Perihal Buku Bajakan dan Ajakan untuk Tidak Membelinya

By Irsyad Muhammad - 3/15/2019 10:38:00 PM

Gambar dari miner8.com

Ketika sedang membereskan barang di laci meja saya, saya menemukan kembali beberapa novel bajakan yang dulu tidak sengaja saya beli. Laci berukuran cukup besar itu memang berisi barang-barang lama yang tidak terpakai, termasuk buku-buku lama baik itu novel maupun modul materi kuliah dulu. Karena menemukan kembali novel-novel bajakan lama saya, perasaan bersalah kepada si penulis dan penerbit yang bersangkutan kembali menghantui saya.

Terus terang, saya membeli semua novel bajakan tersebut atas dasar tidak sengaja, dan itu juga sudah lama sekali. Jadi ceritanya, sudah menjadi kebiasaan saya sejak kuliah untuk membeli satu atau dua novel setiap bulan. Namanya anak kos, saya sangat mudah tergiur ketika melihat harga buku yang murah di toko buku. Beberapa kali saya langsung membeli buku tanpa memastikan keaslian bukunya: yang penting bisa beli dengan harga murah.

Kalau kita sering belanja di toko buku sekelas Gramedia, tentu tidak perlu khawatir soal keaslian bukunya. Masalahnya, ketika kuliah, waktu itu Gramedia belum ada di kota tempat saya menimba ilmu. Kalau mau membeli buku, pilihannya cuma di beberapa toko buku kecil yang ada di sekitaran kampus, dan buku yang tersedia juga sangat terbatas (kebanyakan buku materi perkuliahan). Pilihan lain? Ya beli secara online, itu pun saya sering terkendala ongkos kirim yang mahal. Alhasil, diawal-awal kuliah dulu saya belum kritis membedakan mana buku bajakan dan mana buku yang original, bisa dapat buku yang diincar dengan harga murah saja sudah syukur.

Akibatnya, penyesalan baru hadir ketika bukunya dibawa pulang dan dibuka di kosan. Ketika di buka pembungkus plastiknya, baru ketahuan kalau itu buku tidak asli. Hal itu bisa dengan mudah dikenali dari bahan sampul dan kertas di dalamnya yang terlihat murahan, atau bisa dari cetakannya yang ternyata hasil mesin fotocopy sehingga tulisannya buram dan letaknya miring-miring. Sebagian tulisan bahkan ada yang tidak bisa dibaca. Iya, ketika masih di toko buku, kita memang tidak bisa mengecek isi dalamnya karena dilindungi pembungkus plastik.

Kiri adalah kertas buku bajakan, sedangkan kanan adalah kertas buku original.
Gambar dari sumber.com

Saya bisa memahami, bagi orang yang terbiasa menulis, pasti sangat kesal jika tulisannya disalin begitu saja tanpa izin. Pun bagi yang terlibat dalam proses produksi sebuah buku, saya bisa mengerti perasaan mereka jika bukunya dibajak dan digunakan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan sendiri.

Sejalan dengan hal tersebut, sekarang ini juga tidak sulit menemukan buku-buku bajakan. Dari toko buku pinggir jalan sampai toko online, penjual buku bajakan berserak di mana-mana. Peminatnya juga tidak sedikit karena harga yang ditawarkan murah meriah. Satu buku asli produksi penerbit resminya yang mungkin dijual seharga 65-100 ribuan, versi bajakannya bisa didapat cuma 20-30 ribuan saja.

Seiring waktu, hasil "tertipu" yang tidak sekali dua kali itu membuat saya lebih kritis dalam membeli sebuah buku. Sepengalaman saya, sebenarnya sangat mudah membedakan mana buku asli atau palsu. Berikut saya jabarkan sedikit tips sederhana agar terhindar dari jebakan batman buku bajakan.

Pertama, lihat seperti apa toko bukunya. Jika toko bukunya sekelas Gramedia, buku yang tersedia pastilah original semua. Untuk itu, toko seperti Gramedia dan yang sudah selevel dengannya tidak masuk dalam hitungan. Sedangkan kalau mau membeli di toko buku biasa, maka bisa dilihat harga buku yang ingin di beli: jika terlalu murah, maka patut dicurigai itu bajakan. Bisa juga, sebelum memvonis buku itu asli atau palsu, kita bisa membandingkan harga resmi bukunya dari internet, semisal membandingkan harga yang ada di web store Gramedia atau sumber resmi milik penerbitnya.

Jika ingin membeli di online shop, maka lihat lebih dulu bio atau keterangan tokonya. Biasanya, toko buku online yang menjual buku ori pasti sudah menambahkan keterangan "original" di bio atau captionnya. Kalau masih kurang yakin, lihat testimoni si lapak online tersebut, lapaknya terpercaya atau tidak. Satu lagi, lapak buku online yang menjual buku original pasti tidak memasang harga yang jauh dibawah harga resmi. Intinya sekali lagi adalah harga, buku original tidak ada yang terlampau jauh dari harga normal.

Kedua, jika harga bukunya sebelas-dua belas dengan harga normal, maka lihat dulu sekilas kualitas bukunya. Kita memang tidak bisa semena-mena membuka plastik pembungkusnya begitu saja sebelum membeli. Untuk itu kita bisa mulai dari melihat sekilas warna sampulnya. Jika warnanya terlalu pudar atau terlalu gelap, atau juga hasil cetakan sampul depan dan sampul belakang yang tidak sempurna, maka patut dicurigai bukunya bajakan. Kecermatan yang teramat sangat begitu diandalkan di bagian ini.

Sampul kiri dari buku original dan sampul kanan dari buku yang bajakan.
Gambar dari ublik.id
Contoh salah satu buku bajakan yang tidak sengaja saya beli. Tampak sampul sampingnya yang banyak kerutan, betapa teledornya saya karena tidak memperhatikan lebih detail sebelum membeli.
Gambar dari dokumentasi pribadi


Dari dua cara simpel itu, mengenali buku bajakan sebenarnya jadi lebih mudah. Kembali lagi jangan tergiur dengan harga murah walaupun buku tersebut adalah buku yang sudah kita dambakan sejak lama. Sedangkan waktu kuliah, jiwa anak kosan saya lebih mendominasi sehingga saya sering langsung comot ketika menemukan buku yang harganya murah.

Memang benar, buku yang original pasti harganya mahal. Tapi, jika kita cerdik melihat peluang, kita sebenarnya bisa mendapatkan buku dengan harga miring. Seiring waktu, saya jadi tahu bagaimana cara mendapatkan buku dengan harga murah tapi tetap original. Bisa? Tentu bisa. Berikut empat cara yang bisa dilakukan:

  • Cara yang pertama adalah dengan ikut PO (Pre Order). Biasanya buku jadi lebih murah jika memesan lewat PO. Tak apa menunggu agak lama, pasti bakal sampai ke tangan kita juga nantinya. 
  • Cara kedua, beli buku diskonan. Biasanya saya sering menunggu momen hari-hari besar, karena kalau di hari besar nasional pasti banyak diskon besar-besaran juga dari lapak-lapak buku terpercaya. Kalau lebih rajin sedikit, bisa juga dengan sering mengecek lapak buku langganan untuk tahu ada buku yang lagi diskon atau tidak. 
  • Cara ketiga, datang ke bazar buku. Bazar buku bisa dijadikan peluang mendapatkan buku-buku murah. Tapi ingat, tidak semua lapak di bazar buku itu menjual buku original. Bahkan kalau bazarnya asal-asalan, buku yang dijual juga abal-abalan. Lebih baik lihat dulu pihak mana yang menyelenggarakan bazarnya. 
  • Cara terakhir dan yang pasti tak akan terbantahkan, adalah dengan membeli buku bekas. Jangan malu membeli buku bekas jika memang masih layak dibaca, toh isi bukunya juga tidak bakal berubah. Beli buku bekas jauh lebih baik dari beli buku baru tapi bajakan.

Empat cara itu adalah trik saya dalam mendapatkan buku murah tapi tetap original, dan selalu berhasil jika momennya tepat. Pesan saya, silahkan membeli buku sebanyak-banyaknya, asal jangan bajakan. Bayangkan jika penulis bukunya adalah kita sendiri dan buku yang kita tulis dibajak oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Oh iya, motivasi saya dalam menulis tentang buku bajakan ini adalah karena ingin mengingatkan diri saya dan juga orang lain, bahwa pada dasarnya semua yang berbau bajakan pasti tidak baik. Di dalam suatu barang ataupun sebuah karya, ada hak cipta dan pemikiran orang lain di dalamnya, bahkan ada hukum negara yang mengaturnya. Karena itu, ini bukan cuma soal buku saja, tapi soal segala barang yang kita konsumsi.

Kembali pada beberapa novel bajakan saya tadi, sebenarnya tidak satupun yang sudah saya baca. Selain terlanjur merasa bersalah karena sudah membeli buku bajakan, membacanya juga sangat tidak nyaman karena cetakan yang amburadul dan sebagainya. Novel-novel bajakan ini sepertinya juga akan saya bakar saja, semoga itu lebih baik daripada novelnya membusuk tak berguna di laci saya. Seruan "jangan bakar buku" tidak berlaku untuk buku bajakan, bukan?

  • Share:

You Might Also Like

42 Comments

  1. betul ya, kalau kita jadi penulis keselnya minta ampun tapi karena hasil bajakan lbh murah banyak yang beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener tuh mba, waktu saya nggk sengaja bawa pulang, rasa bersalahnya luar biasa banget hiks

      Hapus
  2. Himbauan yang tepat.

    Itu juga sebenarnya PR besar buat pemerintah kita. Adanya buku bajakan sebenarnya tanda ya bahwa ada potensi minat baca masyarakat kita yang katanya kurang sekali. Hanya saja memang harga buku mahal.

    Soalnya pajak buku macam-macam juga, mulai dari penerbitnya sampe di penjualnya. Belum lagi kita yang di luar Jawa kena ongkos lagi, harganya tidak sama dengan di Jawa, sudah naik pas dijual di kota kita :(

    Tadi baru nemu tulisan ini nih. Saya saja puyeng bacanya, apalagi yang mengalami.
    https://mojok.co/edi/esai/pajak-buku/

    Semoga ke depannya harga buku bisa lebih masuk akal sehingga orang tidak mau membuat buku bajakan karena jadinya malah rugi. Semoga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sekali mba, harga buku asli yang mahal jg karena pajak buku yang tinggi, selain jg minat baca kita yg rendah. Banyak artikel yg sudah membahas kedua hal itu.

      Terimakasih mba sudah memberi referensi artikel yang menarik, langsung saya baca deh

      Hapus
  3. Buku bacaan yang bajakan mirip kaset bajakan ya..
    murah meriah tapi dosa. Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua yang bajakan pada dasarnya dosa sih mba, kudu hati-hati hehehe

      Hapus
  4. Huhuhu....pernah juga punya dosa masa lalu beli buku bajakan zaman kuliah dulu. Alhasil lembar2 bukunya gampang lepas2 nggk kuat. Sekarang udah lebih sering beli buku po an jd insya Allah aman nggk bajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau PO udah terjamin asli ya mba, langsung tunggu cetakan penerbitnya "kering" hahaha
      Iya tuh, yg bajakan lembarnya sering lepas

      Hapus
  5. Sekarang malah lebih suka beli buku preloved yang lebih murah.

    Apresiasi juga ke penulisnya sih beli buku original. Kalo beli buku bekas kan malu ketemu penulisnya lalu minta tanda tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jangan sampe ya ketemu penulisnya minta ttd, tau-tau bukunya bajakan hahaha
      sip bener, kita harus menghargai penulisnya

      Hapus
  6. Jadi inget saya pernah beli buku Arus Balik-nya Pramoedya yang bajakan. Pas tahu ternyata bajakan, nyesel juga. Tapi sayangnya, nyari aslinya juga susah. Dalam hati jadi merasa harus lebih hati-hati lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya pernah berkunjung ke salah satu toko buku tua gitu. Buku yang dipajang buku2 langka dari penulis2 lama semisal Hamka dan Pram, harganya pun murah. Akhirnya saya bawa pulang Tenggelamnya Kapa Van Der Wijk karya Hamka dan Perburuan Karya Pram. Pas dibawa pulang ternyata bajakan -,-

      Harus hati-hati banget tuh.

      Hapus
  7. saya ikut semua itu, beli buku PO, bazar, dan buku bekas... saya suka buku yang terlihat cantik. selain isi, tampilan juga harus eye catching kan...
    buku bajakan kurang cantik keliatannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sepertinya mba udah ikut semua cara yang saya sampaikan di atas ya hehe. Pemburu buku banget
      Bener tuh, biasanya desain cover sangat menentukan, bahkan buku-buku skrng juga mengedepankan desain dalamnya, nggk cuma tulisan-tulisan doang

      Hapus
  8. Buku bajakan yang pernah saya beli cuma buku-buku kuliah saja soalnya yang asli mahal banget. Maklum anak kulaih kan harus hidup sehemat mungkin, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, buku kuliah emang mahal-mahal banget, tp ya mau gimana huhuhu

      Hapus
  9. Dulu pas kuliah jg pernah beli bajakan dg alasan murah, belinya di palasari, bandung. Sekarang, udah terjun jadi penulis, tahu bnget rasanya buku dibajak itu sakit 😖

    BalasHapus
    Balasan
    1. palasari ini sering denger sih, katanya banyak buku-buku bajakan emang di sana. Walaupun belum pernah langsung ke tempatnya, tp lumayan terkenal kok hehe
      Pasti sakit kalau bukunya dibajak, kayak kekasih yang direbut orang lain. duh, wkwk

      Hapus
  10. Bagus nih... Mengajak untuk tidak pakai yang bajakan. Aku pernah beli buku bajakan. Beli di titi gantung Medan waktu jaman sekolah. Tapi sekarang sudah ga lagi karena aku harus menghargai karya seseorang.

    Memang bener, buku bajakan dan original bisa dibedakan. Salut deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bang, sebaiknya kita harus hijrah dari buku bajakan ke yg original, demi menghargai karya orang lain. Insya Allah karya kita bakal dihargai juga nantinya

      Hapus
  11. Biasanya saya beli buku di toko buku tepercaya. Kadang langsung pada penulisnya, bahkan penerbitnya. Kalau di toko buku daring yang dipercaya. Kayak parcelbuku. Masih ada banyak cara murah belanja buku asli. Teman saya juga kesal bukunya dibajak. Sama dengan pencurian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, siapa saja pasti kesal jika bukunya dibajak. Semoga kita bisa terus mengedukasi orang lain, setidaknya jika pembajakan masih merajalela, kita bisa menekan angka pembelian buku bajakannya

      Hapus
  12. iya sich, benar juga, banyak karya orang dibajak dan tentunya sangat memperhatinkan kejadian seperti ini karena kasihan pengarangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, semoga orang2 di luar sana semakin mengerti pentingnya melawan pembajakan buku

      Hapus
  13. Oh, baru tau kalo ada pembajakan buku yang sampe segitu rapihnya. Soalnya, yang gue tau itu kayak fotokopi item-putih doang.

    Hargai orang yang buat buku, jadi gak perlu lah bikin buku versi bajakannya. Juga buat pembeli, harus lebih teliti dan harus lebih memilih buku orinya ketimbang versi bajakannya. Sekali lagi, hargai keringat mereka yang buat buku!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang-kadang kalau nggak teliti bisa kebeli tuh yang bajakan.

      Pesan yang sangat baik *sungkem*

      Hapus
  14. Zaman kuliah paling sering nyari buku bajakan. Tapi rata2 buku2 teori. Lebih ke menyesuaikan kantong mahasiswa sih. #pengakuandosa. Tapi kalo buku2 jnis novel masih nyari asli, dan ngejar yg PO

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, kalau buku kuliah emang harganya gila-gilaan yang aslinya. Dosen saya malah ada yang rela keluarin duit jutaan buat beli e-book originalnya, dan dengan sukarela di copy ke mahasiswa2nya

      Hapus
  15. Masa sekolah pernah beli bajakan, namun sekarang udah gak lagi. Mendingan minjem daripada beli bajakan. Akhirnya paham mengapa buku itu mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, mending minjem aja. Tp jangan lupa balikin ya ahaha

      Hapus
  16. Sebenernya bagi para pecinta buku sangat mudah membedakan buku ori dan KW.karena KW merajalela sempat kemarin penulis novel best seller sampai ngambek gak mau nerbitin buku lagi walaupun sekarang tetep juga nerbitin buku baru 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, dulu sih waktu belum merantau di tempat lain, udh biasa beli di gramedia. Tp pas tinggal di kota yang nggak ada gramedianya, saya banyak kecolongan buku bajakan dari toko2 buku biasa. Alhamdulillah sekarang sudah bisa membedakan dengan mudah

      Hapus
  17. saya pernah beli buku bajakan karena dulu memang sama sekali ga bisa bedain mana bajakan mana ga, mengingat ga pernah beli di toko buku besar, belinya di pasar atau penjual buku dipinggir jalan. tapi kini sudah paham lah, menghargai karya orang itu lebih penting lagian beli yang ori pasti kualitasnya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bang, seiring waktu pasti bisa menghargai karya orang lain. Setelah bisa menghargai, nanti juga kita bakal kritis dalam membeli barang yang ori

      Hapus
  18. Saya suka beli buku secondhand dan dirawat ulang dengan lebih baik, dengan begitu biasanya jauh lebih murah dan pembeli pertama pun merasa aman dengan buku yang hampir saja tidak terawat.
    Dan senangnya, juga ada beberapa orang yang dengan cuma-cuma memberikan bukunya kepada saya dengan alasan, di rumah ada perpustakaan dan sudah pasti terawat buku-bukunya.

    Cara membedakan buku bajakan dan asli sebenarnya sangat mudah sekali kalau buku diplastikin. Kan nggak mungkin juga di toko kecilnya, kita tiba-tiba buka plastik tanpa beli.
    Kita cek covernya saja sih.

    Salam kenal Kak! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren mbak kalau di rmah punya perpustakaan sendiri. Saya juga punya keinginan seperti itu, hehe
      Iya, kalau di toko2 kecil itu, kita nggak bisa ngecek kualitas dalam bukunya, harus jeli deh liat sampulnya. Semua itu demi terhindar buku bajakan

      Hapus
  19. Parahnya lagi, buku bajakan tiap halamannya mudah banget terlepas dari bundelnya .. lembar perlembar pada copot setelah dibuka.

    Kejadian tertipu beli buku palsu atau bajakan ini juga pernah aku alami.
    Tergiurnya karena lasan si penjual sedang diskon gede :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha saya juga pernah mengalami seperti itu Mas Hima, kesel rasanya :(

      Pernah tertipu seperti saya juga ternyata, semoga kita lebih jeli lagi sebelum membeli buku mas hehe

      Hapus
  20. Saya pun juga pernah membeli buku bajakan, ya karena terpakasa. Karena untuk saat itu harga buku ori tidak terjangaku oleh isi dompet saya.

    BalasHapus
  21. buku bajakan memang merugikan ya gan, terutama bagi penulis asli dan penerbitnya, alangkah baiknya kita bisa menghindarinya ;)

    BalasHapus
  22. Duh jadi malu nih, saya beberapa kali membeli. Terkumpul sampe 1 rak buku.

    BalasHapus
  23. Alhamdulillah, daku selalu beli buku asli. Kalo lagi ngincer buku bagus dan harganya gak masuk kantong, ya sabar aja. Tunggu ada yang jual secondnya. Itu jauhhh lebih murah. Tapi puas karena itu buku asli.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.