Sebuah Opini: Pasca Pilpres dan Hasil Quick Count

By Irsyad Muhammad - 4/26/2019 03:39:00 PM


Kamis, 17 April 2019, kita baru saja memberikan hak suara kita pada Pilpres (Pemilihan Presiden) maupun Pileg (Pemilihan Legislatif) untuk periode 2019-2024. Menurut sepengamatan saya, Pemilu kali ini adalah Pemilu dengan euforia dan antusiasme yang luar biasa tinggi. Berbagai orang dan kalangan berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS), bahkan rela antri dengan waktu lama demi bisa memberikan hak suaranya.

Apresiasi setinggi-tingginya patut pula kita berikan kepada para panitia di lapangan. Panitia yang dimaksud adalah Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (TPS), dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Betapa mereka harus diapresiasi, sebab selain tingginya antusiasme masyarakat yang hadir, Pilpres kali ini juga dilaksanakan serentak dengan Pileg sehingga total ada lima kertas suara yang harus dicoblos, berarti mereka harus melakukan pengitungan suara sebanyak lima kali.

Di lingkungan tempat tinggal saya, mereka masih terpantau melakukan penghitungan suara hingga malam hari. Tentu apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang melelahkan sekaligus memiliki tanggung jawab yang tidak main-main. Sampai atau tidaknya suara kita ada di tangan mereka semua. 

Hasil Quick Count

Seperti Pemilu pada umumnya, hari pencoblosan adalah hari di mana berbagai lembaga survei saling berlomba menampilkan hasil quick count atau hitung cepat versi mereka masing-masing. Sekitar pukul 15:00 WIB, para lembaga survei ini serentak merilis hasil quick count yang mana sebagian besar menyatakan kemenangan pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf.

Litbang Kompas contohnya, hasil akhir quick count mereka ditutup pada Kamis malam tanggal 17 April kemarin. Mereka menyatakan keunggulan paslon 01 Jokowi-Ma’ruf dengan perolehan suara sebesar 54,37 persen, sedangkan paslon 02 Prabowo-Sandi memperoleh 45,49 persen.

Selanjutnya Litbang Kompas juga merilis perolehan suara di beberapa pulau besar di Indonesia. Hasil quick count mereka menyatakan bahwa paslon 01 unggul di pulau Jawa, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara, sedangkan paslon 02 unggul di Sumatera dan Sulawesi.

Quick count yang dilakukan Indobarmeter juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda. Indobarometer menyatakan paslon 01 unggul 53,62 persen dan paslon 02 hanya mendapat perolehan 46,04 persen. Lebih lanjut, per pukul 17.30 WIB, Indobaromoter menyatakan bahwa lumbung suara Prabowo-Sandi ada di 19 provinsi, sedangkan Jokowi-Amin hanya menang di 13 provinsi saja, sedangkan dua provinsi lagi datanya belum masuk.

Secara keseluruhan, lembaga-lembaga survei lain seperti Indikator dan Poltracking juga merilis hasil yang tidak jauh berbeda, yaitu menunjukkan keunggulan perolehan suara dari paslon 01 yang berkisar di angka 52-55 persen.

Reaksi Kedua Kubu

Bagi kedua kubu yang berkompetisi, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan kalau Pilpres ini juga soal menang atau kalah. Quick count dari berbagai lembaga survei tersebut bisa dibilang adalah jalan pintas untuk tahu lebih cepat siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Maka, para pendukung dan pemilih Jokowi-Ma’ruf bolehlah bersuka cita menanggapi kemenangan sementara paslon yang mereka dukung. Suka cita tersebut cukup beralasan karena dari berbagai Pemilu yang kita jalani di negeri ini, hasil quick count tidak pernah meleset jauh dari hasil real count atau hitung nyata yang dilakukan KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh kubu 02, di mana mereka justru menyatakan ketidakpercayaannya dengan hasil quick count. Banyak pendukung 02 yang menganggap bahwa lembaga-lembaga survei tersebut ingin melakukan penggiringan opini saja.

Dari media sosial, saya juga mendapati bahwa para pendukung 02 menghubungkannya dengan apa yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Di Pilgub DKI Jakarta, ada anggapan bahwa hasil quick count berbanding terbalik dengan hasil real count. Benarkah demikian?

Saya pun mencari lebih dalam lagi. Ternyata, apa yang saya temukan tidak demikian adanya. Pada Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 lalu, hasil akhir quick count dari 4 lembaga survei ternama kompak menyatakan kemenangan Anies-Sandi, begitu pula hasil real count dari KPU DKI Jakarta.

Ketika itu, Litbang Kompas menyatakan Anies-Sandi unggul 58 persen dari Ahok-Djarot yang cuma 42 persen, lalu ada PolMark Indonesia yang menyatakan Anies-Sandi unggul 57,56 persen dari Ahok-Djarot yang memperoleh 42,44 persen, ada pula LSI Denny JA yang juga menyatakan bahwa Anies-Sandi menang 57,67 persen dari Ahok-Djarot yang mendapatkan 42,33 persen, dan terakhir SMRC yang menyatakan keunggulan mutlak Anies-Sandi 58,06 persen atas Ahok-Djarot yang cuma 41,94 persen.

Quick count di Pilgub DKI Jakarta dua tahun lalu ternyata tidak berbeda dengan hasil akhir real count yang dirilis oleh KPU DKI Jakarta. KPU DKI Jakarta menyatakan kemenangan Anies-Sandi dengan persentase suara sebesar 57,96 persen, sedangkan Ahok-Djarot kalah suara dengan 42,04 persen. Anggapan bahwa hasil quick count di Pilgub DKI Jakarta berbanding terbalik dengan real count dari KPU ternyata tidak benar adanya. Untuk itu sulit jika ingin menyamakan apa yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta dengan Pilpres kali ini.

Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah reaksi dari kedua kontestannya sendiri. Jokowi sebagai Capres yang dinyatakan menang versi quick count ternyata tidak terlalu menunjukkan euforia yang berlebihan. Jokowi menyatakan masih harus menunggu hasil resmi dari KPU saja. Lain cerita dengan Prabowo Subianto, di mana Prabowo justru secara terbuka mendeklarasikan kemenangannya. Prabowo dan timnya mengklaim menang 62 persen dari hasil real count internal mereka serta tidak memperdulikan quick count dari berbagai lembaga survei yang ada.   

Ya, selama hasil hitung resmi dari KPU belum terekap secara lengkap, sah-sah saja mau menyikapinya seperti apa karena berbagai kemungkinan masih bisa terjadi. Di satu sisi, kita juga harus tahu bahwa proses menuju hasil penghitungan suara resmi masih sangat panjang. Betapa tidak, ada sekitar 190 juta pemilih tetap yang terdaftar dengan total TPS berjumlah 809 ribuan yang tersebar di seluruh Indonesia, tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merekap suaranya secara keseluruhan. Untuk para penyelenggara dan pihak terkait, saya doakan agar tetap diberikan semangat dan mampu melewati proses ini secara profesional.

Pada akhirnya kita harus mengakui betapa riuhnya pesta demokrasi kali ini. Saya berharap agar para pendukung dan elite dari kedua paslon bisa memberikan contoh yang baik dengan tidak menambah panas suasana. Jangan sampai suasana sebelum maupun setelah pencoblosan masih sama saja: masih kubu-kubuan dan masih saling menebar kebencian. Sebagai warga negara yang baik, kita tetap harus mendukung siapa pun nanti Presiden yang terpilih.

Opini ini telah dimuat di Harian Analisa pada tanggal 23 April 2019, atau dapat dilihat di: http://harian.analisadaily.com/opini/news/pasca-pilpres-dan-hasil-quick-count/726439/2019/04/23


Dokumentasi Pribadi

  • Share:

You Might Also Like

40 Comments

  1. Kereeeen dah masuk analisa ya bang..
    semoga kpu dan bawaslu juga bertindak professional Sehingga rakyat juga tak terPecah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin kak.

      Iya tuh, banyak banget isu sana sini, jd kita bingung. Memang mereka harus profesional deh

      Hapus
  2. Pemilu kali ini memang luar biasa. Saya sendiri sampai puasa sosmed dulu karena lelah lihat dua kubu masih saja saling menjatuhkan. Semoga siapapun presidennya nanti amanah. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak pp kak, puasa sosmed itu bagus kok buat kesehatan pikiran kita. Hehe
      Aamiin

      Hapus
  3. Tp saya agak kecewa dengan sikap 02 yg terlalu dini mengklaim kemenangan.
    Blum lagi rumor bahwa hub capres cawapres 02 yg retak

    Haizzzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yg berpendapat seperti itu kak. Tp semoga aja nggak menambah panas suasana

      Hapus
  4. Iya nih.. jgn sampai Pemilu sekali memecah belah bangsa selamanya.. hayuk tetep jaga persatuan! :D

    BalasHapus
  5. Hasil quick countnya memberikan dampak yang luar biasa buat kedua kubu paslon, tapi saya berharap yang terbaik saja deh dan yang menang bukan berasal dari hasil yang curang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa pun yg menang, semoga tidak dari hasil curang ya kak.

      Hapus
  6. wah mantap udah masuk d koran hehe
    pemilu tahun ini masalahnya dari QC dan RC
    aku sih cuek aja , soalnya malah jadi ribut sama temen yg beda pilihan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan temen Mas, sama keluarga sendiri banyak yg ribut loh gara2 pemilu doang xD

      Hapus
  7. Luar biasa perdebatan pemilu kali ini. Mari kita tunggu saja hasil resmi KPU. Biar ga ikutan ricuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kak, karena ricuh itu nggak baik. :D

      Hapus
  8. Kukira setelah tgl 17 April udah lega sosmed ternyata belum euyy masih aja pada berisik di grup grup 😂
    Jadi aku masih memutuskan belum kembali ke FB. Udah sejak beberapa bulan sebelum pemilu udah vakum. Takut gak bisa puasa tangan ngeladeni debat yg gak berujung wkwkwk, nanti setelah 22 mei baru lanjut.

    Btw, irsyad kok keren sihh masuk koran Mulu opini nya kemarin pas WBC 2 di warung Bae mau dikepoin keburu pulang 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan diladenin deh debat2nya, nnti stres sendiri xD

      Wah terimakasih kak, nnti dilain kesempatan inshaAllah bisa luangkan waktu lebih lama lg. Kemarin soalnya kebetulan lg ada keperluan dan disempatin dtg ke WBC 2.

      Hapus
  9. Jempol dua dah! Masuk ke analisa, good job! Btw, ulasannya netral. Good, sekarang mulai jarang ketemu orang-orang yang seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kak. Sebisa mungkin saya menulis opini yg netral, karena nggak mau bikin tambah ribut hehe

      Hapus
  10. Masih panas aja ya, reaksi kedua kubu,, kapan lagi ke medan bg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Politik bakal selalu panas kak, nggak perduli udh mau masuk musim hujan. Wkwk

      Kalau bolak balik medan masih sering kok, kalau ada acara inshaAllah sempatin dtg :)

      Hapus
  11. Kerenn udah masuk analisa. Semoga presiden terpilih nanti bisa amanah ya bg..

    BalasHapus
  12. Opininya coba dikirim aja kak ke media cetak. Dalam opininya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, tulisan yg ini dimuat di Harian Analisa kok. Sudah saya sertakan diakhir tulisan :)

      Hapus
  13. Tulisan abang selalu keren2 kutengok lah 😆👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh bisa aja, masih belajar kok ini bang :))

      Hapus
  14. Pertama, aku bangga sama abang yang selalu dimuat opininya di Analisa.

    Soal pesta demokrasi, musim ini adalah yang paling riuh dalam sejarah hidupku. Hihihi
    Ada banyak kecurangan yang aku liat sendiri. Tapi semoga itu tidak berjalan dan kecurangan akan terbongkar. Aku tak mau menyebutkan 01 atau 02, tapi siapa pun yang terpilih diharapkan mampu mengemban tugas yang baik dan amanah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terimakasih bang, Alhamdulillah. Senang berpendapat lewat tulisan doang kok.

      Iya bang, pingin nulis tentang kecurangan juga rencananya, tp kok ya kadang jenuh sama politik2an hahaha

      Hapus
  15. tahun ini pemilunya bener bener luar biasa... quick count jadi perdebatan. kedua kubu juga menyatakan kemenangannya. kita tunggu aja sampai keluar hasil dari KPU yang sesungguhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting jangan sampai nanti kita punya dua presiden bang hahaha

      Hapus
  16. Iyaa riuh bgt..
    Moga segera reda ya..

    BalasHapus
  17. wih keren yah..tulisannya kalau dibaca sekilas terlihat mendukung paslon 01 tp kalu dibaca khidmat ya netral. Saya aja.. duh.. dirmah ibu saya tiada henti cerita ttg paslon 01 atau 02. sampaivosan tp saya ambil saja sbagai wawasan ya kan.. mudah2 an lah presidennya lebih mementingkan hak hak bangsanya bukan bangsa asing saja .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisannya dibuat seobjektif mungkin kok, tp kan tetap nggak bisa menghalangi persepsi org yang membacanya. Hehe
      Semoga dan semoga deh kak dlm pemilu kali ini

      Hapus
  18. Tahun ini Pemilunya memang meriah, sampai perhitungan hasil juga banyak gosip berseliweran. Tapi bener, yang penting, apapun hasilnya, masyarakat move on dan kembali mengisi hidupnya dengan hal-hal yang berguna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, move on, memang penting ini kak. Nanti takutnya habis pilpres tetap aja masih ribut sana sini

      Hapus
  19. Untung gw gak punya sosmed jadi otak gw gak tercemar sama perang dunia maya antara dua kubu. Siapa aja presidennya sama aja, wong tugasnya sama: mensejahterakan rakyat.

    BalasHapus
  20. Pemilu kali ini benar2 membuat pilu, banyak pejuang demokrasi gugur mengawal pemilu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya, tuh Mas. Miris banget sampe 400an petugas pemilu meninggal. Haduhh

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.