Jumat, 15 Maret 2019

Perihal Buku Bajakan dan Ajakan untuk Tidak Membelinya

Gambar dari miner8.com

Ketika sedang membereskan barang di laci meja saya, saya menemukan kembali beberapa novel bajakan yang dulu tidak sengaja saya beli. Laci berukuran cukup besar itu memang berisi barang-barang lama yang tidak terpakai, termasuk buku-buku lama baik itu novel maupun modul materi kuliah dulu. Karena menemukan kembali novel-novel bajakan lama saya, perasaan bersalah kepada si penulis dan penerbit yang bersangkutan kembali menghantui saya.

Terus terang, saya membeli semua novel bajakan tersebut atas dasar tidak sengaja, dan itu juga sudah lama sekali. Jadi ceritanya, sudah menjadi kebiasaan saya sejak kuliah untuk membeli satu atau dua novel setiap bulan. Namanya anak kos, saya sangat mudah tergiur ketika melihat harga buku yang murah di toko buku. Beberapa kali saya langsung membeli buku tanpa memastikan keaslian bukunya: yang penting bisa beli dengan harga murah.

Kalau kita sering belanja di toko buku sekelas Gramedia, tentu tidak perlu khawatir soal keaslian bukunya. Masalahnya, ketika kuliah, waktu itu Gramedia belum ada di kota tempat saya menimba ilmu. Kalau mau membeli buku, pilihannya cuma di beberapa toko buku kecil yang ada di sekitaran kampus, dan buku yang tersedia juga sangat terbatas (kebanyakan buku materi perkuliahan). Pilihan lain? Ya beli secara online, itu pun saya sering terkendala ongkos kirim yang mahal. Alhasil, diawal-awal kuliah dulu saya belum kritis membedakan mana buku bajakan dan mana buku yang original, bisa dapat buku yang diincar dengan harga murah saja sudah syukur.

Akibatnya, penyesalan baru hadir ketika bukunya dibawa pulang dan dibuka di kosan. Ketika di buka pembungkus plastiknya, baru ketahuan kalau itu buku tidak asli. Hal itu bisa dengan mudah dikenali dari bahan sampul dan kertas di dalamnya yang terlihat murahan, atau bisa dari cetakannya yang ternyata hasil mesin fotocopy sehingga tulisannya buram dan letaknya miring-miring. Sebagian tulisan bahkan ada yang tidak bisa dibaca. Iya, ketika masih di toko buku, kita memang tidak bisa mengecek isi dalamnya karena dilindungi pembungkus plastik.

Kiri adalah kertas buku bajakan, sedangkan kanan adalah kertas buku original.
Gambar dari sumber.com

Saya bisa memahami, bagi orang yang terbiasa menulis, pasti sangat kesal jika tulisannya disalin begitu saja tanpa izin. Pun bagi yang terlibat dalam proses produksi sebuah buku, saya bisa mengerti perasaan mereka jika bukunya dibajak dan digunakan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan sendiri.

Sejalan dengan hal tersebut, sekarang ini juga tidak sulit menemukan buku-buku bajakan. Dari toko buku pinggir jalan sampai toko online, penjual buku bajakan berserak di mana-mana. Peminatnya juga tidak sedikit karena harga yang ditawarkan murah meriah. Satu buku asli produksi penerbit resminya yang mungkin dijual seharga 65-100 ribuan, versi bajakannya bisa didapat cuma 20-30 ribuan saja.

Seiring waktu, hasil "tertipu" yang tidak sekali dua kali itu membuat saya lebih kritis dalam membeli sebuah buku. Sepengalaman saya, sebenarnya sangat mudah membedakan mana buku asli atau palsu. Berikut saya jabarkan sedikit tips sederhana agar terhindar dari jebakan batman buku bajakan.

Pertama, lihat seperti apa toko bukunya. Jika toko bukunya sekelas Gramedia, buku yang tersedia pastilah original semua. Untuk itu, toko seperti Gramedia dan yang sudah selevel dengannya tidak masuk dalam hitungan. Sedangkan kalau mau membeli di toko buku biasa, maka bisa dilihat harga buku yang ingin di beli: jika terlalu murah, maka patut dicurigai itu bajakan. Bisa juga, sebelum memvonis buku itu asli atau palsu, kita bisa membandingkan harga resmi bukunya dari internet, semisal membandingkan harga yang ada di web store Gramedia atau sumber resmi milik penerbitnya.

Jika ingin membeli di online shop, maka lihat lebih dulu bio atau keterangan tokonya. Biasanya, toko buku online yang menjual buku ori pasti sudah menambahkan keterangan "original" di bio atau captionnya. Kalau masih kurang yakin, lihat testimoni si lapak online tersebut, lapaknya terpercaya atau tidak. Satu lagi, lapak buku online yang menjual buku original pasti tidak memasang harga yang jauh dibawah harga resmi. Intinya sekali lagi adalah harga, buku original tidak ada yang terlampau jauh dari harga normal.

Kedua, jika harga bukunya sebelas-dua belas dengan harga normal, maka lihat dulu sekilas kualitas bukunya. Kita memang tidak bisa semena-mena membuka plastik pembungkusnya begitu saja sebelum membeli. Untuk itu kita bisa mulai dari melihat sekilas warna sampulnya. Jika warnanya terlalu pudar atau terlalu gelap, atau juga hasil cetakan sampul depan dan sampul belakang yang tidak sempurna, maka patut dicurigai bukunya bajakan. Kecermatan yang teramat sangat begitu diandalkan di bagian ini.

Sampul kiri dari buku original dan sampul kanan dari buku yang bajakan.
Gambar dari ublik.id
Contoh salah satu buku bajakan yang tidak sengaja saya beli. Tampak sampul sampingnya yang banyak kerutan, betapa teledornya saya karena tidak memperhatikan lebih detail sebelum membeli.
Gambar dari dokumentasi pribadi


Dari dua cara simpel itu, mengenali buku bajakan sebenarnya jadi lebih mudah. Kembali lagi jangan tergiur dengan harga murah walaupun buku tersebut adalah buku yang sudah kita dambakan sejak lama. Sedangkan waktu kuliah, jiwa anak kosan saya lebih mendominasi sehingga saya sering langsung comot ketika menemukan buku yang harganya murah.

Memang benar, buku yang original pasti harganya mahal. Tapi, jika kita cerdik melihat peluang, kita sebenarnya bisa mendapatkan buku dengan harga miring. Seiring waktu, saya jadi tahu bagaimana cara mendapatkan buku dengan harga murah tapi tetap original. Bisa? Tentu bisa. Berikut empat cara yang bisa dilakukan:

  • Cara yang pertama adalah dengan ikut PO (Pre Order). Biasanya buku jadi lebih murah jika memesan lewat PO. Tak apa menunggu agak lama, pasti bakal sampai ke tangan kita juga nantinya. 
  • Cara kedua, beli buku diskonan. Biasanya saya sering menunggu momen hari-hari besar, karena kalau di hari besar nasional pasti banyak diskon besar-besaran juga dari lapak-lapak buku terpercaya. Kalau lebih rajin sedikit, bisa juga dengan sering mengecek lapak buku langganan untuk tahu ada buku yang lagi diskon atau tidak. 
  • Cara ketiga, datang ke bazar buku. Bazar buku bisa dijadikan peluang mendapatkan buku-buku murah. Tapi ingat, tidak semua lapak di bazar buku itu menjual buku original. Bahkan kalau bazarnya asal-asalan, buku yang dijual juga abal-abalan. Lebih baik lihat dulu pihak mana yang menyelenggarakan bazarnya. 
  • Cara terakhir dan yang pasti tak akan terbantahkan, adalah dengan membeli buku bekas. Jangan malu membeli buku bekas jika memang masih layak dibaca, toh isi bukunya juga tidak bakal berubah. Beli buku bekas jauh lebih baik dari beli buku baru tapi bajakan.

Empat cara itu adalah trik saya dalam mendapatkan buku murah tapi tetap original, dan selalu berhasil jika momennya tepat. Pesan saya, silahkan membeli buku sebanyak-banyaknya, asal jangan bajakan. Bayangkan jika penulis bukunya adalah kita sendiri dan buku yang kita tulis dibajak oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Oh iya, motivasi saya dalam menulis tentang buku bajakan ini adalah karena ingin mengingatkan diri saya dan juga orang lain, bahwa pada dasarnya semua yang berbau bajakan pasti tidak baik. Di dalam suatu barang ataupun sebuah karya, ada hak cipta dan pemikiran orang lain di dalamnya, bahkan ada hukum negara yang mengaturnya. Karena itu, ini bukan cuma soal buku saja, tapi soal segala barang yang kita konsumsi.

Kembali pada beberapa novel bajakan saya tadi, sebenarnya tidak satupun yang sudah saya baca. Selain terlanjur merasa bersalah karena sudah membeli buku bajakan, membacanya juga sangat tidak nyaman karena cetakan yang amburadul dan sebagainya. Novel-novel bajakan ini sepertinya juga akan saya bakar saja, semoga itu lebih baik daripada novelnya membusuk tak berguna di laci saya. Seruan "jangan bakar buku" tidak berlaku untuk buku bajakan, bukan?

Jumat, 01 Maret 2019

Mengulas Buku Sirkus Pohon, Karya Manis dari Andrea Hirata


Boi, samudra dapat kau samarkan, gunung dapat kau kaburkan, apa pun dapat kau sembunyikan di dunia ini, kecuali cinta.-hal. 82

Halo bulan Maret. Kali ini saya ingin mengulas buku karangan Andrea Hirata yang berjudul Sirkus Pohon. Sirkus Pohon ini adalah buku pertama yang selesai saya lahap di tahun 2019 ini (kira-kira selesai awal februari lalu). Telat cukup lama, rencananya ulasan Sirkus Pohon langsung saya garap dan saya post di blog tepat setelah saya selesai melahap bukunya, tapi karena mempriortitaskan post yang lain dahulu, maka ulasan ini baru bisa sekarang unjuk giginya.

Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta. Begitulah ucapan selamat datang Andrea Hirata di novelnya ini. Di novel ini, Andrea menghadirkan cerita yang berbeda dan lebih segar dari novel-novel sebelumnya. Walaupun begitu, tetap ada ciri khas Andrea yang bisa kita nikmati.

Yang tidak lepas dari ciri khas Andrea tentu saja tentang setting cerita yang tidak jauh dari potret kehidupan masyarakat melayu Belitong. Di Sirkus Pohon, setting cerita berada di salah satu daerah bernama Tanjung Lantai, di Belitong sana. Keluguan dan kepolosan karakter-karakter khas orang melayu Belitong yang sering kita temui di Tetralogi Laskar Pelangi atau novel-novel lain Andrea tetap bisa kita rasakan di novel ini. 

Yang selalu saya tunggu dari tulisan Andrea pun tidak hilang: susunan kata yang indah. Membaca tulisan Andrea, seperti membaca serangkaian bait puisi yang bukan dari buku puisi. Kalimat-kalimat indah nan puitis Andrea berhasil memanjakan mood membaca saya, sehingga tidak sulit menghabiskan buku ini dalam waktu singkat. Selain itu, Andrea juga satu dua kali menyelipkan pantun dalam cerita ini. Sip, melayu sekali.

Datanglah Desember dan lepaslah anak-anak angin dari kandangnya, berderai-derai sepanjang pagi, terbahak-bahak menjelang siang. Kawanan punai samak sesekali melintas cepat di langit tenggara, berkejar-kejaran menuju hamparan bakung di hulu Sungai Buta.-hal. 141

***
Sirkus Pohon sendiri bercerita tentang tokoh 'aku' yang bernama Sobri, seorang pemuda pengangguran di Tanjung Lantai, Belitong, yang cuma lulusan SMP. Ijazah terakhirnya itu sangat menyulitkan ia dalam mencari pekerjaan, Sobri pun kerja serabutan dan tak tentu arah.

Suatu ketika, Sobri berkenalan dengan seorang gadis melayu bernama Dinda. Di tengah kata-kata keramat "SMA atau sederajat" yang menghiasi iklan-ilkan lowongan pekerjaan, Dinda lah yang membuat Sobri masih tidak menyerah mencari kerja. Singkat cerita, akhirnya ada pekerjaan yang mau menerima Sobri, pekerjaan itu adalah badut sirkus.

Selain Sobri, ada satu kisah lainnya yang mengambil sudut pandang orang ketiga, yaitu tentang kisah cinta pemudi-pemuda bernama Tara dan Tegar. Kisah Tara dan Tegar menjadi cerita pemanis yang diselip bergantian dengan cerita Sobri.

Tara, dikisahkan selama bertahun-tahun tidak henti mencari anak laki-laki yang dulu pernah membelanya di taman bermain Pengadilan Agama. Agar Tara bisa terus mengingat wajah anak laki-laki itu, Tara pun melukiskan wajah anak itu selama bertahun-tahun hingga tercipta puluhan lukisan dengan wajah yang sama. Karena begitu mendalamnya kesan yang diberikan si anak laki-laki, Tara pun menamai anak laki-laki 'misterius' itu dengan nama Si Pembela.

Sedangkan Tegar, selama bertahun-tahun tidak henti mempelajari bau-bauan demi mengenali bau khas anak perempuan yang dulu pernah ia bela di taman bermain Pengadilan Agama. Karena paras anak perempuan yang ia bela itu membuatnya melayang-layang, Tegar pun menamai anak perempuan 'misterius' itu dengan nama Si Layang-layang.

Tara dan Tegar saling mencari selama bertahun-tahun. Mereka dalam beberapa kesempatan berada di satu tempat yang sama, beberapa kali hampir bertemu, dan selalu gagal karena satu dua hal sepele. Kisah mereka adalah kisah cinta yang sangat menggemaskan, tapi jauh dari kisah cinta yang cengeng

***
Setidaknya, selain novel berjudul Ayah, saya sudah membaca seluruh novel Andrea Hirata yang terbit sebelum Sirkus Pohon ini. Dari semua yang pernah saya baca, Sirkus Pohon rasanya lebih menggelitik dari novel-novel Andrea sebelumnya. Level humor Sirkus Pohon lebih kentara.

Bagian yang paling lucu tentu saja tentang kepolosan dan keluguan masyarakat Belitong ketika hendak mengadakan pemilihan umum Kepala Desa yang sepertinya tak kalah meriah dengan pemilihan Presiden sekalipun. Ketika membaca bagian ini, saya jadi teringat intrik-intrik politik yang saat ini sangat menjemukan di Indonesia. Sindiran-sindiran sosialnya juga sangat mengena. Entah kebetulan macam apa saya membacanya ketika Indonesia mendekati pesta demokrasi seperti saat ini.

Tokoh yang ada juga unik-unik. Karena kebiasaan orang melayu yang suka menambahkan akhiran 'din' diujung nama, maka di Sirkus Pohon ada tokoh dengan nama-nama demikian. Ada Suruhudin yang justru senang jika selalu disuruh-suruh, dan ada Debuludin yang berulang kali disebutkan selalu berdebu-debu. Selain itu, tokoh-tokoh yang cukup mendominasi di novel ini ada Ibu Bos yang selalu baik hati, ada Taripol Mafia yang penuh tipu daya, ada Gastori yang selalu ingin menguasai segalanya.

Ungkapan "tak ada kabar adalah kabar baik", kurasa cocok untuknya, ketimbang ada kabar, tapi kabar buruk saja.-hal. 208

Jika boleh saya mengulik pesan dalam novel ini, Sirkus Pohon seakan memberi pesan kehidupan tentang apa yang namanya kesabaran, tentang pentingnya sabar dalam penantian, tentang pentingnya terus berusaha dan menikmati hidup tak perduli sekelumit masalah yang akan kita hadapi. Selain itu, ada juga soal cinta yang digambarkan oleh kesetiaan, ada kegetiran yang diwakilkan oleh ujian hidup yang tidak berkesudahan. Asik, nggak? Hehe.

Kami berjalan pulang. Ayah di depanku. Pilu aku melihat langkahnya yang lambat terantuk-antuk, bajunya yang lusuh, celana panjangnya yang buruk, kedodoran, dan sandal jepitnya yang telah putus diikat karet. Orang-orang memperhatikan kami, seorang tua, menyandang kas papan berisi minuman ringan, berjalan diikuti badut,- hal. 279. 

Sobri yang bekerja sebagai badut sirkus, pada akhirnya memilih dengan sepenuh hati menjalani profesinya, di tengah pandangan orang Belitong yang menganggap kerja itu berarti berseragam kemeja lurus yang dimasukkan ke celana, punya pulpen yang terselip di saku kemeja, punya jam kerja, punya gaji bulanan, ada jam lemburnya, punya atasan dan sebagainya--dan badut adalah pekerjaan yang jauh dari bayangan seperti itu. Tetapi, karena kuatnya keinginan untuk membuktikan bahwa ia bisa punya penghasilan tetap, Sobri pada akhirnya bekerja sebaik mungkin dan seiring waktu justru ia jatuh cinta pada pekerjaannya: ia senang dapat menghibur orang lain.

Selain itu, ketekunan Tara dan Tegar dalam mencari orang yang dulu pernah membela dan dibela mengajarkan kita pentingnya terus bersabar dalam penantian, sembari terus berusaha sebaik mungkin untuk menemukan apa yang dicari. Bahwa penantian yang sungguh-sungguh pasti akan berbuah manis.

Usai menulis, dipandanginya surat yang panjang itu dan dia memarahi dirinya sendiri, mengapa susah sekali menulis: aku rindu.-hal. 320
Secara keseluruhan, novel Sirkus Pohon bisa di bilang lengkap, ada sisi romantisnya, ada humornya, ada sains-nya, ada politiknya, ada unsur-unsur kebudayaan, ada motif sosial-ekonomi yang dapat digali, dan macam-macam. Tak perlu mempertanyakan bagaimana Andrea Hirata merangkai segala macam unsur tersebut dalam satu novel, karena sia-sia saja meragukan kualitas tulisan dari peraih gelar Doktor Honoris Causa di bidang sastra dunia ini. Buat para pecinta buku, novel Sirkus Pohon adalah hiburan yang manis nan menyenangkan.

Judul: Sirkus Pohon
Penulis: Andrea Hirata
Tebal: 410 Halaman
Penerbit: Bentang
Tahun: 2017


Yang Nyasar di Mari: