Header Ads

Mengulas Novel The Old Man and The Sea Karya Ernest Hemingway

review novel the old man and the sea karya ernest hemingway

The Old Man and The Sea adalah perkenalan pertama saya dengan Ernest Hemingway, seorang novelis kenamaan asal Amerika Serikat. Novel ini cukup tipis, hanya setebal 132 halaman. Namun jujur saja, cukup sulit bagi saya untuk melahapnya habis. Bukan, bukan karena membosankan, tapi saya butuh waktu lebih untuk beradaptasi dengan gaya menulis Ernest Hemingway di novel ini. 


"Mengapa lelaki tua bangun sangat awal? Apakah supaya bisa menikmati satu hari lebih lama lagi?" hlm. 17
***

The Old Man and The Sea atau yang dalam Bahasa Indonesia adalah Lelaki Tua dan Laut, berkisah tentang perjuangan seorang lelaki tua bernama Santiago yang berprofesi sebagai nelayan. Santiago sendiri sudah 84 hari tak mendapatkan tangkapan dari hasil melautnya. Bocah bernama Manolin yang biasa membantu Santiago, pun tak diizinkan lagi oleh orang tuanya untuk ikut melaut bersama Santiago karena hasilnya selalu nihil. Menurut orang tua Manolin, Santiago adalah bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Hal tersebut merupakan tamparan yang sangat menyakitkan bagi seorang nelayan. 

Santiago lalu melanjutkan tekadnya di hari ke 85. Ia kembali pergi melaut, sendirian, untuk sebuah pembuktian dan pengakuan. Maka, hari ke 85 itu adalah hari yang berbeda bagi Santiago. Umpannya dilahap seekor ikan setelah 84 hari sebelumnya tak ada hasil. Namun, bukan ikan biasa, melainkan seekor Marlin raksasa yang bahkan besarnya melebihi perahu yang dinaiki Santiago.

Kalah ukuran dan tenaga, Santiago berada diantara keberuntungan dan malapetaka. Ia bertarung dengan seekor ikan raksasa, sendirian, di tengah laut. Santiago bahkan tak bisa melakukan apa-apa ketika ikan raksasa tersebut menarik perahunya semakin jauh.

***

Saya yang baru pertama membaca karya dari Ernest Hemingway, jadi tahu kekuatan si penulis legendaris ini. Pada novel ini, Ernest Hemingway menunjukkan kebolehannya dalam model tulisan naratif yang detail namun dengan kalimat-kalimat yang minimalis. Membacanya, saya seakan diajak untuk masuk ke dalam dunia fiktif ini secara utuh.

Ernest Hemingway memasukkan pergolakan atau konflik batin yang dalam kepada tokoh Santiago. Bersama tubuh tuanya, Santiago dihadapkan pada tekad seorang lelaki. Dia juga teringat kiprahnya sebagai nelayan yang sangat dipertaruhkan setelah 84 hari tak mendapat hasil, walaupun di hari ke 85 harus bertarung dengan Marlin raksasa.

Ketika Santiago bertarung dengan si ikan raksasa sendirian di tengah laut, muncul monolog-monolog yang mewakili gagasan penulis. Santiago berbicara kepada si ikan raksasa yang menjadi teman bertarungnya, kepada burung yang singgah di perahunya, kepada dirinya sendiri yang renta, atau kepada laut yang sudah menemaninya sejak lama. 

Monolog tersebut bisa berarti apa saja. Terkadang soal jati diri, pengakuan, pembuktian, soal menjadi tua, menjadi lelaki, menjadi nelayan, atau sekadar tentang memancing yang berarti membunuh ikan. Pergolakan dan konflik batin tersebut dihadirkan Ernest Hemingway lewat tulisan naratif yang mengesankan. 

Makanlah sehingga ujung kait akan merobek jantung dan membunuhmu, pikirnya. Datanglah dengan mudah dan biarkan aku menancapkan tombak ikan ke dalam tubuhmu. Apakah kau siap? Sudah puaskah kau bersantap? hlm. 40

***
Apa lagi, ya? Saya rasa tak banyak yang bisa saya ceritakan. Soal fisik novelnya, saya lumayan suka. Kebetulan saya beli di Gramedia terbitan Ecosystem. Untuk sampul depannya, didominasi warna biru yang menggambarkan laut, kemudian ada gambar perahu kayu dengan seorang pemancing yang kailnya dimakan siluet ikan Marlin raksasa. Cukup mewakili ide ceritanya yang simpel namun kaya akan gagasan. Ada pula tulisan "Buku Layak Koleksi" di bagian kanan sampul depannya dan di bawah nama Ernest Hemingway ada tulisan "Peraih Nobel Sastra" yang seakan memberikan jaminan tertentu pada novel ini.  




Kualitas kertasnya juga sedikit berbeda dari novel-novel terbitan penerbit lain, yaitu lebih kaku dan warnanya lebih putih. Di setiap lembar juga diselipkan ilustrasi ombak berwarna biru yang diletakkan di bagian paling bawah, menjadikannya sedikit lebih berwarna. Mungkin ada juga yang tidak suka dengan ilustrasi tersebut karena bisa saja menganggu atau dianggap berlebihan.

Banyak yang bilang, The Old Man and The Sea sangat cocok bagi yang baru mulai membaca karya dari penulis luar atau pun seperti saya yang baru pertama ingin mencicipi karya dari Ernest Hemingway. Intinya, novel yang ditulis Ernest Hemingway pada tahun 1951 ini memang layak untuk dibaca, setidaknya sekali seumur hidup.

"Seorang manusia bisa dihancurkan, tapi tidak untuk ditundukkan." hlm. 107

Judul: The Old Man and The Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Dian Vita Ellyati
Penerbit: Ecosystem
Cetakan: I, 2017
Jumlah Halaman: 132

2 komentar:

  1. Jika anda tertarik atau ingin menjadi web developer, anda dapat mengunjungi blog yang saya buat :)
    Web Developer Tangerang

    BalasHapus
  2. wah aku belum pernah baca karya tulis Ernest Hemingway, segera akan ku cari buku-bukunya :D pasti menarik

    BalasHapus

Sila tinggalkan komentarnya.