irsyadmuhammad

www.irsyadmuhammad.com

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. 

Barusan adalah sepenggal surat R.A. Kartini kepada Profesor Anton yang berada di Belanda, surat itu ditulis tanggal 4 Oktober 1901. Melalui surat tersebut, kita dapat merasakan semangat Kartini untuk memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan.

Ya, bahwa pendidikan bagi kaum perempuan pada dasarnya bukan untuk menyaingi perjuangan seorang laki-laki, melainkan adalah hak manusia yang sangat mendasar. Hal itu terpancar dari pemikiran R.A. Kartini pada surat tersebut.

Berawal dari Perempuan yang Tak Punya Pilihan

Pada sebuah sistem sosial patriarki yang erat di Indonesia, diskriminasi akan diri seorang perempuan selalu menjadi perdebatan. Terlebih pada zaman dulu, ketika R.A. Kartini merasa tidak mempunyai pilihan apa-apa bahkan atas dirinya sendiri. Oleh ayahnya yang merupakan Bupati Jepara kala itu, Kartini dilarang keluar rumah dan tidak boleh bergaul dengan kalangan wanita dibawahnya. Kartini tak punya pilihan lagi selain mematuhi perintah tersebut.

Namun, ibu kita bukan Kartini jika perjuangannya tak pernah berarti. R.A. Kartini kemudian berinisiatif untuk mendirikan sekolah gratis di belakang rumah ayahnya, tentu saja setelah mendapatkan izin sang ayah. Sekolah gratis tersebut diperuntukkan bagi gadis-gadis yang tinggal di sekitaran rumah ayah Kartini.

Di sekolah itulah Kartini mengajarkan anak perempuan untuk membaca, menulis, menjahit, dan memasak. Jumlah muridnya juga tak banyak, yaitu hanya berawal dari 7 orang murid yang 2 diantaranya adalah adik R.A. Kartini sendiri. Tapi itu tidak masalah, karena perubahan selalu dimulai dari langkah yang kecil. Berharap gelap akan berganti dengan terang, seperti kutipan R.A. Kartini yang menggema hingga masa kini.

***
Kami anak perempuan, sejauh ini pendidikan berlangsung, terbelenggu oleh tradisi dan konvensi kuno, telah beruntung sedikit oleh hal ini. Adalah kejahatan besar terhadap adat di tanah kami jika kami harus dididik, dan terutama jika kami harus meninggalkan rumah setiap hari untuk pergi ke sekolah. Karena kebiasaan negara kami yang sangat kuat melarang gadis untuk pergi ke luar rumah. Kami tidak pernah diperbolehkan pergi ke mana saja, walaupun begitu, jangankan ke sekolah, satu-satunya tempat pengajaran yang dibanggakan oleh kota kami, yang terbuka bagi kami, adalah sekolah dasar gratis bagi Eropa.

Jauh sebelum itu, kegelisahan R.A. Kartini akan kesenjangan pendidikan yang diterima kaum perempuan sudah tergambarkan pada suratnya kepada Estella Zeehandelaar yang dikirimkan tanggal 25 Mei 1899. Sekolah gratis sederhana yang didirikan di belakang rumah ayahnya adalah jawaban dari kegelisahan tersebut.

Beliau lalu meninggal pada usia 25 tahun, tepatnya pada tahun 1904, beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Walaupun begitu, setahun sebelum meninggal, ia masih tak punya pilihan. R.A. Kartini tak bisa menolak keputusan ayahnya yang menikahkannya dengan seorang duda yang juga merupakan Bupati Rembang pada masa itu.

Pada tahun 1912, didirikanlah sebuah sekolah khusus perempuan oleh Yayasan van Deventer. Sekolah itu lalu dinamakan Sekolah Kartini demi mengenang pemikiran dan perjuangan R.A. Kartini. Selanjutnya, Sekolah Kartini satu-persatu hadir di Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya.


Sekolah Kartini yang ada di Malang.

Semangat perjuangan R.A. Kartini tak cuma tercermin pada didirikannya Sekolah Kartini, tetapi juga pada lahirnya pergerakan organisasi perempuan di beberapa daerah di Indonesia. Akhirnya, pergerakan setelah itu bukan hanya pada perjuangan pendidikan bagi perempuan, namun sudah kepada peran perempuan di masyarakat, melawan diskriminasi, hingga pada konsolidasi yang lebih besar, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Ya, silakan buka kembali buku sejarah, bagaimana besarnya peran perempuan dalam memerdekakan bangsa ini.

Bagaimana dengan Kondisi Saat ini?

Aih, jangan bosan dulu dengan kilas balik sejarahnya. Sejarah patut kita ulas kembali demi mengingat apa yang sedang kita perjuangkan saat ini. Kalau begitu, sekarang mari kita buka-bukaan soal data yang terkait dengan pendidikan bagi perempuan di Indonesia sekarang.

Setiap tahunnya, angka buta huruf di Indonesia memang terus menurun. Meskipun begitu, data menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang buta huruf ternyata jauh lebih banyak dari pada jumlah laki-laki yang buta huruf di setiap tahunnya.



Seperti pada data BPS (Badan Pusat Statistik) dan Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) tahun 2018, menunjukkan bahwa 3,3 juta orang Indonesia masih mengidap buta huruf. Data tersebut juga menunjukkan bahwa 2,2 juta diantaranya adalah perempuan. Lebih spesifik lagi, mayoritas dari perempuan yang buta huruf ternyata adalah ibu-ibu dengan kondisi ekonomi miskin dan tak tersentuh jenjang pendidikan.

Jika kita mau meluaskan lagi persoalan data di atas, maka persoalannya dapat lebih runyam. Faktanya, mayoritas ibu-ibu yang buta huruf adalah pendidik sekaligus sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pertanyannya, bagaimana pendidikan itu dapat tersalurkan dengan baik jika sekolah pertamanya masih terbelenggu oleh buta huruf? Bagaimana pula nasib masa depan anak-anak yang tinggal di keluarga pengidap buta huruf tersebut? Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama.

Pekerjaan Rumah: Mendobrak Cara Pandang Masyarakat

Apa yang diperjuangkan R.A. Kartini di masa lalu dengan kondisi di masayarakat saat ini bisa dikatakan sebagai hasil dari produk masyarakat Indonesia sendiri. Tidak bisa dipungkiri kalau stigma untuk kaum hawa hanyalah menjadi “pengekor” bagi kaum adam.

Paling sering ditemui adalah stigma bahwa perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, sebab ujung-ujungnya juga akan menikah dan mengurus keluarga. Akhirnya, banyak perempuan yang tidak tersentuh jenjang pendidikan, dan bisa saja itu jadi penyebab adanya data buta huruf di atas.

Justru pola pikirnya harus diputar balik. Kenyataan kalau perempuan pada akhirnya akan menikah dan mengurus keluarga seharusnya dijadikan alasan agar perempuan wajib mengenyam pendidikan semaksimal mungkin. Kembali lagi, perempuan berpendidikan akan berkontribusi dalam membangun keluarga yang berkarakter cerdas dan menciptakan anak-anak yang terdidik.

Jika pada akhirnya perempuan memang harus mengenyam bangku pendidikan setinggi mungkin, maka ada stigma lain yang berbicara. Sebagai contoh, kurang lebih analoginya jadi seperti ini: laki-laki adalah pilot dan perempuan adalah pramugarinya, laki-laki adalah bos perusahaan dan perempuan adalah sekretarisnya, laki-laki adalah dokter dan perempuan adalah perawatnya. Hmm, apakah cukup menarik untuk dibahas? 

Sisi negatif dari stigma tersebut agaknya lumayan halus. Stigma barusan seakan menunjukkan sosok perempuan dengan profesi yang diakui masyarakat. Namun, polanya tetap lah sama, yaitu perempuan yang masih harus berada di belakang laki-laki.

Tapi kan, bukankah sekarang pilot, bos perusahaan, dan dokter juga banyak yang perempuan?

Benar. Polisi, tentara, pemadam kebaran, juga banyak sekali yang perempuan. Tapi itu hanyalah analogi sederhana dari cara pandang masyarakat yang hidup di sistem sosial patriarki seperti Indonesia. Walaupun kita tahu, di kota-kota besar cara pandang seperti itu pasti akan dibilang norak, namun nyatanya di pelosok sana masih sering dijumpai.

Sebagai langkah untuk mendobrak cara pandang seperti itu, ada baiknya untuk memberikan alasan konkret mengapa perempuan wajib mengenyam pendidikan setinggi mungkin. 

3 Alasan Mengapa Perempuan Indonesia Wajib Berpendidikan

1. Perempuan adalah Sekolah Pertama bagi Anak-Anak Bangsa

Perempuan akhirnya akan menikah dan memiliki anak? Bisa jadi itu benar, sama seperti yang sudah disinggung sebelumnya. Hal ini berarti bahwa perempuan akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Betapa tidak, anak-anak yang dibesarkan dengan didikan yang baik adalah tabungan bagi masa depan bangsa di kemudian hari.

2. Pendidikan adalah Modal Berharga bagi Perempuan

Sepertinya kita sepakat kalau pendidikan akan melahirkan keterampilan. Begitupun bagi para perempuan, mereka harus berpendidikan agar memiliki keterampilan yang minimal bermanfaat untuk diri dan keluarganya. Dalam arti, keterampilan pada diri perempuan bisa menaikkan derajat ekonomi dan melepaskan perempuan dari jerat kemiskinan.

3. Mengikuti Perkembangan Zaman

Terlepas apakah perempuan akan menjadi ibu rumah tangga atau berkecimpung di berbagai industri pekerjaan, perempuan harus tetap melek akan perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Saat ini Indonesia membutuhkan perempuan-perempuan bermental tangguh sekaligus memiliki segudang inovasi di kepalanya. Hal itu hanya bisa tumbuh melalui proses pendidikan yang berkualitas untuk kaum perempuan.

***
Kita sudah tahu bagaimana perjuangan R.A. Kartini dalam mempelopori sekolah pertama untuk kaum perempuan. Tapi saat ini, fokus perjuangan pendidikan di Indonesia mungkin tak sespesifik itu lagi. Pemerataan fasilitas pendidikan dan inovasi yang sesuai dengan perubahan zaman adalah hal yang dibutuhkan oleh pendidikan Indonesia saat ini.

Pada akhirnya, perjuangan pendidikan di Indonesia harus kembali pada cita-cita bangsa yang luhur: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Pendidikan bagi kaum perempuan yang diperjuangkan R.A. Kartini pun sekali lagi bukan untuk menyaingi perjuangan kaum laki-laki, melainkan untuk menciptakan kolaborasi yang sempurna antara laki-laki dan perempuan demi terciptanya masa depan bangsa yang cemerlang. 

Panjang umur perjuangan pendidikan di Indonesia! 

Referensi artikel:
id(dot)wikipedia(dot)org/wiki/Kartini_School
silabus(dot)web(dot)id/riwayat-hidup-r-a-kartini/
era(dot)id/read/dmUpql-tafsir-surat-kartini-untuk-estella-zeehandelar
jpnn(dot)com/news/jumlah-perempuan-buta-aksara-lebih-banyak-dibanding-pria  
asliindonesia(dot)net/10-kutipan-surat-kartini/

Referensi gambar/ilustrasi:
mediasolidaritas(dot)com
id(fot)wikipedia(dot)org
educenter(dot)id

39 Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

  1. Kartini di kenal dengan 'Habis Gelap Terbitlah Terang' telah membantu kaum perempuan untuk mendapatkan haknya dalam pendidikan agar perempuan juga bisa maju dan berkembang, tetapi tidak melupakan kodratnya sebagai Ibu.

    BalasHapus
  2. Kenyataannya perempuan lebih telaten ngurus dan ngajarin anak. Semakin bagus pengetahuan dan pendidikannya semakin paham pula mendidik anaknya mengantarkan ke pintu kesuksesan

    BalasHapus
  3. Pendidikan penting banget buat perempuan. Bukan berarti perempuan harus bekerja seperti laki-laki. Pendidikan diperlukan dalam rumah tangga untuk mendidik anak- anak.

    BalasHapus
  4. Pendidikan bagi perempuan itu memang sangat penting ya, kak. Justru dengan pendidikan itu perempuan bisa menyetak generasi bangsa yang punya kualitas baik ya, kak. Bukan sekadar kuantitas aja.

    BalasHapus
  5. Aku jadi penasaran sama sekolah Kartini di Malang. Masih ada ngga ya sekarang? Apa mungkin namanya berganti? Kaget juga ternyata ada sekolah Kartini di Malang.

    BalasHapus
  6. Perjalanan dan kegigihannya untuk mengajarkan kepada perempuan sangat bisa dirasakan hingga sekarang, dan masih banyak kartini-kartini baru yg memperjuangkan untuk pendidikan disaat ini.

    BalasHapus
  7. Benar sekali pendidikan penting bagi perempuan sebab perempuan adalah sekolah pertama bagi anaknya. Tidak hanya itu dengan pendidikan perempuan akan mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik dan mampu mengangkat derajat ekonomi keluarga... ..

    BalasHapus
  8. Membaca kisah hidup RA Kartini selalu menggugah hati untuk bisa menjadi perempuan yang mandiri dan lebih baik. Pendidikan itu penting ya bagi perempuan, karena perempuanlah nanti yang punya banyak peran di rumah, untuk keluarga. Terima kasih, kak, tulisan ini sungguh mengingatkan kembali hakikat perempuan yang sesungguhnya

    BalasHapus
  9. Kaget melihat angka butuh huruf ternyata memang paling banyak perempuan. Senang lihat ada inovasi pendidikan seperti EDUCENTER ini, jadi setidaknya semakin banyak fasilitas untuk terus belajar

    BalasHapus
  10. bener perempuan itu pendidik untuk anak-anaknya. kalau masih ada yang enggak setuju perempuan untuk sekolah tinggi kebangetan sih. karena meski hanya jadi IRT, perempuan kudu pinter dan berpendidikan. supaya anak-anaknya juga dididik dari ibu yang cerdas.

    BalasHapus
  11. 2017 masih ada 2 jutaan masyarakat Indonesia yg buta huruf ya, termasuk kaum saya, perempuan, huhuu... semoga Educenter ini konsisten dg pendidikan kaum hawa ya Bg Irsyad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Educenter peduli terhadap pendidikan perempuan ya Bg Irsyad, sangat peka terhadap kebutuhan pengetahuan kaum hawa

      Hapus
  12. yes kartini.. sesuai sunatulloh, pendidikan anak-anak ada di seorang ibu, untuk itu sangat perlu pendidikan bagi kaum perempuan.

    BalasHapus
  13. Kini saatnya Kartini era kini bergerak melanjutkan perjuangan Ibunda R.A Kartini.

    Baru tau Edu Center. Lokasinya di mana bang?

    BalasHapus
  14. Setuju sekali kalau pendidikan penting banget buat perempuan. Bukan untuk berkarir tinggi menyaingi laki-laki, tapi kodratnya perempuan tercipta sebagai madrasah pertama anak2nya.

    BalasHapus
  15. Kisah Kartini dan edukasi tak pernah habis digali. Dari tahun 1899-1904 beliau selalu membicarakannya. Sebenarnya sebelum mengenal para sahabat pena, beliau sudah menggalang dana pendidikan di Den Haag, yaitu tahun 1898.

    BalasHapus
  16. sungguh hebat perjuangan ibu kita kartini, untuk urusan pendidikan perempuan memang harus terdidik karena perempuan adalah madrasah untuk anak-anak

    BalasHapus
  17. Jaman saat ini, untuk soal pendidikan sepertinya perempuan dan laki-laki tidak ada perbedaan untuk mendapatkannya. Cuma masih ada beberapa keluarga tradisional yang memang membatasi soal pendidikan perempuan

    BalasHapus
  18. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama untuk anak. Jika seorang ibu semakin baik pendidikannya, maka akan semakin baik dalam mendidik anak.

    Yg perlu dikhawatirkan, jangan karena sudah baik pendidikannya, lantas lupa akan kodratnya.

    BalasHapus
  19. Duh, membaca surat Kartini selalu membuat hati tenang. Perempuan itu tak akan pernah berjalan di depan laki-laki, tak juga semestinya berjalan di belakang laki-laki. Perempuan selayaknya berjalan di samping laki-laki, sebagai penguat, sebagi teman, sebagai kawan mengarungi perjalanan hidup bersama dalam istana yang mereka sebut keluarga.

    BalasHapus
  20. sosok yg selalu memberi inspirasi pada kaumnya..semangat Ibu Kartini untuk membuat perempuan berdaya menjadi motivasi perempuan sampai hari ini

    BalasHapus
  21. Aku ga bisa bayangin apa jadinya perempuan zaman sekarang jika tidak ada wanita-wanita pejuang seperti Kartini. Mungkin tidak akan pernah kita temukan para wanita berkarir dan beraktifitas dengan leluasa di luar rumah. Karena itu ga salah memang jika salah satu tanggal setiap tahunnya kita dedikasikan untuk perjuangannya.

    BalasHapus
  22. Sebenarnya masih banyak perempuan Indonesia yang berjuang bahkan berada di garda terdepan. Namun, perempuan yang memperjuangkan pendidikan dan menulis hanya Kartini.
    Maka beruntunglah perempuan-perempuan zaman sekarang yang menulis karena bisa meneruskan perjuangan Kartini

    BalasHapus
  23. Benar banget sekalipun wanita nanti hanya menjadi irt, anak anaknya pun butuh ibu yg berilmu, berpendidikan sehingga bisa menghasilkan generasi gemilang. Bayangkan jika sang ibu tidak tahu apa-apa, bukan tidak mungkin anak anak tuh menganggap sepele ibunya huhu

    BalasHapus
  24. Kartini yang aku kenal karyanya habis gelap terbitlah terang

    BalasHapus
  25. benar nih perempuan memang sekoah pertama bagi anak-anak.

    mirirs ya walaupun norak masih saja ada yang berpikir perempuan buat apa sekolah hiks

    btw konsep educenter menarik ya

    BalasHapus
  26. Kaum laki-laki dan kaum perempuan harus menciptakan kolaborasi yang sempurna demi masa depan yang lebih cemerlang. Noted. Suka kalimat ini.

    BalasHapus
  27. Seorang perempuan mestilah berpendidikan. Bukan cuma soal gelar tapi banyak manfaat lagi dari hal itu. Salah satunya benar syad, karena perempuan itu akan menjadi pendidik pertama dan utama anak-anaknya.

    BalasHapus
  28. Sekarang ini kesetaraan gender memang makin terasa. Dibeberapa bidang usaha udah banyak yg menjadi manager bahkan direkturnya perempuan. RA Kartini pasti bangga 🙏

    BalasHapus
  29. wah emang harusnya perempuan nih mengenyam pendidikan setinggi apapun, terlepas dr stigma negatif didalamnya. karena madrastul ula itu adanya di ibu. smoga educenter konsisten terus yaaa membantu perempuan2 mengenyam pendidikan.

    BalasHapus
  30. Benar banget, alasan utama karna wanita adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak. Kalau. Pondasi kuat bangunan juga kokoh. Kalau anak dididik sejak kecil oleh ibu niscaya kedepannya lebih hebat

    BalasHapus
  31. Pendidikan bukan hanya sekedar mencari ijazah dan gelar semata, tetapi untuk memperluas pengetahuan dan pembentukan moral. Mengapa kita harus belajar?
    Karena semua pencapaian awalnya dimulai dari proses pembelajaran.

    BalasHapus
  32. Masih tinggi juga ya angka perempuan yang buta huruf. Mungkin karena masih tingginya stigma bahwa perempuan tak perlu berpendidikan karena hanya akan bekerja di ranah domestik. Padahal al ummu madrasatul ula..

    BalasHapus
  33. Saya setuju dengan apa yang disampaikan Bang Irsyad. Perempuan itu memang harus diberikan pendidikan karena ialah kunci keberhasilan suatu bangsa. Perempuan yang berpendidikan keren, apalagi sholeha. Sudah pasti top cer deh.

    BalasHapus
  34. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak anaknya.
    Walaupun ujung ujungnya katanya ke dapur juga, kan bagus anaknya diajarkan ibunya yang sarjana, daripada kesehariannya bersama pengasuh yang terkadang tidak bisa baca.

    Bukan meminggirkan org berpendidikan rendah, tapi... Pola pikir intelektual mempengaruhi pola asuh anak.

    Mnrt saya sih. .

    BalasHapus
  35. Perempuan harus punya pendidikan yang baik karena kelak akan memiliki anak sebagai penerus peradaban. Sedih kalo masih melihat ada perempuan yang dilarang sekolah tinggi-tinggi.

    BalasHapus
  36. Kartini sosok pejuang bagi kaum perempuan dan saya sebagai kaum pria menghormati perjuangan kartini dengan memberikan kesempatan seluas luasnya kepada pasangan untuk.meningkatkan kualitas diri.. dan mendukungnya penuh...

    BalasHapus
  37. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak, aku setuju sekali kalau mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi yang mereka mau, ini penting sekali untuk ke depannya bagaimana Indonesia akan mendapatkan generasi bangsa yang lebih berkualitas

    BalasHapus
  38. Bener pak, perempuan adalah madrasah utama untuk anak-anaknya kelak, didik dan ditempah untuk pendidikan anak bangsa kedepannya juha

    BalasHapus

Posting Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama