Pelajaran Selepas Kuliah: IPK Bukan Segalanya, Tapi Tetap Lakukan yang Terbaik

By Irsyad Muhammad - 2/11/2019 10:55:00 PM

Sebagai mantan mahasiswa yang baru lulus pada bulan november tahun 2018 kemarin (sebutan kerennya pengangguran freshgraduate), saya ingin berbagi sedikit pelajaran yang saya dapatkan selama kurang lebih empat tahun masa perkuliahan saya. 

Kebetulan pula, bulan ini adalah bulan-bulan para pelajar setingkat SMA sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan proses seleksi masuk ke universitas, baik lewat undangan ataupun lewat ujian masuk. Saya berharap, pembaca yang sedang mempersiapkan diri menuju bangku kuliah ataupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari tulisan saya ini.

 *Tulisan ini murni opini saya pribadi, setuju atau tidak setuju adalah hal yang lumrah.
Seperti judulnya: IPK bukan segalanya. Singkat, padat dan jelas. Keyakinan ini sudah membatu di kepala saya, seperti sebuah mindset yang saya pegang sejak awal bahkan sebelum saya benar-benar menjadi mahasiswa. Selepas kuliah, saya mendapatkan pelajaran berharga dari mindset ini.


Saya meyakini bahwa kuliah bukan hanya sebatas pada ilmu yang disampaikan oleh dosen atau yang  sekedar tertulis pada buku teori. Kuliah bukan hanya sebatas pada tugas akhir atau skripsi yang dengan teganya telah mengambil siang dan malam kita.

Di luar kuliah dan mengejar IPK, sebetulnya, banyak sekali kegiatan positif yang dapat diambil. Itu lah yang menurut saya paling penting: kuliah adalah kesempatan besar untuk mengembangkan minat dan bakat kita diluar teoritis ilmu dari jurusan yang kita ambil. Kita dapat bergabung di dalam unit-unit kegiatan mahasiswa, bergabung di organisasi-organisasi, bisa mencari kerja sampingan untuk menambah penghasilan, bisa mencoba kuliah sambil berdagang, bisa coba ikut kelas-kelas sampingan yang dapat menambah pengetahuan atau skill baru, bisa ikut lomba-lomba baik lomba akademik maupun non-akademik untuk meramaikan portofolio diri, dan masih banyak lagi pilihan yang dapat dicoba. Percayalah, pelajaran yang paling terasa manfaatnya untuk diri sendiri selepas kuliah nanti sebagian besar karena kegiatan-kegiatan positif yang pernah kita lakukan diluar kuliah itu.

Berarti, IPK itu tidak penting, dong?

Saya tidak setuju juga. Menurut saya, IPK juga penting sebagai bukti bahwa orang tua kita tidak salah menyisihkan uangnya untuk membiayai kuliah kita. Artinya, IPK yang tinggi, seminimal mungkin bermanfaat untuk orang tua kita, setidaknya untuk menyenangkan hatinya. Ya, setelah orang tua kita pontang-panting membiayai kita, apa lagi yang bisa kita berikan selain itu?

Serem amat, Pak.
Bagi yang sudah bekerja dan sedang mencari pekerjaan pun pasti tahu, nilai IPK dengan angka tertentu kerap dijadikan syarat minimal yang harus dipenuhi untuk melamar kerja di suatu perusahaan. Untuk itu, sekali lagi saya tidak katakan IPK itu tidak penting, yang tepat adalah IPK bukan segalanya. Intinya, cari kegiatan positif di luar kuliah, tapi kuliah juga jangan sampe cuma asal-asalan doang.

Cari kegiatan positif di luar kuliah itu penting, tapi kuliah juga nggak boleh ngasal. Bagaimana menyeimbangkannya? Emang semudah itu?

Pertanyaan seperti ini sering sekali menyelimuti pikiran saya dulu. Dulu saya sering menanyakan pertanyaan yang sama pada siapa saja yang saya anggap pantas untuk menjawabnya. Pada akkhirnya, seiring waktu, saya menemukan jawabannya sendiri dan dapat mengambil suatu pelajaran berharga.

Saya sering menemukan, banyak mahasiswa yang berlagak idealis dan setuju bahwa IPK bukan segalanya, tetapi orangnya sendiri tidak pernah keliatan wajahnya di kelas. Ada pula mahasiswa yang juga berlagak idealis, tetapi kelewat "masa bodo" setiap kali UTS atau UAS mau datang. Lalu setelah itu, idealisnya menjadi layu ketika yang bersangkutan tidak lulus matakuliah penting karena masalah absensi atau nilainya memang tidak mencukupi. Maka, tergopoh-gopoh si mahasiswa menemui dosen, memohon-mohon minta keringanan hati. Jelas saja dosen yang bersangkutan tak bergeming, memang nilai yang harus didapat segitu adanya.

Memang, terserah orang mau melakukan apa, terserah orang mau bagaimana menjalani hidupnya. Tetapi, jika memang yang ditanyakan adalah bagaimana cara menyeimbangkan tanggungjawab diluar kuliah dan tanggungjawab kuliah itu sendiri, jawaban yang saya dapat selama proses empat tahun perkuliahan saya adalah dengan melakukan yang terbaik.

Jika kita berdagang sambil kuliah, maka kita tetap harus serius berdagang dan tetap serius juga mengikuti perkuliahan. Kalau kita serius berorganisasi, kita harus serius juga di bangku kuliah. UTS/UAS sudah dekat dan kita dikepung sekelumit jadwal kegiatan di luar kampus? Kita tetap harus serius mempersiapkan diri menghadapinya walaupun waktu yang ada sangat terbatas. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, tapi jangan bersikap masa bodo.

Hal ini penting karena berkaitan langsung dengan tanggungjawab yang kita ambil. Kita memilih kuliah, maka jalankan tanggungjawab itu sebaik mungkin. Kita ambil juga kegiatan ekstra di luar kampus, maka harus bertanggungjawab juga di situ.

Bukan apa-apa, saya selalu yakin, idealis bukan berarti kita harus meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Tugas kita di kampus itu kuliah, untuk itu kita harus menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita sebagaimana semestinya. Seidealis tokoh-tokoh hebat di Indonesia maupun dunia itu, tetap mereka adalah orang-orang pintar yang tidak buta ilmu, bukan orang-orang yang semata buta pada prinsip semu. Nah, jika kita sudah melakukan yang terbaik namun hasil yang didapat bukan seperti keinginan kita, maka itu adalah pelajaran berharga yang sesungguhnya. Idealis dan malas adalah dua hal yang sangat bertolak belakang.

Ini yang nulis, dirinya sendiri gimana? Jangan-jangan waktu kuliah juga main doang, tidur doang, terus IPK-nya anjlok. Hayo?

Syukurnya mindset bahwa IPK bukan segalanya sudah saya tanamkan jauh hari sebelum saya kuliah, bukan mindset yang datang kemarin sore. Namun, alhamdulillah, IPK saya bisa dikatakan lebih dari cukup sebagai syarat cumlaude. Saya katakan begitu karena saya termasuk yang gagal cumlaude dengan IPK yang cukup bagus.

Saya gagal cumlaude karena sempat mengulang salah satu matakuliah. Waktu itu saya kaget bukan main ketika nilai yang keluar justru E. Padahal saya sudah belajar keras karena ini bukan matakuliah main-main, dan saya tahu nilai ujian saya di matakuliah tersebut layak diganjar B atau B+ (dari hasil ujian yang diumumkan dosen).

Bayangkan, nilai E, sama saja seperti saya tidak pernah ikut matakuliah sama sekali, atau lembar jawaban di UTS dan UAS saya kosong melompong, atau kalau saya isi semua, jawaban saya ngaur ke planet jupiter. Akhirnya saya minta konfirmasi kepada dosen yang bersangkutan. Saya pun baru tahu kalau nilai E itu karena kesalahan saya sendiri: saya salah menghitung batas maksimal tidak hadir saya di matakuliah itu.

Karena tidak cumlaude cuma gara-gara satu matakuliah, banyak teman yang mengatakan kalau saya pasti sangat kecewa berat. Jawaban saya? tidak sama sekali. Mengapa? Pertama, dengan mindset ini, cumlaude sudah pasti bukan tujuan utama saya. Target utama saya kuliah adalah mengambil pelajaran hidup sebanyak mungkin. Kedua, karena saya mengakui bahwa itu adalah kesalahan saya, saya merasa saya pantas mendapatkannya. Reaksi saya ketika diberi penjelasan oleh dosen tersebut pun biasa saja: legowo, menerima keputusan dan siap bertanggungjawab di semester depan. Saya tidak memohon-mohon apa pun pada dosen itu.

Kebetulan, ada faktor lain. Kala itu saya memang harus cermat betul membagi waktu kuliah dan kegiatan di luar kampus, pasalnya saya cukup aktif terlibat di organisasi dan di waktu yang sama saya diamanahkan menjadi ketua salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus. Kala itu saya sedikit blunder membagi waktu.

Sampai sini, saya jadi ingat apa yang dikatakan Rocky Gerung (seorang akademisi), bahwa ijazah cuma bukti kalau kita pernah sekolah, bukan bukti kalau kita pernah berpikir. 100% saya sepakat. Hanya saja saya tidak berani seekstrim beliau yang tidak mau mengambil ijazahnya. Saya tidak mau munafik karena saya tetap butuh ijazah dalam berbagai keperluan. Tetapi, sebagus apa pun nilai yang tertera di ijazah saya, tetap tidak cukup untuk mengukur "nilai" sebenarnya yang ada pada diri saya. Apalah arti selembar ijazah itu?


Saya yakin betul, "nilai" yang ada pada diri saya hampir semuanya ditempah diluar kelas kuliah, dan itu sedikit banyaknya sangat saya rasakan manfaatnya sekarang ini. Melalui kegiatan diluar bangku kuliah saya belajar cara berkomunikasi yang baik, belajar kepemimpinan, belajar membagi waktu, belajar bersikap yang baik, tahu ini dan itu. Saya pun tidak lepas dari berbagai kekurangan selama proses "penempahan" diri di luar kuliah itu, tetapi bagi saya itu semua adalah pelajaran dan pengalaman paling berharga untuk diri saya.

***

Menjelang akhir tulisan ini, izinkan saya membagikan sedikit kisah nyata dari apa yang telah dialami seorang teman seangkatan saya. Beliau ini, katakanlah bisa lulus kuliah tepat waktu sama seperti saya di bulan november tahun lalu. Beliau memiliki IPK yang sangat mentereng (lebih tinggi dari saya) dan peluang mendapatkan gelar cumlaude terbuka lebar. Malang tak dapat ditolak, ibunya menderita sakit serius, harus menjalani operasi dan dirawat cukup lama di rumah sakit.

Akhirnya, beliau harus pintar membagi waktu, bergantian dengan ayahnya menjaga ibunya di rumah sakit, di tengah sibuk-sibuknya ia menyelesaikan skripsi. Sekedar informasi, untuk mendapatkan gelar cumlaude, selain tidak boleh ada matakuliah yang mengulang, satu syarat lainnya adalah harus lulus tidak lebih dari delapan semester. Syarat pertama sudah dipenuhi teman saya ini, tapi waktu yang tersedia untuk bisa wisuda di bulan november 2018 sudah sangat mepet. Jika lewat dari bulan itu, siap-siap wisuda di bulan februari 2019, dan itu artinya dia wisuda di semester ke sembilan, dan itu artinya juga tidak bisa cumlaude.

Beliau berjuang sedemikian rupa, melakukan yang terbaik demi menjaga asa wisuda di bulan november tahun 2018. Ke sana ke mari dia, mondar-mandir kampus-rumah sakit, pontang-panting. Singkat cerita, diakhir deadline pengumpulan berkas wisuda, tiga huruf AAC dari dosen pembimbing tak kunjung didapat, dia tidak sempat mengumpulkan administrasi wisudanya. Ia legowo, cumlaude lepas begitu saja.

Belum sampai disitu ujiannya. Sampailah waktu yang ditunggu, awal februari 2019 ia wisuda. Ibunya sudah membaik (walaupun belum sepenuhnya), sudah bisa dibawa pulang. Di gedung wisuda, ibunya hadir, duduk di deretan bangku belakang bersama orang tua lainnya. Dia lulus dengan IPK 3.77.

Di waktu bersamaan, di panggung besar gedung akademik universitas, berpidato lah seorang wisudawan. Sudah menjadi keharusan, perwakilan wisudawan yang berpidato adalah wisudawan cumlaude dengan IPK tertinggi. Tentu saja wisudawan yang berpidato bukan teman saya. Wisudawan yang berpidato di depan adalah wisudawan dengan IPK 3.74, lebih rendah dari IPK teman saya yang gagal cumlaude.

Apa yang mau saya sampaikan adalah, bahwa kita cuma ditugaskan untuk melakukan yang terbaik. Selebihnya, biarkan Tuhan bersama semesta menjalankan tugasnya. Kita tinggal memilah nantinya mana yang benar-benar harus kita korbankan, mana yang harus diprioritaskan, tak perduli itu membutuhkan sebuah pengorbanan. Teman saya itu, bisa saja cumlaude dan lulus tepat waktu jika ia menomorduakan ibunya. Yang dia pilih adalah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik. Tapi, tidak semua harus berlangsung seperti apa yang kita mau, bukan?

Itulah kuliah, pelajaran hidup sesungguhnya bukan dari ilmu yang kita dapatkan di kelas, bukan dari tugas-tugas kuliah, bukan pula diukur dari IPK. Tapi pengalaman hidup di luar kelas itu lah proses pendewasaan diri dan pelajaran yang sebenarnya. Tugas kita, cari pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin, bijak dalam melihat cobaan yang datang pada diri kita.

***

Tulisan ini refleksi diri. Saya tidak ingin hasil empat tahun perkuliahan saya dengan gampangnya diukur lewat selembar ijazah atau transkrip nilai yang bagi saya tidak seberapa itu. Dengan tulisan ini, saya tidak ingin masa perkuliahan saya lepas begitu saja tanpa ada pelajaran berharga yang dapat saya ambil.

Oh, iya. Tidak ada maksud saya menyinggung atau merendahkan siapa pun: bukan berarti yang memiliki IPK tinggi tidak baik atau semacamnya, apalagi menganggap enteng yang memilih tidak kuliah. Niat saya cuma ingin berbagi sudut pandang soal dunia perkuliahan saja, bisa salah dan bisa benar. Semoga, baik yang akan kuliah maupun yang sedang kuliah dapat mengambil pelajaran dari tulisan saya ini.

Sumber gambar:
  • https://www.idntimes.com/life/education/rizky-jonathan-lumban-gaol/jangan-jadi-mahasiswa-pas-pasan-c1c2
  • https://www.inovasee.com/untuk-para-mahasiswa-pemuja-ipk-sadarlah-jika-itu-hanya-sekedar-angka-24967/
  • Twitter @rockygerung

  • Share:

You Might Also Like

24 Comments

  1. Aku setuju banget sama yang ditulis. Tapi faktanya masih banyak perusahaan dan juga lembaga pemberi beasiswa yang menggunakan IPK sebagai syaratnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kebanyakan perusahaan pasti juga punya standar sendiri, tp itu cuma sebagai syarat administrasi doang. Jadi, kalau yg mau kerja kantoran sih, pasti IPK patut dipertimbangkan. Kalau beasiswa, menurut saya skrng IPK memang salah satu syarat, tp dinomorduakan, karena utk beasiswa (terutama luar negeri) yg dibutuhkan adalah TOEFL dan IELTS. Begitu sih mas, hehe

      Hapus
  2. Tulisannya bagus mas!

    Saya setuju, IPK bukan segalanya. Walaupun emang, usaha kita belajar di kampus tergambar dari IPK. Nah, saya setuju juga bahwa IPK itu untuk menyenangkan orang tua yang telah membiayai kita..

    IPK itu penting hanya buat freshgraduate yang mau melamar kerja saja kalau saya pikir. Ketika udah experience, IPK ga dilihat lagi. Malah ga guna kalau buat wirausaha. Hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas Andie. Iya mas, kalau buat yg mau buka usaha sih nggak ada cerita IPK2 segala hehehe

      Hapus
  3. Wah aku dulu jaman kuliah sukanya cuma datang, duduk, diam. Masuk jam 7 pulang jam 2, setiap hari senin - jumat (kecuali hari jumat balik jam 11 siang, kuliahnya emang kayak anak SMA yang jadwalnya udah pasti). IPK gak rendah tapi ya gak cumlaude, tapi setelah lulus akhirnya IPK gak kepakai karena emang gak ngincer kerja kantoran. Kalo mengingat jaman dulu itu emang gimana gitu, apalagi anehnya adalah ketika wisuda aku milih gak berangkat, males aja gitu dan bingung udah lulus mau ngapain nih. Padahal bagi yang lain wisuda adalah hal yang sangat dinantikan. Waktu terus berlalu dan *endingnya aku jadi blogger newbie abadi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin perspektif tulisan saya emang bukan soal ngincer kerja kantoran atau gimana, perspektif saya sih soal berusaha yang terbaik aja, dan itu hanya sudut pandang pribadi sih. Hehe. Soalnya suka heran kalau liat mahasiswa ngeluh IPK rendah atau nggak lulus2, tp dirinya sendiri emang nggak usaha lebih buat dapetinnya, ya ngapain ngeluh gitu.
      Emang sih ada yang dari awal tahu nggak ngincer kerja kantoran, jadinya juga santai aja jalaninnya perkuliahannya, dan itu nggak salah hehe
      Nah, kalau ini sedikit banyak sama seperti saya mba, saya juga yang rada males sama wisuda, karena cuma ceremony doang, lulus mah tetep lulus. Tapi saya wisuda untuk nyenengin orang tua aja, mungkin ini momen mereka sekali seumur hidup liat anaknya wisuda hehehe

      Hapus
  4. IPK dan universitas hanya untuk administrasi aja sebenenrnya
    di tempat kerjaku ada IPK bagus univ bagus tapi sosialnya kurang.
    jadi IPK yg bagus itu ga menjamin sukses di tempat kerja meskipun ga semua orang.. kenbali ke pribadi masing2 sih mas..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, ini semua pasti kembali ke pribadi masing2 :)

      Hapus
  5. setuju IPK tidak menjadi jaminan sukses tapi berusaha untuk yang terbaik itu harus. biar kuliah gak ngejar IPKnya, tapi ilmunya. salute buat postingnya. salam sahabat blogger

    BalasHapus
  6. memang IPK gak penting terlihatnya ya, krn kl sdh diterima kerja gak penting akhirnya, tpnya saat melamar kerja pasti ada syaratnya ipk dan herannya kalau dr univ negeri pasti IPK yg disyaratkan gak pernah tinggi2 tp kalau dr univ swata pastinay minimal IPKnya 3,5, nah gimana ya yang IPKnya gak nyampai segitu pdhl belum tentu krn bodoh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, IPK itu ujung2nya cuma jadi syarat administrasi doang di perusahaan2. Setelah kerja mah nggak ada cerita lagi hehe. Apalagi kalau yang ujung2nya wiraswasta, lebih lebih nggak perlu.
      yg IPKnya nggak sampai 3.5 nggak bodoh jg kok mba, yang penting ilmu kehidupan selama kuliah bisa diserap dengan baik udh cukup :)

      Hapus
  7. Nice sharing mas, saya termasuk yg mengganggap IPK dan keseimbangan dalam kuliah sama sama penting 😁 Selama berusaha melakukan yg terbaik sebisa mungkin, insya Allah kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil.

    Selamaat udah wisuda mas, semangat melanjutkan perjuangan 😁 suka banget sama statementnya, kita cuma ditugaskan untuk melakukan yang terbaik. Selebihnya, biarkan Tuhan bersama semesta menjalankan tugasnya.

    Suksess selaluu 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba sudah menyukai tulisan saya.
      Sukses kembali :)

      Hapus
  8. Kalau mau bekerja yang ga terlalu ngeliat IPK, bekerjalah di dunia inudstri kreatif,, whehehe... kalau yang konvensional syarat IPK no 1...

    BtP kasihan si kawan ya, padahal 0,3 lebih tinggi IPK nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerja di undustri kreatif pasti asik sih bang, contohnya ya kalau dapat penghasilan dari ngeblog begini. Kalau udah gitu IPK mah nggk perlu dipikirin lagi hahaha

      Yap, setiap orang ada ujian masing2, tinggal bagaimana kita menyikapinya kedepan sih, mau diambil jd pelajaran berharga atau nggak

      Hapus
  9. tulisannya ngingetin sy ttg seorng teman, gak kuliah sih tp mmg cm tamat stm mesin, dan teman yg satunya lg lulusan kuliah,tp pas kerja justru yg tamat stm yg lebih kepake. Mungkin krn terjun langsung dilapangan kali yah, denger2 temn yg cm tamat stm kerja di slh st perusahaan gt, tp gak tau kl masalah gajinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau sudah tahap sini sih menurut saya itu soal rezeki dan usaha masing-masing mba Heni. Poin saya sih, mau kita sekolah di mana, setinggi apa, yang paling penting tetap dijalankan sebaik-baiknya. Kalau urusan si A udh kerja di mana, si B kerja di mana itu kembali ke usaha dan cara masing2 menjalankan hidupnya sih hehe

      Hapus
  10. IPK dgn kompetensi kadang tidak linear.
    Meski IPK bukan segalanyq namun iya menjadi awal dari segalanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjadi awal dari segalanya.. Hmm, bisa jadi pembahasan yang menarik mas

      Hapus
  11. IPK saya ngepas di 3 lebih dikit banget.beberapa perusahaan terutama BUMN biasanya memang mematok IPK minimal, tetapi untuk perusahaan 'yang agak modern' biasanya tidak terlalu memikirikan IPK, lebih ke skill individual. IPK jelek tapi skillnya mumpuni dan berguna buat perusahaan ya kenapa nggak? beberapa teman saya malah ijazahnya nganggur, lebih kepakai sertifikat training skill dari lembaha pelatihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, sertifikat training skill dari lembaga pelatihan malah lebih berguna hahah

      Hapus
  12. Bukan saja IPK, kuliah pun juga bukan segala-galanya. Hanya saja setelah melewati berbagai macam jenjang pendidikan, kesimpulan yang saya peroleh kalau kuliah itu adalah sarana mengubah mindset secara lebih logis kita terhadap suatu hal.. Sedangkan ipk itu bonus. Tapi saya tidak mengatakan ipk itu tidak penting lo. Karena bagaimanapun jika di dalam dunia kerja, ipk tetap berguna untuk tahap awal dalam memudahkan penjaringan calon pelamar. Selanjutnya untuk penunjang karir banyak ditentukan oleh berbagai faktor, terutama faktor pribadi yang bersangkutan. Lebih tepatnya ipk tidak begitu penting kalau ingin bekerja sencara mandiri/wirausaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kalau ini saya sangat sepakat mas Buyung. Bisa dibilang, intisari atau pemikiran dasar saya dalam tulisan ini seperti yang mas Buyung katakan. Nice sharing, mas.

      Hapus

Sila tinggalkan komentarnya.