain lima kali. Tanpa harus menjadi suporter Persib dan tanpa menghilangkan respect serta belasungkawa kita pada almarhum yang menjadi korban, saya rasa banyak yang sepakat kalau hukuman yang diberikan kepada Persib terkesan berlebihan.

Hilangnya kepercayaan publik terhadap PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi semakin menjadi-jadi setelah Persija Jakarta perlahan merangkak naik ke posisi satu kelasemen setelah Persib Bandung “pincang” karena hukuman PSSI. Sebagai informasi, 80 persen saham Persjia Jakarta dimiliki oleh Joko Driyono yang saat itu menjabat sebagai Waketum—sekarang nama yang sama baru saja menjadi Ketum PSSI. Hasilnya, seperti yang kita tahu bahwa Persija menjadi juara Liga 1 tahun 2018. Mau diapakan pun, sulit rasanya menjaga kepercayaan publik terhadap sepakbola Indonesia jika terlalu banyak kecurigaan yang mencuat.

Manajer Persib, Umuh Muchtar, adalah orang yang sangat geram dengan hukuman PSSI kala itu dan termasuk orang yang sangat vokal mengkritik kebijakan PSSI. Pada Kongres PSSI di Bali, Umuh jadi berbalik arah dan menjadi salah satu dari tiga voters yang tidak setuju Edy Rahmayadi mundur sebagai Ketum. Menurut kabar, dua voters lain yang tidak setuju selain Persib adalah Persik Kediri dan Madura FC. Umuh Muchtar sebagai perwakilan voters dari Persib mengatakan kalau mengganti Ketum tidak akan menyelesaikan masalah yang ada.

Panas Isu Mafia Bola

Pasca mengundurkan dirinya, Edy Rahmayadi meninggalkan permasalahan serius, yaitu isu mafia bola. Berangkat dari tayangan talkshow di salah satu televisi swasta yang mengundang banyak pegiat sepakbola nasional, terungkap suatu jaringan mafia yang selama ini banyak mengatur jalannya pertandingan sampai mengatur skor akhir di kompetesi nasional. Dari situ isu mafia sepakbola tidak terhindar sebagai isu nasional.

Para mafia ini selanjutnya tidak cuma mengatur pertandingan dan skor akhir, tapi sampai mengatur siapa yang bakal promosi dan degredasi serta siapa yang bakal juara di setiap level kompetisi. Bahkan, isu mafia ini juga menyeret pertandingan internasional Timnas Indonesia sampai-sampai beberapa nama pemain Timnas ikut terbawa.


P$$I penuh mafia??

Sebelum semua pada saling tuduh dan semakin menjadi bola panas, Kapolri Tito Karnavian langsung membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola untuk mengungkap jaringan ini. Satgas bentukan Polri langsung bergerak cepat dan sudah menangkap banyak nama mulai dari pengurus klub, wasit, bahkan dari lingkungan PSSI sendiri. Adanya tersangka membuktikan bahwa mafia bola di Indonesia bukan isapan jempol belaka dan memang benar adanya.

Kecurigaan Pada Nama Joko Driyono dan Iwan Budianto

Joko Driyono dan Iwan Budianto yang baru resmi menjadi Ketum dan Waketum PSSI merupakan nama yang tidak asing lagi di dunia sepakbola nasional. Nama mereka berdua disebut-sebut sebagai pelaku utama dari adanya kasus pengaturan skor sepakbola di negeri ini.

Joko Driyono sendiri sudah sejak lama berada dalam lingkaran sepakbola Indonesia. Ia pernah menjadi manajer salah satu klub nasional, pernah punya beberapa jabatan di operator liga dan beberapa jabatan penting lain di PSSI. Pun Iwan Budianto yang erat dengan salah satu pengurus klub Arema FC, pernah menjadi manajer Timnas, serta pengurus PSSI saat ini.

Joko Driyono dan Iwan Budianto

Nama mereka berdua disinyalir erat dengan kasus mafia sepakbola. Rekam jejak mereka yang tidak pernah lepas dari urusan sepakbola nasional memang sejalan dengan minimnya prestasi sepakbola kita bersama segudang masalah yang tidak pernah terselesaikan. Nama  mereka berdua sudah terlanjur basah pada kecurigaan para pecinta sepakbola nasional.

Namun, tidak fair rasanya kalau kita langsung menuduh Joko Driyono dan Iwan Budianto sebelum Satgas yang dibentuk Polri mengeluarkan sikap dan pernyataannya. Kita harus membiarkan Satgas mengumpulkan bukti-bukti yang ada dan menunggu satu-persatu para tersangka ditangkap.

Kita bisa menurunkan tensi kecurigaan kita pada dua nama ini karena pada Kongres PSSI di Bali kemarin mereka bersama para voters telah menyetujui dibentuknya Ad Hoc Integritas PSSI. Melalui Ad Hoc tersebut, PSSI menyatakan kesiapannya bekerjasama dengan Satgas dari Polri untuk mengungkap kasus mafia bola di Indonesia. Semoga saja Ad Hoc PSSI dan Satgas Polri benar-benar bisa bekerja sama dan tidak sebaliknya justru menimbulkan polemik baru terkait tumpang tindih urusan sepakbola nasional.

Kita berharap Satgas Anti Mafia Bola bentukan Polri dapat sigap mengungkap kasus demi kasus pengaturan skor dan menangkap siapa saja yang terlibat di dalamnya tanpa pandang bulu. Semoga pula PSSI dengan Ketum dan Waketum barunya mau bekerja sama dengan Polri untuk mengungkap kasus mafia bola ini sampai ke akar-akarnya.

Mundurnya Edy Rahmayadi dari Ketum PSSI membuat saya senang sekaligus sedih. Senang karena sebagai warga Sumut, saya termasuk yang berharap Edy Rahmayadi tidak lagi merangkap jabatan agar beliau bisa fokus pada satu tugas saja. Sedih sebagai pecinta sepakbola nasional karena di tubuh PSSI sendiri nyatanya ada segudang masalah yang harusnya segera diselesaikan, yang merupakan akar dari keringnya prestasi sepakbola nasional selama ini. Isu-isu sepakbola yang tidak mengenakan ini benar-benar menyakiti perasaan banyak orang.

Perayaan Juara AFF Timnas U-16

Terlepas dari kontroversi yang timbul dari Edy Rahmayadi dan masalah yang menimpa sepakbola Indonesia selama beliau menjabat Ketum PSSI, harus diakui pada masa beliau lah Timnas U-16 juara Piala AFF dan untuk pertama kalinya para mafia pengatur skor bola berhasil ditangkap. Satgas tentunya akan kesulitan mengungkap kasus mafia bola jika PSSI dibawah kepemimpinannya kemarin tidak mau membuka diri. Untuk itu, ucapan terimakasih harus kita berikan kepada Edy Rahmayadi yang sudah berani “pasang badan” untuk sepakbola Indonesia selama ini. Tidak lupa, ucapan selamat patut juga kita berikan kepada beliau karena baru saja resmi bertugas sebagai Gubernur Sumut seutuhnya.

***


Opini ini sebelumnya telah dimuat di surat kabar Harian Analisa, edisi Jumat tanggal 25 januari 2019, dapat dilihat juga di link ini berikut ini. Opini saya yang terbit di surat kabar saya muat di blog hanya sebagai arsip pribadi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Salam damai dan keep writing.

Sumber gambar: 
  • https://bola.kompas.com/read/2019/01/20/14500008/ini-prioritas-joko-driyono-setelah-ganti-edy-jadi-ketua-umum-pssi
  • https://www.timesindonesia.co.id/read/136433/20161110/225942/pssi-akan-bersinergi-bersama-pemerintah-kembangkan-sepakbola/
  • https://lampungpro.com/post/17116/lima-orang-jadi-tersangka-mafia-bola-kasus-pengaturan-skor
  • https://bola.kompas.com/read/2018/08/13/10023528/usai-juara-piala-aff-u-16-pssi-akan-kawal-ketat-timnas-u-16
  • Dokumentasi pribadi




Reaksi:

8 komentar:

  1. Dr dl gak beres2 bosen.. Sy sih cm penikmat sepak bolanya aja.. Plg rajin mantengin tv kl dh pertandingan. Dn sk heboh sendiri 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sih selalu jadi pertanyaan.. kapan beresnya? hanya Tuhan yang tahu, hehe

      Hapus
  2. problema klasik dan karena ini pula saya yang dulunya fans sriwijaya FC akhirnya hanya menjadi fans Indonesia saja.

    Walau di liga lain hal ini juga terjadi, tapi mbok ya Indonesia ini kok sepertinya gak berujung ya? Juventus di serie A aja bisa selesai dengan cepat, lah Indonesia ini kok alot banget ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh ternyata ada mantan fans sriwijaya fc. saya sih fans psms medan mas, sampai sekarang masih makan hati dukung psms secara timnya masih morat marit sampe sekarang..
      Jelas alot lah, menurutku karena pengaturan skor ini udah mendarah daging, satgas pun mesti kerja keras bersihin semua

      Hapus
  3. 'memangnya apa urusan anda menanyakan itu?' -Edy Rahmayadi. kata bijak terbaik tahun 2018, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih banyak lagi kata-kata mutiara lainnya hahaha

      Hapus
  4. pak edy ini gubernur ku sih
    sekarang gubernur sumut bisa seterkenal ini
    kalo dulu dulu mana gini , sekrang banyak yg ngomongin , mending kalo yg di omongin baik kayak ridwan kamil yah kan ,,,
    ini ah sudah lah
    blunder mulu kalo di wanwancara

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.

Yang Nyasar di Mari: