Mengulas Buku Sirkus Pohon, Karya Manis dari Andrea Hirata

By Irsyad Muhammad - 3/01/2019 12:21:00 PM


Boi, samudra dapat kau samarkan, gunung dapat kau kaburkan, apa pun dapat kau sembunyikan di dunia ini, kecuali cinta.-hal. 82

Halo bulan Maret. Kali ini saya ingin mengulas buku karangan Andrea Hirata yang berjudul Sirkus Pohon. Sirkus Pohon ini adalah buku pertama yang selesai saya lahap di tahun 2019 ini (kira-kira selesai awal februari lalu). Telat cukup lama, rencananya ulasan Sirkus Pohon langsung saya garap dan saya post di blog tepat setelah saya selesai melahap bukunya, tapi karena mempriortitaskan post yang lain dahulu, maka ulasan ini baru bisa sekarang unjuk giginya.

Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta. Begitulah ucapan selamat datang Andrea Hirata di novelnya ini. Di novel ini, Andrea menghadirkan cerita yang berbeda dan lebih segar dari novel-novel sebelumnya. Walaupun begitu, tetap ada ciri khas Andrea yang bisa kita nikmati.

Yang tidak lepas dari ciri khas Andrea tentu saja tentang setting cerita yang tidak jauh dari potret kehidupan masyarakat melayu Belitong. Di Sirkus Pohon, setting cerita berada di salah satu daerah bernama Tanjung Lantai, di Belitong sana. Keluguan dan kepolosan karakter-karakter khas orang melayu Belitong yang sering kita temui di Tetralogi Laskar Pelangi atau novel-novel lain Andrea tetap bisa kita rasakan di novel ini. 

Yang selalu saya tunggu dari tulisan Andrea pun tidak hilang: susunan kata yang indah. Membaca tulisan Andrea, seperti membaca serangkaian bait puisi yang bukan dari buku puisi. Kalimat-kalimat indah nan puitis Andrea berhasil memanjakan mood membaca saya, sehingga tidak sulit menghabiskan buku ini dalam waktu singkat. Selain itu, Andrea juga satu dua kali menyelipkan pantun dalam cerita ini. Sip, melayu sekali.

Datanglah Desember dan lepaslah anak-anak angin dari kandangnya, berderai-derai sepanjang pagi, terbahak-bahak menjelang siang. Kawanan punai samak sesekali melintas cepat di langit tenggara, berkejar-kejaran menuju hamparan bakung di hulu Sungai Buta.-hal. 141

***
Sirkus Pohon sendiri bercerita tentang tokoh 'aku' yang bernama Sobri, seorang pemuda pengangguran di Tanjung Lantai, Belitong, yang cuma lulusan SMP. Ijazah terakhirnya itu sangat menyulitkan ia dalam mencari pekerjaan, Sobri pun kerja serabutan dan tak tentu arah.

Suatu ketika, Sobri berkenalan dengan seorang gadis melayu bernama Dinda. Di tengah kata-kata keramat "SMA atau sederajat" yang menghiasi iklan-ilkan lowongan pekerjaan, Dinda lah yang membuat Sobri masih tidak menyerah mencari kerja. Singkat cerita, akhirnya ada pekerjaan yang mau menerima Sobri, pekerjaan itu adalah badut sirkus.

Selain Sobri, ada satu kisah lainnya yang mengambil sudut pandang orang ketiga, yaitu tentang kisah cinta pemudi-pemuda bernama Tara dan Tegar. Kisah Tara dan Tegar menjadi cerita pemanis yang diselip bergantian dengan cerita Sobri.

Tara, dikisahkan selama bertahun-tahun tidak henti mencari anak laki-laki yang dulu pernah membelanya di taman bermain Pengadilan Agama. Agar Tara bisa terus mengingat wajah anak laki-laki itu, Tara pun melukiskan wajah anak itu selama bertahun-tahun hingga tercipta puluhan lukisan dengan wajah yang sama. Karena begitu mendalamnya kesan yang diberikan si anak laki-laki, Tara pun menamai anak laki-laki 'misterius' itu dengan nama Si Pembela.

Sedangkan Tegar, selama bertahun-tahun tidak henti mempelajari bau-bauan demi mengenali bau khas anak perempuan yang dulu pernah ia bela di taman bermain Pengadilan Agama. Karena paras anak perempuan yang ia bela itu membuatnya melayang-layang, Tegar pun menamai anak perempuan 'misterius' itu dengan nama Si Layang-layang.

Tara dan Tegar saling mencari selama bertahun-tahun. Mereka dalam beberapa kesempatan berada di satu tempat yang sama, beberapa kali hampir bertemu, dan selalu gagal karena satu dua hal sepele. Kisah mereka adalah kisah cinta yang sangat menggemaskan, tapi jauh dari kisah cinta yang cengeng

***
Setidaknya, selain novel berjudul Ayah, saya sudah membaca seluruh novel Andrea Hirata yang terbit sebelum Sirkus Pohon ini. Dari semua yang pernah saya baca, Sirkus Pohon rasanya lebih menggelitik dari novel-novel Andrea sebelumnya. Level humor Sirkus Pohon lebih kentara.

Bagian yang paling lucu tentu saja tentang kepolosan dan keluguan masyarakat Belitong ketika hendak mengadakan pemilihan umum Kepala Desa yang sepertinya tak kalah meriah dengan pemilihan Presiden sekalipun. Ketika membaca bagian ini, saya jadi teringat intrik-intrik politik yang saat ini sangat menjemukan di Indonesia. Sindiran-sindiran sosialnya juga sangat mengena. Entah kebetulan macam apa saya membacanya ketika Indonesia mendekati pesta demokrasi seperti saat ini.

Tokoh yang ada juga unik-unik. Karena kebiasaan orang melayu yang suka menambahkan akhiran 'din' diujung nama, maka di Sirkus Pohon ada tokoh dengan nama-nama demikian. Ada Suruhudin yang justru senang jika selalu disuruh-suruh, dan ada Debuludin yang berulang kali disebutkan selalu berdebu-debu. Selain itu, tokoh-tokoh yang cukup mendominasi di novel ini ada Ibu Bos yang selalu baik hati, ada Taripol Mafia yang penuh tipu daya, ada Gastori yang selalu ingin menguasai segalanya.

Ungkapan "tak ada kabar adalah kabar baik", kurasa cocok untuknya, ketimbang ada kabar, tapi kabar buruk saja.-hal. 208

Jika boleh saya mengulik pesan dalam novel ini, Sirkus Pohon seakan memberi pesan kehidupan tentang apa yang namanya kesabaran, tentang pentingnya sabar dalam penantian, tentang pentingnya terus berusaha dan menikmati hidup tak perduli sekelumit masalah yang akan kita hadapi. Selain itu, ada juga soal cinta yang digambarkan oleh kesetiaan, ada kegetiran yang diwakilkan oleh ujian hidup yang tidak berkesudahan. Asik, nggak? Hehe.

Kami berjalan pulang. Ayah di depanku. Pilu aku melihat langkahnya yang lambat terantuk-antuk, bajunya yang lusuh, celana panjangnya yang buruk, kedodoran, dan sandal jepitnya yang telah putus diikat karet. Orang-orang memperhatikan kami, seorang tua, menyandang kas papan berisi minuman ringan, berjalan diikuti badut,- hal. 279. 

Sobri yang bekerja sebagai badut sirkus, pada akhirnya memilih dengan sepenuh hati menjalani profesinya, di tengah pandangan orang Belitong yang menganggap kerja itu berarti berseragam kemeja lurus yang dimasukkan ke celana, punya pulpen yang terselip di saku kemeja, punya jam kerja, punya gaji bulanan, ada jam lemburnya, punya atasan dan sebagainya--dan badut adalah pekerjaan yang jauh dari bayangan seperti itu. Tetapi, karena kuatnya keinginan untuk membuktikan bahwa ia bisa punya penghasilan tetap, Sobri pada akhirnya bekerja sebaik mungkin dan seiring waktu justru ia jatuh cinta pada pekerjaannya: ia senang dapat menghibur orang lain.

Selain itu, ketekunan Tara dan Tegar dalam mencari orang yang dulu pernah membela dan dibela mengajarkan kita pentingnya terus bersabar dalam penantian, sembari terus berusaha sebaik mungkin untuk menemukan apa yang dicari. Bahwa penantian yang sungguh-sungguh pasti akan berbuah manis.

Usai menulis, dipandanginya surat yang panjang itu dan dia memarahi dirinya sendiri, mengapa susah sekali menulis: aku rindu.-hal. 320
Secara keseluruhan, novel Sirkus Pohon bisa di bilang lengkap, ada sisi romantisnya, ada humornya, ada sains-nya, ada politiknya, ada unsur-unsur kebudayaan, ada motif sosial-ekonomi yang dapat digali, dan macam-macam. Tak perlu mempertanyakan bagaimana Andrea Hirata merangkai segala macam unsur tersebut dalam satu novel, karena sia-sia saja meragukan kualitas tulisan dari peraih gelar Doktor Honoris Causa di bidang sastra dunia ini. Buat para pecinta buku, novel Sirkus Pohon adalah hiburan yang manis nan menyenangkan.

Judul: Sirkus Pohon
Penulis: Andrea Hirata
Tebal: 410 Halaman
Penerbit: Bentang
Tahun: 2017


  • Share:

You Might Also Like

39 Comments

  1. Ulasannya bagus sekali. Kalau boleh jujur, ini kali pertama aku nemuin ulasan buku yang ditulis dengan sangat bagus oleh blogger di Sumut.

    BalasHapus
  2. Saya salah satu penyuka karya Andrea Hirata, terimakasih ulasannya yang bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih kembali bang Salohot sudah membaca ulasan buku dari saya

      Hapus
  3. wah belum baca nih, aku memang suka dengan andrea hirata semenjak cerita laskar pelangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suka sama andrea hirata, wajib banget nih mba baca yg Sirkus Pohon

      Hapus
  4. Nice story ya kak irsyad.
    sayangnya, entah kenapa awak Kayaknya malah berimajinasi seandainya ini difilmkan saja..
    Kayaknya lebih asyik daripada film remaja sekarang yang Lebay..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau difilm kan menurut saya bagus juga nih,bisa jd preferensi lain selain film2 bergenre teenlit yg lagi ramai skrng ya haha

      Hapus
  5. Awalnya ane tau si Andrea Hirata ini dari buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi emang, karya-karyanya mantul tenan!

    Buku ini menarik keliatannya. Wajib hunting di Gramedia nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh aku yang baru tau Andrea masuk buku paket Bhs Indonesia ahaha
      Silaken buru di gramedia

      Hapus
  6. Penasaran, jadi ingin langsung membaca bukunya. Btw, Andrea Hirata latar novelnya rata-rata di Belitung ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, dia ingin mengenalkan kehidupan masyarakat di Belitong, itu memang salah satu komitmen dia dalam menulis buku

      Hapus
  7. Dulu tetralogi laskar pelanginya andrea habis dibaca. Setelah Maryamah Karpov saya tidak pernah baca karya endrea hirata lagi. Suka ngelirik novelnya semisal 'ayah' di TB tapi ntah kenapa kok blm membelinya. Thx for the nice resensi....jadi tergelitik lagi pengen baca novelnya Andrea Hirata...

    BalasHapus
  8. Sudah lama ga baca novel andrea hirata (novel apa pun sih 😌)

    Terakhir baca itu yg ttg sepak bola, lupa judulnya..

    Kenapa ndak sekalian dicantumin harga bukunya? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang tentang sepakbola judulnya Sebelas Patriot ya kak? Itu juga bagus. Buku Andrea Hirata bagus semua pokoknya

      Hapus
  9. Kemarin banyak bertebaran buku ini di lapak online lagi diskon kok blm tertarik. setelah baca review ini jadi tertarik baca. moga nanti dapat yg hrga miring 😂

    BalasHapus
  10. udah lama banget ngga denger soal novelnya andrea hirata. aku belom pernah baca soal sirkus pohon ini, tapi aku suka banget sama buku-bukunya karena puitis tapi ringan jadi orang awam kaya akupun bisa menikmati hehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, tulisan Andrea emang ringan banget, gampang disukai siapa saja. Tulisannya puitis tapi tidak berat sama sekali, itulah kepiawaian dia

      Hapus
  11. Yap saya penggemar berat beliau, selalu beli bukunya lewat sistem PO supaya bertandatangan hehe sdg menunggu kedatangan buku barunya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pengincar PO buku sepertinya. Emang sih kalau PO bisa dapat ttd dan biasanya harganya lebih murah
      Sepertinya saya harus beli buku barunya, tp sepertinya nunggu ntar saja kalau udh ramai di toko buku hehe

      Hapus
  12. Ah andrea hirata memang tidak perlu diragukan lagi mas.
    Setelah baca buku rangkaian laskar pelangi, dan terakhir baca novel berjudul ayah..

    Rasanya, saya jadi makin pengen baca buku ini juga ..
    apalagi setelah baca review buku ini..
    Saya pun udah lama ga review buku, saya sangat senang baca tulisan ini, menyegarkan pikiran.. dan suka cara nulisnya pula. Nggak spoiler spoiler amat, tapi malah bikin penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya justru ketinggalan baca novel Ayah mba, kemarin ke gramedia ngeliat Sirkus Pohon di rak bestseller malah jd ambil itu
      Tp asli sih kalau buku Andrea Hirata pasti jaminan bagus.

      Terimakasih sudah menyukai ulasan saya ini. Sulit rasanya berusaha untuk meminimalisir spoiler, tp saya sudah berusaha kok hehe. Mohon maaf kalau kebawa spoiler tipis-tipis ya hahaha

      Hapus
  13. Penulis di kota tempat tinggal ku ini karya karyanya emang hebat banget, selama tinggal di belitung selama 6 tahun pun gak pernah bosen deh, apalagi filmnya yang menginspirasi seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru tahu nih mas Andrie di Belitong juga. Pingin main ke sana jadinya
      Bangga pasti ada penulis hebat yang lahir dari sana

      Hapus
  14. Ga tau kenapa kurang suka sama Andrea Hirata. Sukanya sama Tere Liye sehingga buku dari Andrea Hirata ga aku miliki. Tapi mungkin kalau dipaksakan, bisa suka ya

    Reviewnya bagus bang. Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tere Liye juga bagus kok bang, salah satu penulis paling produktif di Indonesia. Kalau mau coba baca Andrea Hirata ya boleh aja, pasti suka menurutku hehe

      Thanks

      Hapus
  15. Ulasannya bikin saoa pengen baca novel itu, ha ha. SIRKUS POHON bikin penasaran. Yah, saya suka dengan gaya bahasanya tetralogi IASKAR PELANGI saja membuai saya. Andrea Hirata piawai menyusun kata, memilih serta memilahnya. pun latar dan suasana. saya kerap diempaskan pama masa silam kala membaca bagian berisikan kenangan. sastra mengajarkan banyak hal pada kita, bahwa realitas bisa dibingkai dengan balutan bahasa menawan sehingga kau ragu apakah itu memang fiksi atau fakta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya sih, novel2 Andrea Hirata sudah garansi bagus mbak. Tulisannya ringan, tp bergizi jg. Kita nggk bosen bacanya, sepanjang kalimat pasti terhibur oleh Andrea, apa lagi di Sirkus Pohon level humornya lebih kerasa

      Hapus
  16. kutipan halaman 141 diatas enak kali bacanya ya, hahaha,,, adem rasanya baca pemilihan kata yang unik dan menarik.

    saya ga pernah baca novel Andrea Hirata, tapi harus diakui kalau review ini berkelas lho Serasa review oleh seorang profesional

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang baca novel ini dari awal sampe akhir adem banget.
      Wahh terimakasih banyak bang Sabda, semoga bisa lebih baik lagi

      Hapus
  17. Review bukunya apik .. jadi bikin penasaran dengan tokoh si anak bernama 'misterius'.

    BalasHapus




  18. Kisah cinta si 2 T itu lucu, ya. Kayak sinetron saja :D

    Dari tulisan ini, terkesan menarik sekali novel Sirkus Pohon.
    Saya membaca buku Andrea baru yang tetralogi pertamanya dulu, hehe.

    Cara mengemas novel yang ini keren, ya. Sepertinya memang lebih berkembang daripada yang tetraloginya dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kalau tetralogi dulu itu mungkin langkah awal Andrea Hirata jadi penulis besar. Buku2 selanjutnya jauh lebih berkembang lagi, dari baik dari ide maupun gaya tulisannya. Bukunya banyak, tapi dari satu buku ke buku lainnya tidak membosankan, itulah mengapa Andrea Hirata jadi penulis favorit saya

      Hapus
  19. Benar saja saya selalu tertarik dengan ulasan yg demikian, kompleks tapi mudah dipahami dan tentu pemilihan kata penyusun kalimatny membuat saya "kepengen beli hehe"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak kak :)
      Silahkan beli, nanti sharing pengalaman membacanya ya hehehe

      Hapus
  20. wahhh, terimaksih bg Irsyad. siap baca ini saya jadi pengen langsung beli. memang abang idola saya :*

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.