Mengulik Filosofi 'Burung' dalam Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

By Irsyad Muhammad - 5/05/2019 06:00:00 AM

dok. pribadi

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah salah satu novel Eka Kurniawan yang paling banyak dibicarakan selain Cantik Itu Luka. Itulah alasan kenapa novel ini sudah lama masuk book list saya. Sudah lama pula ingin membelinya, namun kerap tertunda karena lebih memprioritaskan buku-buku lain. 

Sampai pada akhirnya, saya tahu ada aplikasi resmi dari Badan Perpustakaan Nasional yang bernama iPusnas. Dengan aplikasi ini, kita bisa meminjam ebook (secara legal, tentu saja) dengan gratis. Aplikasinya bisa langsung diunduh lewat smartphone masing-masing, kok. Sudah gratis, resmi pula, nikmat mana lagi yang kau dustakan? ;) 


Setelah punya aplikasinya, buku (atau lebih tepatnya ebook) pertama yang langsung saya pinjam adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan ini. Akhirnya, rasa penasaran saya sama novel ini bisa dibayar tuntas. 

Baiklah. Sekilas dari judulnya (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas), pasti banyak yang mengira novel ini bergenre romance yang bisa dibaca banyak kalangan. Jika kalian ada yang berpikir seperti itu, maka percayalah, anda salah besar, Ferguso. 



***
Sinopsis
Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Novel ini berkisah tentang seorang anak muda bernama Ajo Kawir, yang merupakan salah satu dari dua bocah yang diam-diam mengintip peristiwa pemerkosaan seorang perempuan gila oleh dua orang polisi. Saat kejadian itu, Ajo Kawir mengintip dari lubang jendela bersama teman karibnya yang bernama Si Tokek.


Celakanya, aksi intip itu jadi ketahuan karena salah satu dari mereka terpeleset. Si Tokek langsung kabur ke semak-semak, sedangkan Ajo Kawir berhasil diringkuk oleh kedua polisi itu. Tak berkutik, Ajo Kawir langsung diseret ke dalam rumah si perempuan gila. Di dalam rumah itulah semuanya bermula. Ajo Kawir yang masih bocah dipaksa oleh dua orang polisi itu untuk menonton adegan pemerkosaan dari dekat, bahkan dipaksa untuk "ikut bergabung" dalam aksi bejat itu, lengkap dengan ancaman moncong pistol yang menempel di kepalanya.


Dalam situasi yang sama sekali tidak ia harapkan, Ajo Kawir ciut dan pucat pasi. Malapetaka pun tiba. Saking ketakutannya, burung Ajo Kawir mendadak kena "serangan jantung"; tak bereaksi terhadap apa yang ada di hadapannya. Kedua polisi yang menyadari hal itu langsung meledek Ajo Kawir habis-habisan, ia dianggap payah dan tidak berguna. Merasa kasihan, mereka akhirnya melepaskan Ajo Kawir.


Malam itu adalah awal dari segalanya. Betapa peristiwa pemerkosaan perempuan gila tersebut sangat membekas di benak Ajo Kawir, sampai-sampai membuat burungnya memilih untuk tidur panjang dan tak pernah bangun lagi. Ajo Kawir jadi pemuda yang tumbuh dalam trauma, dengan burung yang dianggap tak berguna.


Lucunya, Ajo Kawir sudah melakukan segala cara untuk membangunkan kembali burungnya. Dia pernah mencoba mengoleskan burungnya dengan cabe rawit segar, tapi hasilnya ia hanya meraung-raung kepedasan dan membuat heboh satu kampung. Ia juga pernah memanfaatkan sengatan lebah, hasilnya si burung memang membesar, tapi lebih kepada membengkak dengan bentuk yang tak tentu, selain ia tetap meraung-raung kesakitan. Si burung sama sekali tak menggubris segala cara yang dicoba Ajo Kawir, ia masih terlihat malas-malasan, masih betah dalam tidurnya.


Setelah itu, ceritanya jadi lebih mengalir. Untuk melampiaskan kekesalannya, Ajo Kawir tumbuh menjadi pemuda yang gemar berkelahi. Bersama sahabatnya, Si Tokek, mereka tak segan menghajar siapa saja yang mereka mau. Mereka jadi dikenal dan ditakuti banyak pemuda lain. Hanya saja, tak ada yang tahu dibalik kebrutalan Ajo Kawir, ada burung malang yang tak bisa diharapkan.


Ajo Kawir lalu berpacaran dengan gadis bernama Iteung. Iteung lalu mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Ajo Kawir, tapi Ajo Kawir sendiri ragu dengan kondisinya. Singkat cerita, Iteung jadi tahu tentang kondisi burung Ajo Kawir. Apa daya, cinta membuat Iteung tak mempermasalahkan kondisi itu dan mereka pun menikah.

"Enggak bisa. Aku enggak bisa jadi kekasihmu. Kamu seperti cahaya dan aku gelap gulita, sesuatu yang enggak kamu mengerti."-hal. 59-60

Kehidupan setelah pernikahan justru semakin rumit. Iteung hamil. Tak mungkin oleh Ajo Kawir, tetapi oleh teman Iteung sendiri yang bernama Budi Baik. Cerita kemudian berlanjut dari satu pembalasan dendam ke pembalasan dendam lainnya. Ajo Kawir juga sempat merasakan kerasnya hidup dipenjara karena ia membunuh salah satu mantan preman yang paling disegani.


Setelah keluar dari penjara, Ajo Kawir memutuskan untuk "hijrah" dari kehidupan kelamnya. Belajar dari burungnya, ia memilih hidup dalam kesunyian. Ia tidak berkelahi lagi dengan siapa pun dan lebih sabar dalam menanggapi apa pun. Ajo Kawir berdamai dengan dirinya sendiri dan sudah menerima kondisi yang ada pada dirinya (baca: burungnya).


Demi meninggalkan kehidupan lamanya yang kelam, Ajo Kawir menjajaki kehidupan baru dengan menjadi seorang supir truk lintas Jawa-Sumatera. Dibalik kemudinya, tak disangka Ajo Kawir menjadi supir truk yang sangat bijak: ia hanya menginginkan kehidupan yang tentram dan damai. Suatu waktu ia mengaku bisa bijak seperti itu karena selalu berkonsultasi dengan burungnya. Benar, Ajo Kawir sering mengobrol dengan burungnya sendiri.



Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apa pun, aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung.-Hal. 123 
***
Khusus di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini, Eka tampil lebih ceplas-ceplos dari sebelumnya. Banyak kata-kata yang vulgar dan brutal, biarpun saya tidak terlalu terkejut karena di Cantik Itu Luka juga demikian, tapi di karya yang ini Eka sama sekali tidak menyaring pilihan katanya.

Misalnya saja untuk menyebutkan "burung". Di sinopsisnya, sebutan "burung" mungkin dipilih untuk sebuah penghalusan, secara kita tahu orang-orang di toko buku pasti membaca sinopsisnya dulu sebelum membeli. Tapi tidak boleh lupa kalau kode 21+ tertera di bawah sampul belakang novel ini. Kode itu bukan tanpa alasan, karena di dalamnya penyebutan "burung" tidak akan sehalus itu lagi. Tak sampai di situ, banyak adegan dewasa dan adegan brutal yang berulang kali dipertontonkan di dalam ceritanya, belum lagi umpatan-umpatan yang terdengar kasar.



mojokstore.com


Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Tapi kemaluan juga bisa memberimu kebijaksanaan.-Hal 126.


Eka Kurniawan kerap menyajikan ide cerita yang unik dan menarik. Setting-nya juga selalu erat dengan kehidupan sosial masyarakat menengah ke bawah. Namun, isu yang diangkat Eka kebanyakan selalu tidak lumrah untuk dibicarakan, tapi terkadang saya juga berpikir kalau isu yang tidak lumrah itu memang ada dan nyata. 

Saya pernah menyimak proses Eka Kurniawan dalam menggodok novel ini. Ternyata peristiwa perempuan gila yang diperkosa juga pernah terjadi di kehidupan nyata, dan itu terjadi di Indonesia. Eka Kurniawan menyaksikan beritanya sendiri dan kejadian itu cukup membekas di kepalanya. Atas dasar peristiwa itu, Eka ingin menyampaikan pandangannya soal ketidakadilan perlakuan yang diterima oleh perempuan, bagaimana perempuan selalu dijadikan objek oleh lelaki (tak perduli walaupun kondisnya tidak waras), dan lelaki bergerak atas keinginan kemaluannya, bukan otaknya.

Itu mungkin yang menjadikan novel ini jadi terasa lebih jujur, didukung pula oleh gaya penulisannya yang ceplas-ceplos, tapi bukan asal-asalan. Kalimat-kalimat dalam novel ini juga pendek-pendek, lugas, lebih banyak adegan-adegan yang dipertontonkan dari pada narasi atau perumpamaan yang bertele-tele. Kejujuran dan cara menyampaikannya membuat novel ini tidak terasa "menjijikkan" walaupun kata-kata yang dipakai terkesan kasar dan brutal.


Secara garis besar, novel ini sama sekali tidak sulit dibaca. Hanya saja memang tidak semua kalangan atau umur bisa membacanya. 
Celetukannya juga kena dan lucu-lucu semua. Beberapa kali saya terpingkal oleh komedi satir a la Eka Kurniawan.  Entahlah, Eka Kurniawan seperti meletakkan komedi di atas sebuah tragedi. Pokoknya, novel ini sama sekali tidak membosankan, dan tentu saja menghibur.


Satu yang paling saya suka dalam novel ini adalah ending-nya. Gila, benar-benar gila. Eka Kurniawan menutup Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dengan cara yang ciamik. Ending-nya sukses membuat saya menarik nafas panjang sekaligus berdecak kagum atas kepiawaian sang penulis.
"Burungku bilang aku tak boleh berkelahi."
Mereka tak tahu kemaluannya tak bisa bangun. Tapi mereka sudah sering mendengar, untuk segala urusan, Ajo Kawir selalu bertanya ke kemaluannya. 
 
"Kenapa kau selalu bertanya kepada burungmu untuk semua hal?" tanya Mono Ompong, sekali waktu."Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya."Si Tokek akan mengatakan, itu filsafat.-Hal.188-189.
***

ekakurniawan.com

Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2014
Tebal: 242 halaman





  

  • Share:

You Might Also Like

4 Comments

  1. Gila rinci banget reviewnya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih? Padahal ini saya usahain poin2nya aja hehe

      Hapus
  2. nyasar kemari, eh baca reviewnya menarik banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba. :)
      Kapan2 nyasir ke mari lagi ya :D

      Hapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.