Header Ads

Gaya Hidup dan Pinjam-Meminjam Duit yang Menyebalkan


Sumber: wallpaperflare.com


Menurut sepengamatan saya, ketika ada orang yang mau pinjam duit dan kita tidak mau meminjamkannya, maka kita akan dicap pelit oleh orang tersebut. Tidak sepenuhnya benar, tapi sering terjadi. Lain hal jika orang tersebut memang sangat membutuhkan, maka tidak ada salahnya untuk ikut membantu. Walaupun begitu, kita tetap harus memilah mana yang pinjam duit karena kebutuhan mendesak atau emang cuma buat melanjutkan gaya hidup saja.

Saya sendiri pada dasarnya emang males diutangin. Bukan karena pelit, tapi karena saya lagi nggak punya duit aja. Eits, becanda, kok. Mudah-mudahan saya bisa terus diberikan rezeki. Lebih tepatnya sih, karena saya nggak mau hubungan saya dengan teman atau kerabat jadi rusak cuma karena urusan ini. Banyak tuh, waktu ditagih, yang ngutang malah lebih galak dari pada yang ngutangin. Saya paling males ngadepin yang beginian.

Nah, saya punya sedikit cerita tentang partner kerja saya dulu yang agak toxic soal pinjam-meminjam duit ini. Sebut saja namanya Ujang. Bukan nama sebenarnya, ya. Kesamaan nama anggap aja sebagai sesuatu yang tidak disengaja.

Kebetulan, saya dan Ujang berada di divisi yang sama. Kami hampir setiap kali melakukan tugas kantor bersama-sama. Namanya sering bareng, kami jadi banyak bertukar cerita.

Suatu waktu, Ujang membongkar kebiasannya kepada saya bahwa dia suka ngutang ratusan ribu sampai jutaan rupiah sama orang yang baru dia kenal. Bahkan, dengan haru dia menyebut beberapa diantaranya belum menagih walaupun sampai sekarang belum dia lunasi. Saya sendiri nggak tahu apa motif Ujang cerita ini ke saya. Satu yang pasti, waktu itu saya emang baru kenal dengan Ujang.

Hari demi hari, cerita Ujang yang sering ngutang mulai merambah pada keluhan-keluhan finansialnya. Dia mengeluh soal dirinya yang merupakan anak perantauan, tentang sulitnya memenuhi kebutuhan kosan, makan, rokok, sampai borosnya bensin motor Ninja dia yang suara dan asap kenalpotnya menurut saya mirip alat fogging nyamuk. Keluhan-keluhan itu menurutnya adalah faktor utama mengapa dia sering berutang sama orang lain. Hal itu merupakan suatu kewajaran, katanya.

Lambat laun saya mulai curiga kalau dia mau mencoba pinjam duit ke saya. Benar saja. Perlahan tapi pasti, Ujang mulai menunjukkan "kebolehannya". Awalnya dia pinjam yang kecil-kecil dulu. Pernah Ujang pinjam lima puluhan untuk keperluan pribadi yang katanya mendesak. Ujung-ujungnya ternyata buat beli rokok atau beli oli samping Si Ninja kesayangannya. Dari lima puluhan mulai naik ke seratusan, dan entah buat apa lagi saya nggak sepenuhnya tahu. Karena saya emang males diutangin, saya selalu memastikan agar Ujang melunasinya dengan segera.

***

Makin ke sini, saya merasa seperti “korban baru” dari kebiasaan Si Ujang. Nominal yang diminta Ujang buat pinjam duit justru makin memberatkan saya. Saya yang mulai keberatan, sudah merasa harus menolak permintaannya. Awalnya saya menolak dengan sehalus mungkin. Eh, makin lama Ujang makin keterlaluan.

Suatu kali saya menolak, Ujang malah nyolot ke saya. Dia membanding-bandingkan pengeluaran saya yang tinggal sama orang tua--karena kantor saya waktu itu masih terjangkau dengan rumah orang tua saya--dengan dirinya yang ngekos sendiri. Dia membandingkan saya yang tidak perlu bayar kosan, dengan dia yang perlu bayar kosan. Dia membandingkan saya yang tidak merokok, dengan dia yang merokok. Dia membandingkan motor bebek saya yang irit, dengan motor Ninja 2 tak dia yang ribet dan boros bensin. Saya merasa disudutkan dengan itu semua. Toh, bukan saya yang nyuruh dia buat ngekos, merokok, atau beli motor Ninja 2 tak. Itu pilihannya sendiri.

Begini, saya nggak ada masalah sama orang yang ngekos, merokok, atau naik motor Ninja 2 tak. Saya juga bertahun-tahun ngekos dan hidup sendiri di perantauan. Tapi kalau udah sampai tahap membanding-bandingkan pengeluaran, menurut saya itu sudah keterlaluan. Pendapatan kita bisa berbeda, pengeluaran kita pun tergantung pilihan dan gaya hidup masing-masing. Saya pikir kita harus bertanggung jawab sama hidup kita sendiri.  

Terus terang saya tersinggung. Walaupun begitu, saya tetap menolak permintaannya dengan sehalus mungkin karena saya nggak mau marah orangnya. Akhirnya saya cuma mencoba untuk nggak meladeninya, dengan harapan, dia sadar kalau saya terganggu dengan kebiasaan dan caranya ini.


***

Setelah dari situ, intensitas Ujang buat ngutang ke saya emang mulai kendur. Kendur bukan berarti dia berhenti "meneror" saya, ya. Saya pikir emang nih orang aslinya pantang menyerah, jadi konten pinjam-meminjam duit tetap dia selipkan ketika sedang berdua dengan saya. Saya tetap berusaha tidak menggubrisnya. 

Pernah satu kali saya menolaknya dengan dalih kalau duit di rekening saya sudah menipis, karena kondisi saat itu sedang akhir bulan dan saya juga banyak pengeluaran. Terlebih dia mau pinjam duit dengan nominal yang buat saya (lagi-lagi) harus garuk kepala. Setelah saya tolak (untuk kesekian kalinya), respon Ujang malah diluar perkiraan saya. Dia justru ngajak saya ke ATM untuk melihat jumlah duit di rekening saya. 

What?

Saya nggak habis pikir. Pertama begini, saya punya Mobile Banking, jadi nggak perlu ke ATM kalau cuma buat cek jumlah duit di rekening saya. Kedua, apa urusannya duit di rekening saya dengan dia? Jelas saya protes.

Dengan tampang tak berdosa, Ujang lalu menjelaskan maksud dan tujuannya. Jadi, dia ingin tahu jumlah duit saya agar dia bisa menerka berapa duit yang harus dia pinjam dari saya. Ujang bahkan sudah punya hitungan sendiri berapa pengeluaran harian saya, sehingga duit yang dia pinjam nantinya tidak akan mengganggu kebutuhan sehari-hari saya. 

Sampai sini, saya cuma melongo mendengar penjelasannya yang tak berdosa itu. Selang beberapa saat, saya pun bertanya dalam hati: KENAPA JUMLAH DUIT REKENING DAN PENGELUARAN SAYA BISA SEPENTING INI BUAT ELU, JANG???

Ini sudah sangat keterlaluan. Seingin-inginnya kita buat pinjam duit, ingin tahu jumlah tabungan orang lain jelas sudah menyentuh urusan yang sangat pribadi. Pun sebenarnya membanding-bandingkan pengeluaran kita dengan orang lain juga sama keterlaluannya. Bercampur kesal, permintaan Ujang itu saya tolak mentah-mentah.

***

Saya jadi teringat teman Ibu saya yang bernama Tante Mawar (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Tante Mawar ini suka foya-foya bersama keluarganya setiap awal bulan. Tidak jarang, dia selalu memamerkan harga baju baru atau hasil foya-foyanya kepada Ibu saya. Setiap punya uang berlebih, keluarga mereka pun selalu makan mewah. Sebenarnya itu hak dia. Tapi masalahnya, Tante Mawar ini pasti datang ke Ibu saya setiap akhir bulan buat pinjam duit. Semua itu karena duitnya udah habis duluan.

Awalnya Ibu saya berbaik hati dengan meminjamkannya duit. Tapi lama-kelamaan sulit juga, karena Tante Mawar selalu pinjam duit hampir setiap akhir bulan. Selain itu, setiap ditagih baik-baik, Tante Mawar malah menunjukkan itikad nggak baik alias lebih galak dari pada orang yang ngutangin. Pernah Ibu saya menolak, Tante Mawar malah ngotot sambil membanding-bandingkan pendapatan dan pengeluarannya dengan Ibu saya. Nggak hanya itu, jumlah anaknya juga ikut dibawa-bawa segala. Saya tahu semua ini karena Ibu saya pernah cerita ke saya sembari melenguh kesal. 

Mungkin, Ujang sama seperti teman Ibu saya ini. Saya curiga mereka dikerangkeng oleh gaya hidupnya sendiri, lalu keteteran setiap uang sudah menipis. Tak masalah bergaya kalau punya uang berlebih, yang jadi masalah adalah jika terlalu dipaksakan bergaya tapi sebenarnya tak punya daya. Ujung-ujungnya ngutang sana-sini, gali lubang dan tutup lubang. Kalau candu dan gaya hidup membuatnya harus bergantung terus sama orang lain, saya rasa ada yang salah dari dirinya. Ups, maaf, itu pendapat saya.


***

Berangkat dari perkenalan saya dengan Ujang dan secuil cerita Ibu saya tentang temannya ini, saya jadi berusaha lebih bijak soal keuangan. Pertama, saya harus lebih bijak mengelola keuangan dan memilih gaya hidup saya. Saya sendiri asalnya nggak banyak gaya, jadi nggak ribet sama tuntutan gaya-gayaan segala. Saya hidup sesuai dengan kemampuan saya. Kedua, seperti yang sudah saya singgung diawal, yaitu harus selektif dalam meminjamkan duit. Saya emang males diutangin, tapi kalau emang sangat mendesak dan saya sanggup, tetap akan saya bantu jika memungkinkan. Kita harus tetap saling membantu, bukan? Itu pun saya masih lihat-lihat orangnya, dapat dipercaya atau tidak. Kira-kira begitu.

Singkat cerita, saya dan Ujang akhirnya pisah tempat kerja. Kami pun sudah tidak saling berkomunikasi beberapa bulan lamanya. Kabar baiknya adalah tak ada uang saya yang tersangkut pada dirinya. Namun, di suatu minggu pagi yang cerah, tiba-tiba Ujang nge-chat saya via aplikasi whatsapp. 

Ujang:
Syad
        
          Saya:
          Iya, Jang

Ujang:
Lagi sibuk nggak?

          Saya:
          Santai, Jang
          Kenapa?

Ujang:
Pinjam duit
Lima puluh aja
Darurat nih
Buat beli rokok
Transfer ke aku sekarang ya

          Saya:
          *uninstall whatsapp*
          

17 komentar:

  1. wkwkwkw endingnya gak banget masa uninstal wa. Tinggal block aja hehehe.

    Saya jg ada masalah nih. saya pny piutang ke bbrp orng tapi orgnya susah di hubungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, endingnya becanda, Mas. Biar kocak aja :D

      Nah, itu, emang harus selektif sih Mas. Saya niatnya di sini mau berbagi pengalaman dan pendapat pribadi saja. Karena saya pikir hal begini related banget sama kehidupan banyak org

      Hapus
  2. Kalo gw pas di kantor baru langsung gw tegasin dari awal: gak boleh ada yang ngutang duit ke gw, karna itu nanti jadi masalah di pertemanan kita.

    Gw emang sangat sadis kalo menegaskan masalah utang piutang. Berani pinjam terus berkelit gak bayar?

    Jangan harap hidup lu tenang. Gw bakal cari nama temen-temennya, adek-kakaknya, orang tuanya, kakek-neneknya, saudaranya sampai anak-anaknya sampe dia bayar. Selama belom bayar bakal gw teror terus.

    Abis itu sih biasanya gak berani lagi utang ke gw, wkwkwkwk.

    Emangnya dia pikir duit gw itu jatuh dari langit? Kagak, dari hasil kerja, keringat gw. Kalo berani pinjem ya harus balikin. Gw santet kalo berani gak bayar, wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sih nggak bisa bayangin tiap masuk kantor atau lingkungan baru saya harus bilang ke org2 kalau nggk boleh ngutang sama saya. Wkwkwk

      Tp emang iya sih, utang piutang emang sensitif banget. Hubungan saudara saja bisa rusak cuma karena ini. Harus hati2 emang. Lebih aman hindari saja

      Hapus
  3. Boleh aja kita kasih pinjam uang ketemen kita bang, tapi lihat orangnya juga. Kalau orgnya mau ngasih tepat waktu ya gpp. Dan kalaupun kita pernah ditipu sama kawan kita sendiri, semacam kita memberikan pinjaman tapi enggak dibalikin, yaudah biarin aja. Doain aja dia semoga cepet sadar dan yakinlah Tuhan akan menggantikan uang itu melalui caranya yang kita enggak tahu pasti kapan dan dimana..

    BalasHapus
  4. Hahaha Ujang..

    Kalo kayak dia itu udah habbit yang kayak penyakit sih syad.

    Mending gak deh kalo mau pinjemin.

    Biasanya aku punya radar loh syad, orang yang pinjem duit di aku itu jujur apa gak..

    Entah kenapa sering bener.
    Kalo dari awal dia mau pinjem agak terasa gak enak di hati, biasanya aku gak pinjemin. Tapi ngasih.

    Maksudnya gini, kalo ada yang mau pinjem 200, tapi aku merasa dia gak akan jujur balikin, biasa aku bilang

    "Aku lagi gak punya uang 200, kalo 100 ada.."

    Biasanya dia akan bilang "boleh deh kupinjem"

    Aku iyakan. Tapi dalam hati aku udah ikhlasin aja itu.. gak mau nagih. Biar sampe kapan dia inget.. haha

    Gitulah agar aku gak kecewa. Dan biasanya, selalu ada rezeki lain yang menghampiri.

    Karena bisa jadi emang uang yang kupinjamkam memang uang terakhir.

    Jadi begitu ke tangan orang lain, Allah ganti sama yang lebih baik.

    BalasHapus
  5. ya ampyun... mau tak pites aja itu si ujang...

    BalasHapus
  6. Uujang pakak! Mau kutepokkan aja..

    BalasHapus
  7. Ngotot banget tuh si ujang, sampai mau tahu isi saldo rekening. Dah tahu kebutuhan tinggi masih aja merokok dan pake motor 2 tak. Jual aja motornya dong, pakai bebekn aja biar irit

    BalasHapus
  8. Selalunya adaaaa aja kawan yg bgitu. Menyebalkan sih haha
    Sejak aku merid, kl ada yg pinjam aku bilang, semua uang istri yg pegang. Meski 20rb or 50rb pun aku sdiri di jatah. Jd aman deh hihi

    BalasHapus
  9. Wkwkwk.. ujungnya. SAyang banget ngeuninstall whatsApp. Meding nomor si Ujang aja yang diblokir.

    BalasHapus
  10. Nggak banget punya kawan kek gitu bang. Jadi teringat beberapa kawan yg punya ke saya. Saya nggak nagih, mereka nya nyantai adem ayem aja. Saya nanya, bilangnya nanti lah ya. Hix,,, ikhlas,, ikhlas,,,

    BalasHapus
  11. huahaha...uninstall WA langsung yaa Bg Irsyad. Mantul tuh bisa ditiru biar tau rasa si Ujang ituhh... ada lagi cara yg ngehits lho Bang... caranya.. ntar kl Ujang pesta, dia kan ngundang Abang, nah di amplopnya abang tulisin nominal total utang dia yg belum dibayar. kasih keterangan "Selamat menempuh hidup baru, Jang. Utangmu udah kuikhlaskan smua ya" ahahaha

    BalasHapus
  12. Memang perkara pinjam meminjam ni runyam ya kalo yg minjam pas ditagih malah galakan dia hehe klo saya gpp pinjamin orangnya yg penting track recordnya bagus

    BalasHapus
  13. rugi kali gara-gara dia awak uninstal wasap haha, kalau aku bang, gak kukasi pinjam, tapi kukasi aja seberapa yang aku mau kasi, dengan begitu aku dan dia lepas beban dosa dah

    BalasHapus
  14. Parahnya gini. Si Fulan minjam duit cepat saya kasih. Eh, pas diminta malah susah. Berasa ngemis deh jadinya. #plak. Mau ngerelain tapi duitnya lumayan. hiks.

    BalasHapus

Sila tinggalkan komentarnya.