Pixabay

Semua mengira ia dibunuh oleh perempuan gila. Asumsi sementara, Pak Kholis ditikam saat tidur siang di teras rumahnya, di atas kursi kayu panjang kesayangannya. Pada minggu siang yang cerah nan sunyi itu, para warga lebih memilih berdiam diri di dalam rumah mereka. Mereka tak tahu seorang tetangga mereka yang tua renta sudah tak berdaya karena tidur siangnya diganggu tamu tak diundang.
Seorang pengurus surau yang kebetulan hendak meminta iuran pengajian ke rumah Pak Kholis adalah orang pertama yang melihat kondisi Pak Kholis. Kebetulan, Pak Kholis diketahui memang kerap tidur siang di teras rumahnya. Seperti hari ini, ia selalu tidur bertelanjang dada dan memakai sarung seperti ciri khasnya selama ini.
Kondisi jasad Pak Kholis tak bisa dikatakan wajar. Tangan kirinya terjuntai ke bawah dengan darah menetes dari ujung jarinya. Paling jelas terlihat adalah luka menganga di batok kepala Pak Kholis, menyeruak dan darahnya mengaliri sekitar tubuhnya yang terbaring dingin.
Ungkapan petir di siang bolong benar adanya. Tak berselang lama, geger lah Dusun Batu Urep. Para warga berbondong-bondong menuju rumah Pak Kholis, penasaran atas apa yang sedang terjadi. 
“Saya tahu Bapak ini rajin sembahyang di surau, tak disangka hidupnya akan berakhir seperti ini.”
“Beliau juga orang yang ramah.”
“Selama ini ia hidup sebatang kara. Malang sekali.”
Terdengar beberapa komentar prihatin dari warga sekitar yang mengerubungi rumah Pak Kholis. Selain tak sanggup melihat jasad Pak Kholis, beberapa diantaranya juga tak tahan dengan aroma amis yang mulai menusuk indera penciuman mereka. Beberapa mencoba menutupi hidungnya dengan kain pakaian masing-masing. Tak ada yang berani mendekati jasad Pak Kholis, setidaknya sebelum Komandan Pratikno datang.
Komandan Pratikno datang dua puluh menit kemudian bersama seorang anggotanya yang bernama Sutris dengan mengendarai sepeda motor. Komandan Pratikno mendekat, Sutris memasangi garis kuning tanda tak ada yang boleh mencampuri urusan mereka berdua. 
Dari dekat, kondisi Pak Kholis benar-benar poranda. Selain batok kepala yang lumayan menganga dan memamerkan isinya, beberapa bekas tikaman juga didapati di sekitar dada, perut, dan leher. 
“Siapa yang tahu ke mana perempuan gila itu pergi?” Tanya Komandan Pratikno kepada siapa saja yang ada di sana. 
Bi Imah, penjual gorengan di seberang dusun, sebelumnya sudah melihat seorang perempuan yang penampilannya tidak biasa sedang berjalan dengan membawa sebilah golok. Menurut Bi Imah, tadi perempuan itu memang berjalan ke arah utara, searah menuju rumah Pak Kholis. 
“Perempuan itu pakaiannya compang-camping, penampilannya kotor, rambutnya berantakan dan mengayun-ngayunkan golok digenggamannya.” Beberapa lainnya mengaminkan kesaksian Bi Imah. Selain itu, tak ada lagi yang tahu di mana si perempuan gila berada.
Sembari menunggu ambulans datang, Komandan Pratikno hendak menelepon beberapa anggotanya untuk mencari keberadaan si perempuan gila sekarang. Ia khawatir akan ada korban selanjutnya. Sejalan dengan niat tersebut, ponselnya sudah berdering lebih dulu. Tak biasanya tetangganya menelepon di saat seperti ini.
“Ya, ada apa?” Komandan Pratikno menerima telepon.
Ponsel tersebut lalu terjatuh dari genggamannya. Sorot mata Komandan Pratikno mendadak berubah. Ia panik setangah mati. Ia menerobos garis kuning yang dipasang oleh anggotanya sendiri dengan tubuhnya, segera menaiki sepeda motornya dan pergi menembus kepadatan warga yang ada di sana. Sutris dan para warga kebingungan.
Betapa tidak, Komandan Pratikno mendapati kabar kalau ada perempuan gila yang baru keluar dari dalam rumahnya, sambil membawa sebilah golok yang sudah berlumuran darah. Ia lalu teringat pintu rumahnya yang lupa ia kunci. Ia juga teringat istri dan anak balitanya yang sedang tidur siang di ruang tengah rumahnya.

13 Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

  1. Serius saya deg-degan dari awal sampai akhir saat baca ceritanya, masih nggak nyangka sama akhirnya.

    BalasHapus
  2. Bikin penasaran cerpennya. Benar nggak kalau perempuan gila itu pelakuknya? Agak ragu sih, tapi kok sepertinya benar. Wkwk...

    BalasHapus
  3. Ngeriii ah cerpennya. Gimana rasanya kalau beneran. Wong ada ex-ART yang udah kami pulangkan, pada suatu hari tau-tau udah sampai depan dapur aja, aku trauma. Dia bisa masuk leluasa karena udah hafal trik membuka gerbang dari luar. Ex-ART ini minta kerja lagi. Ya enggaklah, engga bagus performnya. Hiks...Akhirnya sekarang selalu digembok dari dalam...

    BalasHapus
  4. Tragis sekali ceritanya kk. Masalah apa si yang menimpa perempuan gila itu sampai membawa golok?

    BalasHapus
  5. Ngeri-ngeri sedap ngebacanya kak

    BalasHapus
  6. Huaaaa ngeriiii akuuu.. ceritanya sereeemmm.. tegang loh aq bacanyaa..

    BalasHapus
  7. Aduuuh ... Benarkah perempuan gila itu pelakunya?

    Kalau iya, sasarannya orang-orang yang tengah tidur siang, gitu? Ngeriii ...

    Ditunggu cerpen-cerpen selanjutnya, Mas.

    BalasHapus
  8. Jadi ngebayangin gimana seremnya perempuan itu. Pernah ada kejadian serupa tapi bedanya dia ga bawa golok masuk ke rumah saya jg pas ada tamu. Aduh serem lah pokoknya

    BalasHapus
  9. ngeri...
    Bagus cerpennya. endingnya juga nggak terduga.

    BalasHapus
  10. Aduh, ceritanya beradarah-darah, ngeri euy. Hihihi. Semoga suami dan anak balita Komandan Pratikno baik-baik saja.

    BalasHapus
  11. Waduh...terus gmana kelanjutannya...istri sama balitanya ntuh komandan gmana?

    BalasHapus
  12. Ya .. terputus. Ada lanjutannya bang?

    BalasHapus
  13. Mungkinkah anak dan istri pak Pratikno juga tewas di tangan perempuan gila?

    BalasHapus

Posting Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama