irsyadmuhammad

www.irsyadmuhammad.com
Saya menulis review film karena dua alasan. Pertama, karena filmnya bagus dan berkesan untuk saya. Atau yang kedua, karena filmnya sangat mengecawakan alias jauh di bawah ekspektasi. Nah, untuk review film Bucin ini, kalian sudah tahu kan apa alasannya? Gambarannya ada pada judul artikel yang saya angkat. Hehe.

review film bucin
instagram/filmbucin

Debut Sang Youtuber Kondang di Dunia Film

Sejak awal penggarapannya, animo masyarakat tentang film berjudul Bucin ini memang lumayan tinggi. Maklum, film ini adalah debut youtuber kondang sekaliber Chandra Liow sebagai sutradara, setelah sebelumnya sudah memakan asam garam di dunia per-youtube-an. Belum lagi ada nama youtuber Jovial Da Lopez sebagai penulis naskah, yang menurut saya makin menambah kental idealisme genk youtuber lawas dalam project film ini. Kebetulan dulunya saya juga penikmat karya-karya mereka di platform Youtube.

 

Sedikit cerita. Film ini awalnya akan ditayangkan pada 26 Maret 2020 lalu. Sayangnya, Indonesia keburu dilanda pandemi Covid-19 yang akhrinya ikut berdampak pada penundaan tayang beberapa film bioskop kala itu, tak terkecuali film Bucin. Pada September 2020, film Bucin akhirnya pindah tayang ke platform streaming Netflix setelah bioskop dipastikan tak kunjung beroperasi.

 

Ceritanya tentang apa?

Seperti judulnya, film Bucin (Budak Cinta) bercerita tentang perjalanan empat orang sahabat yang memiliki masalah percintaan dengan pasangannya masing-masing. Keempat sahabat ini (diperankan oleh Chandra Liow, Tommy Limmm, Andovi Da Lopez, dan Jovial Da Lopez) akhirnya memutuskan untuk mengikuti kelas anti bucin agar mereka bisa keluar dari belenggu bucin tersebut. Tidak disangka, kelas anti bucin yang mereka ikuti ternyata memiliki metode yang sangat ekstrim dan bisa mengancam hubungan percintaan mereka. 


Terus filmnya bagus atau tidak?

Kalau ditanya seperti itu, saya akui, film ini lumayan menjanjikan terutama dibagian awalnya. Vibes yang dibawa terasa ringan dan segar, selayaknya film drama komedi yang asik untuk ditonton. Pertama mulai, penonton sudah langsung dikenalkan dengan scene kelas anti bucin yang menegangkan walaupun menurut saya masih terkesan memaksa. Okelah kalau itu atas nama komedi.

 

Satu yang saya suka dari film ini adalah sinematografinya yang keren. Pengambilan gambarnya asik, di mana ada beberapa perpindahan gambar patah-patah yang lumayan menggelitik - khas konten youtuber-youtuber lawas yang pernah saya tonton. Tone warna yang dipakai juga memberikan nuansa mewah layaknya konten video garapan Chandra Liow kebanyakan. Namun sayangnya, hanya itu saja yang saya suka dari film Bucin ini. Selebihnya? Berantakan.

 

Jadi sebenarnya film Bucin ini bagus atau tidak?

Kalau ditanya sekali lagi, jujur, secara keseluruhan, film ini rasanya sangat jauh dibawah ekspektasi. Oke, sabar. Saya sedang berpikir mau mulai dari mana.

 

Baca juga: Review Film Knives Out (2019): Drama Misteri Paling Epic

 

Begini, keempat tokoh utama di film ini memang seakan berperan sebagai diri sendiri. Mereka masih memakai nama asli masing-masing yaitu tetap sebagai Chandra, Tommy, Andovi, dan Jovi. Tommy dan Andovi digambarkan sebagai pria yang tidak bisa melawan perilaku semena-mena dari pasangannya. Mereka berdua nih yang punya problem bucin, ceritanya. Sedangkan karakter Jovi justru sebaliknya, yang malah ditampilkan sebagai sosok yang dingin terhadap pasangan. Bagaimana dengan Chandra? Entah apa fungsinya dalam cerita di film ini, saya tidak tahu.

 

Masalahnya, dari keempat sahabat itu, tokoh Chandra sebenarnya tidak berkaitan dengan problem bucin yang diangkat. Malah yang ada, karakter Chandra ini sering kali ngelempar jokes-jokes yang terlalu dipaksakan dan tidak ada yang "kena" sama sekali. Hampir semua jokes dalam film ini terasa anyep dan krik-krik, terutama dari karakter Chandra.

 

Di film Bucin, peran Chandra jadi seakan cuma tempelan dan kalau tidak masuk ke film kayaknya juga tidak masalah sama sekali. Rasanya akan lebih baik kalau sejak awal doi cuma duduk manis di bangku sutradara tanpa harus masuk ke cerita di filmnya.

 

Nah, porsi yang diberikan untuk Tommy dan Andovi saya rasa sudah pas, di mana mereka digambarkan sebagai sosok bucin yang sebenar-benarnya bucin. Tapi lucunya, akting untuk karakter Jovi justru jadi kurang nyaman untuk ditonton. Karakter Jovi yang disulap jadi pria serius nan dingin itu, jatuh-jatuhnya malah terkesan sok cool dengan gaya bicara dan tampang sekaku kanebo kering. Cringe abis, pokoknya.


Di luar dari pada itu, asal usul karakternya memang sudah tidak jelas sejak awal. Siapa mereka sebenarnya? Apa latar belakang si tokoh utama? Apa yang melatarbelakangi hubungan bucin mereka? Apakah sekonyong-konyong mereka sudah begitu sejak dahulu kala? Semua hal itu sepertinya tidak disampaikan dengan baik kepada penonton.

 

Apa yang saya pahami adalah, mereka hanya sekelompok sahabat yang mengikuti kelas anti bucin dan tak tahu arahnya mau ke mana. Saking bertele-telenya, film berdurasi 1 jam 37 menit ini jadi terasa lebih lama. Selain itu, plot twist yang diselipkan juga biasa aja dan malah buat filmnya jadi semakin melelahkan untuk ditonton. 


review film bucin
instagram/filmbucin


Baca Juga: 10 Film Terbaik yang Diangkat dari Kisah Nyata


Sebegitu buruknya kah film ini, duhai kekasih?

Buruk? Gimana, ya.. Tidak sesuai ekspektasi mungkin memang kata yang paling tepat. Di atas juga sudah saya singgung seperti itu. Bukannya apa, promosi dan gembar-gembor film Bucin ini memang lumayan masif di sosial media. Baik di instagram atau di youtube, isinya promo film Bucin semua terutama dari kalangan Chandra Liow dan genk youtuber-nya. Hype-nya lumayan kerasa lah. Diawal-awal, genk ini semacam ingin membawa warna baru di dunia perfilman melalui nama besar mereka sebagai youtuber lawas. Pada akhirnya tidak demikian, sodara-sodara.

 

Saya juga sempat membaca review film Bucin atau komentar orang lain di luar sana, kok. Dan ternyata penilaiannya kurang lebih juga sama. Kritik paling banyak terutama soal penulisannya yang dianggap berantakan. Kalau memang soal penulisan, itu artinya kelemahannya ada pada Jovial Da Lopez sebagai penulis. Meski begitu, saya juga bukan reviewer film yang jago-jago amat. Saya hanya memposisikan diri sebagai penikmat film yang tidak terlalu paham urusan-urusan teknis sampai sejauh itu. 

 

Di luar itu semua, kerja keras Chandra Liow sebagai sutradara tetap patut untuk diapresiasi. Karya pertama boleh dianggap gagal. Karya selanjutnya? Tentu harus lebih baik lagi. Kalau diibaratkan beli ciki-ciki di warung, mungkin doi bakal dapat kertas hadiah yang tulisannya "Anda Belum Beruntung". Jadi mungkin harus coba lagi di film selanjutnya, ya, Ko Chandra.


Secara keseluruhan, saya akan berikan nilai 5/10 untuk film Bucin ini.









10 Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

  1. Mungkin lelucon ala yutuber ketika dibuat menjadi satu film beda yaa... kl di YT kan tek tokannya cepat, gak selama film yg ibarat novel. Sy penyuka Dovi dan Jovi ini di serial YT nya Raditya Dika di Malam Minggu Miko. Asyik banget mereka di situ, apalagi yg Dovi anak fakultas hukum, lucuuu

    BalasHapus
  2. wah wah aku enggak tertarik malah nontonnya dr awal bang karena emg biasa aja sih sm youtuber kecuali radit hahahaha. cuma wajar sih ekspektasi kita akan sesuatu itu tinggi, ibarat kata udh biasa liat hasil bagus, jd yaaa tentu yg ini bagus juga, tp ternyata blm tentu. mgkn mereka emg lebih cocok jd youtubers aja kali ya hehe

    BalasHapus
  3. Jd ingat, awal pandemi th lalu dah ke bioskop mo nonton Bucin, pas sampe sana dah close, kami salah jadwal hehe

    BalasHapus
  4. Wah sayang sekali ya.. debut film youtuber malah hasilnya cringe begini bang. Btw bang, maybe pilem ini segmen khusus anak sekolahan yang dibidik nonton ini cuma buat seseruan se-genk kali ya.. makanya gak begitu menarik buat kita.

    BalasHapus
  5. Kadang keseruan publik figur saat ngeyutube di channel mereka beda bila dituangkan kedalam sebuah cerita film ya.
    Gak dapet joke nya.

    Sama kayak seorang pembaca novel yang nonton film dari buku yang di filmkan. Ada aja bedanya cara mendeskripsikan adegan tulisan dengan adegan film.

    Nilai 5 dari 10, wuiiih pastinya bikin males juga kan ya mau nyobain nonton

    BalasHapus
  6. Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa jadi salah satu yang bikin kecewa banget waktu liat filmnya bang. Mungkin hawa di YT beda kali ya ama hawa di film, hehe.. Semoga untuk film selanjutnya bisa dibuat lebih menarik lagi oleh sang sutradara.

    BalasHapus
  7. Waduh nilainya kecil banget tuh syad. Xixix.. entah kenapa aku jarang pake banget nonton film-film Indonesia apalagi genre yang beginian. Tapi emang sering gitu sih film Indonesia, aku beberapa kali nonton film yang mengadaptasi cerita novel ternyata jauh banget dari cerita novelnya. kecewa banget rasanya.

    BalasHapus
  8. Saya tau nih keempat pemainnya gegara berkali-kali nonton review indonesia youtuber 2020.
    istilah 'anyep' dan 'krik krik' bikin saya terkekeh...

    BalasHapus
  9. Di balik sebuah film dan drama yang menyenangkan ataupun tidak mengasyikkan. Ada pondasi yang menentukan, yaitu penulis naskah yang menentukan jalannya cerita. Kemudian disusul sutradara yang menjadikannya lebih apik dan layak untuk ditonton.

    Wuah,saya rindu membaca review film nih. Membaca review seperti ini bisa menjadi bahan pertimbangan saya untuk menontonnya.

    BalasHapus
  10. Pernah dengar film ini dan baru tau chandra liow yang jadi sutradaranya, apa mungkin latar belakang pendidikan berpengaruh ya kenapa dia gak sukses bikin filmnya, imho

    BalasHapus

Posting Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama