Review Buku 1Q84 Jilid 1 Karya Haruki Murakami

By Irsyad Muhammad - 6/01/2019 03:55:00 PM


Berbekal buku pinjaman dari seorang teman SMA, jadilah 1Q84 Jilid 1 sebagai karya Haruki Murakami pertama yang saya baca. 1Q84 sendiri adalah novel surealis yang terdiri dari 3 jilid. Tentu saja, saya memulainya dari jilid 1 terlebih dahulu.

Sekarang tahun 1Q84.
Ini adalah dunia sejati, tak ada keraguan akan hal itu.
Tapi di dunia ini, ada dua bulan menggantung di langit.
Di dunia ini, takdir dua manusia, Tengo dan Aomame berkelindan erat.
Masing-masing dengan caranya sendiri terlibat dalam sesuatu yang mengundang bahaya.
Dan di dunia ini, tampaknya tak ada cara untuk menyelamatkan keduanya.
Sesuatu yang dahsyat sedang bergerak.

Dari sinopsisnya sendiri, buku ini menawarkan cerita yang mengundang penasaran. Tetapi, kesan membosankan langsung saya dapat sejak awal sampai akhir cerita 1Q84 Jilid 1 ini. Masa-masa yang paling membosankan saya rasakan pada awal-awal bab.

Murakami mengambil sudut pandang orang ketiga di mana dua tokoh utamanya bernama Tengo dan Aomame. Cerita Tengo dan Aomame dimasukkan berseling-selingan. Misalnya, bab 1 bercerita tentang Tengo, bab 2 tentang Aomame, bab 3 Tengo lagi dan terus bergantian sampai bab akhir. Diawal-awal bab, Tengo dan Aomame punya kisah masing-masing yang terlihat tidak berkaitan. Selanjutnya pembaca seperti sengaja dibuat menebak-nebak apa kaitan dari kedua tokoh sentral ini. Sampai menjelang setengah buku, kaitan antara Tengo dan Aomame masih tidak jelas rimbanya.

Melewati setengah buku, konflik dan apa yang dihadapi para tokohnya mulai kelihatan. Saat itulah saya mulai mendapatkan feel dari cerita yang disusun Murakami ini. Walaupun begitu, masih saja temponya terasa lambat dan (sekali lagi) membosankan. Satu lagi, beberapa penyampaiannya menurut saya terlalu bertele-tele.

***
BUKAN AKU, MELAINKAN DUNIALAH YANG KACAU.- hal 176. 

Aomame adalah seorang wanita yang memiliki "pekerjaan" sebagai pembunuh laki-laki pelaku kekerasan terhadap perempuan. Suatu ketika, Aomame merasa ada beberapa kejanggalan yang terjadi. Saat itu tanpa disangka ada sebuah kejadian bersejarah yang luput dari perhatiannya, sedangkan hampir semua orang tahu tentang kejadian itu. Selain itu, kemudian ia melihat ada dua bulan yang menggantung di langit, satu bulan normal yang biasa ada dan satu lagi bulan yang tidak biasa. Secara nyata, hanya Aomame yang melihat bulan menjadi dua.

Semua tahu bahwa tahun itu adalah tahun 1984. Tapi, atas kejanggalan-kejanggalan yang ia lihat, Aomame merasa harus memberikan kesimpulan sementara atas tahun yang ia hadapi itu. Ia akhirnya menamakan tahun itu sebagai tahun 1Q84. "Q" dalam 1Q84 sengaja ia sematkan sebagai hipotesis atas kejanggalan yang ia lihat. Q sendiri artinya adalah Question Mark alias tanda tanya: dunia dengan tanda tanya. 

Setelah melakukan hal seperti itu, rupa segala sesuatu dalam kehidupan sehar-hari mungkin tampak sedikit berubah. Mungkin terlihat berbeda dari biasanya. Tapi jangan sampai tertipu penampilan. Kenyataan selalu hanya ada satu.-hal 179.

Sedangkan Tengo adalah seorang pria yang bekerja sebagai guru bimbel matematika sekaligus penulis. Masalah Tengo dimulai setelah ia menerima tawaran menulis ulang sebuah novel berjudul Kepompong Udara. Pada dasarnya, novel Kepompong Udara adalah karangan seorang gadis muda bernama Fuka-Eri yang merupakan pengidap disleksia. Namun, novel "mentah" karangan Fuka-Eri memiliki kekurangan di kalimat-kalimatnya yang sangat berantakan. Tugas Tengo adalah menulis ulang novel itu demi memperbaiki kalimat-kalimatnya.

Setelah ditulis ulang oleh Tengo (secara diam-diam, tanpa sepengetahuan publik), novel Kepompong Udara karya Fuka-Eri akhirnya dirilis. Ide segar dari Fuka-Eri ditambah perbaikan kalimat dari Tengo membuat Kepompong Udara berhasil menjadi karya sastra Best Seller dan dibicarakan oleh berbagai media di Jepang. Setelah nama Fuka-Eri mencuat ke publik, masalah mulai berdatangan. Fuka-Eri ternyata adalah gadis misterius yang punya hubungan dengan salah satu sekte keagaman ekstrim di Jepang. Tengo pun mulai masuk ke dalam pusaran masalah.

"...Ini dunia picaresque roman yang gemilang. Dengan membulatkan tekad, mari kita nikmati aroma kejahatan yang kental. Mari kita nikmati arus dahsyat. Dan saat jatuh dari air terjun, mari kita jatuh bersama-sama secara cemerlang."-hal 338.
***
Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang 1Q84 jilid 1 ini. Pun, konflik ceritanya masih abu-abu sekali, mungkin karena masih ada 2 jilid lagi yang harus dituntaskan untuk mengetahui cerita Tengo dan Aomame secara utuh. Lagi pula buku ini sudah diterbitkan sejak tahun 2009 dan Haruki Murakami juga merupakan penulis sastra ternama di dunia, jadi pastilah sudah banyak yang mengikuti karya penulis yang satu ini.

Dari sudut pandang saya sebagai orang yang baru membaca jilid 1-nya (juga pembaca pemula karya Murakami), buku ini tidak terlalu memberikan kesan mendalam bagi saya. Sejak awal saya terus menunggu dan menduga-duga kapan Tengo dan Aomame bertemu, karena apa yang mereka hadapi sebenarnya saling berkaitan. Tetapi saya harus menerima kenyataan bahwa mereka tak juga bertemu sampai jilid 1 ini selesai. Oh, iya, penutupnya saya rasa sangat gantung, tak ada kesimpulan dari inti masalah yang dihadapi kedua tokoh ini. Saya yakin si penulis memang sengaja memaksa pembacanya untuk mengkhatamkan sampai jilid 3. Yang ada, Haruki Murakami menutup novel ini dengan sebuah pertanyaan filosofis yang sama sekali belum terjawab.

Berbicara konflik, sepertinya ada kaitan erat antara tokoh-tokoh di dalamnya dengan sebuah sekte keagamaan bernama Sakigake. Sakigake ini dulunya adalah sebuah komune atau sekelompok masyarakat yang memiliki ideologi tertentu, lalu berlanjut menjadi sebuah sekte keagamaan resmi namun sangat tertutup dari dunia luar. Ada masalah besar yang sepertinya mengintai Tengo dan Aomame berkaitan dengan sekte keagamaan yang misterius ini. 

Pesan moral? Hmm. Isu yang diangkat cenderung sensitif bagi sebagian orang. Isu sensitif itu misalnya beberapa kali mendiskreditkan nilai kepercayaan atau agama, yang saya rasa tidak semua bisa menerima hal seperti itu. Ada beberapa adegan vulgar yang berkaitan dengan karakter tokoh-tokohnya juga, tetapi bukan dimasukkan tanpa alasan karena tetap sejalan dengan ceritanya. Adapun perihal isu kekerasan kepada perempuan dan anak, saya yakin masih tetap relate dengan siapa saja. Isu perempuan cukup kental di 1Q84, karena karakter untuk Aomame juga berangkat dari hal seperti itu. Sensitif atau tidak, tetap saja harus menyadari kalau ini hanya sebuah karangan fiksi. 

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah.-403

Saya sendiri memang kurang pintar menikmati novel-novel "berat" seperti ini. Bukan karena sulit dipahami, hanya saja sulit untuk mengutarakan kesannya. Apalagi khusus 1Q84 jilid 1 ini, inti ceritanya masih sangat samar-samar.

Jika ditanya apakah saya akan menghabiskan 1Q84 ini sampai jilid ke-3, maka jawabannya bisa jadi. Bisa jadi karena sepertinya saya akan menjadikan 1Q84 sebagai pilihan ketika bahan bacaan saya sudah habis, bukan sebagai bahan bacaan utama.



  

  • Share:

You Might Also Like

32 Comments

  1. Hebat kak, meskipun gak suka novel ini tapi tetep bisa buat review nya..

    Saya kalo gak suka, langsung ditinggalin, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, ada dua komitmen sih kak.
      Pertama, komitmen untuk menghabiskan buku yang sudah dibuka lembar pertamanya. Kedua, salah satu resolusi tahun 2019 ini adalah menuliskan review atau ulasan dari setiap buku yang sudah selesai saya baca. Hehe :)

      Hapus
  2. Saya baru mau nanya apakah Bang Irsyad mau membaca jilid-jilid berikutnya hehe

    Tapi memang bikin penasaran sih. Penulis kayak gambling juga, bedasarkan review ini .. karena kalau pembaca tidak menemukan di mana menariknya karyanya, pembaca akan meninggalkannya bahkan sebelum sampai di pertengahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih kak, mungkin saya sendirinya aja yang kurang menikmati novel yg begini. Selesainnya juga lama saya. Mungkin akan saya baca sampai jilid terakhir, itupun kalau sudah nggak ada bahan bacaan lagi di rak saya :D

      Hapus
  3. Mantap ini... Rajin baca n reviu novel itu keren

    BalasHapus
  4. Wah boleh pinjem nih kapan2 bang heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau 1Q84 ini punya temen kak, nnti yg ada sama saya bisa lah saya pinjemin hehe

      Hapus
  5. klo misal awalnya begini apakah mas Irsyad lanjut ke jilid 2 nya nanti?
    pasti harus donk sambil review lagi hehe
    review novel itu ga mudah mas, tapi mas membawakannya jadi mudah dipahami nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha mungkin akan saya selesaikan sampai tetes terakhir mas, tp nggak tau kapan :D

      Wahh terimakasih apresiasinya, semoga nanti lebih baik lg saya mereview buku *sungkem*

      Hapus
  6. Bolehlah pinjem bukunya, tertarik saya :D

    BalasHapus
  7. dari sinopsisnya sepertinya menarik mas, cuma gak tau ya kalo dibilnag membosankan, saya pribadi setelah baca sinopsisnya jadi pangsung baca full bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin emang saya aja yg belum terlalu menikmati karya Murakami mas. Btw ini penulis udh gede banget, salah satu penulis sastra nomor wahid di dunia, jd pasti udh banyak penggemar setianya. Hehe

      Hapus
    2. agak typo nih komenan saya di atas, maksutnya setelah baca sedikit reviewnya saya jadi pengen baca full bukunya :D,

      Hapus
  8. awal-awal emang 1Q84 ini membosankan kok. saya baca versi terjemahan inggrisnya, memang sangat-sangat slow paced; tapi pas baca terjemahan indonesianya jadi kerasa banget kesan bertele-telenya--tapi di buku 2 dan 3 lumayan kebantu kok karena konfliknya udah unfolding kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah yg udh baca sampai jilid 3 mampir nih. Iya mba, btw ini emang pertama kali saya baca buku Murakami, mungkin belum nyetel aja.

      Iya nih, emang bertele-tele banget menurut saya. Kalau versi indo nya lebih bertele-tele dibandingin versi inggris, berarti kurang maksimal terjemahinnya.

      Hapus
  9. Pemilihan huruf Q buat selipan anfka tahun unik, ya ...

    Tadinya kukirain itu kode apaan 😁

    Kutunggu review jilid ke 2 nya, ya .., sepertinya di jilid ke 2 ceritanya tak kalah bikin mengkerut kening kita hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, smeoga nanti ada waktu dan keinginan buat menyelesaikan jilid 2 nya mas Hima :D

      Hapus
  10. ini memang termasuk jenis novel "berat" tapi salut bisa mereviewnya, paling ga kami2 pembaca "awam" bisa menangkap beberapa hal poin utama yang menjadi cerita itu

    BalasHapus
  11. Salut nih, walo bilang bosan tapi reviewnya daleeem. Lanjut mas

    BalasHapus
  12. Wah kemarin-kemarin mau beli IQ84 tapi masih mahaal, 3 jilid pula, ga jadi beli deh. Novelnya Haruki Murakami yang pernah saya baca cuman novel pertamanya yang judulnya 'Dengarlah Nyanyian Angin' ....ceritanya datar dan tanpa klimaks sih, tapi entah kenapa membuat saya merasa ketagihan membuka halaman demi halaman, mungkin karena dia membuat saya merasa benar-benar menjadi tokoh dalam novel tersebut. Ditambah setting tempatnya membuat saya merasa rileks, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mahal, minjem ae mas kayak saya wkwkw.
      Iya sih, baca novel itu malah lebih asyik dari pada nonton film, malah terkadang novel jadi lebih visual karena kita berimajinasi sendiri

      Hapus
  13. asyik mas
    saya masih belum bisa sih ngeview novel berat
    saya tunggu untuk novel selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedang berusaha untuk konsisten membaca nih mas, hehe

      Hapus
  14. Wahhh harus dibaca tuh mas yang bab 2 dan 3 nya... Ibaratkan kalau sudah naik Gunung Sindoro harus naik juga gunung slamet dan gunung sumbing.. 3S yang sangat terkenal di Indonesia itu wuheheeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya akan berusaha membacanya sampai jilid terakhir mas. Hehe

      Hapus
  15. Reviewnya keren, Mas. Saya penasaran, lho. Meski Mas irsyad bilang bosan, saya justru tertantang baca gara-gara review di atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, silahkan dibaca dan mari kita berbagi tanggapan kelak :)

      Hapus
  16. Buku haruki Murakami yang ini emang agak panjang dan berat. Mungkin bisa coba bukunya yang lain kayak Norwegian Wood. Enggak berseri sih cuma tetep bagus khasnya haruki

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.