Ospek atau Pelonco?

By Irsyad Muhammad - 9/15/2019 07:41:00 PM



Saya punya pandangan tersendiri soal Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Ospek, bagi saya selalu identik dengan pelecehan dan penyiksaan secara fisik. Alih-alih mahasiswa baru alias maba dikenalkan lebih dalam tentang dunia kampus tempat dia akan segera belajar, para maba justru “dikerjai” dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan masuk akal.

Pesatnya arus informasi sekarang juga semakin membuka mata banyak orang. Sebuah video dari kegiatan Ospek di salah satu Universitas di Ternate menjadi viral lantaran menggambarkan bagaimana Ospek di kampus tersebut yang tidak bisa diterima nalar. Betapa tidak, para maba terlihat disuruh menaiki anak tangga dengan cara berjalan sambil jongkok dan juga harus saling meminum air mineral yang sudah tercampur (maaf) air liur teman maba lainnya. Dalam tangkapan layar tersebut, jelas sekali para senior yang menjadi panitia Ospek melakukan perpeloncoan yang lewat keterlaluan.

Tangkapan layar dari Ospek yang sempat viral. | Sumber: suara.com

Bagi saya sendiri yang pernah mengenyam bangku pendidikan perguruan tinggi, hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Tidak perlu naif, begitulah gambaran Ospek di kampus-kampus negera ini pada umumnya. Saya ulangi: pada umumnya. Kejadian di salah satu Universitas di Ternate hanyalah bukti kecil yang kebetulan tersebar dan menjadi pembicaraan banyak orang.

Melenceng dari Tujuan Sebenarnya

Saya pernah jadi peserta Ospek--tentu saja ketika awal jadi mahasiswa dulu--tapi setelah itu saya selalu berusaha menghindari seminimal mungkin keterlibatan saya sebagai penggagas maupun pelaksana kegiatan Ospek. Bagi saya, tujuan diberlakukannya Ospek adalah untuk mengenalkan seperti apa dunia perkuliahan yang harus dihadapi. Sebagai mahasiswa yang baru masuk, buta terhadap dunia perkuliahan adalah hal yang wajar. Untuk itulah diberlakukan orientasi sebagai materi perkenalan mereka tentang mekanisme dunia perkuliahan sesuai dengan kampus yang mereka pilih. 

Jika merujuk pada apa yang saya sebutkan tadi, maka kegiatan Ospek sedikitnya harus menjawab beberapa pertanyaan ini: bagaimana memilih dan seperti apa mata kuliah yang akan mereka hadapi, bagaimana sistem penilaian di dunia perkuliahan, seperti apa aturan yang ada di bangku kuliah dan apa konsekuensinya jika mereka melanggar, hingga hal-hal remeh tapi penting seperti bagaimana mengajukan cuti, melamar beasiswa, dan sebagainya. Memang secara umum kegiatan Ospek di Indonesia berisi materi-materi tersebut, tetapi, ada selalu bumbu-bumbu perpeloncoan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi utama kegiatan Ospek. Sampailah pada alasan mengapa saya selalu menghindari keterlibatan dalam penggagas atau pelaksana kegiatan Ospek.

Maka saya kerap melihat, ada panitia-panitia Ospek di kampus yang “mendandani” maba-nya dengan atribut-atribut aneh. Tak cuma itu, kekerasan dalam bentuk verbal seperti dibentak-bentak hingga menerima konsekuensi secara fisik seperti dijemur di panas matahari, berdiri setengah jongkok, push-up, hingga seperti kasus viral di salah satu Universitas di Ternate itu masih saja terjadi.

Apakah atribut aneh selama Ospek dapat menunjang kegiatan perkuliahan kelak? | Sumber: hipwee.com

Apakah hal itu berpengaruh dan bermanfaat bagi para maba untuk mengarungi dunia perkuliahan yang sebenarnya? Sebagai orang yang pernah menjadi peserta kegiatan semacam ini, dengan tegas saya mengatakan itu tidak berpengaruh dan tidak bermanfaat secuilpun. Jelas saja, hal ini hanya menjadi pelampiasan ego dari para senior di kampus terhadap mahasiswa yang baru masuk.

Sejalan dengan itu, saya menyadari hal ini sudah menjadi budaya. Kegiatan Ospek yang lari dari tujuan sebenarnya sudah berjalan secara turun-temurun. Para senior yang menggagas Ospek ini sebelumnya juga pernah menjadi peserta Ospek dan diperlakukan demikian sama. Esok hari, sang peserta Ospek juga akan menjadi senior dan jadilah kegiatan Ospek ini sebagai ajang balas dendam tiada akhir.

Tak heran jika saat Ospek, kalimat seperti “kami dulu Ospek-nya lebih berat” selalu diucapkan senior kepada para maba. Ya, kalimat itu seakan menyatakan bahwa apa yang diterima para maba tidak seberat apa yang diterima para seniornya dulu. Padahal tidak ada keharusan kalau Ospek setiap tahunnya harus lebih berat atau lebih ringan. Sekali lagi, Ospek adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, bukan penyiksaan secara fisik dan pelecehan demi memuaskan ego para senior kampus. Saran saya, kalau nanti ada senior yang mengatakan seperti itu ketika Ospek, jawab saja: bodo amat!

Mengembalikan Peran Mahasiswa

Sejauh yang saya tahu, peran mahasiswa adalah sebagai agent of change, social control, serta calon pemimpin masa depan. Tugas mahasiswa sendiri ketika masuk ke dunia perkuliahan adalah untuk mengambil ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya, lalu lulus sebaik mungkin dengan harapan ilmu dan pengalaman yang dibawa bisa menjadi bekal dan bermanfaat dalam masyarakat kelak. Kegiatan Ospek berbau sisksaan fisik dan pelecahan tak berguna untuk hal itu. Sama sekali tak berguna.

Beberapa dalil pembenaran dari para senior atas perpeloncoan di kegiatan Ospek antara lain adalah untuk mengajarkan tanggungjawab, kekompakan, mental kuat dan sejenisnya. Ada pula slogan “satu salah semua ikut salah” yang dijadikan hukuman bila ada yang melanggar peraturan Ospek. Tanggapan saya: semua itu diada-adakan dan merupakan suatu kekeliruan

Padahal, selepas dari bangku kuliah, kita tidak akan disuruh saling meminum air bekas liur orang lain maupun menerima hukuman-hukuman yang bersifat pelecehan atas kelalaian kita dalam bekerja. Dalam dunia sesungguhnya, kebanyakan kita akan bertanggungjawab atas kesalahan yang kita perbuat sendiri dan menerima konsekuensinya sendiri. Kekompakan, mental dan rasa tanggungjawab bagi saya pun hanya bisa terbentuk dalam waktu dan kondisi alami tertentu, bukan dalam kondisi yang dibuat-buat di mana para maba diberikan "tekanan" yang seharusnya tidak pantas mereka dapatkan. 

Saya yakin bahwa para maba ini juga sadar bahwa mereka sedang dikerjai, tetapi mereka sama sekali tidak bisa berbuat banyak dan tak berani untuk berbicara. Aturan ada pada penggagas dan pelaksana kegiatan Ospek, para maba hanya dengan terpaksa menerima dan mengikuti kegiatan yang sudah direncanakan.

Lebih dari pada itu, hal ini merupakan potret budaya perguruan tinggi kita yang sangat tidak pantas dan sudah berjalan sedemikan lama. Kegiatan Ospek berupa siksaan fisik dan pelecehan sangat mencoreng budaya kampus yang seharusnya berjalan dengan sangat akademis. Bagaimana mungkin seorang agent of change dan calon pemimpin bangsa yang baik lahir dari kegiatan perpeloncoan yang konyol. Bagaimana pula kita akan menghadapi persaingan ekonomi yang semakin ketat dan terbuka di pasar global jika aset terdepan bangsanya masih harus menerima perlakuan tidak pantas demi mengenyam pendidikan tinggi. Duh, bahasannya jadi makin berat.

Baiklah, saya yakin masih banyak kampus yang sudah mengemas kegiatan Ospek maba-nya dengan kegiatan yang lebih intelek dan akademis sesuai dengan tujuan diberlakukannya Ospek. Banyak juga potret Ospek sekarang ini yang lebih mengedepankan pengembangan kreatifitas maba-nya. Sebagai penggagas dan pelaksana kegiatan, para mahasiswa senior seharusnya sudah punya jalan berpikir yang lebih akademis sekaligus kreatif. Para pemangku kebijakan pun harus lebih tegas, aturan main yang jelas harus dibuat agar potret pendidikan tinggi jauh lebih baik. Saya meyakini, generasi terbaik akan lahir dari proses yang juga baik. Terakhir, semoga infografis dari akurat(dot)co di bawah ini bisa diterapkan di seluruh kampus-kampus di Indonesia.

Sumber: akurat.co


  • Share:

You Might Also Like

7 Comments

  1. Kalo menurut sy pribadi sih rada lebay tuh perploncoan yg ga ada hubungannya sm sekali dengan pendidikan..ga prnh ngaca dr bnyk peristiwa sampai ada yg meninggal sgla... Tutup mata atau hati nuraninya sdh ilang kali... Mau nunjukin superior nya kpd mhaswa baru? Klwt over kl kt sy mah...

    BalasHapus
  2. Jaman gw ospek dulu kagak ada perpeloncoan. Yang ada kita duduk sambil ngantuk-ngantuk karna dengerin orang ngoceh. 3 hari dengerin orang ngoceh mulu, ampun dahh...

    BalasHapus
  3. aku ngga setuju dengan perploncoan. ngaco sih yang membiarkan itu terjadi dengan alasan agar mentalnya bagus. kalo mau, masih banyak kok exercise yang emang bikin mental kita jadi bagus ngga harus diplonco juga

    BalasHapus
  4. Pada dokumen sih isinya orientasi tapi pada prakteknya lebih pada ngerjain junior

    BalasHapus
  5. Nggak bermanfaat sama sekali dan miris banget ternyata masih banyak yang melakukan perbuatan nggak manusiawi seperti itu..

    BalasHapus
  6. Iya nih, akan lebih baik jika ospek yang dilakukan bisa memperdalam minat dari mahasiswa/i nya sendiri. Jadi dari mahasiswa/i sendiri dapat berpikir kreatif dalam mengatasi masalah-masalah yang ada didalam dirinya atau mengatasi masalah diluar dirinya.. Mungkin itu yang bisa dipikirkan untuk ospek kedepannya, menurutku sih

    BalasHapus
  7. Hadeeeeeh memang menjadi suatu hal yang tabu sih, ini. Ospek yang disalahgunakan menjadi pelonco.

    Tapi Alhamdulillah saya nga pernah :')

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir di irsyadmuhammad.com. Sila tinggalkan jejak dikolom komentar, terbuka pula untuk saran maupun kritik. Setiap yang meninggalkan jejak akan saya kunjungi balik blognya. Salam damai dan happy blogging.