irsyadmuhammad

www.irsyadmuhammad.com

Foto diambil dari dailydetik.com

Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa, saya jadi ingin ikut menyumbangkan opini saya terkait kasus ospek online Unesa yang belakangan mendadak viral. Walaupun tidak kuliah di Unesa, tentu saya pernah menjadi maba (mahasiswa baru) peserta ospek dan pernah juga menjadi kating (kakak tingkat) panitia atau pelaksana ospek. Berikut ini adalah murni dari opini saya pribadi.

Saya berani menulis tentang hal ini karena waktu kuliah dulu saya juga pernah merasakan betapa tersiksanya menjadi maba peserta ospek. Jujur itu adalah pengalaman yang kurang berkenan bagi saya. Katakanlah bentakan, dihukum berdiri setengah jongkok, dipelonco, harus pakai atribut aneh, adalah makanan wajib kala itu. Tentu itu bukan rahasia umum lagi. Tapi apakah saya senang? Jelas tidak.


Mulai dari situ saya punya keresahan sendiri soal budaya ospek di Indonesia. Sebelum kasus ospek online ini, sebuah kegiatan ospek di salah satu Universitas di Ternate juga pernah viral lantaran terlihat dalam sebuah video para maba peserta ospek dihukum menaiki tangga dengan berjalan jongkok dan disuruh meminum air mineral bekas liur temannya. Keresahan saya tentang kasus tersebut saya tulis lewat artikel opini berjudul Ospek atau Pelonco? yang juga saya unggah di blog ini.


Begini, alasan kalau hal tersebut semata-mata untuk mendidik dan melatih mental jelas sekali hanya omong kosong yang diindah-indahkan. Saya baru merasa terdidik dan terlatih mentalnya setelah menjalani berbagai kegiatan positif selama kuliah, dan itu tak ada sangkut pautnya dengan ospek yang pernah saya jalani. Siapa pula yang akan merasa terdidik dan terlatih mentalnya setelah dibentak-bentak dan dipelonco? Jelas tidak ada.


Jujur saya merasa sangat bodoh waktu menjadi maba dulu. Tidak berani melawan dan menyampaikan argumen, nurut apa pun yang dibilang kating meski dalam hati merasa konyol dengan tingkah mereka. Nah, terlepas dari bocornya rekaman ospek online yang menjadi viral itu, saran saya para maba harus tetap berjuang dan berani menyampaikan sesuatu yang dianggap salah. Jangan cuma berhenti di kasus perpeloncoan berbalut ospek ini saja.


Malangnya, para kating yang viral ini malah gantian “dipelonco” oleh netizen. Saya lalu kepikiran bagaimana kondisi mental mereka pasca hal ini, terutama yang wajahnya jadi meme di mana-mana. Kalau saya boleh kasih saran, alangkah baiknya mereka mengakui kalau apa yang mereka lakukan adalah perpeloncoan dan menyadari kalau hal tersebut salah. Kemudian mereka bisa meminta maaf entah secara tertulis atau lisan, baik kepada publik atau kepada maba yang mereka bentak.


Namun, tak lama setelah video tersebut viral, saya malah menemukan postingan di twitter yang kabarnya diunggah oleh maba peserta ospek online. Tulisan tersebut berisi argumen bahwa mereka (peseta ospek online) tidak masalah dengan perlakuan kating mereka dan meyakini kalau tindakan itu semata-mata untuk mendidik mereka. What? Lagi-lagi yang dikeluarkan adalah alasan yang sangat klise. Memangnya hal mendidik apa yang mereka dapatkan dari dibentak-bentak? Apa lagi bentakannya terdengar dipaksakan dengan kesalahan yang dicari-cari. Saya tidak habis pikir kenapa masih ada yang menggunakan alasan itu lagi. Usang dan omong kosong sekali.


Postingan tersebut berakhir dengan menjadi bahan olok-olokan warga twitter. Belum lagi kabarnya ditemukan beberapa postingan serupa yang isi tulisannya plek ketiplek sama. Saya tidak tahu apakah tulisan itu memang dari lubuk hati maba peserta ospek online atau justru disiapin sama katingnya untuk disebarkan oleh maba. Kalau memang disiapin sama kating yang bersangkutan, berarti kating-kating ini sedang memakai buzzer untuk membenarkan tindakan mereka.


Foto diambil dari dailydetik.com

Tetap saja, mau bagaimana pun saya masih belum menemukan argumen kuat yang membenarkan adanya perlakuan pelonco dan kekerasan dalam ospek. Entah itu ahli psikologi sampai orang awam, sepertinya tidak ada yang percaya kalau perpeloncoan dan kekerasan baik lewat verbal maupun fisik dapat mendidik dan melatih mental seseorang. Justru itu mencoreng potret pendidikan perguruan tinggi yang sekaligus dapat merusak mental seseorang.


Saya sebagai penulis artikel ini pun pernah merasakan jadi panitia ospek walau sebenarnya tidak setuju dengan unsur-unsur perpeloncoan dan kekerasan yang ada di dalamnya. Waktu itu saya memilih untuk tidak banyak bertindak. Saya sendiri tidak pandai berlagak galak. Saya cuma menyampaikan materi-materi terkait ospek yang sesuai dengan kepanjangannya, yaitu orientasi studi dan pengenalan kampus. Itu saja. Kating lain pada bentak-bentakin dan cari-cari kesalahan maba? Saya bodo amat dan berusaha tidak ikut campur. Setelah itu pun saya tidak pernah mau lagi ambil bagian dalam panitia ospek.


Saya rasa kita semua menyadari kalau ini cuma budaya yang udah berlangsung secara turun-temurun. Ada faktor balas dendam di dalamnya. Ada faktor tak terima kalau maba tidak mendapat perlakuan yang sama seperti yang katingnya dulu rasakan. Ditambah lagi, ada perasaan ingin terlihat superior di depan para maba. Kating-kating cowok bahkan punya motivasi lebih supaya bisa mendapatkan akun instagram atau nomor whatsapp maba cewek yang punya bibit unggul. Akui sajalah.


Makanya, menurut saya kating-kating ini lebih baik lekas meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Menurut saya itu lebih berkelas dari pada berusaha membenarkan hal tersebut lewat pasukan buzzer. Tak mengapa, kan, kalau mahasiswa mengaku salah? Saya waktu mahasiswa juga sering melakukan kesalahan dan tindakan konyol, yang penting sadar dan bisa memperbaikinya.


Sekarang semua hujatan sedang mengarah kepada para kating ospek online tersebut. Bagi saya tak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan hujatan dan olok-olokan. Jika netizen bertindak demikian, itu sama saja dengan menghukum pelaku bully dengan tindakan bully juga. Lebih baik para netizen yang budiman mengedukasi para kating ini untuk sadar bahwa apa yang mereka lakukan salah dan mendukung mereka untuk segera mengubah mindset-nya soal ospek. 


Masalahnya, kalau ternyata para kating tersebut tidak merasa salah, ya susah juga. Berarti mereka memang membenarkan tindakan tersebut. Syukur-syukur mereka bisa sadar dan mengakui bahwa tindakan mereka salah, justru malah akan banyak yang mengapresiasi mereka. Toh, bagi saya mahasiswa memang harus salah dulu untuk tahu apa yang benar. Bukannya kuliah itu untuk mengambil ilmu dan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya?


Dan, voila! Baru saja saya searching lagi tentang perkembangan kasus ini, ternyata pada tanggal 16 September 2020 lalu, pihak kampus dan panitia ospek yang bersangkutan telah bersilaturahmi ke rumah maba yang sempat dibentak-bentak dalam video yang viral itu. Katanya selain bersilaturhami, pihak kampus dan panitia ospek sekaligus ingin meminta maaf kepada pihak keluarga dan maba yang bersangkutan. Bagi saya, yah, setidaknya sudah ada itikad baik. Tinggal netizen saja yang harus berhenti mem-bully para kating ini. 


Di luar itu, sih, saya cukup senang dengan viralnya ospek online ini. Hal tersebut justru semakin membuka mata banyak orang kalau budaya ospek di Indonesia itu masih kental dengan unsur perpeloncoan dan kekerasan. Harapannya, semoga dengan kasus ini dunia pendidikan di Indonesia bisa berbenah. 


Buat kating-kating yang viral, tetap semangat dan tetap berproses untuk menjadi lebih baik. Kalau kalian bisa menerima kritik, justru mental kalian akan jauh lebih terlatih lagi. Sekali lagi, tak ada salahnya untuk mengaku salah. Buat maba-maba yang telah berani bersuara, tetaplah bersuara selama apa yang disuarakan itu adalah sesuatu yang benar. Salam hangat dari saya yang kadang-kadang rindu dunia kampus.


Referensi: 

jatim.suara.com/read/2020/09/17/155845/panitia-ospek-online-unesa-datangi-rumah-maba-yang-dibentak-dan-minta-maaf?page=all

Post a Comment

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama