Sebelah Mata Novel, Setelah Dua Tahun

By Irsyad Muhammad - 5/02/2019 04:02:00 PM

politikklik.com


Kamis, 11 April 2019 lalu, adalah bertepatan dengan peringatan dua tahun kasus penyiraman air keras yang dialami oleh salah satu penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Novel Baswedan. Untuk mengingat momentum tersebut, para pegawai KPK dan berbagai kalangan masyarakat sipil mengadakan sebuah acara atau aksi di halaman gedung KPK.

“Ini bukan memperingati dua tahun saya diserang, tapi ini momentum yang digunakan sebagai peringatan dua tahun saya diserang dan tidak diungkap.” Ungkap Novel di acara tersebut.

Apa yang disampaikan Novel Baswedan seperti menyimpan sebuah pesan. Di tengah perjuangannya melawan korupsi, menerima berbagai macam bentuk teror, sampai sebelah matanya rusak dan tak bisa lagi berfungsi akibat disiram air keras, ia seakan menyampaikan kritiknya terhadap proses penyelidikan yang sampai saat ini tidak menemui titik terang.  

Sudah Berulang Kali

Kasus penyiraman air keras bukan penyerangan satu-satunya yang ia terima. Sebelumnya Novel Baswedan pernah ditabrak mobil oleh orang yang tidak dikenal sebanyak tiga kali, dua diantaranya tepat sasaran hingga ia terpental dari sepeda motornya. Karena penyerangan itu, kakinya cedera cukup serius sampai ia harus tertatih-tatih setiap kali masuk kantor.

Lebih jauh lagi, Novel bukan pula satu-satunya pegawai KPK yang menerima serangan semacam itu. Beberapa pegawai KPK lain juga sering menerima penyerangan dalam berbagai macam bentuk. Bentuknya ada yang berupa ancaman, teror secara langsung, hingga penyerangan yang berupa kontak fisik.

9 Januari 2019, rumah Ketua KPK, Agus Rahardjo, didatangi paket bom paralon yang tersimpan di dalam sebuah tas hitam. Masih di hari yang sama, sebuah botol bersumbu yang di dalamnya berisi minyak tanah dan diduga bom molotov, terletak di rumah Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif.

Rentetan penyerangan juga terjadi kepada seorang penyidik KPK bernama Afief Yulian Miftach di pertengahan tahun 2015. Di rumahnya, Afief pernah didatangi dua pria tak dikenal yang lalu meletakkan sebuah bingkisan mirip bom. Seminggu sebelumnya, ban mobil Aifef ditusuk oleh oknum tak dikenal. Malam harinya, rumah Afief dilempari telur. Kap mobilnya juga pernah melepuh karena disiram cairan kimia. Waktu itu Afief sedang bertugas untuk mengungkap kasus rekening gendut perwira polisi.

Selain itu, ada seorang pegawai KPK yang pernah diculik oleh orang tak dikenal. Sedangkan untuk ancaman pembunuhan, mungkin itu adalah hal yang biasa bagi mereka-mereka yang berjuang memberantas korupsi. Belum lagi korban lain yang kaussnya tidak terlalu naik di media.

Tidak Serius Mengungkap Kasus Penyerangan

Dua tahun sudah kasus Novel terombang-ambing tanpa arah, dan itu adalah bukti jelas kalau tidak ada upaya serius dalam mengungkap kasus ini. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) memang sudah dibentuk sejak lama, tapi sampai sekarang belum tercium fakta pengungkapan dalang dibalik penyerangan itu. Jika penyerangan yang membuat sebelah mata Novel Baswedan rusak saja belum bisa terungkap, bagaimana kita mau berharap pada pengungkapan kasus teror yang lain?

Padahal, mereka yang ada di KPK adalah para pejuang perlawanan korupsi yang sesungguhnya. Berbagai teror dan penyerangan yang mereka terima adalah bukti bahwa mereka bekerja dengan tekanan yang luar biasa: nyawa dan keselamatan keluarga mereka kapan saja bisa terancam. Di satu sisi, mereka sendiri tidak mendapat perlindungan keamanan yang memadai. Tentu menurut saya ini telah mencoreng citra perjuangan negara ini yang (katanya) serius melawan korupsi.

Nah, selain itu, saya sendiri juga cukup heran kenapa kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan tidak dijadikan “jualan utama” para pasangan Capres dan Cawapres pada masa kampanye Pilpres kemarin. Keheranan saya berlandaskan fakta bahwa isu korupsi selalu menjadi isu utama setiap berlangsungnya penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia, baik untuk kepala daerah maupun Presiden sekalipun.

Jika dipikir-pikir, kasus ini sangat “seksi” bagi para pasangan calon sebagai bentuk keseriusan mereka dalam memberantas korupsi. Aneh jika dalam kampanye dan penyampaian program terkait pemberantasan korupsi, para kandidat ini lupa dan tidak mengungkit penyerangan yang diterima Novel Baswedan.

Pada masa kampanye lalu, kedua pasangan hanya berbicara pemberantasan korupsi dari kulit luarnya saja. Mereka berjanji ini dan itu agar korupsi tidak terjadi lagi, tapi menutup mata bahwa banyak pegawai KPK yang nyawanya terancam ketika sedang memberantas korupsi tanpa adanya upaya melindungi dan mengungkap aktor dibalik teror yang mereka terima.

Terlalu naif jika kita berharap mereka untuk selalu berani mengungkap kasus-kasus korupsi tanpa adanya perlindungan maksimal untuk mereka. Kita ingin korupsi terus diberangus, tetapi penegak hukum yang berusaha memberangusnya tidak dijamin keamanannya. Logikanya, korupsi tidak akan dapat diberangus secara maksimal jika hal yang sangat mendasar seperti itu diabaikan.

Kembali pada kasus Novel Baswedan yang sudah dua tahun tak ada titik terang. Penyiraman air keras terhadap orang yang berusaha mengungkap kasus korupsi adalah bukti bahwa korupsi sendiri sudah menjadi penyakit akut di tubuh negeri ini. Novel Baswedan memang bukan korban satu-satunya, tapi lihatlah sebelah matanya, mau sampai kapan hal seperti ini terus dibiarkan?

Tulisan ini telah dimuat di Geotimes.co.id pada tanggal 29 April 2019.
Tulisan dapat dibaca di https://geotimes.co.id/opini/sebelah-mata-novel-setelah-dua-tahun/


  • Share:

You Might Also Like

28 Comments

  1. Mas, saya yakin siapapun presidennya tau siapa pelakunya. Namun karena posisinya yang kuat di negara ini sehingga sengaja tidak diungkap karena mereka tau akan ada konsekuensi yang lebih besar bila diungkapkan. Kalau pelakunya hanya orang biasa, yakin lah gak pake lama langsung diringkus.

    Kita serahkan saja semuanya pada pak polisi. Biar mereka yang mengerjakan tugasnya. Tugas kita adalah mendukung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, tp kalau kita lihat bagaimana keterangan pak Novel Baswedan sendiri (bisa tonton vlognya dengan Pandji), beliau juga menjurigai keterlibatan seorang jendral polisi.
      Benar, saya setuju, tugas kita adalah mendukung kasus ini agar segera terungkap

      Hapus
  2. ini simalakama juga sih
    bang novel itu kunci banyak kasus besar
    yah semoga segera diketemukan dan benar2 diusut

    BalasHapus
  3. Miris setiapkali mempelajari kasus ini. Keadilan seperti menguap. Sudah dua tahun belum juga terselesaikan. Semoga perjuangan bang novel akan terus,semakin banyak yang mendukung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris memang kak, apalagi beliau bukan satu-satunya korban

      Hapus
  4. Saya koq pesimis akan terungkap yah bila aparat masih berpihak pada satu sisi bukan bersifat netral, klo aparat benar2 netral pasti udah dari 2 tahun yg lalu sudah terungkap siapa dalangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kasus2 pembunuhan yg bisa diungkap di negeri ini, lucu saja rasanya kalau penyiraman air keras aja tidak bisa diungkap

      Hapus
  5. Bagi emak2 kayak saya, mungkin langkah awal adalah membersihkan lingkungan aparat dulu nih dari segala bentuk pembelotan dan indikasi membela sebelah pihak,
    karena biasanya membela karena ada sesuatu yang diterimaa.
    Memang tepat memeriksa rekening gendut para aparat, agar bisa dibuktikan indikasi seperti di atas.


    Salut buat pak novel dan anggota kpk yang serius menangani kasus korupsi Meski banyak halangan dan tantangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang begitu mba, ada yang dilindungi dan melindungi, ada yang terikat satu sama lain. Sepertinya.

      Hapus
  6. Mental koruptor sudah hampir mambudaya di Indonesia...mulai dari anak kecil dengan jumlah korupsi yang kecil juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat mas, dari praktik2 kecil jg banyak kok di masyarakat

      Hapus
  7. Ngikutin kasus ini jg karena pandji sering bahas di youtubnya. Dan sedih sih, karena saya yakin sebenernya semuanya juga tahu siapa pelakunya. Tapi ya itu tadi, terlalu riskan utk diungkap 😭

    BalasHapus
  8. Korupsi memang susah dihapus dengan singkat di indonesia. Karena sudah melanda hampir semua lapisan...
    Klo semua pegawai terlibat atas sampai level bawah. Koong kantornya krn semua pasti nak pecat.
    Bukan satu departemen aja, seliruh departemen..

    Haizzz.. Tak terbayangkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin miris kalau kita telisik lagi ya hiks

      Hapus
  9. Masih terngiang bgt gimana kejadian ini bisa terjadi. Antara malu, shock. Kok berbuat baik memberantas kbaikan banyak bgt rintangannya. Apa emg sebegitu kotornyakah masyarakat kita sekarang ini?:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti ujung2nya orang seperti pak Novel ini makin enggan mengungkap kasus2 besar. Mudah2an tidak

      Hapus
  10. Giliran 'serangan bom teroris' cepat banget nemu pelakunya,
    Yang bener-bener diteror kaga bisa diungkap

    Yahh itu negeriku Indonesia, tapi kalau dipikir-pikir ini macem keluarga Tong atau 9 naga kalau di novelnya banget Tere Liye "negeri para bedebah" dan "negeri di ujung tanduk"
    😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, negeri para bedebah saya juga sudah baca. Hihi

      Hapus
  11. Kalo udah ngomongin korupsi, bisanya cuma bikin aku greget. Nggak ada yang berani mengungkapkan walaupun udah tau jawaban. Seperti berada di pusaran hitam yang semakin seseorang bersuara, maka akan semakin terseret masuk ke dalamnya.

    BalasHapus
  12. Semoga kepemimpinan presiden bru ini bisa mengungkapkan kasus2 korupsi di negeri ini 🙏 tpi gk tau klo presidennya tetap sama apa dia mampu mengungkapkan kasus seperti pak novel ini?? 🤔🤔

    BalasHapus
  13. Sedih kalau liat kasus Novel ini. Tampak tak ada keadilan baginya. Geram deh kalau sampai sekarang tak ada hasil yang memuaskan padahal tugasnya sangat baik, memberantas koruptor. Maunya kalau udah ditangkap, bunuh aja itu para koruptor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar bang, sabar, puasa ini hehehe
      Tp emang bikin geram sih kasus2 begini

      Hapus
  14. Iya nih kasusnya kok kayak ga pernah dilanjutkan sih, Aku emang ga begitu paham dengan hukum, apakah semua ini ada hubungannya sama politik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berat sekali pertanyaannya mas. :')
      Kita doakan yang terbaik saja, semoga kasus ini bisa terbongkar

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.