irsyadmuhammad

www.irsyadmuhammad.com


Masuk enam kategori nominasi Piala Oscar 2020 dan memenangkan empat di antaranya, membuat saya ikut tertarik untuk menonton film berjudul Parasite ini. Walaupun hype-nya sudah lewat, tapi film asal Korea Selatan ini tetap sukses meninggalkan kesan yang mendalam untuk diri saya.

Jadi ceritanya, Parasite (2019) adalah film yang mengambil isu tentang ketimpangan sosial antara si miskin dan si kaya. Paradoks yang diangkat dalam film ini pun akan tercermin dalam potret kehidupan pada satu keluarga miskin dan satu keluarga kaya. Hitam dan putihnya sudah jelas sejak awal. 

Satu yang menarik dari Parasite, menurut saya adalah para tokohnya. Jumlah tokohnya terbilang sedikit sehingga penonton bisa lebih mudah fokus untuk masuk ke dalam jalan cerita. Terlebih, setiap tokoh di film ini masing-masing juga memiliki karakter yang sangat kuat. Baiklah, setelah ini akan saya perkenalkan tentang kedua keluarga yang sangat timpang dari segala sisi ini.

Oh iya, karena nama orang Korea agak ribet (bagi saya), maka nama-nama tokoh dalam film ini akan saya ubah menjadi nama yang lebih familiar. Jadi, kalau ada kesamaan nama, anggap saja itu kebetulan, guys

Spoiler alert! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler, silakan di-skip buat kalian yang anti spoiler. 

Perkenalan: Keluarga Miskin


Saya akan mulai dari si keluarga miskin dulu. Pemimpin keluarga miskin ini, kita sebut saja bernama Pak Joko, memiliki istri bernama Romlah dan sepasang anak laki-laki dan perempuan bernama Agus (anak pertama) dan Wati (anak kedua). Kehidupan keluarga Pak Joko bisa dibilang kurang beruntung alias sangat pas-pasan. Mereka tinggal di sebuah kontrakan semi bawah tanah yang sempit, bau, dan nyaris tanpa sinar matahari. 

Untuk mendapatkan uang, keluarga ini bekerja secara serabutan. Di awal film, mereka diperlihatkan menerima orderan untuk melipat kotak pizza dalam jumlah banyak. Itu pun hanya dibayar sebagian saja karena beberapa di antaranya tidak dilipat dengan benar. Menit-menit pertama akan lebih fokus pada pengenalan setiap tokoh di keluarga miskin ini, serta kehidupan mereka yang serba melarat. 

Saking melaratnya, Agus dan Wati bahkan harus rela berdesak-desakkan di jamban rumah mereka yang sempit demi mendapatkan sinyal WiFi dari tetangga sebelah. Atau ketika lingkungan rumah mereka di-fogging, Pak Joko sengaja membiarkan jendela rumah tetap terbuka agar asapnya bisa masuk dan membunuh serangga di dalam rumahnya.

Certia lalu bermula saat seorang teman dekat Agus datang berkunjung ke rumah semi bawah tanah itu. Tujuan kedatangan temannya ternyata ingin menawarkan Agus sebuah pekerjaan, yakni menggantikan dirinya mengajar les privat bahasa Inggris untuk seorang gadis dari keluarga kaya raya yang bernama Clara. Terdesak kebutuhan ekonomi, Agus kemudian menerima tawaran itu. Singkat ceritanya, Agus pun diterima untuk bekerja di sana. 

Perkenalan: Keluarga Kaya


Sampai sini, saya akan mengenalkan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan sebagai keluarga kaya. Pertama, supaya lebih mudah diingat, kita sebut saja pemimpin keluarga ini dengan nama Charles atau Pak Charles. Biar mirip nama orang kaya gitu, ceritanya.

Pak Charles dan istrinya, kita panggil saja Diana, memiliki dua orang anak yang juga sepasang, yakni Clara yang sekarang duduk di bangku SMA (tadi sudah disinggung sedikit) dan Bobby yang masih SD. Keluarga Pak Charles adalah representasi dari keluarga bahagia yang sebenarnya. Mereka punya banyak uang, hidup makmur, serta tinggal di rumah yang super mewah nan artistik.

Pak Charles dan istrinya merupakan figur orang tua yang bersahaja, disegani sekaligus disenangi. Pasangan ini selalu menempatkan kehidupan anak-anak mereka sebagai prioritas utama. Misalnya saja seperti Diana, yang sangat mudah khawatir terkait segala hal yang dapat mengancam kesehatan atau keselamatan keluarganya.

Keluarga harmonis ini menempati sebuah rumah yang pemilik sebelumnya adalah salah satu arsitek ternama di sana. Di rumah mewah itu, keluarga Pak Charles awalnya mempekerjakan seorang asisten rumah tangga (ART), seorang sopir, dan seorang guru les yang sebelumnya adalah teman baik Agus.

Kenapa saya bilang awalnya, sebab pada akhirnya, semua pekerja tersebut satu per satu mulai digantikan oleh keluarga miskinnya si Agus. Seperti diketahui, Agus sudah resmi menjadi guru privat bahasa Inggris-nya Clara untuk menggantikan temannya. Setelah itu, rencana licik keluarga miskin itu pun dimulai.

Keluarga Miskin yang Licik vs Keluarga Kaya yang Naif


Sejak Agus diterima bekerja di rumah mewah itu, Wati, Pak Joko, dan Romlah, satu per satu juga ikut bekerja di sana. Namun, mereka semua bertingkah seolah bukan seperti keluarga kandung alias tidak saling mengenal satu sama lain. Tentu cara yang dipakai terbilang sangat licik, yakni dengan memfitnah para pekerja sebelumnya hingga mereka dipecat. Keluarga miskin ini seperti parasit dalam 'tubuh' keluarga kaya raya itu.

Penonton pun disuguhkan aksi-aksi dari keluarga miskin yang penuh tipu daya ini, seperti misalnya memalsukan dokumen dengan aplikasi komputer, meninggalkan celana dalam wanita di dalam mobil untuk memfitnah sopirnya Pak Charles, atau memanfaatkan alergi yang diderita ART sebelumnya untuk menakuti-nakuti Diana. Meski mereka licik, tapi di bagian ini saya cukup terhibur.

Sementara itu, karakter Diana memang sangat mendukung untuk memuluskan rencana keluarga miskin ini agar bisa bekerja di rumah mewah itu. Diana dapat dengan mudah dipengaruhi, apalagi ketika ditakut-takuti soal kesehatan dan keselamatan keluarganya. Ia memang kaya raya, tapi juga mudah diperdaya.

Tak beda jauh dengan pemimpin keluarga kaya ini, yaitu Pak Charles. Meski Pak Charles digambarkan sebagai sosok yang lebih calm, berwibawa, layaknya seorang pemimpin di perusahaan besar, namun mau bagaimana pun, ia tetap saja akan mengedepankan keinginan istri dan anak-anaknya dalam segala hal.

Di sisi lain, Agus sendiri tampaknya merupakan sosok yang cerdas dan pandai mengambil hati orang lain. Diketahui juga bahwa Agus sebenarnya memiliki otak yang cerdas dan memang layak mengajar les privat. Agus hanya terlalu miskin sehingga tak punya biaya untuk melanjutkan kuliahnya. 

Sementara sosok adiknya, Wati, sangat piawai berakting di depan keluarga Pak Charles. Ia tidak memiliki otak yang cerdas, namun cara berbicaranya terlihat sangat meyakinkan sehingga orang jadi lebih mudah percaya padanya. Wati lah yang memiliki kemampuan memalsukan dokumen. Dia pun dipercaya untuk menjadi guru les seni lukis Bobby, walaupun hanya bermodalkan teori dari Google saja.

Maka sebelas dua belas pula dengan orang tua mereka, yakni Pak Joko dan Romlah. Setelah sopir dan ART sebelumnya dipecat, Pak Joko dan Romlah akhirnya dipercaya untuk ikut bekerja di rumah mewah itu. Keluarga miskin yang pandai bersandiwara, serta keluarga kaya yang baik tapi naif, menjadi kombinasi yang sempurna untuk membentuk cerita dalam film ini. 


Saya ingat betul dialog saat keluarga miskin ini sedang mabuk-mabukkan di rumah mewah tersebut. Kebetulan, seluruh anggota keluarga kaya itu sedang pergi liburan untuk merayakan hari ulang tahun Bobby, anak mereka yang paling kecil. 

Kira-kira, begini isi dialognya:

"Mau bagaimana pun, kita harus berterima kasih kepada Pak Charles. Mereka kaya, tapi tetap baik," kata Pak Joko di hadapan keluarganya, saat mereka sedang menikmati waktu di rumah mewah itu.

"Bukan begitu, mereka baik karena mereka itu kaya. Jika aku punya harta sebanyak ini, aku akan lebih baik dari mereka," balas Romlah, istrinya.

Pak Joko yang setuju akan perkataan istrinya, kemudian melanjutkan, "Ibumu benar, orang kaya itu naif. Mereka tidak punya dendam dan tidak punya kerutan."

"Itu semua bisa disetrika, uang adalah setrikaannya. Semua kerutan itu bisa dihaluskan," timpal Romlah.

Bagi saya, makna dialog itu terasa sangat dalam sekaligus getir lantaran diucapkan oleh keluarga miskin seperti mereka. Meski mereka sedang mabuk, namun sepertinya itu menjadi pesan utama yang ingin disampaikan sutradara Bong Joon-ho kepada para penontonnya: ketimpangan sosial di Korea Selatan. 

Selain dua keluarga yang bertolak belakang ini, dua tokoh yang tak kalah penting adalah mantan pembantu yang sebelumnya bekerja di rumah ini, serta suaminya yang muncul sebagai plot twist. Dua tokoh ini yang kemudian membawa konflik cerita menjadi lebih panas melalui berbagai plot twist-nya.

Review Film Parasite (2019): Apa Kesimpulannya?


Menurut saya, film ini menghadirkan mood yang berbeda-beda dari awal sampai akhir. Di awal-awal film, penonton akan merasakan kegetiran sekaligus gemas dengan aksi anggota keluarga miskin ini demi mencapai tujuan mereka. Porsi komedinya juga sangat pas, tak perlu membuat saya tertawa sampai terbahak-bahak, tapi cukup untuk sekadar menghibur.

Namun memasuki pertengahan, cerita mulai terasa tegang saat ART yang sebelumnya sudah dipecat, tiba-tiba muncul lagi dan mengungkap sosok suaminya yang selama ini bersembunyi di ruang bawah tanah rumah Pak Charles. Cerita kemudian beralih menegangkan serta dibumbui dengan sedikit aksi baku hantam.

Kemudian dari pertengahan menuju akhir, penonton akan disuguhi beberapa adegan yang tak kalah menegangkan dari sebelumnya, termasuk adegan hide and seek (petak umpet) serta pertumpahan darah yang ditampilkan di ujung-ujung film. Terus terang, saya tidak menyangka kalau filmnya akan menjadi thriller seperti ini. Seru, tegang, kaget, horor, dan getir seakan menjadi satu. 

Kelebihan lain adalah unsur sinematiknya yang oke punya, terutama dalam menampilkan betapa jomplangnya kehidupan antara keluarga miskin dan keluarga kaya ini. Diselipkan juga beberapa slow motion yang membuat sejumlah adegan jadi terasa lebih epic. Sinematografi di film ini sukses memanjakan mata saya selama 132 menit menontonnya. 

Dan satu lagi, kalian tidak akan menemukan peran protagonis ataupun antagonis selama menonton film ini. Keluarga kaya itu juga tidak sepenuhnya baik, beberapa kali mereka pun menunjukkan sikap yang kurang hormat terhadap orang-orang yang lebih rendah dari mereka. Jadi, menurut saya ini adalah film yang sangat unik.

Hanya saja, saya sedikit bingung dengan maksud ending di dalam film ini. Ending-nya seolah ingin disampaikan dengan jelas, tapi di saat bersamaan juga membuat saya ragu apakah itu hanya khayalan saja atau tidak. Mungkin sengaja dibuat gantung, saya tidak tahu. Pasti penonton lain juga merasakan hal yang sama.

Namun, dari seluruh kesan yang saya sampaikan tentang film ini, saya rasa sangat wajar jika Parasite berhasil memboyong empat penghargaan sekaligus pada ajang Piala Oscar 2020. Adapun empat kategori yang dimenangkan film ini adalah Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Naskah Asli Terbaik, dan Film Berbahasa Asing Terbaik. Sekarang pertanyaannya, film Indonesia kapan? Semoga saja suatu saat nanti.

Judul: Parasite
Sutradara: Bong Joon-ho
Penulis: Bong Joon-ho, Han Jin-won 
Pemeran Utama: Song Kang-ho, Lee Sun-kyun, Cho Yeo-jeong, Choi Woo-shik, Park So-dam
Durasi: 132 menit
Tanggal Rilis: 21 Mei 2019

By the way, buat kalian yang ingin mencari sinopsis, review, rekomendasi, atau hal apa saja yang terkait dunia perfilman, kalian bisa kunjungi situs Bacaterus, ya. Berbagai tulisan menarik dari dunia film, mulai dari film Hollywood, Drama Korea, hingga Anime bisa kalian temukan di sana. Jadi, tunggu apa lagi?

1 Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

  1. Lengkap bener dari awal ampe ujung ya bang review-nya :))

    Tapi tu kenapa orang korea namanya jadi ke-indonesia-an sekali bang wwkwkwk

    Aku suka bener ni sama film korea ini, beneran konten original dan semuanya dikemas apik bener.. Kesimpulan saya cuma 1 ni bang, ati-ati kalo milih asisten rumah tangga :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama